
...~ Mengenalinya Lebih Dalam ~...
...___________________________________________...
Suasana di salah satu gedung tinggi yang menjadi incaran para mahasiswa yang baru lulus kuliah untuk tempat bekerja mereka banyak orang bekerja yang berlalu lalang keluar masuk gedung tinggi tersebut.
Pada salah satu lantai di gedung tersebut. Tepatnya di lantai paling tinggi gedung tersebut ada seseorang yang tengah sibuk dengan berbagai kertas yang sudah menumpuk dengan rapi di meja kerjanya.
Pulpen khusus sudah berada ditangannya. Siap memasang mata dan pikirannya untuk segera membaca dari setiap isi kertas yang ada.
Jika, otak berkata yes. Tangan akan bergerak untuk menandatangani kertas tersebut yang merupakan sebuah proposal dari berbagai perusahaan untuk mengajak bekerja sama.
Tok!, Tok!, Tok!.
Pintu yang diketuk merupakan pintu yang sudah diatur sedemikian rupa. Di meja kerja pemilik ruangan ada pengatur pintu. Ada sensor warna hijau dan merah dekat handle pintu.
Dimana akan berwarna hijau, jika pemilik mengizinkan orang lain masuk. Pintu juga akan berwarna merah, jika pemilik ruangan tidak mengizinkan orang lain masuk.
Pemilik ruangan juga bisa melihat siapa yang mengetuk dari sistem yang ada. Melalui layar tablet yang menyatu dengan meja kerjanya. Tersambung dengan kamera yang ada di depan pintu.
Sungguh canggih dengan sistem yang ada. Demi lebih efektif dan efisien. Hanya saja belum terpikirkan oleh si pemilik ruangan yang dimana adalah pimpinan dari perusahaan tersebut untuk mengeluarkan robot yang menandatangani berkas.
Sensor warna pada pintu menunjukkan kesediaan pemilik ruangan untuk dimasuki oleh orang lain ruangannya. Seperti saat ini. Pemilik ruangan memberikan warna hijau sebagai tanda bahwa dia memberi izin.
"Maaf tuan, saya ingin menyampaikan laporan mengenai Nona Zea."
Sekretaris dari pimpinan perusahaan datang dengan tegak dan gagahnya berjalan mendekati sang pimpinan yang tengah duduk di kursi kerjanya.
"Hm, silahkan."
Sang pimpinan memberi lampu hijau untuk sekretarisnya memberikan laporan mengenai apa yang diminta.
Sekretaris itu memberikan beberapa lembar kertas lagi sebelumnya. Sebagai bukti dari hasil laporannya. Dia juga menyiapkan laporan tertulis yang akan dibaca sendiri oleh pimpinan.
"Nona Zeandra Sienna Bunga, dua puluh tiga tahun, lahir pada tanggal satu januari, status single, pekerjaan barista di cafe Tou'les, alamat rumah di jalan pandan wangi nomor tiga. Kedua orang tua Zeandra sudah tiada dikarenakan kecelakaan. Kesibukan sekarang, Nona Zea baru saja lulus perkuliahannya di jurusan manajemen dan sedang melamar bekerja di perusahaan. Nona Zea, melamar di beberapa perusahaan cabang dan anak perusahaan Ardawijaya Group tuan muda, termasuk dengan kantor pusat. Sekian laporan saya, terima kasih."
Pimpinan mengangguk setelah mendengar laporan yang lumayan detail menurutnya. Cukup puas dengan laporan yang diberikan kepadanya. Sudah cukup informasi mengenai yang ingin diketahui olehnya untuk saat ini.
"Mengenai kecelakaan Nona Zea, apakah tuan muda ingin menyelidikinya?"
Sekretaris pimpinan itu menanyakan saran sekaligus bertanya kesediaan tuannya untuk mengetahui lebih dalam mengenai Zea.
Bukan karena kebutuhan kerja atau apapun. Melainkan tugas mencari tahu mengenai wanita merupakan tugas pertama yang pernah pimpinannya itu berikan kepada sekretarisnya.
Selama ini pimpinannya hanya berfokus pada satu hal yaitu, pekerjaan. Laporan pun yang dimintai hanya mengenai keuangan perusahaan, kinerja karyawan, masalah perusahaan dan semuanya mengenai perusahaan.
Tidak ada dalam tugasnya terbesit mencari tahu tentang wanita. Baru kali ini ada satu wanita yang ingin diketahui secara detail oleh pimpinannya.
"Sepertinya tidak perlu. Kita perlu tahu penyebabnya saja, yaitu kecelakaan bukan?" Pimpinan itu menatap Sekretarisnya.
"Benar tuan."
"Tapi, untuk kedua orang tuanya siapa, aku ingin tahu. Tolong cari tahu mengenai itu."
"Baik tuan."
Sekretaris pimpinan itu memberikan beberapa lembar lagi. Ternyata semuanya sudah siap sedia. Hanya tinggal diberikan kepada pimpinannya saat diminta.
