
...~ Kita Ke Bali ~...
..._______________________________________...
Acara pembukaan restoran baru Revan sudah selesai. Semuanya juga sudah selesai. Sekarang waktunya makan malam. Mendekati jam makan malam sebenarnya. Jadi, tidak telat.
Beruntungnya juga Gara langsung pulang setelah acara. Tidak ikut makan malam bersama mereka. Revan mengiyakan saja. Tidak masalah kalau Gara harus segera pulang. Malah lebih baik, karena dia bisa berduaan dengan Zea.
Hanya saja Gara sempat bertanya mengenai cincin yang pernah dia taruh di bawah kursi Revan pada saat hari dimana Revan dan Zea bertemu. Disitulah Revan membuat Gara kesal.
Gara telah menyiapkan cincin itu untuk memudahkan Revan melamar Zea. Tapi, nyatanya tidak jadi dilamar. Namun, cincinya juga tidak diambil dan disimpan oleh Revan. Melainkan dibiarkan saja. Karena Revan lupa dan juga cincin yang Gara beli harganya mahal.
Gara pun kesal dengan Revan karena menyia-nyiakan uangnya. Apalagi cincinnya yang mahal. Kenapa tidak diambil dan disimpan lalu dikembalikan kepadanya. Tapi, Revannya lupa. Alhasil, sekarang tidak tahu cincinnya masih ada pada tempatnya atau sudah diambil orang.
Gara tidak peduli lagi dengan cincinnya. Karena kesal dengan Revan. Dia hanya meminta ganti rugi saja. Revan pun tidak keberatan.
Dia dengan mudahnya mengganti cincin itu dengan harga dua kali lipatnya. Masalah pun selesai. Gara pulang lebih dulu setelah itu. Sedangkan, Revan langsung menghampiri Zea.
Revan pun menemui Zea yang tengah menunggu berjam-jam di ruang khusus miliknya yang ada di restoran itu. Revan awalnya merasa bersalah dan tidak enak karena membuat Zea menunggu.
Tapi, Zea bilang tidak masalah dan tidak apa-apa. Meskipun begitu Revan tahu pasti Zea bosan menunggu dan kesal kepadanya. Walaupun Zea tidak menunjukkannya.
"Dimana Gara?" Tanya Zea ketika menyadari Revan sendirian tidak bersama Gara.
"Dia katanya harus segera pulang. Jadi, dia pulang duluan."
"Benarkah?" Zea tidak percaya. Khawatir hanya alasan Revan saja. Aslinya Gara diusir oleh Revan.
"Benar Ze. Aku tidak bohong. Kalau kamu tidak percaya tanya saja Zen di depan pintu."
"Baiklah."
"Ze..."
"Hm?"
"Kamu mau makan apa? Kamu makan daging atau tidak?"
"Makan kok. Apa saja aku makan."
"Baiklah, aku pesankan yang recomended ya."
"Oke."
Revan pun memesankan Zea makanan dari restoran barunya. Pertama kali untuk Zea. Tidak untuk Revan. Tentu saja sebagai pemilik restoran sudah melewati beberapa proses hingga sudah menikmati menu makanan di restorannya lebih dulu.
Zea sempat berpikir kalau dia merasa kagum dan rasanya sangat jauh bandingannya dengan Revan. Revan sudah memiliki perusahaan bahkan ada cabangnya. Memiliki restoran juga dan sekarang buka restoran barunya lagi.
Sedangkan, dirinya belum memiliki apa-apa. Zea berpikir seakan benarkah dirinya cocok untuk seorang Revan yang sangat hebat. Sudah terlihat dengan jelas Zea tidak ada apa-apanya dibanding Revan.
Tapi, melihat Revan yang sangat royal dan tidak membandingkan seseorang dari segala segi seseorang. Zea berusaha bertahan dan tidak mundu.
Hanya saja jika memang bentangannya sudah terlalu jauh. Zea tidak tahu lagi akan tetap ingin berpacaran dengan Revan atau tidak. Karena menurut Zea yang penting adalah tahu dan sadar diri.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan mereka datang. Zea dan Revan berbicara mengenai hal yang seru untuk dibahas dan tidak lupus membahas mengenai Gara.
Sepertinya Gara akan menjadi best topiknya Revan dan zea untuk dibahas. Sampai tidak ada celah sedikitpun setiap bertemu tidak membicarakan tentangnya.Semoga saja orang yang dibicarakan mereka tidak tersedak sesuatu.
"Oh iya, Ze. Sebentar lagi sudah waktunya cuti bersama. Kamu akan liburan ze?"
"Hm..., aku belum tahu. Kamu?" Tanya balik Zea. Selalu begitu, maka dari itu Revan yang paling sering mencari topik agar tidak mati topik.
"Aku sudah memiliki rencana. Hanya saja aku ingin mengajak kamu. Kamu mau?"
