
...~ Bunga Untuk Ayah Ibu ~...
...___________________________________________...
Setiap pencapaian yang sudah Zea raih. Zea juga harus selalu ingat dengan ibu dan ayahnya. Walaupun mereka sudah tiada. Karena kalau bukan karena mereka. Karena siapa lagi. Tentu saja tuhan. Tapi, yang membantu Zea selain mereka siapa lagi?
Setiap bulan sekali jika memang ada waktu Zea akan menyempatkan dirinya untuk menemui ayah dan ibunya di pemakaman umum.
Sesekali Zea menangis di makam ibu dan ayahnya. Sesekali Zea tertawa di makam ibu dan ayahnya. Sesekali Zea curhat di makam ibu dan ayahnya. Sesekali Zea memeluk kedua makam yang bersebelahan itu bergantian.
Tidak peduli dengan tatapan orang yang menatapnya aneh. Tidak peduli juga dengan orang yang berpikir dirinya gila. Bahkan, membicarakannya di belakang mengenai sikapnya di makam kedua orang tuanya. Zea sama sekali tidak peduli.
Setiap ke makam ayah dan ibunya Zea selalu membawa empat macam bunga ikat. Menaruhnya dengan mencampurkan keempat warnanya di kedua makam orang tuanya.
Indah. Sangat indah sekarang terlihatnya. Ditambah rerumputan yang sangat bersih, hijau dan tumbuh di makam kedua orang tuanya membuat Zea tenang melihatnya.
Air mata tidak terasa menetes dari pelupuk matanya. Menatap kedua makam orang tuanya. Duduk diantara mereka. Berada ditengah-tengah mereka.
Tapi, bukan ditengah-tengah mereka yang sedang memeluk Zea. Mungkin untuk itu Zea hanya bisa melakukannya di mimpi, dipikirannya atau mengenang masa-masa sebelum kedua orang tuanya meninggalkannya.
"Ayah, ibu, kalian apa kabar?"
"Zizi rindu kalian..."
"Zizi ingin dipeluk kalian lagi..."
"Zizi sudah diterima bekerja diperusahaan ayah..."
"Ayah bangga tidak sama Zizi? Ibu bangga tidak sama Zizi?"
"Oh iya Ayah, Ibu, ada yang mau aku beritahukan kepada kalian."
"Aku sudah punya pacar lho ayah, ibu..."
"Dia tampan dan juga kaya raya. Dia presiden direktur perusahaan bu. Hebat sekali ya dia..."
"Hahaha..., tapi ayah dan ibu jangan senang dulu. Karena, kami hanya berpacaran.
"Kami belum tahu akan menikah atau tidak, ayah dan ibu doakan yang terbaik saja ya untuk kami."
Zea tersenyum menatap makam ayah dan ibunya. Senang sekali bisa bercerita dengan kedua orang tuanya lagi. Meskipun tidak ada interaksi yang sebenarnya.
Tidak apa. Seperti ini juga tidak masalah. Jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Karena belum memberitahu perihal apapun kepada kedua orang tuanya.
Zea mengusap batu nisan kedua orang tuanya. Dicium dan ditatapnya sendu. Tidak akan bosan Zea melakukan ini sampai kapanpun.
Meski Zea sudah bersuami dan mempunyai anak nanti. Bahkan, cucu kalau memang masih diberikan umur panjang.
"Ayah, ibu kalian sedang apa?"
"Bagaimana perasaan kalian setelah tahu aku sudah berpacaran?"
"Aku sudah berumur dua puluh tiga tahun lho ayah, ibu."
"Aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang kok."
"Jangan takut dan jangan mengkhawatirkanku ya..."
__ADS_1
"Ayah, ibu, kita berfoto dulu ya."
Zea mengambil ponsel dari dalam tasnya. Lalu, mengambil foto menggunakan kamera depan. Dihadapkan kepada dirinya dan kepada kedua makam orang tuanya.
Lalu, disimpan kembali ponselnya. Zea kembali menatap kedua makam itu bergantian. Lalu, mengusap batu nisannya dan menciumnya bergantian.
"Ayah, Ibu, aku pamit pulang dulu ya."
"Doakan aku sukses ya ayah, ibu, doakan yang terbaik juga untuk Zea dan pacarku."
"Oh iya, aku lupa bilang. Nama pacarku Revan."
"Bagus tidak nama dia? Revan Ardawijaya. Pemilik Ardawijaya Group. Keren ya!"
"Tapi, masih lebih keren ayah bisa diterima bekerja di perusahaan Adipramana Group. Bisakah aku seperti ayah? Hahaha..., cita-citaku terlalu biasa ya ayah?"
"Tenang aku ingin menjadi wanita karir kok. Jadi, tetap berada di hati dan dekatku ya. Temani aku disetiap usahaku."
"Terima kasih ayah, ibu..."
"Aku sayang ayah dan ibu selalu, dimanapun aku berada aku akan mengingat kalian..."
