Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 2 - Bicara Santai Berdua


__ADS_3

...~ Bicara Santai Berdua ~...


...___________________________________________...


Dalam perjalanan belum ada yang membuka pembicaraan. Sehingga suasana dalam mobil berisikan dua orang itu terkesan hening. Satu manusia fokus mengemudi dan satunya lagi fokus memperhatikan jalan sekitar. 


Karena menjadi pemandu arah mendadak untuk pulang. Tentu saja Zea perlu memandu arah jalan. Karena dia sedang diberikan tumpangan oleh orang lain yang tidak dikenalnya. Beruntung orang itu baik hati dan tidak sombong. 


Sebenarnya Zea sedari tadi sudah mengeluarkan suaranya untuk memberitahu arah yang hanya ditanggapi dengan kata ‘Baik’ oleh pria di sampingnya. Zea tidak ambil pusing dengan sikap yang ditujukan kepadanya. 


Mobil sudah berada di jalan yang searah dengan rumah Zea. Hanya tinggal mengikuti jalan raya, lurus-lurus lagi saja. Zea merasa mulutnya gatal. Ingin sekali rasanya mengajak bicara pria disampingnya. Tapi, dilihatnya pria itu fokus dengan pandangan didepannya. 


Tidak apa kan mengajaknya bicara santai. Lagipula mobil sepi kaya kuburan. Zea.


Zea melirik sebentar. Bagaimana ekspresi wajah pria di sampingnya? Apakah mendukung untuk diajak bicara santai. Dari ekspresinya sekarang sudah menjadi lampu hijau untuk Zea memulai pembicaraan diantara mereka.


“Anda, maaf anda namanya siapa ya?” 


Pria disampingnya menoleh sejenak. Mata Zea dan pria itu pun bertemu dan saling tatap selama beberapa detik sebelum pria untuk kembali menghadap ke depan. 


“Revan.” Mulut Zea membentuk huruf O seraya mengangguk sambil tersenyum dan memandang Revan. 


“Kau?” Revan menatap mata Zea sebentar lalu beralih lagi ke depan. Zea menunjuk dirinya, memastikan Revan bertanya mengenai namanya atau bukan. Revan mengangguk. 


“Oh, saya Zea.” Zea tersenyum seraya mengangguk. 


Zea sedikit bingung dengan reaksi Revan yang ditujukan kepadanya. Revan mengernyit dan mengangguk seraya mengalihkan pandangannya ke depan kembali. 


“Mengenai tadi saya minta maaf, saya memang ceroboh dalam hal mengemudikan mobil.” 


“Iya tidak apa-apa pak Revan, seharusnya saya yang minta maaf karena tidak memperhatikan jalanan saat menyeberang sampai hampir membuat kecelakaan.” 


Revan mengangguk. Dalam benaknya merasa geli dengan panggilan Zea yang ditujukan kepadanya. ‘Pak’, apakah dia setua itu hingga lebih cocok dipanggil dengan sebutan tersebut. Revan tersenyum samar yang tidak disadari Zea sama sekali. 


“Apa saya setua itu dimatamu?” 


Zea menoleh bersamaan dengan Revan yang juga menoleh. Mereka saling menatap satu sama lain. Zea memperhatikan wajah Revan dengan seksama. 


Sebenarnya tidak terlihat tua sama sekali. Masih muda dan segar terlihatnya. Hanya saja cara bicara Revan seperti bapak-bapak menurut Zea. Terlalu kaku dan formal. 


Zea menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Revan mengernyitkan dahinya. Lalu, menunjuk wajahnya sendiri di depan Zea.

__ADS_1


“Lalu, kenapa kau memanggilku dengan panggilan itu?” 


“Eh, hm…, memang seharusnya apa?” 


“Menurutmu?” Revan mengangkat satu alisnya. Zea menggaruk tengkuknya. Bingung sekali apa jawaban yang tepat. 


“Mas?” 


“Apakah itu cocok dengan wajahku?” 


Zea mengernyitkan dahinya. Apa Revan sedang menyombongkan ketampanan wajahnya? Kenapa pria disampingnya ini menjadi pria percaya diri yang terkesan seperti sudah dekat dan akrab saja. Padahal baru pertama kali bertemu. 


Kenapa dia menjadi menyangkut pautkan dengan wajahnya itu. Apa dia merasa terlalu tampan sampai merasa panggilan itu tidak cocok dengannya yang terlalu tampan. Menggelikan sekali. Zea.


“Sepertinya cocok.” Zea tidak terlalu menanggapinya serius. 


