
...~ Ayo, Lawan Sini! ~...
..._______________________________________...
Zea tengah menunggu Revan di ruang tunggu. Karena Revan sedang ada pertemuan dengan klien terakhir di hari ini. Sedangkan, Sekretaris Zen yang sudah tahu siapa Zea sekarang dari tuannya menawarkan kepada Zea untuk menunggu di ruangan Revan.
Tapi, Zea menolak. Karena banyak yang tidak tahu dengannya dan tidak ingin orang yang melihatnya menatap aneh serta berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya apalagi Revan yang lebih tinggi kedudukannya.
Sambil menunggu Zea memainkan ponselnya sambil memakan sedikit croissant yang baru saja dia beli tadi.
Mungkin kalau Revan mau, dia bisa membaginya kepada Revan. Ah, romantis sekali kalau sampai Revan mau dan Zea membaginya. Untung Zea beli tiga macam.
"Ze?"
Zea sontak menoleh saat ada seseorang yang memanggil namanya. Dia mendongakkan kepalanya untuk melihat orang itu.
"Oh, kamu. Sudah selesai?" Tanya Zea kepada Revan yang sudah melihatnya di depan mata.
"Iya sudah, kenapa tidak mau menunggu di ruangan ku?" Revan menatap Zea kasihan karena harus menunggu dirinya lebih dulu.
"Tidak apa-apa." Zea tersenyum saja.
"Baiklah, ayo." Ajak Revan dengan memberikan tangannya menunggu Zea menggenggamnya.
"A-ayo kemana?"
"Ke restoran baruku. Kita akan mengikuti acara pembukaan dulu disana."
"Hm..., baiklah."
Zea langsung saja berjalan lebih dulu daripada Revan ke arah lift. Sebenarnya Zea paham dengan maksud tangan Revan. Hanya saja daripada orang disekitar sana melihatnya dengan tatapan aneh. Lebih baik menghindari itu sampai benar-benar terjadi kan.
"Silahkan nona." Sekretaris Zen membukakan pintu mobil untuk Zea.
Zea tersenyum canggung dan masuk ke dalam disusul Revan. Sekretaris Zen yang mengemudikan mobilnya.
"Hai, calon pasutri!"
Revan dan Zea kompak menatap datar seseorang yang baru saja mengagetkan mereka. Menyebalkan sekali rasanya. Revan dan Zea menghela nafasnya bersamaan dan berbarengan mengalihkan pandangannya.
"Hei..., hei...!!! Harusnya kalian itu berterima kasih langsung padaku. Karena aku kalian kan pacaran!"
"Gara, sejak kapan kau ada didalam mobilku?" Tatap sinis Revan kepada Gara yang duduk di kursi samping pengemudi.
"Sejak tadi." Jawab santai Gara.
__ADS_1
"Minggir Zen." Perintah Revan.
"Baik tuan."
Gara dan Zea hanya menyimak dan memperhatikan setiap apa yang dilakukan oleh Revan dan sekretarisnya. Revan keluar dari dalam mobil dan langsung membuka pintu depan.
"Keluar!" Ketus Revan.
"Hah? Revan? Kau ternyata jahat ya sama sahabat?" Gara enggan untuk turun dari mobil.
"Cepatlah Gara turun sekarang!" Paksa Revan.
"Tidak mau!" Kekeh Gara.
"Heh, cepat!" Revan menarik kerah baju Gara untuk keluar dari dalam mobil.
"Revan, sumpah kau jahat sekali ya padaku!" Gara pasrah keluar dari dalam mobil. Gara mencoba memelas. Siapa tahu Revan masih mempunyai hati untuknya. Walaupun sesama laki-laki.
"Aku tidak peduli, pulang ke rumah ya. Hati-hati dijalan." Ucap Revan seraya masuk kembali ke dalam mobil.
Gara dengan tidak tahu malunya ikut masuk kembali ke dalam mobil Revan. Dia duduk lagi di kursi depan samping pengemudi.
"Gara!" Kesal Revan.
Tangannya terkepal. Rasanya ingin sekali memukul Gara sekarang juga. Kalau Revan tidak menganggap Gara sahabat mungkin sudah babak belur sekarang wajah Gara.
Gara yang merasa Revan sedang kesal. Sengaja memancingnya untuk tambah semakin jadi. Gara ikut mengepalkan tangannya dan menyiapkan tangan kakinya seakan ingin saling melawan pukul.
