
...~ Shopping Bersama Meta ~...
...___________________________________________...
"Hai, Ze!" Sapa Meta yang baru saja sampai.
"Lho, bajumu kok..." Meta menunjuk baju Zea dengan tatapan bingung.
Zea menghela nafasnya kasar. Akhirnya, teman kerja laknatnya datang juga. Zea menatap sinis Meta. Tidak berlama-lama lagi Zea langsung menarik pergelangan tangan Meta untuk segera berjalan.
"Eh, kamu habis kecemplung ke air selokan ze?" Tanya Meta seraya mengikuti Zea yang masih setia menariknya untuk jalan buru-buru.
"Terserah apa katamu sajalah ta."
"Sekarang aku mau beli baju untuk ganti dulu. Ayo!"
"Iya, iya ayo." Meta menyeimbangkan jalannya dengan Zea yang buru-buru.
Mereka berdua masuk ke dalam sebuah toko pakaian yang lumayan bersahabat dengan isi dompetnya.
Meta membantu Zea mencari pakaian yang murah tapi nyaman untuk dipakai. Hanya untuk ganti baju saja. Jadi, tidak perlu yang terlalu bagus. Lagipula terpaksa. Kalau tidak kotor. Pasti kan tidak perlu membuang uang untuk beli pakaian ganti.
"Ini saja Ze, kamu coba dulu di ruang ganti." Meta memberikan sebuah baju berwarna biru langit yang cukup bagus. Tapi, harganya masih terjangkau.
"Baiklah, mau ikut atau tunggu di sini?"
"Ikut!"
"Tunggu depannya saja ya."
"Iya siap!"
Meta dan Zea beranjak ke arah ruang ganti. Zea mencoba bajunya dulu. Apakah muat dan cocok di tubuhnya atau tidak. Zea keluar dari ruang ganti dengan baju yang dipilihkan Meta.
"Bagaimana menurutmu ta?"
Meta memutar-mutar tubuh Zea hingga terasa pusing yang diputar tubuhnya. Melihat atas sampai bawah. Menggaruk dagunya berpikir sejenak.
"Aku sih yes." Meta memberikan kedua ibu jarinya.
"Baiklah, aku juga suka dengan bajunya. Aku bayar ini dulu ya ta. Aku tidak nyaman dengan baju seperti ini."
"Oke."
Meta menemani Zea membayar bajunya dan juga mengganti baju. Barulah mereka berganti ke area pakaian formal, kemeja-kemeja wanita, blazer dan rok atau celana yang cocok untuk kerja.
Berkeliling sambil mengambil beberapa kemeja dan celana ada juga beberapa rok yang diambil oleh Zea. Dengan berbagai warna dan motif yang berbeda. Tapi, warnanya tidak mencolok. Zea memilih warna yang netral dan kalem. Jadi, lebih sopan.
Meta juga turut ikut memilih kemeja yang cocok untuk Zea gunakan. Sekarang di tangan Zea dan di tangan Meta ada banyak kemeja yang harus dicoba dulu. Cocok dan muat dikenakan oleh Zea atau tidak.
Mereka kembali ke bagian ruang ganti untuk mencoba semua kemeja yang sudah mereka pilih. Mulai dari yang pertama, celana dan kemeja yang Zea pilih.
"Bagaimana bagus tidak?"
Meta melihat dengan seksama. Mengernyitkan dahinya sembari berpikir. Memutar-mutar tubuh Zea lagi.
"Kurang cocok sepertinya."
"Baiklah aku coba yang lain."
Zea kembali masuk ke dalam ruang ganti untuk mencoba kemeja yang lainnya di dalam. Tidak lupa dengan celana dan roknya juga.
__ADS_1
"Bagaimana kalau ini?"
Meta berpikir lagi. Dengan melakukan hal yang sama setiap Zea mencoba kemeja atau celana dan rok yang sudah dipilih.
"Hm..., boleh juga. Warnanya oke."
"Kurang menurutku."
"Coba yang lain."
"Nah, ini boleh."
"Menurutku tidak begitu cocok."
"Ini terlalu gelap. Memangnya hidupmu suram?!"
"Coba ganti lagi."
"Ganti lagi yang lain."
"Bagus sekali, cocok denganmu!"
"Wah, terlihat seperti manajer perusahaan ya. Harus beli ini!"
"Lumayan juga oke."
"Tidak terlalu hijau seperti lumut."
"Celananya terlalu ketat. Kamu ingin menjadi penggoda di perusahaan memangnya Ze?!"
Zea menghela nafasnya sabar dengan kata-kata asal teman kerjanya yang langsung saja keluar dari mulutnya dengan lancar.
Kembali lagi Zea masuk ke dalam ruang ganti untuk mencoba yang lain. Tersisa sedikit lagi. Untung untuk bekerja diperusahaan besok. Jadi, masih ada rasa semangatnya. Walaupun kalah dengan rasa kesalnya.
"Roknya terlalu pendek, ganti!"
"Nah, rok yang ini baru cocok denganmu."
Zea bisa menghela nafasnya lega sekarang. Sudah selesai semua kemeja, celana dan rok yang dia pilih untuk dicoba.
Pakaiannya juga sudah dipisahkan yang dibeli dengan yang tidak. Zea juga sudah kembali memakai pakaian semulanya.