“Tidak.” Jawaban singkat Revan membuat Zea bingung. Lalu, pria di sampingnya ini mau dipanggil dengan sebutan apa? Om begitu? Pamankah? atau Tuan? Kenapa tidak yang terhormat saja sekalian. 


“Lalu?” 


“Revan.”  


Langsung mengerti Zea sekarang. Memanggilnya dengan nama yang dimiliki pria itu saja sudah cukup. Tidak perlu ada tambahan ‘Pak’, ‘Om’ ataupun ‘Paman’ sebelum namanya. 


“Oh, nama anda saja ya berarti. Baiklah, Revan.” 


Revan mengangguk menyetujui. Benar begitu tandanya. Tidak ada kesalahan. Sudah cocok dengan wajahnya. Tidak ada yang perlu ditambah ataupun dikurangi lagi. 


Suasana mobil pun menjadi hening kembali. Tidak ada topik untuk dibahas lagi. Tidak ada yang penting untuk dibicarakan juga. Hanya untuk memecahkan keheningan saja sebenarnya perkenalan nama tadi. 


“Kau tinggal sendiri di rumah?” 


Revan membuka suaranya. Gantian kali ini dia yang memulai topik baru. Karena menunggu mobil didepan mereka jalan yang terhambat macet sepertinya akan membosankan kalau berdiam diri saja. 


“Iya sendiri, anda?” Zea membalikkan pertanyaannya. Cara agar tidak kehabisan topik.


“Sama denganmu.” 


“Oh.” Zea mengangguk.


“Kamu memiliki kakak atau adik dirumah?” Zea menggelengkan kepalanya sedangkan, Revan mengangguk.

__ADS_1


Setelah melewati kemacetan yang membuat mereka kehabisan topik. Akhirnya, Zea bisa sampai di rumahnya dengan selamat. 


Kata 'Terima kasih' menjadi akhir dari pertemuan Zea dan Revan. Zea bisa kembali ke rumahnya dengan gratis dan Revan bisa melanjutkan aktivitasnya kembali dengan tenang. 


Waktu sudah menunjukkan sore hari. Zea segera membersihkan diri dan memakai pakaian kerjanya. Selain seorang mahasiswa, Zea juga bekerja menjadi barista di salah satu cafe dekat rumah.  


Meskipun Zea tidak membayar perkuliahannya karena mendapatkan beasiswa. Tapi, disisi lain dia juga membutuhkan biaya untuk menghidupi dirinya sendiri. 


Zea berangkat menggunakan angkutan umum. Masih banyak angkutan umum yang lewat. Karena belum masuk malam hari. 


Dari sore hingga malam Zea akan menghabiskan waktunya di cafe. Karena bagiannya adalah di sore hingga malam hari. 


"Permisi, mba." 


Orang lain masuk ke dalam angkutan umum yang sama dengan Zea. Dengan sopannya melewati Zea, lalu duduk di sebelahnya. 


"Oh iya, silahkan." Zea tersenyum. 


Suasana jalan raya di sore hari kadang macet dan kadang juga lancar jaya. Hari ini mungkin keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Karena jalan raya sedang lancar jaya. Sebab waktunya juga sudah hampir telat. 


"Kiri ya bang!" 


"Siap neng." 


Zea turun dari angkutan umum itu dan membayarnya melalui jendela pintu depan. Merapikan pakaiannya sebentar. Lalu, jalan kembali masuk ke dalam cafe dengan senyuman semangatnya. 


Bekerja diawali dengan senyuman pasti hasilnya tidak akan mengecewakan. Karena melakukannya dengan ikhlas. Salah satu hal yang selalu Zea ingat. 


"Hai Ze! Gimana melamar pekerjaannya lancar?" 


Salah satu temannya mendekati Zea dan merangkulnya seperti seorang teman yang memang sudah sangat akrab lama. 


Mereka sambil berjalan bersama ke dalam satu ruangan yang memang khusus untuk pekerja di cafe itu. 


"Lancar lancar saja sih. Ada yang tidak membuka lowongan juga. Tapi, ya berharap semoga ada yang menerima diriku ini disalah satu perusahaan itu. Hiks." 


"Tenanglah Ze, kamu sudah pasti diterima. Kamu itu pintar dan lulus dengan hasil yang luar biasa." Zea tersenyum senang. Memeluk erat teman kerjanya itu erat. "Terima kasih meta ku sayang." Zea mencium pipi Meta, tapi tidak benar-benar mengenainya. 


"Eh, jangan cium-cium. Pipi ku hanya untuk suamiku seorang nanti." 


"Iya iya, tidak kena juga kok." Zea tersenyum sambil mengusap pipi teman kerjanya. 

__ADS_1


Bersambung. 


__ADS_2