
...~ Undangan Revan ~...
...___________________________________________...
Malam minggu kali ini tidak Zea lewati seorang diri maupun sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Karena hari ini Zea akan bertemu dengan Revan sesuai dengan undangan yang pernah diberikan kepadanya dua minggu yang lalu melalui si pencari Gara-gara yang tak lain ya..., Gara.
Zea sudah tampil cantik natural dengan dibalutkan dress warna hitam selutut yang tampak elegan membuat penampilan Zea terlihat berkelas. Ditambah kalung dan anting yang dikenakan Zea. Tidak lupa Ibunya juga pernah memberikan sebuah gelang yang khusus dirancang untuknya. Zea pun memakainya.
Gelang yang diberikan ibunya terlihat sangat mahal dan berkelas. Cocok kalau dipakai saat ada pertemuan resmi atau pertemuan penting. Tapi, selama ini Zea belum ada kesempatan untuk memakai gelang ke acara seperti itu. Tidak mungkin juga Zea memakainya ke Cafe kan.
Mau dianggap pamer? Bisa saja Zea melakukan itu. Tapi, Zea bukan seseorang yang seperti itu. Baru kali inilah kesempatan datang untuk memakai gelang cantik itu.
Sekarang Zea tengah menunggu pesanan mobil online yang sudah dipesannya sepuluh menit yang lalu. Sekali-kali menggunakan mobil kan. Walaupun hanya pesanan saja. Bukan mobilnya sendiri.
Setelah mobil pesanan Zea datang. Zea langsung masuk dan memposisikan dirinya senyaman mungkin.
"Dengan mba Zea ya?" Tanya sopir mobil online itu.
"Iya benar."
"Ke Restoran Dine Artsy ya?"
"Benar pak."
"Oke, jalan sekarang ya mba."
"Iya pak."
Mobil pun melaju menuju Restoran yang sudah ditentukan oleh Revan. Selama diperjalanan. Zea memandangi suasana malam diluar. Pertama kalinya Zea malam minggu keluar tapi, makan di restoran mahal.
Tujuan Revan mengajaknya juga Zea tidak tahu. Sebenarnya sudah dua minggu ini dia belum bertemu lagi dengan Revan. Hari ini Zea akan bertemu lagi dengan Revan. Entah akan canggung atau tidak. Lihat saja nanti.
Tepat di depan Restoran mobil berhenti. Zea membayar dan berterima kasih atas pelayanan yang sudah diberikan. Zea keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran.
Pertama kali masuk ke dalam rasanya seperti orang asing di tengah-tengah orang berada. Zea melihat ke kanan dan ke kiri. Seperti mencari seseorang. Tapi, tidak menemukan siapapun. Zea bingung sekarang.
"Maaf permisi, apakah benar dengan Nona Zea?" Tanya seorang pelayan Restoran dengan sopan menemui Zea yang tengah berdiri kebingungan di dekat pintu.
"Oh iya benar." Zea tersenyum ramah.
"Baik, Nona Zea boleh langsung duduk saja di meja yang sudah ditentukan oleh Tuan Revan ya. Mari saya antar."
"Baik mba, terima kasih."
"Iya sama-sama nona."
Zea pun mengikuti kemana pelayan itu mengantarnya. Mereka menuju ke salah satu ruangan VIP di restoran tersebut. Zea sempat bingung awalnya karena kenapa harus VIP tempatnya. Apakah ada pembicaraan serius yang harus dibicarakan antara dia dengan Revankah?
__ADS_1
Atau memang karena untuk menjaga privasi pribadi Revan saja yang memang dia adalah seorang presiden direktur pada sebuah perusahaan besar. Pasti dari beberapa masyarakat di negara ini tahu siapa Revan.
Sekarang saatnya Zea menunggu dengan duduk tenang dalam ruangan VIP itu. Sebenarnya jantung Zea sedang dag dig dug der. Tapi, tidak tahu apa alasannya yang bisa membuat jantungnya berdetak kencang.
"Maaf telat, Gara kau sudah lama menunggu?"
Suara seseorang disertai orangnya juga yang baru saja memasuki ruangan VIP dimana ada Zea juga di dalamnya. Zea tahu suara siapa itu.
"Lho?" Revan menatap Zea bingung.
Zea berdiri dari duduknya. Dia melihat Revan yang bingung. Zea juga jadi ikut bingung. Apa ada yang salah?
"Hm..., dimana Gara? Kamu disini bersama Gara? Kamu juga diajak kemari sama dia?" Beberapa pertanyaan langsung disuguhkan oleh Revan.
Dari pertanyaan Revan, Zea bingung sebenarnya ingin menjawab apa. Bukankah Revan sendiri yang mengajak dirinya untuk bertemu? Bahkan sampai menggunakan undangan juga. Sampai seniat itu Revan mengajaknya untuk bertemu.
