
... ~ Revan VS Vano ~...
..._______________________________________...
Mengenai hal sebelumnya. Revan tidak ingin ada sesuatu yang terus mencoba merenggangkan hubungan mereka dengan bukti apapun itu.
Bahkan, sampai dengan membuat bukti rekayasa. Karena sebenarnya sama saja menjelekkan nama baik orang lain.
Dimana malam ini juga Revan akan bertemu dengan pelaku. Setelah sudah diurus pertemuan janji temunya oleh Sekretaris Zen. Saatnya bertemu di sebuah Restoran tentu dengan ruangan VIP.
Revan masuk ke dalam bersama Sekretaris Zen menuju ruangan mereka berada.
“Dia sudah sampai belum Zen?” Tanya Revan sembari berjalan.
“Tuan Vano sudah sampai dari lima belas menit yang lalu, tuan.” Jawab Sekretaris Zen setia mengikuti tuannya.
“Baiklah, ayo cepat. Rasanya aku ingin memberinya pelajaran.” Ucap Revan mengepalkan tangannya.
...----------------...
Dalam ruangan tercipta suasana hening dengan tatapan Revan yang mendominasi tajam tertuju kepada Vano.
Vano datang bersama temannya dan Revan datang bersama Sekretaris Zen. Sama-sama dua lawan dua.
Vano tersenyum meremehkan menatap Revan yang menatap tajam dirinya.
"Revan, kau itu lebih baik berikan saja Zea secara sukarela kepadaku. Lagi Pula kalian juga tidak akan awet hubungannya secara baru kenal sebentar." Ucap Vano meremehkan.
"Apa tujuan anda Tuan Vano dengan menjelekkan nama baik saya di hadapan calon istri saya?" Tanya Revan tidak peduli pembicaraan Vano sebelumnya.
"Vano, kau itu harus tahu kalau kau sudah terlalu serakah. Wajar saja ku lakukan itu untuk mendapatkan Zea." Jawabnya.
"Maaf, anda paham maksud saya tidak?" Tegas Revan.
"Van, kau itu tidak boleh serakah. Perusahaan boleh kau memilikinya, keluarga harmonis dan kehidupan yang baik, tapi tidak untuk wanita. Paham kau Revan?"
Revan mengerutkan dahinya. Merasa pembicaraan Vano tidak nyambung dengan pembicaraannya.
"Van, kau itu serakah! Serakah bodoh! Sungguh serakah!"
__ADS_1
"Maaf Tuan Vano, tolong jaga etika anda." Sekretaris Zen mengingatkan.
"Maaf Tuan Vano, tolong jaga etika anda." Vano mengikuti cara bicara Sekretaris Ken sekaligus meledeknya.
Brakk!!! Vano menggebrak meja resto dan melenggang pergi bersama temannya yang ikut bersamanya.
"Kau Revan..., jangan macam-macam dengan temanku ya." Ucap Teman Vano yang berhenti sejenak di pintu yang terbuka dan menunjuk wajah Revan seraya berjalan keluar.
Setelah Vano dan temannya keluar tinggal Sekretaris Zen bersama Revan di dalamnya.
"Buat dia rasakan akibatnya Zen." Ucap Revan seraya berdiri dari duduknya.
"Baik tuan." Sekretaris Zen menunduk hormat.
Revan dan Sekretaris Zen pun juga ikut keluar dari dalam ruangan. Hari sudah malam jadi sudah waktunya pulang.
...----------------...
Revan masuk ke dalam rumahnya seraya melepas jasnya. Menaiki tangga ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"Kak..., Kakak sudah pulang?" Teriak sang adik dari atas tangga.
"Kamu melihat kakak di rumah berarti sudah pulang atau belum?" Tanya Revan sembari mengusap pucuk kepala adiknya.
"Kak, ihh rambut aku jadi berantakan nanti." Kesal adiknya.
Revan menghiraukan adiknya dan terus berjalan menuju kamarnya.
"Kak..." Panggil adiknya mengikuti sang kakak.
"Hm..."
"Kakak mau nikah ya?" Tanya sang adik yang membuat langkah kaki Revan berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
"Kamu tahu dari ibu ya?" Tanya Revan berbalik menghadap adiknya.
Sang adik berlari memeluk Revan dan mengangguk pelan.
"Boleh?" Revan menunduk melihat wajah sang adik yang sendu.
__ADS_1
"Kalau aku jawab tidak boleh, apa kakak tidak akan marah?" Tanya sang adik yang tidak rela kakaknya akan menikah.
Revan tersenyum mendengar adiknya yang tidak merelakan kakaknya menikah.
"Rena, kamu akan selalu menjadi adik kakak. Walaupun kakak sudah menikah nanti, kakak akan selalu mengunjungimu di rumah. Kamu juga bisa berkunjung ke rumah kakak nanti." Ucap Revan mengusap pucuk kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Kak..., tapi nanti pasti kakak sibuk sama istri kakak dan juga anak kakak nanti." Lirih Renatha.
"Itu sudah pasti, tapi kakak tidak akan melupakanmu. Kakak janji." Revan memberikan jari kelingkingnya.
"Janji?" Renatha menatap sendu Revan dengan membalas tautan kelingkingnya.
"Kakak janji." Revan tersenyum meyakinkan.
Renatha tersenyum namun tetap air mata keluar dari matanya yang sendu. Revan memeluknya dengan erat.
"Mau ketemu calon kakak iparmu tidak?" Tanya Revan mengendurkan pelukannya dan mengusap pipi adiknya yang basah.
"Mau! Aku juga mau minta temenin kakak ipar untuk carikan aku pacar." Ucap Renatha seraya berjalan cepat ke arah kamarnya.
"Renatha! Kamu belum boleh pacaran! Awas ya!" Tegas Revan dengan suara keras.
"Boleh dong, nanti aku izinnya sama kakak ipar." Ucap Renatha sebelum menutup pintu kamarnya.
"Renatha!"
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
__ADS_1
See u in the next episode 💕