
... ~ Zeandra Bunga Sienna! ~...
..._______________________________________...
Zea berdiri tidak jauh dari pintu depan rumahnya. Menunggu ketukan pintu itu berhenti. Ketukan pintunya tidak kencang juga keras. Melainkan santai. Hanya saja siapa orang yang mengetuk pintu itu yang membuat Zea menghindar.
Belum siap untuk bertemu kembali dengan Revan. Karena di saat mereka bertemu nanti. Rencana Zea adalah bertanya kebenaran kepada Revan secara langsung.
“Sayang..., kamu ada di dalam?” Panggil Revan dari dalam pintu dengan suara keras yang sudah pasti Zea dapat mendengarnya dengan jelas.
“Sayang...” Panggilnya lagi.
“Zea...”
“Zea..., kamu ada di dalam tidak?”
Revan masih berusaha mengetuk pintu rumah Zea. Setelah mendengar laporan dari sekretarisnya bahwa Zea resign dari perusahaannya membuat Revan bingung dengan apa yang sedang Zea lakukan.
Mencoba meminta bantuan sekretarisnya untuk memeriksa keadaan sekitar rumah Zea. Adakah jejak Zea bahwa orangnya ada di dalam atau tidak. Sekretaris Zen mencoba memeriksanya dengan teliti.
“Nona Zeandra, saya Sekretaris Tuan muda. Bolehkah untuk mempersilahkan tuan muda masuk ke dalam?” Panggil Zen dengan suara keras dan tegas.
“Zen, kau ini bagaimana?bertanya tapi belum tentu orangnya ada di dalam atau tidak.” Revan menatap Zen heran.
“Nona Zeandra ada di dalam rumahnya tuan.”
“Kau tahu dari mana Zen?Tidak ada yang menyahut dari tadi.” Revan tambah bingung.
“Maaf tuan, ada gorden yang tersingkap di sudut bawah jendela. Disana terlihat kaki nona Zeandra yang berdiri tidak jauh dari pintu ini.” Jelas Zen yang menemukan celah terbuka.
__ADS_1
Revan mencoba membuktikannya dan ternyata benar. Namun hanya kelihatan kaki orang yang ada di dalam saja. Revan tersenyum kecil penuh kemenangan.
“Zeandra Bunga Sienna! Aku tahu kamu ada di dalam sayang..., boleh aku masuk?” Panggil Revan lagi dengan keras dan tegas.
Zea dari dalam rumahnya merasa bingung. Membiarkan mereka masuk atau tidak.
“Duh..., bagaimana ini?”
“Dia pasti sudah tahu tentang aku yang resign dari perusahaannya.”
“Ah masa bodoh lah. Lebih baik selesaikan hari ini juga saja. Daripada menghindar terus menjadi tidak tenang seperti dikejar-kejar hantu.” Gerutu Zea yang semakin lama semakin kesal dengan orang di depan rumahnya.
Zea pun menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya. Setelah itu barulah dia melangkah untuk membukakan pintu.
“Ze..., sayang bolehkah ak—“
Baru saja Revan hendak memanggil Zea untuk membukakan pintu. Namun, pintu sudah lebih dulu terbuka. Revan tidak mengerti dengan wajah Zea yang seperti datar dan tidak senang. Seakan tidak suka dengan kedatangan dirinya ke rumahnya.
Aku punya salah dengannya ya? Revan.
“Iya boleh.” Jawas Zea mempersilahkan. Namun, dengan Wajah datar tidak ada senyuman sedikit pun.
Duduklah Revan, Zea dan sekretaris Zen di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya. Revan menatap Zea lekat.
“Ze, aku ada salah dengan mu?” Tanya Revan seraya memegang tangan Zea. Tapi, Zea tidak mau. Tangannya ditarik dari genggaman Revan.
“Tidak ada.” Jawab Zea acuh.
“Lalu? Kenapa kamu seperti menjauh? Bahkan, tadi kamu seperti menghindariku. Teleponku juga tidak kamu angkat. Apa ada masalah diantara kita, Ze?” Tanya Revan penuh rasa penasaran juga butuh penjelasan.
__ADS_1
“Tidak ada masalah apa-apa. Tapi, bolehkah aku yang bertanya dan kamu harus menjawabnya dengan jujur?” Tanya Zea yang sekarang mengambil Alih pembicaraan.
“Tanya saja Ze, tentang apa?” Revan menunggu pertanyaan yang akan diberikan oleh Zea, calon istrinya.
“Benarkah kamu selalu menyewa wanita bayaran untuk menemanimu tidur?” Tanya Zea dengan tatapan serius dan suara tegas.
Revan mengernyitkan dahinya setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Zea. Revan menoleh menatap sekretarisnya itu yang pasti tahu bagaimana kehidupan Revan sebelumnya.
Dari kehidupan sebelum Zea datang Sekretaris Zen sudah tahu lebih dulu. Maka dari itu, Sekretaris Zen merasa tidak terima tuannya mendapatkan tuduhan seperti itu.
“Maaf Nona Zeandra, Tuan Muda tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain ibu dan adik tuan muda. Sebelumnya, boleh saya tahu mengapa Nona Zeandra bertanya mengenai perihal tersebut?” Sergah Sekretaris Zen membela Revan.
“Aku ingin dengar dulu dari mulut orangnya langsung.” Zea menatap Revan tajam.
Revan menatap Zea dan memahami akan Zea yang ternyata sedang meragukannya.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
__ADS_1
See u in the next episode 💕