Zea keluar dari ruang ganti dengan tangannya yang penuh pakaian. Meta membantunya membawakannya.
"Sudah semua?" Tanya Meta seraya membantu Zea membawa semua pakaiannya.
"Iya sudah. Meta itu yang kamu pegang, tidak aku jadi beli karena tidak cocok yang kamu bilang. Jadi, tolong kembalikan ya. Aku bayar semua ini dulu. Temui aku di kassa ya."
"Eh, bisa begitu. Tapi, belikan aku es krim ya." Meta menatap Zea sinis.
"Iya nanti aku belikan es krim."
"Oke." Meta langsung berjalan meninggalkan Zea.
Zea juga menuju ke kasir untuk membayar semua pakaian yang dia pegang. Untung hari ini dia gajian. Kalau tidak Zea bingung ingin pakai pakaian apa.
Tidak mungkin kan Zea memakai pakaian ibunya yang kebanyakan modelnya untuk pergi ke sebuah acara. Pakaian kerjanya ibunya kebanyakan model pakaian yang dijual di butik dulu.
Seandainya butik ibunya Zea masih ada. Mungkin Zea sekarang sudah meneruskan usaha butik ibunya. Tidak akan menjadi barista ataupun bekerja di perusahaan orang.
Tapi, tidak masalah. Namanya juga hidup. Zea menerima setiap rintangan hidupnya. Hanya saja kadang rintangannya membuat lelah dan kesal.
__ADS_1
Bertemu dengan Gara saja sudah termasuk menjadi rintangan hidupnya. Berhasil membuat manusia pencari gara-gara itu pergi. Zea berhasil melewati rintangannya. Seperti bermain game yang lolos melewati setiap levelnya.
Selesai bayar dan Meta juga sudah selesai mengembalikan pakaiannya. Mereka membeli es krim di salah satu tempat makan cepat saji. Karena harganya murah dibandingkan tempat khusus es krimnya langsung.
Zea dan Meta duduk sebentar di foodcourt yang ada di dalam mall. Lelah membawa belanjaannya yang cukup banyak. Es krim yang dingin bisa sedikit melegakan.
"Ze. Kamu beli pakaian sebanyak itu? Pakaian untuk kerja di perusahaan? Memangnya sudah ada pemberitahuan lagi?" Meta menatap Zea heran.
Karena sebelumnya Meta hanya diajak untuk bertemu di mall saja. Dadakan pula diajaknya. Meta sampai kelabakan dibuatnya. Zea tersenyum dan mengangguk cepat ke arah Meta.
Langsung Zea mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Membuka email yang dia dapatkan tadi pagi. Lalu, menunjukkannya kepada Meta.
"Hah? Ini serius Ze?" Meta terkejut. Menatap Zea tidak percaya. Zea hanya mengangguk cepat saja. Karena dia sambil menikmati es krimnya.
"Wah..., sudah kubilang kan. Kamu pasti diterima Ze. Selamat ya cantik! Berarti ini tandanya kamu harus mentraktir temanmu ini." Meta menaik turunkan alisnya. Dikembalikan lagi ponsel Zea.
Zea memutar bola matanya. Ada saja keadaan yang dimanfaatkan oleh temannya ini. Baiklah, tidak masalah. Karena Meta sudah memberikan hadiah disaat ulang tahunnya.
"Baiklah, aku traktir makan siang ya."
"Boleh juga, makan apa ya yang enak?"
"Jangan yang menguras dompet juga lho! Kasihan dompetku."
"Hahaha..., tidak-tidak. Kita makan bakmi MM saja."
"Oke, boleh. Ayo!"
"Sini aku bantu bawa barang belanjaan mu."
"Heh! Baik saat ada maunya saja."
"Yang penting mau membantu."
"Bisa saja mulutmu, ya sudah ini. Bawa yang benar ya."
"Baik nyonya."
Mereka masuk ke dalam restoran Bakmi MM. Di resto ini tidak hanya menjual bakmi. Ada menu lainnya juga seperti nasi dan tumisan lain.
Zea dan Meta memilih tempat duduk di sudut. Karena lebih nyaman saja disudut. Tidak terlalu ditengah-tengah. Karena bisa dilihat oleh orang disekitarnya.
Mereka memesan makanan yang sama. Ditambah pangsit goreng yang jadi andalan resto tersebut.
Zea dan Meta sebelumnya pernah datang ke resto ini juga. Hanya saja tidak sering, baru dua kali. Karena menjaga kesehatan dompet mereka.
"Ze, setelah ini masih ada yang ingin kamu beli?"
"Hm..., tidak ada. Mungkin aku akan pakai laptop ayah dan tas ibuku. Masih bisa digunakan juga. Jadi, tidak perlu beli lagi."
"Baiklah, berarti setelah makan temani aku cuci mata ya." Meta mengedipkan sebelah matanya.
Zea mengernyitkan dahinya. Apa maksudnya? Meta ingin Zea menemaninya ke rumah sakit untuk mencuci mata atau bagaimana. Atau Meta ingin mencuci mata di toilet mall.
"Cuci mata?"
"Iya, cuci mata."
"Di rumah sakit?"
"Bukanlah Ze. Nanti saja ikut aku." Meta mengedipkan satu matanya.
__ADS_1
Bersambung.