Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 20 - Cuci Mata


__ADS_3

...~ Cuci Mata ~...


...___________________________________________...


Seperti kata Meta sebelum makan siang. Meta ingin mengajak Zea untuk cuci mata. Tidak tahu arti dari 'Cuci mata' bagi Meta apa. Zea berpikir kalau Meta memintanya menemani dia ke rumah sakit. Tapi, katanya bukan. Lalu apa? 


Sekarang Meta mengajak Zea ke tempat bermain dan olahraga yang ada di mall itu. Di mall itu ada tempat untuk bowling. Meta mengajak Zea ke sana. 


Zea mengikut saja. Kalau untuk main bowling mungkin Zea tidak akan ikut main. Karena tidak bisa main dan juga tidak tahu harganya akan mahal atau masih terjangkau di dompetnya. Apalagi dia baru saja belanja. Bisa-bisa akhir bulan dompetnya sekarat. 


Meta dengan santainya menuju ke sudut dari tempat bowling itu. Zea tidak tahu Meta ingin apa di sudut seperti ini. Aneh sekali. Akan dikira macam-macan pasti nanti. Apalagi semua orang yang ada ditempat ini sedang bermain. Lalu mereka? Berdiri di sudut dengan wajah mencurigakan. 


Mungkin bagi Meta sudah biasa. Karena dia tahu. Tapi, Zea tidak. Dia bingung sendiri. Tidak tahu ingin melakukan apa. Dia hanya mengikuti Meta yang berdiri di sudut dan melihat-lihat kesana kemari.


"Ta, kita mau apa disini?" Tanya Zea yang merasa aneh dengan tingkah mereka berdua.


"Cuci mata lah Ze. Ya kali mancing." Meta heran dengan temannya sendiri. Pasalnya dia sudah memberitahu Zea sebelum makan siang kalau dia ingin Zea menemaninya untuk cuci mata. Bagaimana deh. 


"I-iya aku tahu cuci mata. Tapi, maksudnya cuci mata bagaimana? Aku tidak tahu."


"Heh, masa tidak tahu sih. Lihat saja Ze, ke semua arah. Pasti kamu melihat sesuatu yang indah dimatamu." Meta tersenyum jahil.


"Hah? Apa yang indah? Kita disini malah terlihat seperti orang diam-diam mau mencuri sesuatu ta." Zea mengernyitkan dahinya. Merasa aneh dengan temannya sendiri. 


"Coba kamu lihat pria baju hitam dan celana hitam itu Ze. Yang lagi duduk sambil melihat ke depan itu. Gagah sekali dia..." Meta senyum-senyum sendiri melihatnya.


Sedangkan, Zea sangat enggan untuk melihatnya. Lebih baik dia bermain ponselnya. Daripada melihat pria di tempat ini. Seperti apa yang Meta lakukan. 


"Aduh..., Ze! Lihatlah dia berdirinya sangat berwibawa sekali. Pelan-pelan berdiri, lalu berdiri dengan tegak dan uh..., gimana dengan dalamnya ya ze?" 


"Ya ampun Ze, sekarang dia main bowling bergantian dengan temannya. Cara bermainnya membuat hatiku lumer Ze."


Lebay sekali. Zea. 


"Uhh..., aku ingin sekali memegang tubuhnya. Dada dan perutnya, Ze..., ya ampun..., aku tidak tahan."


Ya tuhan, tolonglah ampuni kesalahan temanku ini. Sepertinya dia kesurupan. Zea. 


"Zea, bagaimana kalau aku peluk dia dari belakang mungkin terlihat seperti di film-film yang romantis kali ya?" 


Oh tidak, bukan romantis. Tapi, film horor lebih tepatnya. Kamu peluk dia dari belakang. Sudah pasti kamu akan ditampar pakai bola bowling ta. Zea.


"Ze, dadanya bidang tidak ya? Sepertinya iya. Wajahnya juga terlihat tegas tapi terlihat dingin. Ze, sepertinya aku jatuh cinta dengannya Ze." 


Jatuh cinta dari mata turun ke kaki. Kamu hanya akan dianggap angin lewat olehnya ta. Dia pasti tidak peduli denganmu. Melihatmu saja mungkin dia enggan. Zea. 


"Dia sudah punya suami belum ya Ze?" 


Hah? Zea. Sontak Zea terkejut dengan ucapan Meta.


"Eh, istri maksudku." Meta sampai menepuk dahinya sendiri.


Mana kutahu, memangnya aku ibunya. Jadi ibunya saja, aku tidak sudi. Apalagi kalau sampai menantunya itu kamu ta. Zea. 

__ADS_1


"Ze..." Meta memanggil Zea. Karena sedari tadi tidak mendengar suara Zea. 


"Zea...!" Meta meninggikan suaranya. Namun, yang dipanggil terlihat tidak peduli. 


Meta menoleh ke arah Zea yang karena sedari tadi dia bicara Zea sama sekali tidak menanggapinya. Meta memutar bola matanya. Menyebalkan sekali melihat temannya hanya bermain ponsel dan mendengarkan dirinya saja. Tanpa menjawab apapun dari setiap perkataannya. 


Dengan sekali gerakan. Meta merebut ponsel milik Zea. Zea terperangah terkejut dengan apa yang dilakukan Meta. Bisa-bisanya ponselnya diambil.


Meta menatap Zea kesal. Zea bingung dengan Meta yang tiba-tiba kesal kepadanya. Memangnya dia salah ya? Bermain ponsel saja memangnya salah ya. Tidak kan.


