
...~ Throwback Zea & Vano ~...
..._______________________________________...
Zea dan Revan sudah kembali ke dalam mobil. Revan memperhatikan Zea yang tampaknya sedang dalam mood tidak baik. Revan pun tidak mencoba untuk bertanya mengenai hal yang sudah terjadi saat di restoran tadi.
Walaupun yang sebenarnya Revan sangat penasaran dan ingin tahu mengenai pria itu. Apalagi mengenai kejadian lalu atau mereka pernah ada keterkaitan satu sama lain dalam hal apa, Revan ingin tahu itu. Tapi, tahu bukan saatnya. Mungkin disaat mood Zea sudah membaik.
Rencana setelah makan siang Revan ingin mengajak Zea pulang untuk beristirahat. Tapi, tahu Zea dalam mood tidak baiknya. Revan mengambil kesempatan untuk memperbaiki mood Zea ini. Mobil pun di lajukan ke suatu tempat yang sangat diharapkan Zea akan suka dengan tempat ini.
Selama perjalanan Zea lebih banyak diam dalam ekspresi wajah yang sulit diartikan. Sesampainya di tempat yang ditentukan oleh Revan.
Revan langsung mengajak Zea untuk turun dan membeli tiket untuk masuk ke dalam tempat tersebut. Tempatnya terdapat banyak pohon di pinggir-pinggir jalannya. Rapi, hijau dan terawat.
"Eh, itu..." Zea menunjuk sesuatu.
Revan menoleh dan tersenyum senang melihat Zea yang sudah mau bicara kembali. Walaupun cuma sepatah kata. Setidaknya mood Zea lebih baik dari sebelumnya.
"Ini tempat wisata ya?" Tanya Zea kepada Revan disampingnya seraya berjalan ke atas.
"Iya, kamu sudah pernah datang kesini belum?"
"Belum, waktu itu cuma ke pantai-pantai saja Van."
"Berarti ini pertama kalinya. Semoga kamu suka ya, jangan bad mood lagi." Revan berbisik di akhir kalimatnya.
"Eh apa sih..." Zea menyenggol lengan Revan sengaja.
Revan tersenyum melihat Zea yang sudah kembali mood nya. Lebih baik seperti ini dibandingkan tadi. Begitu pikirnya sosok Revan.
Di sepanjang jalan sepertinya banyak banget teman-temannya Revan. Zea.
Sekitar sepuluh menit mereka habiskan untuk berjalan ke atas. Sekarang mereka bisa melihat pemandangan yang lebih indah lagi.
Zea juga mengambil beberapa foto yang indah dipandang. Revan melihat Zea merubah wallpaper ponselnya dengan salah satu foto yang baru saja Zea ambil.
Aku pastikan suatu saat wallpaper ponselmu gambar kita berdua. Revan.
"Revan lihat itu! Monyetnya ambil kacamata orang." Seru Zea sembari menunjuk monyet yang mengambil kacamata orang.
Revan mengikuti arah tangan Zea. Benar apa yang dikatakan Zea. Untungnya mereka berdua tidak membawa barang-barang kecil apapun yang bisa menjadi incaran monyet disana. Hanya jam tangan yang selalu digunakan oleh Revan, namun melekat di tangannya.
...----------------...
"Huh..., akhirnya sampai di villa lagi." Zea merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
__ADS_1
Menyenangkan memang tapi melelahkan juga. Setidaknya bisa mengembalikan rasa bahagianya selama liburan bekerja setelah sempat dibuat kesal oleh seseorang yang dikenal di masa lalu dan bertemu kembali.
Waktu sudah sore. Zea belum membersihkan tubuhnya. Belum juga merapikan barang-barangnya kembali. Karena besok malam mereka semua akan kembali. Liburan singkat ini hanya cuti bersama saja. Waktunya tidak terlalu lama seperti liburan semasa Zea sekolah dahulu apalagi liburan saat kuliah.
"Nanti malam pergi lagi keluar, masih ada dua setengah jam. Lebih baik tidur dulu satu jam. Hwah..., ngantuk." Zea menguap dan memeluk guling yang ada didekatnya. Matanya terpejam dan tertidur.
...----------------...
Malam hari yang dingin ditambah suara deburan ombak membuat suasana membutuhkan sedikit kehangatan.
Di sebuah restoran outdoor. Revan memakaikan jaket miliknya kepada Zea. Zea tidak tahu kalau akan sedingin ini kalau di luar. Berbarengan dengan Gara dan Sekretaris Zen yang ikut bersama. Namun, tetap dengan konsekuensi yang ada yaitu, berbeda meja.
"Ze, boleh tidak aku tanya kamu tentang hal pribadi kamu?" Revan bertanya di sela-sela mereka makan malam.
"Boleh, seperti yang pernah aku bilang di waktu lalu. Asalkan aku juga boleh menanyakan hal pribadimu."
"Oke, tidak masalah. Kalau mengenai yang tadi siang, apa kalau aku tanya tentang hal itu, kamu akan badmood lagi?"
