
...~ Penjelasan Pembuat Ulah ~...
...___________________________________________...
Baru saja Revan ingin menghubungi Gara. Ternyata manusianya dari seberang sana sudah menghubunginya lebih dulu.
Sepertinya Gara bisa memperkirakan keadaan yang sedang terjadi. Atau memang ada alat pendengar suara yang dipasang diam-diam oleh Gara.
Sehingga Gara bisa tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Revan dan Zea tanpa perlu ada diantara mereka.
Apalagi sampai menguping di depan pintu. Tapi, entahlah. Mungkin hanya kebetulan bisa secara bersamaan seperti ini.
Dzzrt..., Dzzrt...
"Sebentar ya..." Ucap Revan karena menerima panggilan dari seseorang. Zea mengangguk tidak masalah.
☎
"Halo?" Revan.
"Hai, sahabat! Apa kau sudah bertemu dengan calon istrimu?" Suara orang di seberang sana yang tak lain Gara sendiri. Revan mengernyit.
"Apa ini ulahmu?" Revan.
"Tentu saja. Aku membantumu jadi gunakan kesempatan ini dengan baik ya sahabat." Gara.
"Apa maksudmu begitu?! Aku belum menyiapkan apapun." Revan.
"Tidak perlu. Ada cincin di bawah kursi yang kau duduki." Gara.
"Wah, semakin kurang ajar kau rupanya." Revan berbisik dan membuat Zea mengernyit karena penasaran.
"Sudahlah, sekarang coba keraskan suara ponselmu. Aku ingin bicara dengan kakak ipar juga."
"Ck, untuk apa?"
"Ya sudah kalau begitu kau jelaskan sendiri keadaan saat ini."
"Tidak bisa!"
"Kalau begitu keraskan volume suaranya sahabatku yang pintar."
"Ck."
Revan mengikuti apa yang disuruh oleh Gara. Lalu, menaruh ponselnya di meja ditengah-tengah mereka. Revan tersenyum canggung kepada Zea.
Mungkin kelihatannya Zea menganggap Revan seperti orang gila. Karena marah-marah dalam telepon. Apalagi sudah pasti Zea mendengar pembicaran Revan seorang. Ditambah tatapan Zea yang bingung.
"Sudah, bicara sana!" Revan kepada Gara.
__ADS_1
Zea sempat bingung awalnya. Karena yang disuruh bicara dia atau bukan. Tapi, setelah mendengar suara Gara. Dia bisa menyimpulkan Revan menyuruh Gara bicara.
"Halo, kakak ipar!" Gara.
Zea mengernyitkan dahinya. Zea menatap Revan dan menunjuk dirinya sendiri. Seakan bertanya sebutan kakak ipar itu untuk dirinya? Revan mengangguk saja. Tidak tahu ingin menjawab apa juga.
"Hm." Zea hanya berdehem.
"Kakak ipar ini aku Gara. Sahabatnya Revan. Aku yang kasih undangan ke kakak ipar. Masih ingat kan?" Gara.
"Tentu saja, Gara si pencari gara-gara." Balas Zea.
"Heh, tidak apa aku disebut pencari gara-gara. Tapi, uangku banyak. Hahaha..." Gara.
"Aku tidak peduli." Zea.
"Heh, baiklah. Kakak ipar maaf ya, karena aku berbohong. Tapi, ini demi kebaikan kalian juga kok. Aku sengaja mempertemukan kalian. Karena aku tahu kalau kalian itu sama-sama suka. Jadi, aku bantu kalian saja. Satu lagi, selamat ya. Oke, bye! Selamat menikmati waktu berdua nya."
"Hah?" Zea.
☎
"Sudah dimatikan oleh dia?" Tanya Zea kepada Revan karena sudah tidak ada balasan dari Gara.
"Iya sudah dimatikan." Revan mengambil ponselnya kembali dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.
"Ck, sudahlah. Apa kita pulang saja? Karena ini hanya ulah sahabatmu kan? Aku pulang ya."
"Kenapa?" Zea menatap Revan bingung. Dia kembali duduk dalam posisi nyamannya.
"Hm..., ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita makan malam lebih dulu? Kamu belum makan kan?"
"I-iya belum." Jawab Zea ragu.
"Oke, berarti kita makan malam dulu saja ya."
"Baik."
Zea pun tidak jadi beranjak untuk pulang. Karena Revan ingin membicarakan sesuatu kepadanya. Jadilah mereka akan makan malam lebih dulu. Revan memanggil pelayan yang ada di restoran tersebut menggunakan tombol yang ada di meja.
Sudah tersistem dengan sedemikian rupa restorannya. Sehingga memudahkan pelayanan kepada pelanggan agar tidak perlu beranjak jauh-jauh untuk memanggil pelayan restoran.
