
...~ Dwitara Group Aku Padamu ~...
...___________________________________________...
Kembali lagi di rumah. Tempat paling nyaman untuk beristirahat. Zea melakukan rutinitas wajibnya seperti biasa. Sebelum pulang tadi. Zea tidak sengaja melewati tukang roti yang lewat menggunakan sepeda.
Sisa rotinya tidak terlalu banyak karena sudah malam. Harganya juga sangat murah. Padahal ukuran rotinya seperti ukuran roti yang bermerek di mall.
Karena Zea merasa kasihan dengan bapak penjualnya yang sudah malam tapi masih berjualan. Zea pun membeli semua rotinya. Sisa tujuh bungkus roti saja sebenarnya. Harganya pun murah. Jadi, Zea masih bisa membelinya.
Sebentar lagi Zea pun juga gajian. Tidak masalah berbagi dengan sesama. Tidak ada salahnya juga.
"Huh, akhirnya bisa rebahan juga." Zea menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Besok hari sabtu. Sabtu, minggu aku punya banyak waktu luang. Di cafe juga bagianku hanya sampai jumat. Enaknya melakukan apa ya besok?"
Gumaman Zea sembari menatap langit-langit kamarnya yang sunyi. Tangannya diangkat melambai-lambai ke atas. Mencoba mencari ide yang seru. Biasanya Zea akan menghabiskan waktu di taman sambil jajan makanan.
Tapi, Zea ingin melakukan sesuatu yang baru. Tidak itu-itu saja. Sudah mulai bosan dengan kegiatan biasanya.
Tring!
Zea menoleh ke arah ponselnya di atas nakas yang terdengar notifikasi. Zea langsung terduduk. Zea tahu notifikasi satu ini adalah notifikasi aplikasi apa.
Zea menghela nafasnya pelan. Mengatur nafasnya supaya tidak terlalu senang. Karena notifikasi tersebut adalah notifikasi email.
Semoga notifikasi tersebut merupakan email dari salah satu perusahaan yang dia lamar. Segera Zea mengambil ponselnya dengan semangat.
Lalu, dibukanya aplikasi email dengan pelan-pelan. Zea menggigit bibirnya. Takut harapannya salah. Matanya tertutup. Tidak ingin melihat. Coba mengintip sedikit dan matanya membuka sempurna.
"Aaaaa..., aaaa..., ibu ayah aku diterima bekerja di perusahaan!"
"Aaaaa..., akhirnya ibu ayah!"
"Wuhuu....!!!"
Zea berdiri di atas ranjang dan melompat-lompat di atasnya. Benar-benar kegirangan Zea sampai kelelahan dan berbaring di atas kasur dengan kaki mulai terasa pegal.
"Eh, tapi aku harus interview dulu ya. Lupa." Zea menepuk dahinya yang melupakan sesuatu.
"Duh, gimana kalau interviewnya gagal ya?" Zea mengacak-acak rambutnya.
"Sudahlah, besok pagi saja memikirkannya. Lebih enak aku makan roti."
__ADS_1
...----------------...
Pagi yang cerah kembali datang dengan hari yang baru. Zea mengerjapkan matanya beberapa kali karena sinar mentari yang menembus jendela kamarnya.
Zea bangun segera mempersiapkan pagi hari dengan membersihkan diri dan membersihkan kamar. Waktu luangnya cukup banyak. Jadi, bisa sedikit bersantai melakukan aktivitasnya.
Selesai dengan kegiatannya. Zea makan roti yang semalam dia beli. Karena masih sisa. Jadi, dibuat untuk sarapan saja.
"Interviewnya hari apa ya? Di email tertera tidak ya, lupa deh."
Zea kembali memeriksa ponselnya terutama email dari perusahaan yang mengirimnya pemberitahuan lanjutan ini.
"Hari senin jam sembilan. Okelah kalau begitu. Dua hari ini aku harus bisa menyiapkan diri. Latihan depan kaca oke nih. Tapi, enaknya cari cemilan dulu."
Zea langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Zea berjalan keluar dari rumahnya menggunakan sandal biasa untuk mencari jajanan yang enak sambil dia latihan interview nanti.
Melihat abang penjual siomay sama cireng. Zea langsung membeli keduanya. Setelah dibayar. Zea segera kembali ke rumahnya. Belajar mempersiapkan interview untuk hari senin.
"Mulai dari mana dulu ya."
"Makan siomay dulu deh."
Zea berlatih sekeras mungkin selama dua hari. Dia tidak terlalu memaksakan dirinya. Namun, tetap saja harus bisa berusaha menampilkan yang terbaik.
...----------------...
