Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 33 - Kelepasan


__ADS_3

...~ Kelepasan ~...


..._______________________________________...


Selesai dengan makan malamnya. Sekretaris Zen dan Gara tetap berdiam di meja makan. Sementara itu, Revan dan Zea menikmati malam hari dengan jalan-jalan di pinggir pantai. 


Deburan ombak yang terdengar kencang karena pada saat malam hari, air mulai pasang. Angin juga semakin kencang. Rambut panjang Zea yang terurai juga tertiup angin. 


Sesekali Zea meniup rambutnya yang mengenai wajahnya. Tetap saja tiupan mulutnya kalah dengan tiupan angin. 


Revan sedari tadi melihatnya. Tersenyum kecil melihat tingkah Zea yang memang lucu dimatanya. Baru kali ini dia bisa tertarik dengan seorang wanita. Sebelumnya belum pernah, bahkan tidak ada yang bisa membuat Revan tertarik sampai sejauh ini. 


Masih pemula dan asing dalam hal percintaan. Sampai saat ini perkembangannya sudah bisa dikatakan meningkat sekali bagi seorang Revan. 


Walaupun sebenarnya ada campur tangan seorang Gara dan juga tidak ada adegan romantis dalam hal berpacaran. Apalagi mengajak berpacaran seperti mengajak kerja sama harus berdiskusi dahulu. Revan, Revan, memang harus banyak belajar dari Gara. Begitu begitu juga Gara rajanya percintaan. Sudah handal dalam yang namanya cinta. Meskipun orangnya menyebalkan, menjijikan, pengganggu dan lain sebagainya kata Zea dan Revan. 


"Ze." Revan menoleh menatap wajah Zea yang tetap cantik di malam hari. 


"Hm." Zea tidak menoleh, sibuk dengan rambutnya. 


"Bagaimana dengan perasaanmu kepadaku sekarang?" Berharap Zea menoleh dan menatapnya. "Apakah kamu sudah ada rasa cinta kepadaku? Atau perasaan apapun itu kepadaku?" 


"Hm..., bagaimana ya? Aku bingung." Benar, jujur Zea masih belum memahami perasaannya. Entah memang belum ada rasa atau memang Zea tidak menyadarinya. 


"Aku..., aku juga sebenarnya bingung dengan perasaanku sendiri. Tapi, aku merasa aku sudah mulai mencintaimu. Bolehkah aku bilang begitu?" 


"Hm..., terserah padamu saja Revan, aku tidak tahu ingin menjawab apa. Tapi, itu hakmu." Zea menoleh mencoba menatap mata Revan yang sedang menatapnya serius. "Jika, kamu menyayangiku itu hakmu, kamu mencintaiku itu juga hakmu, aku tidak bisa melarang atas hakmu. Tapi, aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri." 


"Baiklah tidak apa, bolehkah aku tambahkan sedikit perkataanmu?"


"Apa?" Zea mengernyitkan dahinya. 


"Memilikimu itu juga hak aku, bukan orang lain." Tegas Revan. 


Zea terkekeh kecil. Menganggap perkataan Revan candaan semata. Revan tidak berekspresi sama sekali. Revan sadar perkataannya dianggap santai oleh Zea. 


Akan aku buktikan dengan waktu kalau kamu memang milikku seutuhnya Ze. Revan.


Zea melihat mata Revan yang tidak berkedip membuatnya sedikit ragu untuk lanjut tertawa. Zea tersenyum canggung dan meraih pergelangan Revan. Menggandengnya seraya berjalan lagi. 


"Kita kembali saja ya, sudah malam." Ajak Zea mencoba mengembalikan suasana. "Tidak baik untuk kesehatan."


"Baiklah." 


...----------------...

__ADS_1


Suara burung berkicauan di pagi hari terdengar. Deburan ombak samar-samar terdengar. Sudah mulai pagi, air pantai kembali seperti semula. Cahaya pagi dan udara segar bagus untuk kesehatan. Zea sudah bangun dari tidur nyenyaknya dan berdiri di halaman belakang villa Revan yang menghadap langsung ke pantai. 


Udara sejuk dan sedikit dingin pada pagi hari di Bali membuat Zea ingin menunda mandi. Rasanya ingin kembali berbaring di tempat tidur dan lanjut bermimpi. 


"Dor!!!" Zea terlonjak kaget. Reflek membalikkan tubuhnya untuk melihat pelaku. 


"Gara!" Teriak Kesal Zea. Menatap Gara penuh dendam yang tidak lama akan hilang. 


"Ish..., begitu saja marah. Makanya jangan melamun. Nanti kesamber petir lho, mau?" Gara menaik turunkan alisnya. 


"Jaga mulutmu Gara!" Ketus Zea.


