Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 5 - Antar Pulang


__ADS_3

...~ Antar Pulang ~...


...___________________________________________...


Jam kerja Zea di cafe sudah selesai. Saatnya bersiap untuk kembali ke rumah.


"Ta, mau pulang bareng tidak?" 


Zea mendekati Meta yang masih membereskan barangnya. Meta memeluk Zea lagi dan menangkup wajah Zea dengan kedua tangannya. 


"Duluan saja Ze." Meta tersenyum sambil mendorong pelan Zea. 


"Oke, aku pulang duluan ya. Besok pagi jangan lupa. Oh iya, terima kasih juga hadiahnya." 


"Sama-sama cantik. Padahal rencanaku belum berjalan. Tapi, kamu sudah malu karena tingkahmu sendiri. Hahaha..., tidak apalah. Tidak terlalu menguras tenaga. Untuk besok Jemput ya ke rumah." 


"Oh, tentu tidak! Kalau mau ikut, kamu ke rumahku!" 


Tegas Zea mengingatkan Meta untuk hari esok yang akan digunakan untuk melakukan kewajiban setiap hari ulang tahunnya. 


Karena setiap tahunnya Meta juga ikut membantu dan menemani Zea. Setelah mereka saling mengenal tentunya. 


"Oke, oke. Besok pagi aku ke rumahmu." Meta mengalah. 


"Sip, aku pulang dulu ya." Zea melambaikan tangan kepada Meta seraya berlalu pergi keluar dari Cafe. 


Zea berjalan sampai ke pinggir jalan depan Cafe. Seperti biasa Zea akan menunggu angkutan umum dengan setia. Karena angkutan umum di malam hari tidak sebanyak di pagi atau siang hari. Maka dari itu Zea harus lebih sabar kalau di malam hari. 


Ketika matanya menangkap satu angkutan umum berwarna merah. Tangannya terulur untuk memberhentikan angkutan umum tersebut. Ternyata angkutan umum itu tidak berhenti karena penuh.


Zea lagi-lagi menghela nafasnya. Sabar menunggu angkutan umum berikutnya. Kalau sudah malam Zea sudah tidak bisa lagi berharap untuk cepat kembali ke rumah. Karena ya seperti ini.


Mata Zea menangkap satu angkutan umum yang terlihat sepi. Dia pun mengulurkan tangannya untuk memberhentikannya. 


Tin...!, Tin...!, Tin...!.


Telinga Zea sakit mendengar suara klakson mobil tepat di belakangnya. Sedetik kemudian kekesalan Zea bangkit. Dia membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati jendela mobil tersebut. 


"Hei...! Yang didalam buka kacanya!" Sentak Zea sambil mengetuk-ngetuk jendela mobil. 


"Buka tidak! Cepat buka! Siapa didalam?! Kurang ajar sekali!" Kesal Zea semakin semangat mengetuk-ngetuk jendela mobil. 

__ADS_1


Sementara itu di dalam mobil. Penghuni yang ada di dalam mobil tampak tenang-tenang saja. Sambil menikmati pandangan di mata seorang wanita tengah mengetuk jendela mobil mereka dengan perasaan kesal. 


Dua penghuni yang ada di dalam saling tatap sejenak. Salah satunya menyeringai licik. Namun, tidak berselang lama. Karena penghuni satunya menoyor dahinya. Berpikir macam-macam awas saja begitu maksud penghuni satunya itu. 


"Kau ini kenapa sih!" Mengusap dahinya yang perih. 


"Jaga pikiranmu! Lalu, ini bagaimana, kau ingin apa? Wanita itu sudah marah-marah." 


"Hm..., ajak pulang saja. Antarkan dia pulang." 


"Jadi, kau memintaku untuk membunyikan klakson mobil tanpa ada tujuan apa-apa?" Selidik kesal kepada penghuni mobil lainnya. 


"Iya, hehe..., ya sudah kasihan itu, ajak saja dia untuk pulang bareng. Aku yang ajak ya." 


"Terserah." 


Satu penghuni mobil itu keluar dari dalam mobil. Menemui Zea dengan penuh percaya diri. Ditambah gaya kerennya yang terlihat seperti orang alay di mata Zea ketika melihatnya. 


Zea berjalan mendekati orang itu juga dengan segala  kekesalannya. Karena harus menunggu dulu baru orang di dalam mobil keluar.


Bahkan, sampai angkutan umum yang dia berhentikan tadi melaju kembali meninggalkannya. 


"Hai, nona cantik! Kita bertemu kembali." Sapa orang itu yang membuat Zea jijik.