"Aku pamit ya, aku pergi dulu, nanti aku balik lagi dengan bunga indah yang baru. Sampai jumpa ayah, ibu. Berbahagia ya disana..."
Zea bangkit dari duduknya. Lalu, berjalan meninggalkan makam ayah dan ibunya dengan air mata yang lolos dari matanya. Seraya berjalan Zea menghapus air matanya.
Zea pulang ke rumah setelah puas berbicara dengan ayah dan ibunya. Merasa lebih tenang sekarang karena ayah ibunya sudah tahu tentang pencapaiannya.
Dan juga mungkin Zea akan sedikit tambah sibuk. Hingga cukup sulit meluangkan waktu untuk kemakan. Jadi, Zea sudah cukup puas tadi di makan ayah ibunya.
Zea menggunakan ojek online untuk pulang ke rumah. Supaya lebih cepat. Lelah berjalan dan lelah menangis.
Zea masuk ke dalam dan banyak sekali jenis rasa kue. Lebih khususnya ke pastry. Banyak macam-macam croissant yang dijual. Ada croissant rasa butter, coklat, coklat pisang, chocochip dan lain-lain.
Zea tersenyum kecil saat melihat ada melihat croissant polos atau rasa butter. Teringat kembali beberapa tahun yang lalu. Disaat kedua orang tuanya masih ada dan mereka sedang berjalan-jalan atau liburan atau memang lagi ada urusan di luar kota. Mereka pasti selalu menginap di hotel.
Di Setiap hotel pasti memiliki aneka roti-rotian atau aneka pastry. Ibunya Zea sangat menyukai croissant yang polos lalu diolesi oleh mentega atau butter.
Setiap sarapan mereka di hotel, ibunya Zea selalu pasti memakan croissant polos lebih dulu untuk makanan pembuka.
Kecuali Zea dan ayahnya yang lebih menyukai makanan pembuka adalah buah. Sedangkan, makanan penutup adalah kue manis.
Zea pun mengambil nampan dan capitan. Zea mengambil tiga macam croissant. Croissant yang biasanya ibunya makan, rasa coklat dan rasa matcha.
Lalu, langsung dibayar dan dibungkus dibawa pulang. Tidak dimakan langsung ditempat disertai kopi seperti orang lainnya disana.
Untuk pulang kali ini Zea memilih untuk menggunakan angkutan umum. Demi mengirit lagi. Tapi, sebelum itu Zea merasa haus. Dia membeli minuman segar dahulu di pinggir jalan.
Lalu, meminumnya sambil berjalan sedikit-sedikit sembari menunggu angkutan umum yang lewat dengan menuju rumahnya.
Saat minumannya hampir habis. Angkutan yang lewat dengan rumah Zea muncul. Zea pun segera memberhentikan mobil dan naik ke dalam.
Tring!
Muncul satu notifikasi pesan di ponsel Zea. Zea mengambil ponsel dalam tasnya dan melihat isi pesannya.
📱
__ADS_1
Malam ini makan malam
bersamaku lagi ya.
^^^Tidak mau.^^^
Kenapa?
^^^Tidak mau menolak.^^^
Ze...
^^^Hahaha..., dimana?^^^
Temui aku di kantor ya
^^^Baiklah^^^
Kamu dimana?
^^^Dijalan^^^
Kamu baru saja pergi kemana?
^^^Ke makam^^^
Baiklah, aku tunggu ya
^^^Oke^^^
📱
Pergantian rute perjalanan pun terjadi. Zea tidak jadi menuju pulang ke rumahnya. Melainkan menuju ke arah kantor Revan.
Tidak masalah lah kalau begitu. Sedikit mengurangi rasa penat di rumah. Karena berkutat terus dengan laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya.
Sekali-kali Zea butuh istirahat dan refreshing. Untung saja sebentar lagi sudah waktunya cuti bersama. Jadi, Zea bisa beristirahat di rumah.
Segera Zea turun dari angkutan umum yang dinaikinya dan berubah angkutan umum yang sejalan dengan kantor Revan.
Mungkin disini yang mencoba untuk lebih mendekat satu sama lain hanya Revan. Yang tengah berusaha hanya Revan. Karena mungkin Revan ada tuntutan yaitu dari kedua orang tuanya.
Sedangkan, Zea lebih tenang dan santai. Karena tidak ada tuntutan akan masalah percintaannya. Jadi, lebih biasa saja dan mengarah ke tidak peduli sebenarnya. Makanya dia merasa sedikit geli dengan sikap Revan kepadanya sekarang.
Tidak apa-apa toh nanti Zea akan merasa terbiasa sendiri dan menganggap itu adalah hal yang manis dan romantis. Maklum belum pernah pacaran dan hanya menyukai orang saja. Tapi, bertepuk sebelah tangan. Sabar ya Zea, sekarang ada Revan kok.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
__ADS_1
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
See u in the next episode 💕