"Tidak mau! Ini mulutku, bukan mulutmu. Kenapa harus ku jaga mulutku? Kalau mulut mu yang aku jaga dengan mulut ku mungkin bisa dilakukan." Gara mengusap bibirnya sensual. 


"Gara!" Zea memukul dada kanan Gara. Tidak terlalu kencang. Tapi, terasa sedikit sakit karena Gara meringis. 


"Ah, sudahlah. Lebih baik aku mandi. Kau sudah mandi Ze?" 


"Belum. Kenapa?!" Tanya Zea ketus.


"Ze, kau itu punya kepribadian ganda ya? Sama Revan bisa baik-baik, tapi kenapa sama aku kaya macan begitu?" Heran Gara. 


"Ya terus, kenapa?" Tatap Gara kesal. 


"Tidak apa-apa. Kau pilih kasih."


Zea melenggang pergi masuk ke dalam Villa kembali. Tepatnya ke kamarnya untuk membersihkan diri. Berdebat dengan Gara rasanya menguras tenaga. Mengguyur kepala di bawah air dinginnya shower mungkin bisa mengurangi rasa kesalnya. 


...----------------...


Selesai mandi dan sarapan bersama di Villa. Revan mengajak Zea untuk jalan-jalan. Gara tidak diajak. Sekretaris Zen pun juga diperbolehkan untuk pergi secara bebas kemanapun. Karena Revan hanya ingin berdua saja dengan Zea. 


Zea tidak masalah dengan keputusan dan keinginan Revan. Menurutnya masih wajar. 


Melihat ke jendela kaca mobil banyak bule-bule dari negara luar yang datang ke Bali sebagai turis untuk berlibur. Bahkan, ada beberapa yang membeli souvenir kerajinan tangan yang dijual dipinggir jalan. 


Zea tersenyum karena ada yang masih ingin tertarik dan membeli salah satu souvenir khas tanah air. 


"Ze, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Suara Revan yang sedang mengemudi membuat Zea menoleh kepadanya. "Boleh?" Revan sesekali menoleh sambil fokus mengemudi. 


"Iya, boleh. Tanya apa?" Zea penasaran.


"Semalam aku mencoba merenungkan hubungan kita.  Aku teringat waktu untuk aku membawa kamu ke hadapan orang tuaku tersisa seminggu lagi. Hanya saja hubungan kita masih kurang jelas. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi dengan hubungan ini." Revan menghela nafasnya seakan menyerah. Mobil tiba-tiba saja berhenti tepat di pinggir jalan. Kepalanya dia sandarkan ke setir mobil. "Maaf, aku tidak pernah berpacaran. Jadi, aku tidak tahu. Aku pun tidak ingin dijodohkan." Suara lirih Revan. "Aku harus bagaimana menurutmu, Ze?"


Zea yang mendengarkan penuturan Revan menjadi bingung. Dia juga kurang paham dengan yang namanya berpacaran. Apalagi menjadi seorang kekasih. Hal ini menjadi yang pertama kali untuk keduanya. Hanya saja sedikit berbeda dengan Zea yang pernah merasakan suka kepada seseorang kala masih sekolah menengah. 

__ADS_1


Revan belum mengangkat kepalanya. Zea menjadi merasa prihatin. Pasti pikiran Revan banyak dan berat sekali. Walaupun liburan untuk bersenang-senang. Pasti pikiran itu tetap memenuhinya. 


"Revan." Panggil Zea. 


"Iya?" Belum mengangkat kepalanya. 


"Kemarin kamu mengatakan sesuatu mengenai perasaanmu kan?" 


"Iya, kenapa?"


"Seberapa besar itu?" 


"Entahlah."


"Revan."


"Mungkin sekitar empat puluh persen. Aku masih tidak paham, tapi aku merasakannya."


"Baiklah."


"Baiklah apa?"


"Kamu tidak ingin dijodohkan kan?" 


"Iya."


"Bagaimana kalau..."


Zea menghentikan perkataannya. Seketika mengingat kalau dia adalah wanita. Kurang pantas rasanya. Walaupun mungkin ada diluar sana yang mengajak lebih dulu. Tapi, disini rasanya Revan lah yang seharusnya berusaha. Bukan dirinya. 


Menghela nafasnya pelan. Hampir saja kelepasan untuk mengajak Revan lebih dulu. Selain Revan yang memang seharusnya berusaha, Zea juga ingin melihat bagaimana usaha Revan untuk meyakinkannya dan melihat sisi romantis Revan. Meskipun Zea tahu Revan bukan orang yang romantis. Tapi, sebagai wanita, Zea juga mau merasakan hal itu sekali-kali.


Bersambung. 


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak

__ADS_1


See u in the next episode 💕


__ADS_2