Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 32 - Zen Zen


__ADS_3

...~ Zen Zen ~...


..._______________________________________...


Dalam sebuah villa yang sangat mewah dan megah. Revan dan Zea masuk ke dalam. Revan meminta bantuan pelayan di sana untuk mengantarkan Zea ke kamarnya. Kamar mereka berada di lantai yang sama hanya saja lorong yang berbeda. 


Zea berbaring di atas tempat tidur yang rasanya empuk dan nyaman. Beristirahat sebentar setelah perjalanan jauh boleh juga. Zea membersihkan tangan dan kakinya dahulu di kamar mandi. 


Kamar mandi di kamarnya membuat Zea takjub. Karena desainnya yang sangat elegan hingga membuat Zea betah di kamar mandi rasanya. 


Selesai semua itu, Zea merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan lelah yang memberatkan tubuhnya. 


Lagipula Revan bilang kalau boleh untuk istirahat saja dulu. Karena mereka semua akan keluar dari villa saat malam hari untuk makan malam diluar. Sekarang masih siang hari. Jadi, masih banyak waktu untuk beristirahat. 


Revan yang baru saja mengganti pakaiannya menjadi lebih santai menuju lantai bawah. Karena Sekretaris Zen sudah memberi kabar padanya bahwa Zen dan Gara sudah hampir sampai di villa yang ditempati oleh Revan dan Zea. 


Revan berjalan menuju depan pintu utama villa. Berbarengan dengan mobil yang digunakan oleh Sekretaris Zen dan Gara sampai di halaman villa. 


Gara dengan wajah berbinar, sombong dan merasa menang keluar dari mobil. Revan tersenyum samar melihatnya. Licik sekali Gara. Dia yang mendekatkan Revan dengan Zea, Dia yang membuat Revan dengan Zea menjadi sepasang kekasih walaupun masih renggang. 


Tapi, dia dia juga yang mengganggu kedekatan antara Revan dan Zea. Sebenarnya maunya Gara itu apa? Tidak ada yang benar pikirnya Revan. 


"Hai, sahabatku! Kenapa kau begitu jahat padaku, hah?!" Tegas Gara protes sembari memeluk Revan. 


"Maumu itu apa? Kau mendekatkan aku dengan Zea, kau juga yang jadi pengganggu." Kesal Revan. 


"Y-ya mana aku tahu, mungkin memang dari lahir aku diturunkan ke bumi untuk menjadi pengganggu, aku tidak tahu." Gara mengangkat bahunya. 


"Ck, tidak jelas!" 


"Heh, Revan yang tidak jelas itu hubunganmu! Kalian pacaran tapi, seperti tidak pacaran. Aneh!" Ejek Gara. 


"Perasaan cinta seiring waktu akan tumbuh. Makanya, aku dan Zea memilih untuk mencoba menjalaninya dulu. Kau tidak usah ikut campur!"


"Hah, Revan? Bukankah dari awal aku sudah ikut campur? Aku kan yang membuat kalian pacaran." Gara heran. 


"Ck, aku tidak peduli. Sudahlah masuk ke kamar mu sana. Aku mau istirahat."


"Baiklah, aku mengalah saja."  Gara tersenyum licik sembari melihat kepergian Revan yang kembali masuk ke dalam villa. 


"Silahkan, masuk tuan." Sekretaris Zen membuyarkan lamunan Gara yang fokus dengan Revan. 

__ADS_1


"Ah, iya Zen Zen aku tahu. Lain kali sabar sedikit ya." Kesal Gara seraya ikut masuk ke dalam. 


...----------------...


Pada malam hari. Revan yang sudah mengatur liburan singkat dalam masa cuti bersama ini mengajak yang lain untuk makan malam di sebuah restoran yang terkenal enak.


Ditambah pemandangan yang ada disekitarnya menambah wisatawan ingin berkunjung kesana. Makan di pinggir pantai sembari mendengar deburan ombak di dekat restoran. 


Mereka sudah sampai disana dengan dua mobil yang berbeda. Mereka semua menuju ke tempat duduk yang sudah disiapkan. 


Zea sedikit terkejut saat tahu restoran tersebut benar-benar menyediakan beberapa meja makan di atas pasir bukan lantai seperti restoran pada umumnya. 


Gara masih ada tingkat kewarasannya karena memilih duduk bersama Sekretaris Zen di meja yang berbeda. Sedangkan, Revan berdua Zea. 