"Apa maksud anda tadi, hah?! Anda mau main-main dengan saya?" 


Ancam Zea yang sudah melepaskan cengkraman itu dan siap mengambil ancang-ancang untuk memukul pria menyebalkan sekaligus menjijikan itu. 


"Nona itu cantik, jangan pukul-pukul ya. Aku tidak suka, nanti aku kesakitan." Suara pria itu yang memelas menggunakan suara anak kecil menambah kekesalan Zea semakin memuncak saja. 


"Oh, semakin semakin semakin jadi ya anda..., dasar menyebalkan!" 


Zea menyiapkan kepalan tangannya untuk memukul pria di hadapannya. Pria itu tampak takut. Karena tatapan Zea sangat tajam dan sepertinya wanita dihadapannya ini akan benar-benar memukulnya. 


Plak! Zea menampar wajah pria itu kencang. Pria itu tidak menyangka kalau wajahnya akan ditampar. Pipinya terasa kebas sekarang. Dikiranya wanita itu akan memukul perut atau apanya. Ternyata hanya menampar. 


"Aku kira kamu akan memukulku, ternyata hanya menampar." Pria itu mengusap pipinya yang kebas. 


"Bagaimana kalau kita menghabiskan malam bersama saja?" Lanjut Pria itu mengajak Zea yang macam-macam seraya mengedipkan satu matanya. 


Zea bergidik ngeri. Tapi, berubah menjadi jijik mendengarnya. 

__ADS_1


"Hei, kalian mau menghabiskan waktu hanya untuk bertengkar tidak jelas?!" 


Sontak Zea langsung menoleh ke arah sumber suara yang setengah berteriak itu. Suaranya seperti suara seseorang. Tapi, lupa siapa seseorang itu. 


"Anda?" Zea menunjuk orang itu dengan mengernyitkan dahinya.


"Revan." Orang yang ditunjuk Zea menyebutkan namanya. 


"Iya saya tahu anda Revan. Tunggu, kalian bersekongkol ya?!" Terka Zea kesal kalau sudah seperti ini. 


"Tidak!" Revan berkata jujur. Sedangkan, makhluk satu lagi. "Iya!" dengan percaya diri untuk berbohongnya. 


"Heh, kalian saling mengenal rupanya ya. Apa maksud kalian dari semua ini?!" 


"Tidak ada. Ini semua hanya tingkah gila sahabatku saja. Zea, ayo masuk ke dalam mobilku. Aku antar kamu pulang." 


Revan dengan baik hatinya mengajak Zea untuk pulang bersama. Zea terdiam. Dia tampak ragu karena dia akan menjadi wanita sendiri di dalam mobil. Sedangkan, prianya ada dua. 


Zea melirik sekilas ke arah sahabat Revan yang sedang senyum penuh kemenangan ke arahnya. Sangat menyebalkan dan menjijikkan dilihatnya. Rasanya tidak sudi untuk berada satu mobil dengannya. 


"Bagaimana?" Revan menanti jawaban Zea. 


"Revan, terima kasih atas tawarannya. Anda tidak perlu mengantarkan saya. Saya naik angkutan umum saja. Terima kasih sekali lagi." Zea menolak dengan halus dan sopan. 


Segera Zea berjalan meninggalkan dua pria yang sedang menatapnya itu. Namun, langkahnya terhenti ketika pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang. 


Zea membalikkan tubuhnya. Dia Revan. Revan yang menahan dirinya untuk pergi.  Apa lagi mau apa lagi. Zea menjadi kesal sendiri jadinya. Karena akhir-akhir ini selalu bertemu dengan Revan. 


"Zea, biarkan aku antar kamu pulang. Sudah malam, kamu tidak takut pulang sendirian?" 


"Iya lho, wanita pulang malam-malam nanti diganggu om om." 


Zea menatap sahabatnya Revan tajam. Enak saja dengan perkataannya itu. Mungkin sahabatnya Revan lah yang menjadi om omnya.


 Revan mengangkat satu alisnya menunggu jawaban Zea. Zea tersenyum kecil seraya melepaskan tangannya dari genggaman Revan. 


"Baiklah, aku mau, kalau tidak merepotkan kalian." 


"Tidak sama sekali. Ayo, masuklah ke dalam." 


"Aku duduk di belakang ya. Nona cantik duduk di depan saja bersama sahabat tampanku." 

__ADS_1


Zea mendelik kesal mendengar perkataan sahabat Revan yang benar-benar menyebalkan. Sungguh menyebalkan. Melihat wajahnya saja sudah seperti membangkitkan amarah yang paling memuncak.


Bersambung. 


__ADS_2