Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 37 - Ayo, Pulang!


__ADS_3

...~ Ayo, Pulang! ~...


..._______________________________________...


Matahari sudah hadir di atas sana dengan sinarnya yang sangat terang. Pagi ini akan menjadi hari terakhir mereka semua berada di Bali. Malamnya mereka akan langsung terbang untuk kembali. Karena hari terakhir, Revan berencana untuk mengajak Zea berkuliner saja. Kalau untuk berwisata, waktu yang mereka miliki tidak akan membuat mereka merasa puas nantinya dan hanya akan keburu oleh waktu. 


Zea dan Revan sudah dalam satu mobil yang sama, sedangkan sisanya berada di mobil yang lain. 


Perasaan kemarin Revan sudah berani goda orang. Kenapa sekarang masih diam? Zea. 


Zea melirik sekilas Revan yang sedang fokus dengan tablet di tangannya. Memeriksa beberapa file yang memang harus diperiksa dan penting untuk perusahaan. 


Dzzrt..., Dzzrt...


Atensi Zea teralihkan kepada ponselnya yang berdering. Mengambil ponsel miliknya dari dalam tas. Namun yang tertera pada layar hanyalah nomor asing. Zea mengabaikannya dengan tidak mengangkatnya. Memilih melihat pemandangan luar melalui jendela mobil. 


Dzzrt..., Dzzrt..., 


Ponsel Zea kembali berdering. Dilihatnya yang menghubungi masih dengan nomor asing yang sama. Zea mengerutkan keningnya. Lama-lama kesabarannya bisa habis. Ingin sekali memblokir nomor asing tersebut kalau sudah sampai tiga kali menghubungi dirinya. Batinnya. 


"Angkat saja." Revan angkat bicara. 


"Tidak penting, aku tidak menyimpan nomornya." Elak Zea. 


Revan menoleh menatap Zea yang mengabaikan panggilan telepon tersebut. Revan memberikan tangan kosongnya kepada Zea. Reflek Zea memberikan ponselnya kepada Revan. Yang menerima tersenyum kecil. Seakan mendapatkan kemajuan kecil dari pasangannya itu. 


"Mau apa?" Tanya Zea menatap Revan penasaran. 


Revan tidak menjawab. Revan menggeser tombol hijau pada layar ponsel Zea dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya. 


☎️


"Halo?" Pemanggil. 


"Ze?" Pemanggil. 


"Kenapa kamu baru angkat teleponku?" Pemanggil. 


"Ze?" Pemanggil. 


"Kamu dengar suaraku tidak?" Pemanggil. 


"Bisakah kita bertemu?" Pemanggil. 


Revan melirik Zea yang terlihat penasaran dengan apa yang dibicarakan pemilik nomor asing tersebut dari seberang sana. 


"Lebih baik, bisakah untuk tidak mengganggu istri orang lain?" Revan.


"Istri?" Pemanggil. 


"Zea sudah menikah?" Pemanggil. 


"Bercanda anda tidak lucu, suara siapa ini? Berikan ponselnya kepada pemiliknya, baj*ngan!" Pemanggil. 

__ADS_1


"Pria yang suka berkata kasar tidak cocok untuk Calon Nyonya Muda Revan Arseenka Ardawijaya." Revan. 


"Ck! Baru hanya calon belum sah, bukan berarti tidak ada celah untuk merebutnya kembali!" Pemanggil. 


"Tuan Vano yang saya hargai, tolong dengarkan baik-baik. Zeandra Bunga Sienna adalah calon istri saya. Tidak ada kata tidak mungkin untuk membuatmu hancur jika tetap berani mendekati istri saya!" Revan. 


"Cih, tidak peduli apapun itu, Zea akan men--" Vano. 


"Satu lagi, seratus meter saja keberadaanmu ada di sekitar calon istriku. Saya tidak main-main dengan ucapan yang sudah saya katakan tadi. Selamat pagi, terima kasih." Revan. 


☎️


Revan menghela nafas beratnya sekaligus mengembalikan ponsel milik Zea. Zea menerimanya dengan wajah penasaran. 


"Tadi yang menelepon Kak--"


"Iya dia." Jawab Revan tanpa memberi Zea celah untuk menyebut nama yang baru saja melakukan panggilan kepada Zea. 


"Dia bilang apa?" 


"Tidak ada. Tidak penting."


"Bohong! Buktinya kamu tadi bicara panjang lebar dengannya."


"Bicara panjang lebar bagian mananya Ze? Tidak ada hal penting yang dia bicarakan. Lebih baik kita bahas satu hal penting baru saja." Revan menatap Zea serius. 


