Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 7 - Bahagia Bersama


__ADS_3

...~ Bahagia Bersama ~...


...___________________________________________...


Hari ini Zea akan melakukan kebiasaannya di setiap ulang tahunnya. Zea sudah siap dengan pakaiannya yang lebih cerah karena akan bertemu dengan anak-anak panti asuhan. Supaya suasana hatinya ikut cerah juga.


Meta sesuai janjinya akan datang ke rumahnya tanpa dijemput. Karena seperti biasanya. Meta juga akan ikut membantu dan menemaninya. 


Meta memiliki motor sendiri. Jadi, tidak perlu menunggu angkutan umum. Zea berangkat bersama Meta menuju ke tempat makan ayam bakar yang rasanya memang enak. 


Sesampainya di tempat makan ayam bakar itu. Zea langsung memesan paket ayam bakar sama nasi dengan jumlah banyak. Karena Zea juga sudah memesan kue. 


Sambil menunggu pesanan ayam bakar Zea selesai sekitar setengah sampai satu jam. Zea dan Meta pun pergi sebentar ke toko kue Lovelyco. Dimana Zea memesan kue rainbow sebagai kue ulang tahunnya yang nantinya akan dinikmati bersama-sama. 


Hanya tinggal mengambil kuenya saja. Jadi, tidak perlu lagi menunggu sampai kuenya selesai. Zea membayar dan menerima pesanan kuenya. 


Ada dua kotak besar kue dalam satu paper bag. Lumayan besar ukurannya. Harus berhati-hati dibawanya saat menaiki motor. Bisa-bisa kuenya tidak lagi terlihat cantik saat sampai di tempat tujuan.


"Ze, kamu pesannya tidak lupa minta untuk dimasukkan ke kardus kan tadi?" Meta bertanya setengah berteriak dalam perjalanan kembali ke tempat makan ayam bakar. 


"Apa?" Zea bertanya kembali. Kurang jelas mendengarnya. 


"Kamu pesannya tidak lupa untuk bilang ke abangnya buat dimasukkan ke dalam kardus kan semuanya?" Teriak Meta lagi dengan mulut yang dibuka sesuai vokal katanya supaya lebih jelas. 


"Ha?" Zea mengernyitkan dahinya mendekatkan telinganya ke depan. 


Ya ampun dasar, paling kesal kalau sama Zea ya ini. Telinganya tidak bisa berfungsi dengan baik kalau dijalan. Telinga sama otaknya tidak sinkron. Jadilah, ha ho ha ho. Sabar..., Sabar..., Meta.


"Ta, tadi bilang apa?" Zea masih berusaha untuk tahu.


Meta menghela nafasnya. Berusaha sabar dengan keadaan. Memang salahnya juga sih bertanya kepada Zea saat dijalan. Bukan nanti saat sudah sampai. 


"Kamu bilang ke abangnya untuk dimasukkan ke dalam satu kardus semua tidak?" 


"Apanya?" 


"Ayam bakarnya."


"Oooh." 


"Apa oh doang?" 


"Ha?" 


"Sudah bilang belum ke abangnya tadi?" 


"Iya aku sudah bilang ke abangnya untuk disatukan dalam kardus saja per paketnya seperti biasa." 


Meta mengangguk sebagai akhir perdebatan mereka. Kalau disahut dengan suara lagi. Sudah pasti Zea akan mengeluarkan kata andalannya. Apalagi selain 'ha?' menyebalkan memang. 


Tapi, sebagai teman kerjanya yang memang sudah lumayan lama kenal dan akrab. Semoga saja bisa untuk bersabar lebih lama lagi. 


Mereka berdua kini sudah tiba kembali di tempat makan ayam bakar sebelumnya. Seharusnya tinggal menunggu sebentar lagi sudah jadi ayam bakar pesanannya. 


Karena penasaran Zea menemui pekerja yang ada di kasir. Sudah selesai atau belum pesanannya. 


"Mba, sudah selesai belum ya pesanan saya?" 

__ADS_1


"Pesanan atas nama Mba Zea ya?" 


"Benar mba."


"Mohon ditunggu sepuluh menit lagi ya mba." 


"Oh, iya mba." 


Zea kembali menemui Meta yang sedang duduk di salah satu kursi sambil memegang paper bag kue milik Zea. Duduk disebelahnya seraya celingak-celinguk melihat sekitarnya. 


"Ze, kamu sudah menyiapkan nomornya?" 


"Nomor apa lagi?" 


Zea heran dengan Meta yang sedari tadi bertanya terus. Seperti dirinya adalah orang yang pelupa. 


"Nomor itu lho yang untuk tiup lilin. Lilin nomor angka dua puluh tiga." 


"Heh, untuk apa?" 


"Ya tentu saja untukmu tiup lilin dong." 


"Tidak perlu. Aku bukan anak kecil lagi." 


"Tapi, anak-anak panti pasti senang." 


"Tidak boleh, asap tidak baik untuk tubuh." 


Meta mengernyitkan dahinya menatap Zea tidak percaya. Perkataan Zea sangat tidak bisa dia percaya tadi. Apa Zea bilang sebelumnya? 


Asap tidak baik untuk tubuh, tapi dirinya sendiri setiap hari berteman dengan asap di luar sana. Berangkat bekerja serta pulangnya saja menggunakan angkutan umum. 


Zea merasa aneh dengan tatapan Meta kepadanya. Dia menjentikkan jarinya di depan wajah teman kerjanya itu. Meta pun tersadar dari hanyutan pikirannya. 


"Kenapa?" Zea bingung sekaligus penasaran. 


"Kamu aneh Ze. Kamu bilang asap tidak baik untuk tubuh. Tapi, kamu sendiri beraktivitas keluar rumah menggunakan angkutan umum yang harus menghirup asap kendaraan. Bagaimana ya pikiranmu?" Meta menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan Zea. 


