Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 46 - Balasan Vano


__ADS_3

... ~ Balasan Vano ~...


..._______________________________________...


Di tepi ranjang Revan duduk seorang diri dengan ponsel di tangannya. Revan menghubungi Zea.


☎️📞


“Sayang...” Revan.


“Iya, kenapa?” Zea.


“Besok malam makan malam di rumahku ya.” Revan.


“Besok aku ke cafe, Van.” Zea.


“Bolehkah khusus besok saja kamu bergantian shiftnya dengan yang lain? Atau izin sehari?” Revan.


“Nanti ku coba bicarakan dengan manajer cafe ya.” Zea.


“Baiklah, besok sore aku jemput kamu ya.” Revan.


“Oke.” Zea.


☎️📞


Revan meletakkan ponselnya di atas nakas. Tidak lupa mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur miliknya. 


“Rena semoga kamu bisa menerima dan menyukai kakak iparmu.” Gumam Revan sambil senyum-senyum sendiri. 


...----------------...


Suasana kantor pusat Ardawijaya Group pasti sangat tenang. Meskipun banyak pegawai yang berlalu lalang. Mereka juga saling bersapa dan Revan yang baru datang selalu memberikan senyuman dan mengangguk kecil. 


Seperti kesehariannya. Revan diikuti Sekretaris Zen menuju ke dalam ruangan presdir. Revan duduk di kursi pimpinannya. Dengan Sekretaris Zen yang menginformasikan jadwal Revan untuk satu hari ini. 


"Baiklah, tolong kosongkan jadwalku malam ini ya." Pinta Revan. 


"Baik tuan." 


"Bagaimana dengan balasan untuk dia?" Tanya Revan mengangkat wajahnya menatap Sekretarisnya. 


"Saya tidak membalas dengan kejahatan tuan." 

__ADS_1


"Maksudnya?" Revan mengernyitkan dahinya. 


"Saya mengirimkan dua wanita setiap harinya ke perusahaan milik Tuan Vano.  Saya berpikir dengan begitu yang bersangkutan bisa mendapatkan wanita pengganti Nona Zeandra." Jelas Sekretaris Zen yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Revan. Bagaimana bisa sekretarisnya bisa memiliki ide seperti itu. 


"Sepertinya dua wanita setiap harinya kurang Zen. Buat dia bingung dan pastikan pegawai dalam satu perusahaannya membuat rumor tentang atasannya sendiri yang didatangi wanita setiap waktunya." Terang Revan memberikan saran lagi. 


"Baik tuan."


"Bagus Zen, lanjutkan kerjamu." 


Revan tersenyum licik ketika Sekretaris Zen sudah keluar dari ruangannya. 


Baru tahu Revan bahwa Vano juga memiliki perusahaan yang dipimpin sendiri. Jika, begitu Zea ternyata dihadapkan oleh dua pria kaya dan tampan. 


Namun, tetap Revan merasa aman dan tidak takut jika Vano mengancamkan melalui materi. Karena Revan berada lebih diatas Vano. 


Sedangkan, jika Vano merebut Zea melalui perasaan. Revan yakin Zea tidak akan mengungkit masa lalu lagi untuk menjadi masa depannya. 


Sekarang saatnya merealisasikan bayangannya yang pernah terbesit dalam pikirannya, yaitu saatnya melamar Zea di hadapan kedua orangnya beserta adiknya. 


Lagipula Zea juga belum pernah bertemu dengan adiknya Revan. Revan sangat berharap Rena merelakannya menikah dan bisa menerima baik calon kakak iparnya. 


Dengan begitu tidak ada lagi yang perlu menarik urat untuk diskusi dan bisa langsung menggelar pesta pernikahan.


...----------------...


"Tidak ada yang memintanya untuk datang tuan. Wanita itu katanya sudah membuat janji dengan tuan." Jelas stafnya. 


"Suruh dia pergi!" Usir Vano yang sudah jelas terlihat dari wajahnya dia sangat terganggu sekali dengan kehadiran beberapa wanita hari ini. 


Staff itu pun membawa wanita yang baru datang untuk keluar lagi dari dalam ruangan Vano. 


Wanita dengan pakaian minimnya. Wanita dengan berambut pirang. Wanita dengan gayanya yang anggun dan mempesona. Namun, belum ada yang menarik perhatian Vano. 


"Widih..., hai cantik!" Sapa teman Vano yang datang dan berpapasan dengan seorang wanita di depan pintu ruangan atasan. 


Wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu, mengikuti staff Vano yang memintanya untuk segera pergi dari perusahaanya atas perintah atasannya. 


"Waw..., waw..., waw..., cie cie, ada yang baru ehem ehem sama wanita cantik tadi nih." Ledek Ronald seraya duduk di sofa ruangan Vano. 


"Berisik!" Vano melemparkan pulpen kepada temannya itu. 


"Eits..., tidak kena." Ronald meledek dan menghindar dari sasaran pulpen Vano.

__ADS_1


"Lebih baik kau pergi juga saja bersamanya. Jangan disini!" Kesal Vano kepada temannya. 


"Yah gitu, marah deh..., marah ce--" 


Tok!, Tok!, Tok!.


Vano menghela nafasnya kesal. Dia berdiri dan membuka pintu ruang kerjanya sendiri tanpa menyahutinya lebih dulu. 


"Apa lagi?!" Tanya Vano saat pintu sudah terbuka lebar. 


Terlihat tiga orang wanita datang dengan pakaian formalnya ke perusahaannya. Seorang staff yang sedari tadi melayani para tamu yang datang di bawah juga ikut bingung. 


"Siapa lagi kalian?!" Ketus Vano.


"Kami datang untuk tuan." Jawab salah satu dari mereka. 


"Untuk saya bagaimana maksudnya?!" Tanya Vano tambah kesal. 


"Untuk--" 


"Sudah-sudah. Lebih baik biarkan mereka masuk saja. Kasihan berdiri terus dengan sepatu tinggi mereka. Ayo, masuk!" Cecar Ronald yang menyela perkataan salah satu wanita di Hadapan Vano. 


Ronald dengan berani dan percaya dirinya membiarkan mereka semua masuk tanpa seizin Vano. Vano yang benar-benar kesal ingin rasanya memberikan baku hantam kepada temannya itu.


"Ronald berapa ukuran milikmu? Ingin ku potong dan dijual pasti harganya sangat mahal." Vano dengan suara tegas sekaligus menatap Ronald dengan tatapan sadis. 


Ronald yang mendengar jelas hanya bisa menelan salivanya.


Bersambung.


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak


See u in the next episode 💕

__ADS_1


__ADS_2