"Nona Zeandra lahir di Jakarta. Nona Zea dan keluarganya dapat dikatakan lebih dari cukup. Ayah Nona Zea bernama Reza Erlangga Wijaya, bekerja di Perusahaan Adipramana Group sebagai staf Sekretaris Presiden Direktur. Ibu Nona Zea bernama Leanne Arsya Dirgahaja bekerja sebagai pemilik butik. Sekian laporan saya, terima kasih."
__ADS_1
"Zen, berapa bonus yang kau inginkan? Kau gerak cepat sekali." Pimpinan itu memuji kinerja sekretarisnya yang bernama Zen.
"Terima kasih tuan."
"Baik, Adipramana Group? Sehebat apa ayahnya sampai bisa tembus bekerja di Perusahaan mega spektakuler seperti itu."
"Ayah Nona Zea, memiliki pengalaman bekerja di luar negeri dan kepandaian beberapa bahasa asing."
Pimpinan itu mengangguk mengiyakan apa yang dijelaskan oleh sekretarisnya.
"Lalu, dengan ibunya? Bukankah dia pemilik butik? Tapi, anaknya bekerja di cafe."
"Butik tersebut sudah dinyatakan bangkrut, tuan muda. Hanya tersisa rumah yang asetnya aman dari biaya apapun."
"Baiklah, cukup untuk saat ini. Terima kasih."
"Baik tuan. Apa ada yang bisa saya bantu kembali, tuan muda?"
"Tidak ada, lanjutkan saja pekerjaanmu."
"Baik tuan."
Sekretaris Zen keluar dari ruangan pimpinan dan kembali ke ruangannya sendiri. Sementara itu, sang pimpinan tersenyum kecil setelah mendengar laporan cukup detail mengenai wanita yang sangat membuatnya penasaran.
Semoga saja wanita ini jodohku. Jadi, tidak ada perjodohan lagi yang disiapkan oleh orang tua itu.
Belum lama Sekretaris Zen keluar ruangan. Ponsel yang di atas meja berdering. Dilihatnya nama sang ibunda tercinta di layar ponselnya. Langsung saja diangkat olehnya.
☎
"Halo."
"Manis seperti gula akan lebih manis lagi kalau ibu berhenti menjodohkan aku dengan wanita pilihan ibu dan ayah."
"Oh iya? Semanis apa itu?"
"Semanis madu."
"Madu sama gula memangnya lebih manis mana?"
"Ibu coba saja dirumah kan ada keduanya."
"Kalau ternyata lebih manis gula. Kamu harus mau ibu jodohkan ya."
"Tidak."
"Hei, anakku kamu mau jadi perjaka tua, hah?"
"Tidak."
"Lalu, kalau tidak mau dijodohkan. Kamu mau menjomblo gitu seumur hidup kamu? Kamu saja tidak laku kan."
"Ck, bukan begitu bu. Banyak wanita yang mau denganku. Tapi, mereka bukan seleraku."
"Selera apa maksudnya?! Memangnya wanita makanan yang harus disesuaikan dengan seleramu."
"Bukan begitu juga bu."
"Lalu? Sudah ya ibu jodohkan saja. Dari pada jomblo."
__ADS_1
"Aku tidak mau! Aku sudah punya wanita sendiri."
"Oh iya, benarkah? Kalau gitu ajak dia ke rumah."
"Nanti."
"Kapan?"
"Tidak tahu."
"Berarti kamu berbohong. Sudahlah nak, umur kamu sudah dua puluh lima tahun. Masa belum nikah?"
"Teman-temanku saja belum pada menikah. Itu masih muda juga."
"Masa sih?"
"Y-ya diantaranya."
"Termasuk kamu kan. Revan, Ibu mau punya cucu!"
"Iya nanti."
"Nantinya itu kapan? Saat ibu sudah meninggal, hah?!"
"Ibu sabar, nanti ibu pasti punya cucu."
"Ah, kamu lama. Kalau dalam satu bulan kamu tidak membawa wanita pilihanmu sendiri ke rumah. Kalau begitu kamu harus mau dijodohin sama ibu ya."
"Iya."
"Nah, begitu dong anak tampan dan manisnya ibu."
"Ya."
"Sampai bertemu di rumah satu bulan lagi bersama calon menantu ibu."
"Hm."
☎
Panggilan pun dimatikan secara sepihak oleh Revan. Dua puluh lima tahun bagi Revan itu masih muda. Bahkan, teman-temannya saja banyak yang belum menikah.
Walaupun begitu mereka saja tidak dipaksa oleh orang tuanya untuk menikah. Hanya Revan seorang saja yang dipaksa untuk segera menikah. Bahkan, sampai dijodohkan segala.
Memangnya dua puluh lima tahun itu sudah tua ya? Entahlah Revan sendiri bingung. Namun, baginya tetap saja masih muda. Pekerjaan masih lebih penting dibandingkan menikah. Begitu menurutnya.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya terbaru ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
__ADS_1
See u in the next episode 💕