Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 40 - Sesuatu Yang Harus Kamu Tahu


__ADS_3

...~ Sesuatu Yang Harus Kamu Tahu ~...


..._______________________________________...


“Aku harus bisa memiliki kamu Ze, harus!” 


“Dasar Revan kurang ajar!”


“Ini semua tidak adil! Kenapa semua jadi berpihak ke dia?!” 


“Aarrgghh..., bodoh!” 


Brakk!!!


“Eh, gila! Itu meja sampai ke bagi dua gitu. Vano, kau itu Hulk atau kingkong, hah?” Ucap teman baik Vano yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerja Vano di rumahnya.


“Keluar kau Ron!” Usir Vano dengan tangannya yang menunjuk pintu setengah terbuka. 


“Wah..., wah..., wah..., kayaknya lagi frustasi sama kekasih lama ya? Hahaha..., sekarang banyak wanita cantik bro, kenapa harus dia juga?” 


Ronald menggiring Vano untuk keluar dari ruang kerjanya. Membawanya ke mini bar yang ada di rumah Vano sembari meminum minuman anggur yang tersedia di sana.


“Heh, jawab bro!” Ronald menyenggol lengan Vano yang sedang meminum anggurnya.


“Revannn!!!” Teriak Vano memenuhi mini bar. 


Ronald menutup telinganya, karena dia duduk tepat di sebelah Vano. 


Plak!


“Gila ya? Berisik!” Ronald menampar Vano yang baru saja teriak.


Vano menoleh menatap tajam Ronald yang telah berani menamparnya. Vano mencengkram kerah baju Ronald dengan kencang. 


“Berani?” Ancam Vano.


“Hehe..., ampun. Tidak perlu ditanya lagi yang pasti sih tidak berani ya. Lepas ya bro, lepas.” Ronald minta ampun sambil menepuk pelan tangan Vano yang mencengkram kerah bajunya. Vano pun melepaskan cengkeramannya dan kembali duduk di kursinya seraya meneguk anggurnya kembali.


Akan aku pastikan kau akan kehilangan semuanya, Revan! Vano. 


...----------------...


Pada pagi hari ini Zea sudah memiliki janji dengan seseorang untuk bertemu di salah satu cafe yang memang buka dari pagi. 


Sebenarnya Zea merasa tidak perlu juga untuk bertemu dengan orang ini. Namun, karena katanya penting dan Zea harus tahu membuatnya mengiyakan orang itu untuk bertemu. 

__ADS_1


Sesampainya di Cafe Zea langsung masuk ke dalam Cafe tersebut dan mencari keberadaan orang itu yang pasti sudah sampai lebih dulu karena Zea telat.


"Ze, kamu sudah datang?" Sapa orang yang sudah menunggu Zea dari setengah jam yang lalu. 


"Iya kak, maaf buat kakak menunggu lama." Ucap Zea seraya duduk di kursi yang kosong. 


"Boleh aku bicara hal penting sama kamu Ze?" Tanya Vano  dengan tatapan serius yang membuat Zea bingung dan penasaran dibuatnya.


"Iya langsung saja kak." Zea tidak ingin terlalu lama bersama seseorang masa lalunya. Cukup disimpan rapat-rapat saja memorinya tapi tidak untuk dikenang. 


"Ze, hubungan kamu sama Revan sudah sejauh apa?" 


Zea mengangkat alisnya. Kenapa bertanya mengenai hubungannya dengan Revan. Bukannya dia bilang sebelumnya ingin berbicara hal penting. Zea tidak mengerti dengan arah pembicaraan awalnya. 


"Memangnya kenapa kak?" 


"Tidak apa-apa. Hanya saja aku ingin kamu tahu kalau Revan tidak sebaik yang kamu lihat."


"Maksud kakak?"


"Aku yakin pasti kamu butuh bukti atas apa yang aku bicarakan tadi kan? Tenang, lihat ini..." 


Vano mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam celananya dan menunjukkan layarnya akan sesuatu kepada Zea. 


Zea membulatkan matanya saat melihat layar ponsel Vano. Sempat mengejutkan dirinya. Namun, Zea harus menahan diri untuk tidak langsung terpengaruh oleh orang lain. 