Apalagi sampai mengangkat tangan tinggi-tinggi dan tidak dihiraukan. Ditambah memanggil pelayan tapi tidak terdengar. Jadi, sangat mempermudah.
Pastinya dengan begini sudah pasti terlihat sangat mahal sekali restorannya. Melihat seorang pelayan datang dengan membawa dua buku menu. Langsung saja Revan dan Zea melihat menu didalamnya.
__ADS_1
Pesanan makanan Zea sangat khas dengan makanan lokal. Sedangkan, Revan mengarah ke makanan barat. Minuman mereka juga berbeda. Mungkin sesuai keinginan dan selera ya. Keinginan dan selera setiap orang kan berbeda-beda. Termasuk dua manusia ini.
Menunggu sekitar lima belas menit makanan mereka pun datang. Mereka berdua pun langsung memakan makanan mereka masing-masing tanpa menunggu apapun lagi.
Di saat Zea sedang serius menikmati makanannya. Karena memang rasanya luar biasa enaknya. Sudah terbukti dengan cara pelayanan dan penyajiannya. Sesekali juga Revan melirik Zea dengan cara makannya yang tenang.
Zea terlihat biasa saja makannya. Tapi, dia tenang. Berbeda dengan wanita lainnya yang pasti akan makan dengan anggun. Dan itu membuat selera makan Revan berkurang. Muak rasanya.
Namun, Zea berbeda. Sampai Revan tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Beruntung Zea tidak menyadarinya. Kalau sampai wanita dihadapannya menyadarinya mungkin hilang sudah jati diri dan harga dirinya seorang Revan dihadapan wanita.
Selesai makan. Mereka pun minum sebentar dan mulai menyiapkan mulut dan indera pendengaran mereka untuk pembicaraan Revan kali ini.
Memang benar Gara membantunya. Tapi, ini namanya Revan memanfaatkan keadaan. Bukan Revan sendiri yang menyiapkannya. Tapi, karena sudah terjadi. Mau tidak mau, lebih baik digunakan dengan baik kesempatan yang ada.
"Zea, sebelumnya maaf atas apa yang terjadi saat ini. Terutama maafkan sahabatku, Gara. Kamu tidak masalah kan?" Revan menatap Zea ragu.
"Iya, tidak apa." Zea tersenyum santai.
"Baiklah, Ze..."
"Iya?"
"Mungkin disini aku terkesan memanfaatkan keadaan sekali ya. Karena ini semua perbuatan Gara. Tapi, aku mau berbicara serius denganmu."
Eh, sial! Bukankah aku biasanya tidak suka berbasa-basi. Kenapa aku menjadi berbasa-basi kepada Zea. Wah, Revan hati-hati jadi masalah baru karena kau bertele-tele. Revan menyadari perbedaan dirinya yang secara tiba-tiba dan tidak terkontrol.
"Iya, tidak apa." Zea tidak mempersalahkan.
"Ze, bolehkah aku meminta kesempatan kepadamu untuk memilikimu?" Akhirnya Revan langsung to the point.
Zea yang tadinya menunggu sambil tersenyum. Senyumannya seketika menghilang entah kemana. Zea mengernyitkan dahinya. Maksudnya apa?
Memiliki dirinya bagaimana yang Revan maksud. Menikah? Berpacaran? Atau memiliki maksud lain. Zea tidak mengerti. Zea menatap Revan dengan tatapan bingung.
"Maksudnya bagaimana?"
"Ze, aku bukan pria yang mudah mendekati dan tertarik dengan wanita. Aku juga bingung cara mengatakannya bagaimana dan aku juga bukan tipe pria yang romantis."
"Lalu? Aku masih tidak mengerti."
Revan menatap Zea dalam. Berharap Zea bisa mengerti dengan perkataannya nanti. Jujur saja ini akan menjadi pengalaman pertamanya dalam mendapatkan wanita.
Mungkin kalau meminta untuk menjadi yang terakhir kalinya juga Revan mau. Karena, Zea seorang untuk dirinya selamanya. Revan siap sampai kapan pun.
Daripada dekat dengan banyak wanita dan mempermainkan mereka. Seperti sahabat menyebalkan dan si pengganggu itu, siapa lagi selain Gara. Gara yang disebut menjijikkan oleh Zea. Ternyata otak Gara masih berfungsi untuk membantu Revan.
Tapi, Revan sendiri masih belum handal dalam hal seperti ini. Mungkin untuk kedepannya Revan bisa meminta pertolongan Gara untuk bantuan lebihnya.
Karena Gara sudah ahli. Sedangkan, Revan sendiri bukan ahlinya. Jadi, sudah pasti Gara bisa diandalkan dalam hal yang menyangkut wanita.
__ADS_1
"Revan?" Zea memanggil Revan yang sedari tadi diam. Revan tersadar dan kembali menatap Zea lekat.
Bersambung.