
...~ Berhenti Memanggilnya Nona Cantik! ~...
...___________________________________________...
Gara merebahkan tubuhnya di sofa. Lelah juga memunguti kertas yang hampir menjadi sampah olehnya. Karena Gara tidak hanya membantu memunguti saja. Melainkan menyusun dan menaruh kembali di meja.
Sementara itu, Revan masih berkutat dengan tumpukan kertas-kertas itu karena membutuhkan tanda tangannya secepatnya. Dibantu juga dengan Sekretaris Zen. Supaya lebih cepat.
Andai saja Gara tidak datang dan melakukan hal kurang ajar tadi. Mungkin tepat di jam sekarang ini Revan sudah pulang dan menikmati makan malam bersama keluarganya di rumah.
Tapi, dengan kehadiran Gara yang sangat sialan ini. Membuat malam Revan menjadi terkurung dalam ruangan tepatnya di kantor. Belum bisa pulang dan tidak bisa makan malam bersama keluarganya.
Sungguh menyebalkan. Benar kata Zea, kalau Gara memang menyebalkan dan menjijikkan. Kenapa juga Revan menjadikan Gara sebagai sahabatnya dulu? Salahnya sendiri juga bukan.
"Revan, ayo ke cafe." Pinta Gara sejak awal datang.
"Berisik! Untuk apa juga ke cafe? Kau ingin bermain jangan di cafe. Di bar milikmu saja sana!"
"Tidak mau. Aku bosan disana."
"Heh, bodoh! Itu bar milikmu sendiri. Kenapa juga kau menjadi bosan?"
"Terserah padaku. Itu kan bar milikku. Sekarang ayo ke cafe. Urusanmu juga sudah selesai kan."
"Kau buta, hah?! Aku masih harus menandatangani semua ini."
"Kau lama sekali kerjanya."
"Ck, bodoh! Ada manusia bodoh seperti kau ternyata. Kaulah pelakunya, mencari gara-gara dengan waktu. Waktu ku jadi terbuang banyak."
"Masa?"
"Gara kau mau mati tanggal berapa? Biar aku siapkan makam untukmu. Dengan senang hati setelah itu aku akan membakar makammu."
"Tidak. Aku belum mau mati. Aku kan sudah bilang padamu kalau aku mau ke cafe sekarang."
"Wah, Aku hancurkan juga hingga berkeping-keping kepala kau!"
"Revan, ayo ke cafe!" Paksa Gara.
"Diam bodoh! Untuk apa, hah?" Geram Revan.
"Melihat calon istri mu. Eh, tidak tidak. Calon istriku." Gara menaik turunkan alisnya.
"Jangan mimpi. Karena sudah malam, lebih baik kau tidur saja dan bermimpilah dengan tenang."
"Ah, iya kau benar juga."
"Tentu saja. Dia wanitaku." Guman Revan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri dan Sekretaris Zen yang ada didekatnya.
Gara bangkit dari rebahannya. Berjalan mendekati Revan dan Sekretaris Zen. Zen yang merasa ada ancaman langsung mendongakkan kepala. Melihat sahabat tuannya yang berjalan mendekat. Zen langsung saja pasang badan untuk menjaga meja kerja tuannya. Agar tidak ada masalah lagi yang diperbuat oleh Gara. Apalagi sampai dihamburkan ke lantai lagi oleh Gara. Mungkin Zen akan mengumpati Gara satu hari satu malam. Karena tidak menghargai waktu orang lain.
"Maaf tuan, silahkan anda bisa duduk saja dengan santai di sofa. Mungkin anda ingin kopi. Saya akan meminta staf untuk mengantarkannya untuk anda."
"Hm..., tidak. Aku tidak mau. Memangnya kenapa? Aku sepertinya ingin membantu lagi."
__ADS_1
"Jangan Gara!" Larangan keras diberikan oleh Revan.
"Kenapa?" Gara dengan wajah polosnya.
"Maaf tuan, saya mengenal anda sebagai sahabat tuan muda. Tapi, jika anda berulah kembali. Saya akan mengenal anda sebagai pembuat ulah. Sehingga bagian front office akan melarang anda untuk masuk."
"Eh, kok gitu? Aku kan sahabat Tuan Revan Senkara Ardawijaya yang terhormat. Kenapa bisa begitu? Jabatanmu lebih rendah daripada diriku."
"Bagus Zen. Usir saja dia sekarang kalau kau mau." Revan dengan masa bodohnya malah mendukung sekretarisnya. Tapi, itu akan jauh lebih baik. Dibandingkan membiarkan Gara bertahan di dalam ruangannya.
"Baik tuan."
