
...~ Kartu Nama ~...
...___________________________________________...
Kembali lagi ke rumahnya yang sederhana. Di dalam kamar menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dengan merentangkan kedua tangannya.
"Huh, hari ini selesai juga akhirnya."
Rumah peninggalan kedua orang tuanya yang sudah meninggalkan Zea untuk selamanya ini masih cukup kokoh. Masa-masa kuliah Zea terbilang cukup berat dan menyakitkan.
Karena selama itu Zea kehilangan kedua orang tuanya. Harapan bisa wisuda ditemani oleh kedua orang tua harus pupus begitu saja.
Harapan yang ingin sekali bisa terwujud sekarang hanyalah bisa menjadi seseorang. Dimana nantinya bisa membantu orang lain dan memenuhi kebutuhan keluarganya dikemudian hari.
Melakukan rutinitas sebelum tidur wajib dilakukan oleh Zea. Mencuci wajah, cuci kaki dan tangan
serta sikat gigi. Selesai dengan itu semua. Zea sudah bisa menggunakan waktunya untuk tidur dengan nyenyak.
...----------------...
Pintu dibuka udara segar pun masuk ke dalam. Dengan setelan pakaian yang sama seperti hari sebelumnya. Zea masih ingin mencoba membuka peluang ke perusahaan lain.
Baru satu langkah hendak keluar dari rumah. Zea merasa menginjak sesuatu. Dilihatnya ke bawah. Sebuah kotak coklat berbentuk hati, buket bunga mawar merah dan boneka.
Zea tersenyum miring. Pertanda Zea telah melupakan sesuatu. Dengan adanya ketiga barang tersebut. Berarti hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Setiap tahun selama empat tahun ini. Zea selalu mendapatkan ketiga benda itu tepat di hari ulang tahunnya. Di tahun pertama dan kedua Zea masih menyimpannya.
Namun, untuk tahun ketiga dan keempat Zea langsung membuangnya. Sama seperti hari ini, Zea langsung membuang semua itu. Bukan bermaksud apa-apa.
Hanya saja orang yang memberikan semua itu untuk Zea tidak pernah menunjukkan batang hidungnya sekalipun. Jika, Zea tahu siapa orangnya. Mungkin bisa dipikirkan kembali untuk disimpan dengan rapi di dalam rumahnya.
"Ini orang punya banyak uang apa ya yang kasih ini. Sayang uangnya, karena aku buang terus. Tidak jelas juga orangnya. Dasar kurang kerjaan itu orang. Penuh-penuhin tempat sampah saja. Selalu begini di setiap ulang tahunku."
Zea menginjak-injak boneka, coklat dan bunga itu dalam tempat sampah. Agar bisa lebih masuk lagi ke dalam dan bisa tertutup tempat sampahnya.
"Nah, selesai juga. Buang-buang waktu banget ah!"
__ADS_1
Satu persatu nama perusahaan yang masih ada di daftar listnya didatangi. Jika, perusahaan itu membuka lowongan Zea akan memberikan dokumen yang dibutuhkan.
Sedangkan itu, jika sebaliknya. Zea akan langsung menuju ke perusahaan selanjutnya. Tetap dengan memanfaatkan angkutan umum yang ada. Perjuangannya akan terbayar semua diakhir.
"Lho, dia itu bukannya orang yang kemarin itu ya?" Gumam Zea menunjuk pria yang baru saja keluar dari lift khusus perusahaan Angkara Group. "Duh..., lupa. Siapa ya namanya?" Zea menepuk dahinya sendiri.
"Evan ya?" Mencoba mengingat-ingat. "Eh, Revan, Revan, ya Revan." Zea akhirnya mengingat kembali nama pria yang tadi dia lihat. "Tapi, dia sedang apa ya disini?" Seperti manusia pada umumnya, Zea punya jiwa penasaran juga yang sekarang sedang bangkit jiwa penasarannya.
"Ya ampun Ze, buat apa kepo sama dia coba! Urus dulu nih surat lamaran kerja. Aduh..., gara-gara dia lewat jadi lupa."
Zea kembali melanjutkan jalannya lagi menemui resepsionis di perusahaan Angkara Group.
"Permisi mba, saya ingin bertanya. Apakah di perusahaan ini membuka lowongan pekerjaan?"