Bukankah Meta bilang hanya mengajak Zea untuk menemani Meta cuci mata. Bukan berarti Zea juga harus ikut cuci mata kan. Hanya menemani saja kan. Lalu, apa yang salah? Sepertinya Meta sudah diracuni oleh tampang pria yang Meta kagumi sedari tadi.


"Kenapa kamu malah bermain ponsel ze?" Kesal Meta.


"Y-ya memangnya kenapa? Apa salah aku bermain ponsel?" Zea heran.


"Aku kan tidak mau melihat pria disini. Kamu saja ta." Lanjut Zea. 


"Kenapa memangnya Ze? Apa tidak ada pria yang membuatmu tertarik disini Ze?" Meta menatap penuh selidik Zea. 


Zea tidak mengerti kenapa Meta memberikan tatapan seperti itu kepadanya. Apa ada yang salah dengannya?


"Ke-kenapa tatapanmu seperti itu?" 


"Kamu benar-benar wanita kan Ze?" 


"Tentu saja!" Zea tidak habis pikir dengan pertanyaan temannya itu.


"Lalu, kamu juga menyukai pria kan Ze?"


"Aku takut kamu menyukai wanita juga Ze. Habisnya dari tadi kamu tidak tertarik dengan pria manapun." 


"Ya tidak sampai begitu juga kali." 


"Lalu, kenapa kamu tidak mau melihat pria disini?" 


"A-aku mau melihat wajah tampan suamiku saja nanti." Zea menjawab asal.


"Heh, pacar saja tidak punya." Ejek Meta.


"Oh, awas ya! Sampai aku punya pacar. Kamu harus membelikan aku jam tangan merek mahal." Tantang Zea.


"Oh iya, silahkan saja coba. Aku belikan yang kamu minta nanti."


"Oke, siapa berani?" Zea dengan sombongnya berkacak pinggang.


"Heh, siapa takut?" Meta menuding dahi Zea.


"Nah, itu maksudku."


"Satu bulan ya Ze."


"Eh?" Zea menatap Meta ragu.

__ADS_1


"Satu bulan kamu tidak punya pacar. Berarti batal. Oke, hahaha..., selamat mencari pacar Ze."


"Ck, baiklah. Lihat saja bulan depan aku punya pacar."


"Buktikan."


"Pasti!"


Zea dengan beraninya menerima tantangan Meta dalam satu bulan. Dia juga bingung dalam satu bulan bisa memastikan punya pacar atau tidak.


Melihat kesempatan sekarang seperti Meta. Zea menggunakan kesempatan ini untuk melihat-lihat sekitar.


Siapa tahu ada pria idamannya. Pria sesuai tipenya. Eh, tapi..., Zea sendiri tidak tahu tipe pria yang dia sukai seperti apa.


Tiba-tiba saja matanya terkunci pada satu orang yang sedang bermain bowling. Zea menutup mulutnya terkejut. Ketika menyadari siapa yang dia lihat.


Langsung saja Zea menarik tangan Meta untuk keluar dari tempat bowling itu. Buru-buru keluar sebelum orang yang dia lihat itu menyadari keberadaannya.


Apalagi melihat orang itu seperti sedang bersama orang tuanya. Karena ada dua orang paruh baya yang sedang menunggu giliran. Ditambah ada satu orang yang selalu mengikutinya kemanapun.


Bisa malu ditambah keringat dingin Zea kalau sampai bertemu dengan orang itu. Mau bilang apa Zea nanti. Karena Meta hanya mengajaknya untuk ke sudut. Bukan untuk bermain. Tidak mungkin kan menjawabnya dengan bilang sedang cuci mata ketika ditanya.


Mau taruh dimana wajahnya. Apalagi pagi tadi Zea melihat namanya ada di email yang dia dapatkan dari perusahaan yang telah menerimanya bekerja. Malu sudah.


Meta yang ditarik untuk kesekian kalinya menatap Zea bingung. Sepertinya Zea punya hobi baru untuk menarik pergelangan tangannya.


"Ze, kamu kenapa sih? Dari tadi main tarik-tarik. Memangnya tanganku tali yang bisa ditarik-tarik!" Gerutu Meta.


"Hm..., tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita pulang? Sudah mau sore ini. Ayo, pulang siap-siap ke cafe. Oke." Zea mengedipkan satu matanya.


"Eh, tapi..."


"Sudah ayo." Paksa Zea buru-buru.


Langsung saja Zea membawanya keluar dari dalam mall. Karena Meta menggunakan motor. Jadi, Zea bisa sedikit tenang. Setidaknya dia sudah keluar dari dalam mall.


Tidak bisa dibayangkan kalau sampai benar-benar bertemu dengan dia lagi untuk kesekian kalinya. Malu Zea. Bukan karena apa-apa.


Sedangkan, Meta hanya bisa menggerutu kesal dalam hati. Karena tidak bisa melihat wajah pria pujaan hatinya dengan puas.


Apalagi dia tidak tahu namanya siapa. Jadi, tidak bisa diam-diam mencari sosial medianya untuk melihat foto-foto tampannya. Kalau memang pria yang dilihat Meta memiliki sosial media. Kalau tidak kan petanda sebagai pertama dan terakhir kalinya Meta bertemu dan melihat prianya. Kasihan sekali Meta.


Bersambung. 


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya terbaru ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe

__ADS_1


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak


See u in the next episode 💕


__ADS_2