"Hah? Revan janganlah. Aku kan sahabatmu. Ayolah, sahabatku!" Gara berwajah pias sekarang. Tidak ingin keluar dari ruangan sahabatnya.
"Maaf tuan, jika tuan ingin tetap berada di dalam ruangan, silahkan duduk dengan rapi dan tenang. Saya akan pesankan kopi untuk anda sembari menunggu Tuan muda Revan selesai dengan pekerjaannya. Jika tidak, silahkan pergi dari ruangan presiden direktur sekarang juga." Tegas Sekretaris Zen dengan tatapan datarnya kepada Gara.
Gara menghela nafasnya pasrah. Akhirnya, dia terdiam hanya saja belum bergerak untuk duduk di sofa.
Gara menatap Sekretaris Zen dengan tatapan penuh harap. Melangkah sedikit untuk mendekat ke arah Zen berada.
Seketika Sekretaris Zen langsung saja menajamkan tatapannya agar Gara segera mundur. Namun, Gara bukan mundur malah berhenti ditempat.
"Aku akan diam dan duduk di sofa. Tapi, sambil menunggu sahabatku. Aku tidak ingin kopi." Wajah Gara dengan ekspresi yang minta dikasihani.
"Maaf tuan, selain kopi, apa ada yang tuan inginkan?" Zen masih dalam mode sabarnya.
"Aku ingin--" Belum selesai sudah dipotong oleh sahabatnya sendiri.
"Berikan dia matcha latte saja Zen sama cheese cake." Revan menyela.
"Eh, dasar bocah!" Revan merasa tersindir. Karena dirinya penyuka kopi.
"Hm..., maksudku kopi bukan seleraku. Selera setiap orang kan beda-beda." Gara meralatnya.
"Ah sudahlah. Lebih baik kau diam saja. Duduk sana di sofa!" Perintah Revan dengan tegasnya. Sudah sangat kesal dia dengan Gara.
"Baik Tuan muda Revan." Gara patuh dengan sedikit candaan.
Sekretaris Zen yang sedari tadi menyimak akhirnya meminta izin untuk keluar dari ruangan sebentar kepada Revan untuk memesan minuman dan makanan yang diinginkan Gara.
Revan juga ikut memesan kepada Zen. Karena memang Revan belum makan malam. Apalagi sekarang sudah menunjukkan jam sembilan malam lewat. Zen pun segera keluar dari ruangan revan untuk membelinya.
"Revan." Gara mulai lagi dengan mulutnya. Tapi, tubuhnya diam ditempat.
"Hm."
"Sepertinya Nona cantik waktu itu sangat imut dan menggemaskan ya."
"Siapa maksudmu?"
"Itu Nona Cantik yang kau antarkan pulang waktu itu."
"Zea namanya. Berhentilah memanggil dia nona cantik!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kau punya otak kan pasti bisa mencerna kata-kata ku dengan baik. Jadi, berhentilah memanggilnya dengan sebutan nona cantik!"
"Kau menyukainya ya?"
"Tidak."
"Kau mencintainya ya?"
"Tidak."
"Kau tertarik ya?"
"Tidak."
"Kau tergoda ya?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Dia wanitaku."
"Heh, mana bisa begitu? Nah, itu kau sudah selesai ya. Ayo, ke cafe." Ajak Gara lagi antusias saat melihat Revan sudah meletakkan dokumen dengan rapi dan menyimpan pulpennya.
"Lihatlah jam berapa sekarang! Cafe sudah tutup."
"Ah, iya ya. Gara-gara kau sih." Gara menyalahkan Revan.
"Heh, bodoh!" Revan berdiri dan berjalan ke arah Gara.
Gara yang melihat Revan berjalan ke arahnya menjadi bingung. Karena tatapan Revan begitu aneh. Dia tidak bisa mengartikannya. Gara mengernyitkan dahinya dan mengangkat alisnya.
Revan terus berjalan mendekati Gara yang duduk di sofa. Gara bergeser saat Revan ingin duduk juga di sebelahnya. Gara bisa sedikit menghela nafasnya saat tahu kalau ternyata Revan hanya ingin duduk di sofa juga.
Tapi, ternyata nafasnya kembali tertahan. Saat Revan menghadap ke arahnya dan mendekatkan wajahnya ke arah telinganya. Gara merinding karena merasakan hawa menakutkan.
"Zea wanitaku. Berhentilah menyebutnya Nona Cantik. Karena dia milikku. Paham?" Bisik Revan dengan penuh penekanan.
Gara yang mendengarnya saja sudah merinding. Reflek langsung saja mengangguk dengan maksud memahami semua perkataan Revan.
"Bagus, anak baik." Revan tersenyum senang seraya menepuk kepala Gara beberapa kali.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya terbaru ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
__ADS_1
See u in the next episode 💕