Di depan gedung tinggi yang banyak orang lain bekerja di gedung tersebut sedang berlalu lalang. Zea membayangkan jika salah satu diantara mereka itu adalah dirinya.
"Dwitara Group aku padamu." Gumam Zea sebelum jalan masuk ke dalam lobby gedung.
Di dalam perusahaan. Zea langsung menanyakan tempat interview dilaksanakan pada resepsionis.
Setelah tahu dimana letaknya. Zea langsung menuju ke tempat interview. Ternyata ada banyak juga calon pekerja di perusahaan Dwitara Group yang masuk tahap interview.
Zea duduk di kursi tunggu yang telah disiapkan. Karena belum jam sembilan. Jadi, belum dimulai interviewnya.
Tidak tahu siapa yang akan menjadi yang pertama nanti. Zea berharap nanti dia tidak gugup ataupun grogi. Berusaha untuk tampil yang terbaik. Meskipun hasilnya belum tentu terbaik.
Tiga puluh menit telah lewat. Zea menjadi gelisah. Karena beberapa kandidat telah selesai di interview. Sedangkan, dirinya sendiri belum.
Sepertinya masih ada sekitar dua puluh sampai tiga puluh orang lagi. Entah interview menang sebanyak ini atau memang disaringnya banyak.
Zea untuk pengalaman pertamanya belum terlalu mengerti. Zea hanya bisa tetap tenang dengan sesekali menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
Demi menenangkan diri supaya tidak terlalu terlihat tegang. Apalagi mengingat mendiang ayahnya. Dimana ayahnya bisa berhasil bekerja di perusahaan ternama di negaranya.
Zea harus bisa berusaha dan mencapai kesuksesannya lebih dari sang ayah. Bahkan, ibunya yang merupakan pemilik butik.
Walaupun sudah bangkrut. Tetap saja Zea harus bisa lebih dari kedua orang tuanya. Supaya kedua orang tuanya bisa bangga dengan anaknya dari atas sana dan bisa melihat anaknya bahwa Zea baik-baik saja.
...----------------...
Dalam sebuah ruangan pimpinan kantor pusat. Terdapat dua orang yang sedang bersiap-siap menyiapkan berkas. Karena mereka akan pergi ke beberapa perusahaan untuk mengawasi perekrutan karyawan berskala besar di anak perusahaan ataupun cabangnya.
Sehingga perekrutan karyawan tidak main asal pilih. Walaupun sudah dipercayakan kepada HRD perusahaan. Mengawasi itu penting bagi pimpinan satu ini.
"Semuanya sudah siap tuan."
Sekretaris Zen sudah siap dengan beberapa dokumen di tangannya.
"Baiklah, kita berangkat sekarang."
"Baik tuan."
Revan dan sekretaris Zen pun segera keluar dari ruangan dengan sekretarisnya yang berjalan di belakangnya.
Mereka menuju ke mobil untuk menuju ke perusahaan pertama mereka akan melakukan pengawasan. Tidak lama mengawasinya. Hanya sebentar melihat bagaimana cara interviewnya.
Setelah itu beralih ke perusahaan lain. Karena persaingan antar perusahaannya cukup ketat. Sehingga harus diperhatikan sedemikian rupa. Agar tetap bisa bersaing. Tidak mengalami kejatuhan karena karyawan yang tidak berkompeten.
Di perusahaan pertama yaitu Alexta Group. Revan dan Sekretaris Zen menemani dan ikut mengawasi. Karena Sekretaris Zen bukan sembarang sekretaris.
Sekretaris Zen bagaikan Revan versi kedua. Kenapa? Karyawan ikut tunduk dan patuh terhadapnya. Karena selalu berada disisi Revan dan Revan mempercayai sekretarisnya.
Disaat Revan tidak ada di perusahaan. Sekretaris Zen langsung mengambil alih dengan inisiatifnya. Tidak ada maksud lain.
Zen hanya ingin bekerja saja yang terbaik. Karena kesibukannya saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya.
Revan dan Sekretaris Zen masuk ke dalam ruangan dimana dia memantau dari ruangan berbeda. Mereka mengawasi melalui kamera yang ada.
Bukan kamera CCTV. Melainkan kamera rekam yang nantinya akan dijadikan arsip data perusahaan dan dokumentasi interview karyawan saat perekrutan.
"Bagaimana kondisi di ruangannya?" Revan menoleh ke arah Sekretarisnya yang sempat melihat secara langsung kegiatan interview.
"Semuanya berjalan dengan baik tuan muda." Sekretaris Zen menjawabnya dengan yakin tanpa keraguan.
"Baiklah, bagus." Revan mengangguk.
__ADS_1
Bersambung.