Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 10 - Bertemu Revan Lagi


__ADS_3

...~ Bertemu Revan Lagi ~...


...___________________________________________...


Zea sudah bisa menghela nafasnya lega sekarang. Zea menjadi yang terakhir di interview. Tidak apa yang penting dia kebagian untuk di interview. Karena dari banyaknya kandidat yang hendak di interview juga membuat Zea khawatir kalau tidak kebagian. 


Waktu sudah menunjukkan siang hari. Jam makan siang juga sudah lewat. Zea keluar dari lobby perusahaan. Zea ingat kalau di sebelah perusahaan ada minimarket yang lumayan besar dibandingkan minimarket biasanya. 


Karena sudah merasa perutnya kelaparan dan berbunyi. Dari pada saat di angkutan umum nanti bunyi perutnya menjadi pusat perhatian. Lebih baik Zea mengganjalnya sedikit dengan membeli sesuatu yang murah di dalam minimarket.


Melihat-lihat dulu dalam minimarket menjual apa saja. Ternyata dalam minimarket juga menjual makanan cepat saji yang tinggal dihangatkan. Zea pun mengambil nasi ayam katsu yang harganya cukup aman untuk dompetnya.


Kalau makan tidak mungkin tidak minum. Zea juga membeli air mineral. Karena yang paling murah dan aman di dompet sudah pasti air mineral. Walaupun begitu air mineral juga sehat. 


Setelah selesai tidak ada lagi yang murah dimata Zea. Langsung saja menuju kasir untuk membayar apa yang dibelinya. 


"Selamat siang, apa ada kartu membernya?"


"Tidak ada mba." 


"Baik, totalnya tiga puluh dua ribu rupiah." 


"Sebentar mba." 


Zea mengambil dompet terlebih dahulu di dalam tasnya. 


"Sekalian sama punya saya saja." 


Seseorang berdiri menggeser sedikit tubuh Zea yang sedang berusaha mengambil dompet. Zea menoleh melihat siapa yang ada disampingnya. 


"Baik, apa ada kartu membernya?" 


"Zen." 


"Baik tuan." 


Sekretaris Zen memberikan kartu member minimarket milik tuan mudanya. Siapa tuan mudanya? Sudah pasti dimana ada Zen, disana juga ada Revan. 


Orang yang dilihat Zea hanya tersenyum dan mengangguk sopan. Dia membayar barang yang dibeli Zea juga. Zea menjadi tidak enak. 


"Terima kasih sudah berbelanja di minimarket kami." 


Zea mengangguk ke arah mba-mba minimarketnya sambil tersenyum canggung. Zea menjadi mengikuti Revan yang sudah keluar dari minimarket. Karena makanan miliknya ada disatu paper bag yang sama dengan milik Revan. 


"Mau makan dimana?" Revan menatap Zea yang sudah berdiri di belakangnya. Hanya berdiam saja tanpa mengeluarkan suara. 


"Ha-ah? Makan dimana maksudnya?" Zea menatap balik dengan tatapan bingung.


"Ayo, kita makan bareng. Makanan dan minuman mu ada padaku. Lebih baik kita makan bareng." Ajak Revan yang tahu kalau Zea tidak akan bisa menolaknya. 


Tentu saja Zea pasti akan merasa tidak enak kalau menolaknya. Secara makanan dan minumannya ada pada Revan dan juga sudah dibayar oleh Revan. 


"Hm..., terserah padamu saja." 


"Baiklah, kita makan di kantorku saja." 


"Ka-kantor?" 

__ADS_1


"Iya, memangnya kenapa?" 


"Oh, ti-tidak, tidak apa-apa. Ya sudah, dimana kantormu?" 


"Jauh. Kita perlu naik mobil untuk kesana." 


Revan langsung berjalan lebih dulu daripada Zea ke dalam mobilnya. Sedangkan, Zea masih terdiam. Bingung harus bagaimana. 


"Silahkan nona." Sekretaris Zen mempersilahkan Zea jalan. Zea pun tersadar dan tersenyum canggung sambil menatap Sekretaris Zen.


Sepersekian detik. Zea kembali berhenti melangkah. Dia berbalik melihat siapa yang berbicara dengannya tadi. 


Dia terlihat garang sekali. Dia siapa ya? Dua hari yang lalu saat mereka menemuiku. Dia juga ikut bersama Revan. Sekarang dia ada lagi. Apa dia asistennya? Zea.


"Silahkan nona." Sekretaris Zen lagi-lagi membuyarkan lamunan Zea.


"Eh, iya. Maaf." Zea menjadi salah tingkah.


Zea langsung berjalan menuju ke mobil Revan berada. Sekretaris Zen yang disangka Zea asisten Revan membuka pintu belakang mobil. Dimana sudah ada Revan di dalamnya. 


Tidak ingin cerewet ataupun bawel. Zea pun langsung saja masuk tanpa banyak bertanya. Zea duduk di sebelah Revan yang sudah ada di dalam mobilnya menunggu Zea sedari tadi. 


Sekretaris Zen juga ikut masuk dan mulai melajukan mobilnya menuju kantor Revan. Yang dimana kantor yang dimaksud adalah kantor pusat Ardawijaya Group. 


Di dalam mobil suasananya sangat hening. Belum ada pembicaraan apapun diantara Revan maupun Zea.


Zea memilih memandangi perjalanan mereka melalui jendela mobil. Menunggu si pemilik mobil dan yang sudah membayar makanannya bicara lebih dulu.