"Ayo, Lawan Sini!" Tantang Gara.
Revan menghela nafasnya berkali-kali untuk menahan amarahnya yang semakin jadi. Melihat Gara yang fokus dengan tingkahnya. Buru-buru Revan masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.
"Jalan Zen!"
"Baik tuan."
"Ah, Cepat!"
Revan merasa ketar-ketir saat Gara menyadari bahwa dirinya sudah berada di dalam mobil. Gara pun berlari mengejar mobil Revan yang sudah lebih dulu melaju.
"Revan! Hentikan mobilnya!" Teriak Gara dari luar.
Revan tidak menghiraukan itu. Lebih baik Gara tidak ikut bersamanya. Karena kalau ikut, pasti Gara akan mengganggu momen bersamanya dengan Zea.
Gara itu dikenal dengan pengganggu, menyebalkan dan menjijikan. Tapi, ya namanya juga Gara. Entah sikap dan sifatnya sudah dari dulu seperti itu datang dari mana.
__ADS_1
Mobil melaju, tapi Gara masih tetap mengejarnya. Karena masih dalam lingkungan perkantoran. Zea yang berhati baik dan tidak sombong merasa kasihan dengan Gara sebenarnya. Walaupun dalam hati kecilnya dia kesal dengan Gara karena tingkahnya.
"Revan, bagaimana kalau biarkan dia ikut?" Suara Zea membuat Revan terheran.
"Kenapa? Bukankah kamu juga kesal dengannya? Jadi, biarkan saja dia." Revan sama sekali tidak peduli dengan Gara.
"Revan, tidak apa ajak saja. Anggap saja dia tidak ada. Kasihan dia jika terus lari seperti itu." Zea mencoba membujuk Revan.
Revan menghela nafasnya. Berpikir sejenak. Sebenarnya memang kasihan melihat Gara yang lari untuk mengejar mobilnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia kesal dengan Gara.
Melihat mata Zea yang memohon dan membujuknya menjadi ikut terbawa perasaan. Dengan berat hati Revan meminta Sekretaris Zen untuk mengikuti perkataan Zea.
Selama diperjalanan. Zea dan Revan sesekali mengobrol. Sedangkan, Gara juga ikut nimbrung. Namun, yang menanggapi hanya Zea. Tidak dengan Revan.
Revan sebenarnya tidak ingin Zea menanggapi Gara. Padahal sebelumnya Zea juga bilang anggap saja Gara tidak ada. Nyatanya Zea tetap menanggapi sahabat menyebalkannya juga.
Rasanya momen berdua bersama Zea menjadi hancur karena keberadaan Gara. Sudah menyebalkan dan menjijikan. Suka mencari gara-gara, sekarang menjadi tukang pengganggu.
Jangan sampai Gara juga menjadi tukang rebut. Alias Gara merebut Zea dari Revan. Oh, tidak bisa! Zea sudah milik Revan. Bahkan, Gara sendiri yang membantunya. Jadi, sama sekali jangan sampai.
Sesampainya di restoran baru milik Revan. Mereka semua turun dari dalam mobil. Gara bersama Revan mengikuti acara. Sedangkan, Zea diminta Revan untuk menunggu di salah satu ruangan khusus miliknya dalam restoran tersebut.
Zea merasa bosan saat menunggu karena dua jam menunggu belum selesai-selesai juga. Beberapa kali ada pelayan datang ke ruangannya atas perintah Revan mengantarkan cemilan.
Tentu saja sebagai penangkal lapar. Zea memakannya. Hari juga sudah sore. Zea belum makan siang. Tapi, Zea lupa kalau tadi dia sempat membeli croissant. Hanya saja ditinggal dalam mobil.
Jadi, Zea hanya bisa menunggu Revan selesai dalam acara pembukaan restoran barunya. Sembari menunggu Zea berkirim pesan dengan Meta dan juga meminta izin kepada pihak manajemen cafe karena tidak bisa bekerja hari ini.
Karena Zea terjebak dalam acara Revan. Lagi-lagi jangan sampai hari ini terulang. Karena pasti bagaimana cara Zea bekerja akan dianggap tidak profesional oleh pihak cafe.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
See u in the next episode 💕
__ADS_1