Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 15 - Double Z


__ADS_3

...~ Double Z ~...


...___________________________________________...


Revan dan Gara baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Sebenarnya makanan mereka hanya makanan ringan. Karena berbentuk cake.


Termasuk juga kepada makanan penutup. Itu karena mereka malam malamnya sudah terlalu malam. Sudah pasti tahu kan salah siapa kalau begitu.


Selesai makan bersama Gara sebenarnya ingin sekali Revan langsung pulang. Hanya saja bocah itu masih duduk santai di sofa ruangan kerjanya.


Menghela nafasnya saja pelan. Sabar-sabar dengan tingkah menyebalkan sahabatnya ini. Kenapa dia baru menyadarinya sekarang kalau Gara sebegitu menyebalkannya.


"Kau tidak ingin pulang? Ini sudah malam." Protes Revan.


Jujur saja dia sudah sangat lelah. Ingin cepat-cepat tidur di ranjangnya yang super nyaman dan empuk. Bermimpi indah dengan tenang.


"Nanti." Jawabnya dengan santai.


Revan berdecak kesal. Mau tidak mau harus menunggu Gara pergi dulu. Revan menaikkan kakinya ke kursi panjang dan diluruskan. Memijat pelan tengkuknya yang terasa pegal.


Tubuh dan kepalanya disandarkan ke sofa. Memejamkan matanya sejenak mencari ketenangan dan istirahat dari penatnya hari ini.


"Van."


"Hm."


"Kau tahu tidak?"


"Tidak."


"Apa?"


"Gara, kau sudah minum obat? Mau ku belikan racun tikus?"


"Tidak! Nanti aku mati dong. Aku kan manusia bukan tikus."


Revan tidak menanggapi perkataan Gara lagi. Dia ingin menenangkan diri saja. Dengan merilekskan tubuhnya di sofa yang sebenarnya lebih nyaman di ranjangnya di rumah.


"Revan, kau sadar tidak kalau wanita yang kau anggap wanitamu itu jodoh orang bukan jodohmu?" Gara menoleh menatap sahabatnya.


"Aku tidak hanya menganggapnya wanitaku. Tapi, dia memang wanitaku." Revan tidak terima.


"Ya tapi kan wanitamu saja belum menerima dirimu kan?" Gara menaikkan alisnya.


Revan diam saja. Tidak ingin mengakuinya. Karena yang dikatakan Gara adalah benar adanya. Dia dan Zea saja hanya pernah sebatas mengobrol biasa saja tidak lebih. 


Sebenarnya Revan bingung bagaimana caranya memikat wanita yang benar. Secara Revan belum pernah memikat wanita manapun. Berpacaran saja belum pernah. Bagaimana dengan pernikahan nantinya? 


Dengan melihat ekspresi wajah Revan yang berubah saja Gara sudah tahu apa jawabannya. Pasti belum ada kepastian apapun dari Zea. Masih tahap bawah kalau menurut Gara.


"Kasihan sekali sahabatku ini yang tidak berpengalaman." Gara menepuk bahu Revan beberapa kali.


"Singkirkan tanganmu!" 


"Heh, baiklah." 

__ADS_1


"Memangnya siapa yang kau maksud?" 


"Siapa apanya?"


"Kata kau wanitaku jodoh orang, siapa memangnya?" 


"Hahaha..., ternyata kau penasaran juga ya. Padahal jodoh wanitamu ada disekitar kita." 


Revan mengernyitkan dahinya. Jodoh Zea ada di sekitarnya. Siapa?


"Jangan bodoh Gara! Maksudmu itu adalah dirimu sendiri kan?!" Revan kesal ketika menyadarinya.


"Eh, kok aku? Salah, bukan aku." Gara mengernyit. Bisa-bisanya dia dituduh sebagai jodoh Zea yang dimaksud.


"Lalu, siapa?" Revan semakin penasaran.


"Tentu saja sekretarismu." Gara dengan penuh keyakinan. 


Revan menaikkan satu alisnya. Zen? Kenapa bisa? Gara memang hobinya mencari masalah. Sekretaris Zen tidak salah apa-apa. Menjadi disangkutpautkan.


"Coba jelaskan. Bagaimana bisa Zen?" Revan mengernyit.


"Dari nama mereka saja sudah kelihatan." 


"Apa?"


"Zen dan Zea. Double Z." Gara mengatakan apa yang dimaksudnya.


"Mereka itu sudah dipertemukan oleh tuhan untuk hidup bersama. Zea dan Zen adalah sepasang kekasih nantinya. Sedangkan, kau itu nanti hanya menjadi debu. Mereka akan menjadi--" 


"Shegara bisakah kau diam?" Sela Revan dengan penuh penekanan. 


Revan melihat Gara terdiam. Sepertinya dia merasa terancam kalau suaranya sudah tegas dan penuh penekanan. Mungkin ini adalah kesempatan untuk memanfaatkan keadaan Gara yang sedang terdiam karena takut. 


Memanfaatkan keadaannya untuk menyuruhnya segera pulang. Daripada berlama-lama di kantor. Waktu juga sudah malam. Lebih baik pulang. 


