Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 31 - Gara VS Zen


__ADS_3

...~ Gara VS Zen ~...


..._______________________________________...


"Maaf tuan, anda tidak diizinkan untuk ikut serta." 


"Tapi, aku sahabatnya Zen!"


"Maaf tuan, anda tidak diizinkan untuk ikut serta." 


"Zen, aku cuma mau ikut liburan juga. Aku tidak akan mengganggu. Beneran deh aku tidak bohong. Coba rundingkan dengan atasanmu!" 


"Maaf tuan, anda tidak diizinkan untuk ikut serta." 


"Coba tanya Revan lagi, Zen. Aku ingin ikut!" 


" Maaf tuan, anda tidak--" 


"Ha, Ck! Kau sudah mengatakan hal itu sebanyak tiga kali Zen. Bosan aku mendengarnya. Minggir ya..."


Gara dengan kurang ajarnya masuk ke dalam pesawat pribadi Revan yang dimana sudah berada Revan dan Zea disana. Mereka sudah duduk tenang hanya tinggal menunggu Sekretaris Zen yang tengah menyelesaikan masalah dengan Gara.


Sekretaris Zen dengan sekuat tenaga dan sangat cekatan langsung menarik lengan Gara dan membawanya untuk keluar dari pesawat. Tidak lupa berhati-hati karena mereka menuruni tangga pesawat.


Gara memberontak dalam genggaman Zen. Tapi, tenaga Sekretaris Zen lebih kuat dibanding Gara. Sepertinya Sekretaris Zen sudah menyiapkan diri untuk hari ini.


Dimana Sekretaris Zen harus melawan Gara yang pasti akan berusaha untuk ikut bersama Revan. Karena hari ini Revan akan liburan bersama Zea ke bali dalam masa cuti bersama. 


Zen membawa Gara menuju pesawat komersil. Pesawat komersil yang sudah dibeli setiap tiket tempat duduk di dalamnya. Sehingga hanya Gara saja yang duduk di dalamnya. Seorang diri ditemani pramugari yang bekerja. 


"Hei, kenapa aku dibawa kesini? Sepi juga lagi. Kenapa tidak ke pesawat kalian saja?" Tanya Gara heran.


"Maaf tuan, anda tidak diizinkan untuk ikut serta." 


"Zen, aku muak rasanya lama-lama kau mengatakan itu. Sudah--" 


"Jika tuan ingin ikut serta, duduk dengan tertib di pesawat ini. Karena tujuan pesawat ini dan pesawat tuan Revan sama."


"Tapi, aku ingin di pesawat pribadi Zen! Astaga, atasanmu sungguh menyebalkan."


"Maaf tuan, anda tidak diizinkan untuk ikut serta."


"Zen!" Kesal Gara karena Sekretaris Zen sudah berkali-kali mengatakan itu. Rasanya seperti ingin memukul Zen berkali-kali.


"Jika tuan ingin menggunakan pesawat pribadi, lihatlah sekeliling tuan, tidak ada siapa-siapa. Tuan bebas memilih tempat duduk. Karena perjalanan kali ini pesawat khusus hanya untuk tuan." 


"Tapi, Zen aku--"

__ADS_1


"Pesawat sebentar lagi akan lepas landas." Zen melihat jam tangannya. "Selamat menikmati perjalanan anda tuan, permisi." Sekretaris Zen melenggang pergi dari hadapan Gara dan keluar dari pesawat komersil itu. 


Sekretaris Zen masuk ke dalam pesawat pribadi Revan. Revan melihat kedatangan Sekretarisnya yang seorang diri merasa bahagia. Karena tidak ada pengganggu antara dirinya dan juga Zea. 


"Bagaimana?" Revan menatap Zen yang baru saja duduk di kursinya.


"Semuanya sudah aman terkendali tuan." 


"Bagus, terima kasih."


"Sama-sama tuan."


Zea sedari tadi hanya diam. Memperhatikan apa yang terjadi di luar melalui jendela pesawat dan ada. Lalu, menyimak pembicaraan mereka semua tanpa bertanya ataupun ikut menimpali. 


Kasihan Zea dengan Gara. Tapi, tidak berniat untuk membujuk Revan. Karena Gara sendiri juga menyebalkan. Jadi, anggap saja kebaikannya untuk Gara hanya saat itu saja. Dimana Zea membujuk Revan saat menuju acara pembukaan restoran baru.


Pesawat pribadi Revan pun lebih dulu lepas landas dibanding Gara. Mereka menuju tujuan yang sama yaitu, Bali. Beruntung Revan masih berbaik hati karena tetap memperbolehkan Gara ikut dengan mereka. Hanya saja tidak dalam pesawat yang sama. Begitu saja tidak masalah.