"Hei, maksudku itu anak kecil tidak baik menghirup asap. Lebih baik dihindari."


"Tiup lilin kan asapnya sedikit doang." 


"Ah, sudahlah. Yang penting tidak ada tiup lilin, tiup lilin." 


"Bilang saja kamu malu kalau tiup lilin. Karena sudah besar."


"Ya terserahlah." 


"Mba Zea!" 


Bersamaan dengan berakhirnya perdebatan antara Zea dan Meta. Pesanan atas nama Zea pun dipanggil. Sudah sepuluh menit ternyata mereka menunggu. Akhirnya, pesanannya selesai juga.


Langsung saja Zea mengangkat kardus pesanannya. Hanya satu kardus saja. Jadi, tidak terlalu ribet. Dibandingkan di plastikkan satu-satu. Jadi, banyak bawaannya. 


Meta membantu Zea untuk menaruh kardusnya itu di depan. Sedangkan, Zea memangku kue ulang tahunnya sambil duduk. 


Motor mereka pun melaju kembali. Sekarang semua pesanan sudah selesai. Hanya tinggal menuju tujuan akhir. Yaitu, panti asuhan. 

__ADS_1


Zea mulai sering memberi sumbangan dan yang lainnya ke panti asuhan setelah orang tuanya meninggal. Karena, disaat orang tuanya meninggal Zea dituntut untuk menjadi lebih mandiri. Dengan bekerja untuk mendapatkan penghasilan sendiri. 


Dari penghasilan itulah setiap tahunnya, Zea selalu menyisihkan beberapa uangnya untuk dijadikan sumbangan ke panti asuhan di setiap ulang tahunnya. Seperti sekarang ini. 


Kalau memang Zea sedang mendapatkan bonus karena penjualan di cafe sedang banyak dan ramai pengunjung melebihi target. Pasti Zea akan sisihkan lebih lagi untuk disumbangkan. 


Perjalanan mereka tidak terasa sudah sampai. Mereka berdua pun segera menemui ibu panti sambil membawa kuenya. 


"Nak Zea, kamu datang kembali nak." Ibu panti itu memeluk Zea. 


"Iya bu, bagaimana ibu sehat?" 


"Sehat nak, bagaimana denganmu?" 


"Sama bu, Zea juga sehat. Oh iya ini bu saya bawa kue. Buat anak-anak sama yang lain." Zea memberikan paper bag kue yang dibawanya tadi. 


"Oh iya, terima kasih banyak ya nak. Anak-anak pasti suka." Ibu panti menerimanya dengan senang hati dan sangat bersyukur. 


"Ibu saya juga bawa makanan, buat anak-anak makan siang bersama. Tapi. Ada di motor." 


"Oh iya boleh, terima kasih banyak ya nak sekali lagi." 


"Hehe..., iya bu sama-sama." 


Zea pun bersama ibu panti itu menuju ke motor dimana Meta masih menjaga kardus yang isinya paket ayam bakar.


Diangkatnya kardus ayam bakar itu ke meja yang ada di dalam panti. Anak-anak yang ada di dalam pun segera mengerubungi Zea dan Meta. 


Karena mereka berdua sering ke panti. Jadi, kebanyakan anak-anak mengenal Zea dan Meta. 


"Kak Zea!" 


"Kak Tata!" 


"Kak Ata!" 


"Kak Ze!" 


Seru anak-anak panti dengan senang penuh kebahagiaan. Zea bahagia sekali rasanya bisa melihat anak panti asuhan disini yang sangat bersemangat. 


Zea dan Meta akhirnya makan siang bersama anak-anak panti dan juga para pengurus panti. Tidak lupa dengan potong kue ulang tahun Zea. 


Kue ulang tahun yang dipilih adalah Kue pelangi atau Rainbow cake. Karena anak-anak pasti suka melihatnya sebab warna-warni. Rasanya juga manis sudah pasti anak-anak menyukainya. 


Supaya tidak kue coklat terus menerus. Pasti anak-anak akan merasa bosan. Jadi, supaya lebih berbeda Zea memesan kue yang lain tapi, lebih unik. 


Setelah selesai acara makan bersama dan potong kuenya. Zea dan Meta pamit karena memang sudah sore. Sudah waktunya Zea dan Meta untuk kembali bekerja. 


"Kak Zea semoga ulang tahun kakak yang ke dua puluh tiga ini, kakak bisa dapat pangeran tampan ya!" Doa salah satu anak panti untuk Zea. 


Meta yang mendengarnya ini tertawa terbahak-bahak. Karena setahunya Zea jomblo. Jadi, mau mendapatkan kekasih dari mana. 


Zea tersenyum saja. Bingung ingin menjawab apa. Karena tidak mungkin dia bisa mendapatkan pangeran. Laki-laki yang pernah dia sukai dulu saat sekolah saja tidak menyukainya balik. Padahal laki-laki itu tampan. Bagaimana dengan pangeran? Sudah pasti hanya mimpi saja. 


"Iya kakak juga semoga bisa punya pangeran yang tampan dan kaya raya terus punya rumah seperti istana!" Doa anak panti yang lainnya. 


Zea menanggapi setiap doa yang diberikan kepadanya hanya dengan senyuman. Karena tidak tahu ingin menjawab apa. Semoga saja bisa mendapatkan pangeran. Walaupun satu banding seribu. 

__ADS_1


Akhirnya, setelah anak panti memberikan doa dan harapan untuk Zea. Mereka berdua bisa kembali ke rumah masing-masing. Meta mengantarkan Zea dulu sebelumnya. Nanti mereka bertemu lagi di cafe saat bekerja. 


Bersambung.


__ADS_2