Eh, aku belum bilang terima kasih kan? Zea.


Wajah Zea menjadi cemas. Karena lupa mengucapkan terima kasih. Segera Zea merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja. Menoleh ke sebelahnya dengan percaya diri.


Revan menoleh menatap balik Zea dan mengangguk pelan. Revan juga ikut tersenyum disaat Zea tersenyum. Apa yang dilakukan Revan dibelakang bersama Zea tidak luput dari penglihatan Sekretaris Zen.


Karena sebagai sekretaris, Zen juga penasaran dengan kisah cinta dan masalah hati atasannya. Bukannya ingin mencampuri urusan Revan sebagai atasan. Melainkan memastikan Revan memang normal.


Setahu Zen yang sudah menjadi sekretaris Revan sejak awal Revan menggantikan posisi ayahnya tiga tahun lalu adalah Revan tidak pernah mau dekat dengan wanita manapun.


Termasuk wanita yang memang bertemu hanya untuk urusan pekerjaan pun Revan berusaha sekeras mungkin untuk segera menyelesaikan pertemuannya dengan cepat.


Sempat berpikir di benaknya. Kemungkinan Revan pria impoten kah atau memang tidak memiliki ketertarikan akan wanita. Sehingga tidak tergoda dan tidak tertarik dengan wanita manapun.


Sekarang Zen melihat atasannya tengah berinteraksi dengan seorang wanita. Entah atasannya mengenal wanita itu dari mana. Zen belum menanyakan perihal itu.


Dalam benaknya berharap Zea bisa menjadi jodohnya Revan. Walaupun Revan terbilang masih muda di umurnya. Setidaknya Revan tidak akan bersanding dengan wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya. 


Kenapa? Karena Zen tahu kalau wanita yang dipilihkan oleh kedua orang tuanya Revan hanyalah melihat penampilan, kedudukan dan status. Tidak dari segi lain. Seperti sifat atau sikap, perasaan hatinya dan pikirannya. Begitu juga yang lainnya. 


Revan menaruh ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Dia menoleh ke arah Zea yang duduk dengan tenang sedang memperhatikan jalanan melalui jendela mobilnya. 


"Zea." Panggil Revan membuat yang dipanggil menoleh.


"Iya?" Zea mengangkat alisnya.


"Bagaimana kabarmu?" 


"Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan anda sendiri?" 

__ADS_1


"Aku juga baik. Bolehkah aku meminta sesuatu?" 


"Apa?" Zea mengernyitkan sesuatu. 


Dilihat dari caranya berpakaian dan apa yang dia punya. Zea mengambil kesimpulan kalau Revan adalah orang berada. 


"Bicaralah seperti biasanya." 


"Maksud anda?" 


Zea tidak mengerti dengan permintaan Revan. Memangnya apa yang salah dengan cara berbicaranya. Apakah kurang sopan? Apa terlalu baku atau formal atau kaku?


Itu kan karena Zea dan Revan belum terlalu kenal. Maka dari itu Zea sedikit formal dengan orang disampingnya. Kalau sudah mengenal cukup lama mungkin bisa lebih santai. 


"Kata anda dan saya bisakah diganti dengan aku dan kamu atau terserah padamu saja. Supaya tidak terlalu kaku." Jelas Revan. 


"Maaf sepertinya tidak bisa. Karena saya belum terlalu kenal dengan anda." 


Revan mengangguk paham. Dia pun mencoba berpikir sejenak. Zea menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Revan.


"Bagaimana kalau mulai saat ini kita mencoba untuk saling mengenal?" Revan memberikan saran yang dalam benaknya ingin sekali Zea menyetujuinya. Meskipun ada tujuan tersirat didalamnya. 


"Untuk apa?" Zea mengernyitkan dahinya. Merasa tidak perlu dengan apa yang dikatakan Revan barusan. 


"Supaya lebih dekat saja. Apa tidak boleh? Saling mengenal itu lebih baik." Revan dengan percaya dirinya mengatakan itu kepada Zea. 


"Boleh. Hanya saja..." Zea terdiam. Bingung ingin beralasan apalagi. 


"Hanya saja apa? Apa kamu tidak ingin kita saling mengenal?" Revan menunjukkan wajah kecewanya. Supaya Zea bersimpati kepadanya. Licik sekali Revan ini. 


"Hm..., baiklah boleh." Zea pasrah dengan senyuman sedikit dipaksa.


"Baiklah, apa sore ini kamu sibuk?" 


Sebenarnya Revan tahu kalau Zea akan kembali ke cafe karena bekerja sebagai barista disana. Tapi, tidak mungkin kan kalau menunjukkan bahwa dirinya memang sudah tahu. Pasti tidak masuk akal sekali.


"Tidak juga." 


"Baiklah. Kita gunakan sore ini untuk saling mengenal ya." 


"Baik." 


Revan mengangguk senang. Dalam hatinya sudah pasti bersorak ria. Bahagia dengan dirinya sendiri berhasil memikat wanita. Walaupun masih beberapa persen saja. Tidak masalah. 


Ada prosesnya. Usaha tidak menghianati hasil. Revan percaya akan itu. Revan tersenyum kecil menatap ke jendela. Zea pun tidak mengetahuinya. Sedangkan, Zen dia tahu itu. 


Bersambung.


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya terbaru ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe

__ADS_1


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak


See u in the next episode 💕


__ADS_2