Revan yang tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Zea melambaikan tangannya didepan wajah Zea. Zea tersadar dari lamunannya. Namun, bingung mau jawab apa.
"Bukankah kamu yang mengajakku?"
Zea bertanya langsung to the point saja. Tanpa menjawab setiap pertanyaan Revan. Sedangkan, Revan mengernyit. Dia sama sekali tidak ada rencana untuk bertemu Zea. Apalagi sampai mengajak Zea untuk bertemu disaat-saat seperti ini.
Karena memang pekerjaannya sedang banyak sekali. Sampai tidak memiliki waktu untuk sendiri. Apalagi mendekatkan diri kepada Zea. Tapi, Revan bersedia menyediakan waktunya untuk Gara, sang sahabat menyebalkan yang katanya ingin membicarakan sesuatu kepadanya. Ditambah pakai hashtag penting di aplikasi pesan.
Besok tolong temui aku di Restoran Dine Artsy. Ada yang ingin aku bicarakan padamu. #penting
"Hm..., coba kita duduk saja dulu ya." Revan mencoba meluruskan keadaan yang sama sekali tidak dimengerti olehnya juga.
Mereka berdua pun duduk bersamaan. Apalagi kursi dan meja yang ada sangat mendukung keadaan. Dua kursi dan satu meja. Kurang mendukung apalagi coba. Kalau Gara juga ikut diantara mereka. Setidaknya ada empat kursi. Sepertinya memang ini sudah direncanakan.
"Zea, boleh beritahu aku siapa yang mengajakmu kemari? Siapa tahu diantara kita ada yang salah ruangan VIP." Ucap Revan sedikit bingung ingin mencari solusi bagaimana.
"Kamu kan Revan yang mengajakku kemari?" Zea mengernyitkan dahinya. Semakin tidak paham dengan keadaan yang ada.
Apalagi dengan Revan dia malah semakin bingung ketika Zea menjawab kalau dia yang mengajaknya kemari. Padahal sama sekali tidak.
"Hm..., Ze. Bagaimana aku menjelaskannya ya?" Revan menggaruk tengkuknya.
"Kenapa?" Zea menatap Revan bingung.
"Sebenarnya aku sama sekali tidak mengajakmu kemari. Tapi, kamu bilang aku yang mengajakmu. Boleh aku tahu siapa yang memintamu datang?"
"Hah? Lalu, bukankah undangan ini darimu? Aku mendapatkan ini dari Gara." Zea menunjukkan undangan yang dia punya kepada Revan.
Revan mengambil dan melihatnya. Ketika membaca isi undangannya. Memang terlihat dan terkesan dengan jelas kalau memang dia yang mengajaknya. Karena memang tertera nama dan gaya bahasa dirinya dalam undangan itu.
Masalahnya Revan sama sekali tidak membuat undangan itu sama sekali. Apa ini ada hubungannya dengan Gara? Karena hanya Gara yang disebutkan oleh Zea. Sama dengan Revan sendiri yang diajak Gara kemari.
__ADS_1
"Ck, bodoh!" Revan berdecak kesal. Seraya menaruh kasar undangan itu di atas meja.
Seketika Revan baru menyadari keadaan yang ada. Sudah pasti ini perbuatan sahabat menyebalkan dan alias sahabat pengganggu itu kan. Iya bukan? Sudah pasti seratus persen Revan yakin.
Perbuatan Gara kali ini tambah kurang ajar sekali. Apa maksudnya mempertemukan dia dengan Zea. Berarti pesan yang menggunakan hashtag penting dari Gara sama sekali omong kosong.
"Hah? Apa yang bodoh?" Zea sedikit tersinggung ketika Revan mengatakan bodoh.
Hanya ada Revan dan Zea saja dalam satu ruangan. Sudah pasti Revan mengatakan bodoh untuk dirinya kan?
"Eh?" Revan tersadar.
"Apa yang bodoh?" Zea sedikit meninggikan suaranya.
"Eh, tidak. Bukan apa-apa. Aku kesal saat baru menyadari sesuatu. Bukan berarti itu untuk dirimu."
"Lalu, apa yang kamu sadari?" Zea menatap Revan sedikit kesal.
"Bukankah kamu kemari karena diberikan undangan oleh Gara beratasnamakan nama ku. Lalu, aku diajak Gara untuk bicara penting di restoran ini. Apa kamu terpikirkan sesuatu?"
"Hm..., tidak. Tapi, kan nama dia memang Gara. Sudah pasti dia yang mencari gara-gara kan?"
"Y-ya benar begitu sepertinya."
"Lalu?"
Eh? Lalu apa lagi? Revan menatap Zea bingung. <
"Lalu, kita mau apa disini?" Zea memperjelas pertanyaannya. Dia sadar Revan tidak mengerti.
"Aku..., tunggu sebentar ya. Aku coba hubungi Gara untuk memperjelas semua ini."
"Baiklah."
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya terbaru ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
__ADS_1
See u in the next episode 💕