"Iya Ze, kamu bisa lihat sendiri kan. Revan selalu memanggil wanita bayaran untuk dijadikan teman tidurnya. Sekarang kamu bisa lihat seberengs*k apa dia." 


Zea terdiam. Tidak tahu ingin berkata apa. Sebenarnya Zea bisa saja percaya dengan apa yang diberitahukan oleh Vano. Karena Zea dan Vano sudah kenal lebih dulu dibanding Zea kenal dengan Revan. 


Bertemu dengan Revan juga baru beberapa bulan ini. Zea belum tahu seluk beluk lebih dalam lagi tentangnya. Apa lagi sekarang Revan sudah menjadi calon suaminya. Zea harus bagaimana sekarang. Hatinya menjadi bimbang. Antara percaya dan tidak percaya. 


"Hanya ini saja?" 


"Kamu ingin tahu lebih tentangnya Ze? Baiklah, sebentar. Aku ada lagi yang lainnya."


Zea menunggu Vano dengan melihatnya mencari sesuatu menggunakan ponselnya. 


"Lihat ini, kamu tahu tidak wanita yang ada di pangkuannya ini?" Tanya Vano menatap Zea.


"Tidak tahu kak." 


"Dia pacarnya Ze. Setahuku dia tunangannya dan akan menikah bulan depan. Kamu tidak tahu itu?" Ucap Vano dengan penuh penekanan dan ekspresi serius. Terlihat sangat meyakinkan. Zea menggelengkan kepalanya. 


"Aku tidak tahu kak. Aku belum tahu semua yang tadi. Tapi, aku juga belum bisa percaya begitu saja dengan itu semua." Jelas Zea yang membuat Vano mengepalkan tangannya di bawah meja. 

__ADS_1


"Zea, apa ini semua kurang jelas? Dari beberapa bukti kebusukan Revan. Kamu masih percaya dia orang yang baik untuk kamu?" Vano menatap Zea tidak percaya. 


"Maaf kak, aku perlu tanya lebih jelas ke Revan juga."


"Baiklah, tidak apa. Tapi, kamu harus tahu kalau kamu cuma jadi bahan mainan saja untuknya. Dengarkan ini ya."


Vano mengotak-atik ponselnya lagi. Zea menunggu dengan perasaan yang tidak menentu. Karena hatinya berada di antara bimbang percaya atau tidak. Vano memutar salah satu rekaman suara yang terdengar jelas kalau itu memang suara Revan.


📱🎙️


"Van, kau tidak merasa kasihan dengan nona cantik itu?"


"Kasihan? Untuk apa? Dia cantik-cantik tapi bodoh! Untuk apa dijadikan kekasih kalau bodoh. Tidak berguna nantinya. Lebih baik dimainkan saja lebih seru. Mau ikutan?" 


"Wah, gila kau Van. Dibalik wajah yang tampan dan baik hati ada makhluk tidak punya hati di dalam diri kau yang tersembunyi ya." 


"Mengacalah kau, Ga. Kau juga manusia buruk rupa yang memainkan wanita lebih buruk dari aku kan." 


"Gila! Van kau--" 


📱🎙️


Zea menatap Vano dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti oleh Vano. Vano juga bingung Zea percaya dengan bukti yang diberikan olehnya atau tidak. Karena wajah Zea tidak bisa menjawab kebingungannya saat ini. 


"Maaf kak, aku pergi dulu." Zea melenggang pergi begitu saja tanpa mengatakan komentar atau pernyataan apapun mengenai rekaman suara yang baru saja diputar oleh Vano. 


"Eh, Ze?" Vano bingung melihat Zea yang langsung pergi. 


"Dia percaya dengan rekaman suaranya atau tidak ya?" Vano menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. 


"Jadi bingung kalau kaya gini. Zea kamu harus percaya sama rekaman suara ini. Harus! Kalau tidak Arrrgghhh..." Vano kesal sendiri sampai membanting ponselnya ke meja.


Bersambung.


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak

__ADS_1


See u in the next episode 💕


__ADS_2