"Baik, atas nama siapa?"
"Zeandra mba."
"Baik, Ibu Zeandra. Mengenai lowongan pekerjaan di perusahaan kami, sebelumnya mohon maaf karena belum tersedia untuk saat ini."
"Benar ibu, di perusahaan kami belum tersedia untuk saat ini. Jika, Ibu Zeandra bersedia pada salah satu perusahaan cabang kami yaitu, Dwitara Group ada di jalan Kenanga raya utama nomor 28. Perusahaan tersebut sedang membuka lowongan dengan cakupan besar."
"Dwitara Group ya mba? Kebetulan saya sudah kesana kemarin."
"Benar ibu Zeandra, Perusahaan Dwitara Group masih satu pimpinan dengan perusahaan kami. Apakah ada yang bisa saya bantu kembali?"
"Sudah mba, tidak ada. Terima kasih, permisi."
"Baik, terima kasih kembali Ibu Zeandra."
Zea berjalan keluar dari perusahaan dengan sesekali menghela nafasnya pelan. Di pinggir jalan raya menunggu angkutan umum yang lewat. Mengacungkan tangannya supaya angkutan umum itu berhenti.
Capek juga ya ternyata. Cari kerja kesana kesini. Kakiku pegel semua. Aaa..., minta Meta pijitin ah nanti. <
Zea turun di depan jalan rumahnya. Sebelum pulang ke rumah. Zea mampir ke taman yang ada dilingkungan dekat rumahnya.
Dia duduk di salah satu bangku taman disana. Sambil memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di taman.
__ADS_1
"Zea?"
Zea reflek menoleh ke belakang setelah seseorang memanggil namanya. Zea menunjuk orang itu dengan tatapan bingung seraya berdiri.
"Revan?"
"Iya benar saya Revan. Saya kemari--"
"Anda sedang apa ya disini?" Zea seperti orang tidak sabar atau juga seperti orang penasaran dan juga bisa seperti tidak menyukai keberadaanya. Karena langsung saja memotong perkataan Revan. "Maaf lanjutkan. Anda mau bilang apa tadi?"
"Saya kemari ingin memberikan kartu nama ini. Apalah Ini kartu nama milikmu?"
Revan memperlihatkan sebuah kartu nama yang bukan tertera nama dirinya ataupun Zea. Melainkan nama orang lain, namun tercantum pekerjaan orang tersebut adalah HRD suatu perusahaan.
Zea mengambil kartu nama itu dari tangan Revan. Lalu, dengan melihatnya sekilas saja langsung teringat dengan kartu nama salah satu HRD perusahaan yang kemarin didatangi.
HRD perusahaan itu memang memberikan kartu namanya, sebagai salah satu cara untuk menghubungi jika ada sesuatu mengenai lamaran pekerjaan. Jadi, Zea bisa menghubungi untuk bertanya melalui kartu nama itu.
Zea mendongakkan kepalanya menatap Revan penuh tanya. Kenapa kartu nama yang sangat berguna nantinya bisa ada di tangan pria satu ini?
"Maaf nona, kartu nama tersebut saya temukan di mobil tuan muda. Sepertinya terjatuh dan tertinggal dalam mobil."
Zea beralih menatap orang yang berdiri disamping Revan dengan wajah dingin dan tenangnya. Berdiri dengan tegak dan gagah disamping pria yang Zea kenal.
Bahkan, jika ditanya Zea sendiri tidak menyadari dengan keberadaan orang disamping Revan. Karena dari awal Zea hanya melihat Revan seorang.
"Baik saya mengerti. Maaf karena sudah menjatuhkan kartu nama ini di mobil kalian. Sampai kalian harus datang jauh-jauh kemari. Terima kasih sebelumnya."
Zea tersenyum canggung kepada dua pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Tidak masalah, saya harus pergi sekarang, permisi."
Revan dan pria di sampingnya pun berlalu pergi sebelum Zea menjawab mereka. Zea melihat Revan dan pria yang menemaninya kembali ke mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari pandangan Zea saat ini.
"Niat banget dia sampai harus datang kemari lagi. Pakai ojek online kirim barang kan juga bisa. Eh, mahal biaya kirimnya lagi nanti." Gumam Zea seraya kembali duduk di bangku taman sebelumnya
Bersambung.
__ADS_1