Tiduran di ranjang untuk istirahat lebih enak. Dibandingkan berbicara dengan Gara yang tidak ada manfaatnya. Lelah sangat lelah.


"Gara, bolehkah kau pulang sekarang?" 


"Hm..., bagaimana ya?" 


"Shegara--" Belum selesai Revan bicara sudah dipotong oleh Gara sendiri.


"Baik baiklah, aku akan pulang. Tapi, aku mau bertanya satu hal. Aku sangat penasaran dengan ini." Pinta Gara sebelum pasrah untuk pulang.


"Apa?" Revan mengernyit menatap Gara.


"Kau bertemu Zea dimana?" Gara sebenarnya penasaran dengan ini. Karena Zea dan Revan seperti sudah saling mengenal sebelumnya. Tapi, Gara tidak diceritakan apa-apa sebelumnya tentang Zea. 


"Di jalan."


"Coba ceritakan." Gara malah semakin jadi. 


"Tidak! Cepatlah pulang, kau mau--" Belum selesai Revan bicara langsung dipotong oleh Gara sendiri. 

__ADS_1


"Baiklah, aku akan kembali lagi. Sampai jumpa sahabat!" Seru Gara seraya berlari kecil keluar dari ruangannya.


"Kalau bisa jangan pernah kembali!" Seru Revan sebelum Gara benar-benar keluar dari ruangannya.


"Baiklah sahabat, besok aku kembali kalau aku luang. Hahaha..., kalau rindu padaku hubungi saja aku. Aku pasti akan membuatmu senang." Sahut Gara yang sudah berada diambang pintu. 


Dasar gila! Revan.


Revan tersenyum licik. Sekarang dia bisa menghela nafasnya lega. Bisa pulang sekarang. Tidak ada lagi Gara si pengganggu ketenangan orang. 


Revan berjalan keluar ruangannya. Tidak lupa mengambil jas kerjanya yang digantung di kursi. 


"Ayo, Zen pulang." Perintah Revan kepada Sekretaris Zen yang memang sedang menunggu atasannya di depan pintu ruangan.


"Baik tuan." 


...----------------...


Waktu-waktu yang ditunggu Revan pun akhirnya datang juga. Dimana dia bisa sampai di rumahnya yang paling nyaman dibanding kantor. Walaupun kantor menjadi rumah keduanya setelah rumah aslinya. 


Di pelataran rumah utama Ardawijaya. Sangat besar bak kastil ataupun istana kerajaan. Keluarga inti yang tinggal didalamnya hanya ada Revan, adiknya dan kedua orang tuanya. 


Namun, kedua orang tuanya Revan sedang berada di rumah kakek dan neneknya Revan dari ayah di luar negeri. Mereka baru akan kembali di esok hari.


Hari esok Revan pun akan terasa sangat melelahkan. Karena jadwalnya lebih padat dari biasanya. Ditambah Revan juga harus menjemput kedua orang tuanya di bandara. 


Kalau saja Gara sahabat pengganggu itu tidak datang ke kantor hari ini. Mungkin Revan bisa pulang dan istirahat lebih cepat. 


Seandainya juga Gara datang tapi tidak membuat masalah mungkin waktu tidak akan terbuang banyak. Memang menyebalkan Gara ini. Dan seorang Revan pun baru menyadarinya beberapa jam yang lalu. Sungguh menyedihkan.


Tidak ingin membuang banyak waktu lagi. Revan langsung masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan, Sekretaris Zen juga langsung kembali ke rumahnya sendiri. 


Revan merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang melebihi kenyamanan apapun.


"Gara awas saja kau kalau berulah lagi!" Gumam Revan kembali mengingat kejadian tadi. 


"Ze..." Gumamnya dengan menatap langit-langit kamarnya.


"Zea, aku tidak mau dijodohkan. Kalau kamu sendiri mau dijodohkan tidak?" 


"Menikah denganku saja bagaimana Ze? Kita hidup bersama sebagai sepasang suami istri." 


"Nanti kita punya anak."


"Aku pun bisa menikah di usia muda. Tapi, entahlah kenapa ibuku selalu mengatakan aku akan menjadi perjaka tua kalau tidak menikah. Dia memang aneh." 


"Eh, tapi diriku sendiri kenapa bisa yakin padamu?"


"Hm..., mungkin aku tertarik padamu." 


"Gara, benarkah ucapanmu kalau aku tertarik pada Zea?" 


Seketika Revan sadar apa yang baru saja diucapkan olehnya. Revan tersenyum geli mendengar ucapannya sendiri. Bisa-bisanya dia berpikir seperti dan berharap kepada Zea. Tapi, semoga saja Zea memang jodoh untuknya. Walaupun tidak ada yang tahu pasti kecuali tuhan. 


Baru saja ingin memejamkan matanya karena lelah. Dia teringat kalau belum ganti pakaiannya. Segera dengan sisa tenaganya beranjak ke ruang pakaian mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. 

__ADS_1


Lalu, ke kamar mandi membersihkan wajah, mencuci kaki dan tangannya. Barulah kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan masuk ke alam mimpi indahnya. 


Bersambung. 


__ADS_2