Lagipula Gara ikut liburan bersama mereka bukan semata-mata ingin mengganggu hubungan Revan dan Zea. Hanya karena dia sendiri ingin liburan juga saja, tidak yang lain. 


"Ze, kamu serius tidak ada alergi terhadap makanan seafood apapun kan?" 


"Iya, tidak ada. Tenang saja, van." 


"Baiklah, aku memastikan saja. Karena restoran ini terkenal dengan seafoodnya.  Tapi, ada sayurannya juga. Semoga kamu suka." Revan tersenyum. 


Jaraknya berada di jarak aman. Walaupun suara deburan ombaknya terdengar dengan jelas. Zea sangat menyukai suasana restorannya yang terbuka dengan alam. Tidak di dalam ruangan. Karena bisa merasakan angin malam yang sejuk.


"Kamu pernah kemari sebelumnya, Ze?" 


"Hm, belum. Tapi, kalau ke Balinya sudah. Hanya saja tidak tahu kalau ada tempat ini." 


"Memangnya tempat makan apa yang pernah kamu datangi waktu ke bali?" 


"Tempat makannya itu semacam warteg gitu, tapi bukan warteg, tempatnya itu lumayan luas. Rasa makanannya juga enak dan pilihannya banyak. Biasanya aku sama orang tuaku dulu sering makan disitu. Harganya juga terjangkau. Namanya apa ya, aku sudah lama tidak kesana. Warung makan ibu Tina kalau tidak salah."


"Oh benarkah Ze? Bagaimana kalau besok kita coba makan siang disana?"


"Terserah padamu saja. Aku kan hanya ikut kamu saja."


"Baiklah, besok kita kesana ya. Maafkan aku kalau membuat mengingatkan kenangan mu bersama kedua orang tuamu." Revan merasa tidak enak hati saat Zea mengatakan pernah pergi ke salah satu tempat makan di Bali bersama kedua orang tuanya. Yang pada aslinya orang tua Zea sudah bahagia di atas sana. 


"Eh, tidak apa-apa kok. Santai saja. Ada waktunya untuk mengenang dan menangisi mereka." Zea tersenyum dengan penuh percaya diri dan keyakinan. 


Revan bisa melihat mata Zea yang memang serius saat mengatakannya. Benar-benar wanita yang hatinya kuat. 

__ADS_1


Revan merasa jantungnya berdebar kencang saat matanya bertatapan cukup lama dengan Zea. Sedangkan, Zea masih menatap Revan biasa saja. 


Revan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aneh saja tiba-tiba dia merasa berdebar saat menatap mata Zea. 


Makanan mereka semua pun datang. Aneka seafood yang disediakan oleh restoran tersebut dipesan oleh Revan.  Zea dan Revan sangat bersemangat memakannya. 


Apalagi Gara yang memang penyuka seafood. Sangat menikmati makanannya sampai-sampai ada sosok Zen yang juga ikut makan bersamanya di depannya. 


"Maaf tuan, bisakah anda makannya pelan-pelan?" Zen merasa terganggu dan risih dengan cara makan Gara yang begitu antusias. 


"Tidak ada aturan saat makan dalam hidupku Zen!" Kesal Gara diganggu makannya. 


"Maaf tuan, ada saya disini." Zen dengan tegasnya. 


"Aku juga tahu ada kau duduk disitu Zen. Tenang saja, aku tidak menganggapmu setan." 


"Maaf tuan, anda membuat saya risih. Cara makan anda seperti bebek kelaparan." 


Gara menghentikan makannya sejenak. Mengangkat satu alisnya dan menatap Sekretaris Zen. 


"Sungguh ya Zen, kau ingin mengataiku dengan apapun mengenai cara makanku, aku tidak peduli. Salahkan atasan mu yang mengajak makan malam seafood. Beginilah aku jadinya, aku sebagai seafood lover yang tidak boleh diganggu saat makan seafood. Apalagi kepiting. Mau kepiting mencapit alat masa depanmu?" Ancam Gara dengan senyum liciknya. 


"Terserah anda tuan." 


Zen tidak peduli dengan ancaman dan setiap perkataan Gara. Sekretaris Zen cenderung tidak peduli dan masa bodoh dengan cara makan Gara sekarang. Walaupun terkesan menjijikan dan membuatnya risih. Ya mau bagaimana lagi. Gara tetaplah Gara.


Bersambung.


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak


See u in the next episode 💕

__ADS_1


__ADS_2