Zea menghentikan aktivitas makannya sejenak. Tampak berpikir bingung ingin menceritakannya kepada Revan atau tidak. Tapi, melihat Revan yang memang bertanya bukan sekedar hanya bermain-main saja melainkan mencari informasi mengenai dirinya sepertinya Zea tidak masalah. Karena dalam suatu pasangan lebih baik terbuka asalkan memang dapat dipercaya.
"Dia kakak kelas sekolahku dulu." Jawab Zea yang membuat Revan bingung. Masih tidak mengerti.
"Hanya kakak kelas?" Revan mengernyitkan dahinya.
"Y-ya bagaimana ya..., dulu kami pernah berpacaran sekitar dua tahun lamanya. Aku kelas satu SMA dan dia kelas dua SMA. Terus, saat aku sudah masuk kuliah, dia datang ke rumahku untuk melamarku. Tapi, ayah dan ibu tidak suka dengan dia. Karena aku lebih memilih orang tua, jadi aku akhiri hubungan aku dengan dia. Dia pun menghilang entah kemana. Aku tidak tahu dan tidak peduli." Jelasnya.
"Boleh aku tahu, kenapa ayah dan ibumu tidak menyukai dia?"
"Katanya dia pria yang tidak bertanggung jawab, anaknya tidak benar dan tidak bisa dipercaya. Takutnya dia tidak bisa menjaga aku kelak."
"Bagaimana dengan ayah dan ibumu sekarang?"
"Ayah dan ibuku kan sudah-"
"Oh iya Ze, maaf aku lupa. Maaf, maaf Ze."
"Iya tidak apa." Zea tersenyum pahit.
"Ze, bagaimana dengan perasaanmu saat kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan dia?"
"Sedih, sakit itu yang aku rasakan. Tapi, tidak berlangsung lama. Karena dia pun menghilang dan tidak lama ayah pergi."
Revan terdiam sejenak. Sepertinya topik pembicaraan ini tidak sepatutnya untuk dilanjutkan. Karena merasa akan membuka luka lama milik Zea. Khawatirnya Zea tidak akan merasa nyaman dan tenang malam ini.
"Oh iya Ze, kalau menurut kamu lebih tampan aku atau Kak Vano yang tadi siang kamu lihat itu?"
__ADS_1
"Eh?" Zea mengangkat alisnya menatap wajah Revan. Bisa-bisanya Revan bertanya mengenai hal seperti itu kepadanya.
Revan menaik turunkan alisnya mencoba menggoda Zea. Sekaligus memberi bantuan kepada Zea kalau jawaban yang benar adalah dirinya yang tampan dibandingkan pria yang Zea temui tadi siang. Zea tersenyum samar melihatnya.
"Yah kalau itu sih tidak perlu ditanya lagi Van."
"Aku kan?" Revan tersenyum senang.
"Apanya yang kamu?" Zea bingung.
"Pasti lebih tampan aku kan Ze?"
"Oh tentu tidak."
Revan mengerutkan alisnya. Sedikit kesal namun menahan kekesalannya.
"Kenapa tidak?"
"Tentu saja karena Kak Vano lebih tampan, terus badannya lebih atletis. Kulitnya putih, matanya aduhh..., tidak kuat aku menatapnya. Apa lagi ya..., waktu itu dia baik banget sama aku, jajan beli somay bareng. Di kantin dia bayarin aku makan ketoprak, padahal aku bisa bayar sendiri. Dia beliin aku es teh manis. Terus kita beli rujak buah pas lagi hujan-hujan, kita makan bareng satu berdua di rumah dia. Ibunya juga baik banget, telur omelet buatan ibunya duhh enak banget bikin ngiler deh. Kalau kedinginan juga dia langsung peluk aku, tangan aku digenggam terus ditiup. Yah, jadi throwback deh."
Zea tersenyum senang mencoba menjahili Revan. Karena Zea tahu pasti Revan merasa tidak enak karena hampir membuka luka lama dari dalam dirinya. Jadi, Zea sengaja membuat Revan kesal.
Tapi, sepertinya apa yang dipikirkan oleh Zea benar-benar terjadi. Revan benar-benar terdiam, dia mendengarkan sekaligus menyimak semua pembicaraan Zea.
Namun, tidak dengan hati senang. Wajahnya datar tidak memberikan ekspresi senang ataupun sedih. Sepertinya Revan kesal dan tidak tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Zea.
"Van, kamu kenapa? Kok makannya berhenti?" Tanya Zea pura-pura tidak tahu.
Revan tidak menjawab. Dia melanjutkan makannya tanpa berkata-kata. Zea tidak merasa bersalah. Melainkan senang bisa membuat Revan kesal.
Bisa-bisanya pria itu lebih tampan dariku. Memangnya dia siapa? Bukankah aku lebih tampan? Mungkin kalau Zea melihat tubuhku, dia akan menarik ucapannya kembali. Revan.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
__ADS_1
See u in the next episode 💕