Masalahnya adalah bagaimana dengan setibanya mereka semua di Bali. Pasti dengan adanya Gara. Semua rencana yang sudah Revan atur untuk jalan-jalan bersama Zea. Pasti akan hancur dalam sekejap.


Jadi, keberadaan Sekretaris Zen disini sangat membantu untuk mengurus satu manusia yang memang menyebalkan itu. Kalau kata Zea, Gara adalah si pencari gara-gara. Begitu ya.


Di dalam perjalanan. Zea lebih menghabiskan waktu perjalanan dengan berbicara bersama Revan. Sungguh mereka benar-benar terlihat seperti orang pacaran sekarang. Zea juga sudah mulai sering memulai lebih dulu dalam mencari topik.


Duduk bersebelahan, berbicara saling tatap. Sesekali Revan  merapikan anak rambut Zea yang menghalangi wajahnya. Zea pun merona saat diperlakukan seperti itu. Mungkin jiwa-jiwa romantis Revan semakin lama, semakin keluar. 


Kurang lebih perjalanan satu setengah jam sampai dua jam untuk sampai di bali. Setelah sampai disana. Mereka langsung diarahkan ke mobil yang sudah disiapkan. 


Sedangkan, Revan dan Zea sudah menuju ke villa. Zen merasa lebih baik tuannya tenang dan bahagia. Daripada dirinya yang tidak tenang nanti. Karena ada pengganggu tuannya. 


"Hai Zen! Kau sudah sampai juga. Dimana Revan dan Zea?" Tanya Gara seraya melambaikan tangannya dengan tangan satunya lagi yang membawa koper. 


Sekretaris Zen mengambil alih koper Gara untuk dibawakan olehnya. Gara pun dengan senang hati membiarkan kopernya dibawa oleh Zen.


"Tuan dan nona sudah menuju ke villa. Silahkan, ikuti saya tuan." Jawab Sekretaris Zen seraya berjalan lebih dulu. Demi menghindari pertanyaan Gara. 


"Hah? Kok begitu? Kenapa mereka duluan? Kenapa tidak menungguku? Jahat sekali mereka." Pertanyaan Gara yang tidak dihiraukan oleh Sekretaris Zen. 


Gara pun pasrah. Dia hanya mengikuti Sekretaris Zen saja untuk menuju mobil mereka. Mobil yang memang sudah disiapkan juga. Sengaja agar tidak satu mobil dengan Revan dan Zea. 


Sekretaris Zen dan Gara pun masuk ke dalam mobil dan menuju ke villa yang sama dengan Revan dan Zea. Menyusul mereka berdua yang sudah jalan lebih dulu. 


...----------------...


Di satu sisi dalam mobil yang berisikan dua orang berpacaran sedang dalam perjalanan menuju villa. 


"Kamu dan Gara sudah bersahabat berapa lama?" Tanya Zea kepada Revan yang duduk di sebelahnya. 

__ADS_1


"Hm..., kira-kira kita bertemu saat masih sekolah menengah."


"Apa kalian dari dulu memang sering seperti ini?" 


"Seperti ini bagaimana?" Revan mengernyitkan dahinya.


"Ya..., seperti ini sering bertengkar, saling membuat kesal, meninggalkan satu sama lain?" 


"Iya kami memang seperti itu. Entah kenapa persahabatan kami lancar-lancar saja."


"Bagus dong berarti kalau begitu?" 


"Iya bagus sih bagus, tapi tidak bagus untuk jantung."


"Hahaha..., sabar ya."


Revan tersenyum dan mengangguk. Menyenangkan sekali rasanya bisa melihat Zea tertawa dihadapannya. 


Zea juga tidak sadar dan memperhatikan Revan yang tersenyum lebih lama dari biasanya karena tawanya. 


"Ze..."


"Hm?"


"Menurutmu bagaimana hubungan kita sampai saat ini?"


"Hm..., entahlah sepertinya ada kemajuan."


"Benar, semoga bisa sampai ke tahap selanjutnya."


"Hm..., ya semoga."


Zea tampak ragu. Karena dia belum terlalu yakin dengan dirinya sendiri. Entah sudah memiliki rasa kepada Revan atau belum. Karena dia tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang tapi tidak dicintai balik. 


Dan Zea tidak mau hal itu juga terjadi kepada Revan. Jika, Revan mencintainya tapi, Zea tidak mencintainya balik. Pasti rasanya menyakitkan dan mengecewakan. 


Bersambung. 


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe

__ADS_1


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak


See u in the next episode 💕


__ADS_2