Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 44 - Aku Sayang Kamu Ze


__ADS_3

... ~ Aku Sayang Kamu Ze ~...


..._______________________________________...


Revan menatap Zea dan memahami akan Zea yang ternyata sedang meragukannya.


“Aku memang tidak pernah dekat dengan wanita manapun sebelum kamu kecuali ibu dan adikku.” Jelas Revan tegas dengan menatap kedua mata Zea.


“Benarkah?” Zea tidak percaya.


"Ze, ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa kamu menjadi meragukanku seperti ini?" Tanya Revan dengan penuh rasa keheranan. 


"Revan, tidak ada yang salah denganku. Tapi, diri kamu. Kamu sebenarnya sudah mempunyai tunangan kan? Bulan depan kalian akan menikah, bukan?" Tanya balik Zea dengan terus menyelidik Revan. 


Revan menghela nafasnya berat. Menoleh ke arah Sekretaris Zen yang juga ikut bingung dengan pertanyaan kekasih tuannya. 


Sudah dibilang sebelumnya Revan tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Dijodohkan saja Revan tidak mau. Bagaimana bisa dia memiliki tunangan? Revan merasa aneh dengan Zea sekarang. 


"Kamu kenapa berbohong?!" Terang Zea dengan mata berkaca-kaca. 


"Tolong bisakah kamu berkata jujur padaku? Aku ingin tahu yang sebenarnya." 


"Kamu juga bilang kalau kamu hanya menjadikan aku mainanmu kan?"


"Revan! Jawab!" Tegas Zea menatap kesal hampir benci kepada Revan. 


"Sayang..." Revan menatap Zea heran. 


Langsung saja Revan merengkuh Zea dalam pelukannya. Didekapnya Zea erat. Diusapnya pucuk kepala Zea dengan lembut sehingga membuat Zea nyaman dalam dekapannya. 


"Aku sayang sama kamu, Ze." Ucap Revan dari hati paling dalam. 


"Aku tidak pernah bilang kalau aku menjadikanmu mainanku." 


"Aku juga tidak memiliki tunangan. Hanya kamu dan baru kamu wanita yang pernah bersanding dengan aku. Kamu calon istriku Ze."

__ADS_1


"Aku juga tidak pernah menyewa wanita bayaran. Aku tidak ingin merendahkan wanita." Jelas Revan lagi membuat Zea diam terpaku dengan setiap perkataannya. 


"Kamu serius? Aku mohon jangan berbohong. Disaat kamu sedang berbicara dengan Gara, terus kamu bilang kalau aku hanya wanita bodoh dan kamu hanya menjadikanku mainan saja. Apa kamu lupa dengan perkataanmu sendiri?" 


"Ze..., sayang..., aku tidak pernah bicara dengan Gara mengenai hal itu. Tidak pernah sama sekali." Revan mengerutkan keningnya. 


Merasa Revan sudah bicara banyak dan di rasanya jujur. Sepertinya ada yang salah. Zea melepaskan dekapannya dan menatap mata Revan yang memang tidak terlihat berbohong. 


"Maaf Nona Zeandra, tolong jawab pertanyaan saya sebelumnya. Mengapa nona bertanya mengenai semua perihal tersebut?" Sergah Sekretaris Zen yang merasa sedikit kesal dengan Zea yang meragukan kehidupan sebelumnya milik tuannya dan keraguan akan perasaan tuannya kepada kekasihnya sendiri.


"Dari seseorang yang memiliki bukti." Ketus Zea. 


"Bukti? Bukti asli atau hanya dibuat-buat?" Revan tersenyum kecil. 


"Aku bertanya padamu untuk kebenarannya. Lalu, tadi kamu menjawab jujur atau berbohong?" Kesal Zea. 


"Kamu bisa mengetahuinya sendiri aku berbohong atau jujur."


"Berarti bukti itu rekayasa. Kenapa dia melakukan itu?" Zea yang menjawab kebimbangannya sendiri. 


"Kak Vano." Jawab Zea langsung. 


"Kamu bertemu dengannya?" Revan menatap curiga. 


Zea mengangguk mengiyakan. Karena Zea sendiri juga penasaran dan katanya hal penting. 


"Lalu, saat kamu tahu pertama kali. Kamu langsung percaya?" Tanya Revan lagi. 


Lagi-lagi Zea mengangguk. Karena memang begitu kenyataannya. 


"Tapi, aku sedikit percaya dan tidak percaya."


"Bukan sedikit Ze. Tapi, kamu memang percaya dengannya. Sampai-sampai kamu menanyakan itu semua kepadaku."


"Iya karena aku juga butuh kepastian." Sarkas Zea. 

__ADS_1


"Baiklah, baik. Aku paham. Tapi, bisa tidak sampai resign juga dari perusahaan kan? Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Revan menatap serius Zea. Karena menurutnya resign tidak bisa disepelekan. 


"A-ku, sepertinya ingin mencari tempat baru untuk bekerja. Sementara ini aku ingin kembali di cafe dahulu. Aku ingin bekerja yang memang berbeda darimu." Jawab Zea sempat gugup untuk menjawabnya. 


"Berbeda? Berbeda bagaimana?" Revan mengangkat satu alisnya. 


"Tidak ada campur tanganmu di dalamnya."


"Campur tanganku? Sebelumnya aku bahkan tidak melakukan campur tangan apapun." Revan mengerutkan dahinya. 


"Aku rasa tidak mungkin, karena kita saling mengenal. Aku ingin bekerja di tempat yang memang tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu saja. Jadi, aku merasa tenang dan nyaman hingga tidak merasa ketergantungan denganmu." Jelas Zea dengan alasan aslinya. 


"Benarkah? Bukan karena suami tidak mengizinkan kamu bekerja?" Revan meledek Zea. 


"Kamu itu..., seberapa cepat sih sebenarnya semua informasi bisa sampai ke telingamu?" Kesal Zea sendiri yang Revan sudah tahu tentang dirinya yang Resign sampai sejauh itu. 


"Aku memiliki banyak tangan, kaki dan mata di luar sana Ze. Termasuk di dalam perusahaan cabang dan pusat." 


Zea menghela nafasnya pelan. Memang mustahil kalau Revan tidak tahu tentang dirinya yang resign.


Bersambung.


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak


See u in the next episode 💕

__ADS_1


__ADS_2