Zea terpaku dengan tatapan Revan yang begitu tidak main-main. Sangat kuat dan serius tatapannya.


"A-apa?"


"Hah? Itu kan memang tujuan kita hari ini Van. Nanti malam kan kita memang pu--"


"Dan menikah." Lanjut Revan menyela perkataan Zea. 


Zea terdiam seribu kata. Zea menatap mata Revan yang sama sekali tidak bercanda dan benar-benar serius dengan perkataannya. 


Entah Zea harus merasa senang, bahagia atau sedih dan kecewa. Perasaan diantara mereka berdua masih abu-abu. Zea tidak tahu Revan menikahinya untuk maksud apa. Apakah memang hanya karena perjodohan semata atau memang sudah ada rasa cinta untuknya. Apakah memang ada maksud lain yang mendesak Revan untuk segera melangsungkan pernikahan.


"Kamu..., kamu bercanda kan Van?" Tanya Zea ragu untuk memastikan. 


"Tidak. Aku serius. Nanti malam kita pulang langsung bertemu dengan kedua orang tuaku." Jawab Revan dengan tegas. 


"Tapi, aku..., bisakah beri aku waktu untuk memikirkan hal ini dulu? Terlalu cepat dan terburu-buru sekali ini Van." Zea ragu. 


"Kenapa? Apa kamu belum memiliki rasa padaku?" 


"Revan, kalau aku bertanya hal yang sama kepadamu. Apa jawabanmu? Apa sudah ada rasa cinta untukku?" Tegas Zea membalikkan pertanyaan Zea. 


"Aku mencintaimu Zea." 


"Mudah sekali diucapkan tapi tidak sesuai dengan perasaanmu yang sebenarnya." 


"Kalau begitu, tadi adalah pertama dan terakhir kalinya aku mengucapkan cinta kepadamu. Lebih baik Dipraktekkan bukan daripada hanya ucapan?" Revan tersenyum licik. 

__ADS_1


Zea melengos kesal dengan senyuman licik yang diberikan Revan kepadanya. Walaupun begitu, tidak ada yang tahu Zea memunculkan sebuah senyuman ke hadapan jendela mobil termasuk manusia di sebelahnya tidak melihatnya. 


...----------------...


Pesawat sudah take off beberapa menit yang lalu. Ada waktu sekitar dua jam untuk beristirahat sejenak sebelum harus menyiapkan diri sekaligus mental untuk bertemu dengan orang tua Revan. Kenapa? Zea tidak tahu bagaimana sifat kedua orang tua Revan. Maka dari itu, Zea merasa jantungnya berdebar dan tidak tenang. 


Tidak untuk manusia tenang di sebelahnya yang fokus dengan tablet di tangannya. 


Kasihan sekali dia, ingin rasanya aku memeluk untuk menenangkannya. Tapi, gemas dan lucu sekali rasanya melihat wajah calon istriku yang gelisah. Tenang sajalah Ze, orang tuaku sangat baik hati dan perhatian. Apa lagi mereka sangat antusias akan kedatanganmu ke rumah. Revan. 


"Kenapa kamu senyum-senyum?" Tanya Zea keheranan melihat Revan yang tersenyum sendiri. 


"Hm? Tidak apa-apa." 


"Benarkah?" Zea menatap curiga. 


"Benar, tidak apa-apa. Memangnya salah orang tersenyum?" 


"Tidak juga. Hanya saja aneh, tiba-tiba senyum begitu."


"Baiklah, aku tidak akan tersenyum lagi kalau begitu."


"Terserah saja." 


Zea menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya. Revan menggigit jarinya untuk menahan tawa. 


"Ze, kamu takut?" Tanya Revan tersenyum melihat wajah gelisah Zea. 


"Hah? Tidak. Kenapa aku takut?"


"Sudahlah Ze, orang tuaku tidak jahat dan sombong seperti orang tua yang kamu bayangan. Mereka sudah lama ingin bertemu denganmu. Jadi, kamu harus mewujudkan keinginan mereka ya."


"Keinginan orang tuamu?"


"Iya, supaya mereka bahagia. Anggaplah mereka orang tuamu juga. Karena sebentar lagi kita akan menikah kan?"


"Eh?"


"Kenapa?" Revan mengernyitkan dahinya. 


Benar-benar ya, ini orang ternyata tidak ada romantis-romantisnya. Dibahas lagi soal menikah tapi tidak ada lamaran dulu gitu? Wah, sumpah sih. Kasihan diriku yang tidak merasakan indahnya pernikahan sekali seumur hidupku. Zea.


Bersambung. 


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe

__ADS_1


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak


See u in the next episode 💕


__ADS_2