"Kemana?"
"Kemana saja."
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak mau." Jawab Zea santai.
"Kenapa?" Revan heran.
"Kalau kemana saja aku tidak mau. Kalau kamu sudah menentukan tujuannya, mungkin aku bisa pikirkan kembali."
"Ah, aku paham baiklah."
Zea mengangguk. Dia sendiri juga ingin jalan-jalan. Dia pernah mengajak Meta hanya saja Meta lebih memilih untuk nonton drama korea di rumah.
Lalu, teman-temannya di kantor. Zea kurang tertarik dengan rencana mereka. Ingin jalan sendirian. Zea juga tidak berani. Apalagi keluar kota.
"Ze?" Panggil Revan.
"Bagaimana kalau kita ke Bali?" Saran Revan.
"Bali?" Zea mengernyit.
"Iya, bagaimana?"
"Oh, kamu mau melihat bule bule di pantai ya?" Terka Zea kesal.
"Eh, tidak ze." Revan menggaruk tengkuknya. Padahal dia sama sekali tidak terpikirkan sampai ke arah sana.
"Bohong! Kamu mata keranjang ya?!" Tuduh Zea lagi kepada Revan.
"Ya ampun, tidak Ze!"
Kalau kita sudah menikah, mungkin aku akan melihat tubuh indahmu. Revan
"Bohong! Terus saja berbohong. Memang ya semua pria itu sama!" Kesal Zea menatap Revan.
"Astaga Ze! Aku saja tidak berpikiran sampai kesana. Aku memilih bali karena suasana alamnya yang indah. Kita bisa ke tempat private beach Ze. Jadi, tidak ada bule bule yang kamu maksud." Jelas Revan yang membuat Zea terdiam dan berpikir.
"Benarkah? Ada kulit putih bersih, atas bawah montok, kamu pasti langsung melengos."
"Heh! Tidak!"
Revan terkejut dengan tuduhan Zea kepadanya. Bisa-bisanya Revan seperti itu. Selama ini dia saja tidak pernah tertarik dengan wanita. Bagaimana bisa dia tertarik dengan bule bule yang ada disana?
__ADS_1
Wanita yang pernah didekatkan ibunya saja, mereka menggunakan pakaian sexy, dress mini, bahan bagian dada yang terlalu ke bawah, bagian punggung yang terekspos bebas saja Revan tidak merasa tertarik.
Apa kabarnya dengan bule bule? Revan saja hampir dicap sebagai Pria penyuka sesama yang sama sekali tidak ada buktinya. Dan juga pria impoten yang membuat Revan tidak mendekati wanita manapun.
Padahal umurnya baru dua puluh lima tahun. Memangnya umur segitu dengan tidak ada sama sekali jejak berita tentang Revan bersama seorang wanita bisa sampai sebegitunya. Hebat sekali para awak media.
"Baiklah, kalau begitu buktikan." Tantang Zea.
"Oke, akan aku buktikan ketika kita sampai disana."
"Iya, awas saja matamu!" Tegas Zea.
"Tidak akan Ze. Ya ampun, percayalah. Kalau kamu mau bukti tersebut, berarti kamu ikut pergi bersamaku kan?"
"Iya, aku ikut. Tapi--"
"Jangan permasalahkan biaya. Semuanya aku yang tanggung. Tenang kamu ada kamar sendiri."
"Baiklah, potong saja dari gajiku bulan depan ya."
"Hah? Kenapa begitu? Aku ikhlas. Lagipula aku bukan atasanmu."
"Benarkah? Kamu ingin berbohong lagi? Di Email aku diterima bekerja ada namamu tertera lho." Zea menatap menyelidik.
"Ah, baiklah. Kamu menang. Tolong anggap itu biasa saja ya. Aku adalah manusia biasa. Aku sama sepertimu."
"Hm..., baiklah yang mulia."
"Ze..."
"Heh, iya iya Revan."
Revan tersenyum. Akhirnya, hubungan dia dengan Zea semakin dekat seiring berjalannya waktu. Lama-lama suasana di antara mereka yang mungkin sebelumnya hening bisa cair dengan sendirinya.
Mungkin hubungan mereka bisa masuk ke tahap selanjutnya. Kalau mereka sudah menyadari perasaan mereka masing-masing dan juga jika, diantara mereka berdua ada yang lebih berani untuk menunjukkan perasaan satu sama lain. Pasti akan lebih cepat hubungannya menuju tahap selanjutnya.
Hanya saja baik Zea maupun Revan sama-sama pertama kali dan bisa saja disebut pemula. Jadi ya wajar. Mungkin akan sedikit lebih lama. Tapi, kalau ada tuntutan mengenai hal lain dalam hubungannya biasanya bisa lebih cepat. Ya, semoga saja.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
See u in the next episode 💕
__ADS_1