
...~ Bertemu Ayah Dan Ibu Revan ~...
..._______________________________________...
Revan dan Zea sudah sampai di bandara kembali tepatnya di Jakarta. Mereka sudah berada dalam mobil yang sama dengan Sekretaris Zen yang mengemudikan mobilnya.
Sedangkan, Gara dengan sadar dirinya dia memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya dengan sopirnya sendiri yang datang menjemput.
“Mau bawa makanan dulu tidak, untuk makan malam nanti?” Tanya Revan.
“Boleh, mau beli apa?” Zea menatap Revan.
“Menurutmu apa?”
“Orang tuamu sudah pasti belum makan malam?”
“Yang pasti mereka sudah makan malam.”
“Bawa makanan ringan saja kalau begitu.”
“Tapi, untuk kita? Kita kan belum makan malam.” Revan mengusap perutnya menandakan dia tengah merasakan lapar.
“Kita makan dulu saja diluar. Tapi, nanti bawakan makanan ringan untuk orang tuamu.”
“Baiklah, aku ikut padamu saja.”
...----------------...
Mobil Revan tiba di halaman depan rumah yang sangat megah bak istana. Zea mengikuti Revan yang sudah turun seraya membawa makanan ringan yang sudah mereka beli sebelumnya.
Mereka masuk ke dalam. Namun, suasana rumah tampak sepi. Tapi, situasi mobil di rumah lengkap. Tidak ada anggota rumah yang sedang keluar rumah di malam hari ini.
“Tunggu sebentar ya, aku coba ke atas dulu. Panggil ibu sama ayah. Kamu duduk dulu saja ya.”
“Iya, jangan lama ya.”
Revan mengangguk dan melenggang pergi meninggalkan Zea seorang diri di ruang tamu.
Di depan pintu kamar ayah dan ibu Revan. Revan mengetuk pintu berulang kali. Tidak lama pintu pun terbuka.
“Kamu sudah kembali? Bagaimana liburanmu? Kenapa tidak ambil cuti panjang saja, seminggu gitu? Tiga hari pasti kurang kan.” Suara ibu yang sangat khas kalau lagi cerewet.
“Walaupun cuma tiga hari. Kalau sama calon istri pasti bahagia-bahagia saja.” Revan tersenyum senang mengatakannya.
Ibu terdiam sejenak. Seakan mencoba mencerna dari setiap perkataan Revan tadi.
“Apa? Apa? Kenapa? Coba kamu ulang tadi? Liburan sama siapa? Calon istri? Dimana dia?” Timpal Ayah Revan yang langsung tergesa-gesa menuju pintu yang terbuka dengan wajah penasaran dan segenap pertanyaannya.
“Calon istri ya? Beneran calon istri? Bohong tidak? Nanti calon istrinya cuma istri kontrak doang lagi.” Ibu melengos ke arah lain.
__ADS_1
“Ya kalau tidak percaya ya lihat saja sendiri di bawah. Dia lagi menunggu kalian di bawah.” Ucap Revan yang langsung meninggalkan kedua orang tuanya dengan wajah terkejut dan saling pandang satu sama lain.
...----------------...
“Bagaimana? Dimana orang tuamu? Kita sampai terlalu malam ya? Mereka sudah tertidur?” Tanya Zea yang bingung karena Revan datang seorang diri tidak bersama orang tuanya.
“Nanti mereka juga turun kok. Tunggu saja dulu.”
“Baiklah.”
“Lho, cakenya mana?” Tanya Revan yang tidak melihat kotak kue di pangkuan Zea.
“Tadi ada bibi kamu yang datang, katanya biar bibi siapin.” Revan mengangguk paham.
Tidak lama Zea dan Revan mengobrol sebentar. Munculah ayah dan ibu Revan dengan pakaian yang lebih formal. Mungkin karena ingin terlihat bagus dan rapi. Jadi, mereka memutuskan untuk mengganti baju dulu.
Zea yang langsung menyadari kehadiran orang tua Revan langsung berdiri dan bersalaman dengan ayah dan ibu Revan. Dengan nada lembut dan senyuman manisnya, Zea mengenalkan diri.
“Selamat malam Om, tante. Aku Zeandra, maaf mengganggu waktu Om dan tante malam-malam.” Ucap Zea seraya bersalaman dan merasa tidak enak.
“Tidak apa-apa kok, nak.” Jawab ibu tersenyum.
“Iya, tidak apa-apa nak Zea. Ayo, kita duduk lagi.”
“Iya Om, tante.”
Zea pun duduk kembali tepat di sebelah Revan serta kedua orang tua Revan. Melihat reaksi kedua orang tuanya yang tampak sangat menerima Zea dalam rumah ini membuat Revan yakin kalau hubungannya dengan Zea akan disetujui. Meskipun bukan anak dari sesama kolega ayahnya ataupun anak dari teman sosialita ibunya.
“Terima kasih bi.” Ucap Zea sopan.
“Sama-sama nona, saya permisi ke belakang lagi tuan, nyonya, nona.”
“Iya bi, terima kasih.” Ucap Ibu Revan.
“Ibu, Ayah, itu kue dari Zea dimakan ya.” Revan mewakili Zea yang masih kaku.
“Oh iya, nak. Pasti kami makan kok. Terima kasih ya.” Ibu Revan tersenyum.
“Iya tante sama-sama.” Zea tersenyum juga, namun terkesan canggung.
“Zeandra ya tadi namanya?” Tanya Ayah Revan menatap tegas Zea.
“Iya Om benar.”
“Cantik ya namanya.” Puji Ibu Revan yang hanya dijawab senyuman oleh Zea.
“Jadi, kamu calon istrinya Revan ya?”
Zea melirik Revan untuk membantu menjawab pertanyaan dari ayahnya itu. Bingung Zea menjawabnya. Revan dengan sengaja diam ikut menunggu jawaban dari Zea.
__ADS_1
Dengan begitu sama saja kalau Zea memang benar-benar mau, menerima dan mengakui kalau dirinya adalah sebagai calon istrinya sekarang. Bukan lagi seorang sepasang kekasih.
“Zea?” Panggil Ayahnya Revan lagi karena tidak kunjung mendapat jawaban.
“I-iya Om.” Jawab Zea ragu.
“Kamu masih malu-malu ya? Tidak apa-apa. Om paham pasti kamu sama Revan bertemu belum lama ini kan?”
“Iya Om.” Zea merasa tidak enak dan bersalah karena ayah Revan tahu kalau mereka belum lama bertemu.
“Tidak apa-apa kok. Tidak usah takut kalau kamu ragu, Ze. Pasti kamu dipaksa Revan ya? Tidak apa-apa juga kok kalau kamu mau jujur, kita tidak akan marah. Karena rasa cinta pasti akan muncul seiring berjalannya waktu. Iya kan yah?” Ucap Ibu Revan yang meminta persetujuan suaminya juga.
“Iya. Sudah berapa lama kalian saling mengenal?” Tanya Ayah Revan lagi.
“Mungkin sekitar dua sampai tiga bulan.” Jawab Revan.
“Dan aku tidak memaksa dia.” Lanjut Revan lagi.
“Oke, baiklah, baik.” Ucap Ibu Revan.
“Hm, Zeandra ya? Nama lengkapnya siapa kamu, nak?” Tanya ibunya Revan.
“Zeandra Bunga Sienna, tante.”
“Ya ampun cantiknya nama kamu, nak. Orang tua kamu kreatif sekali ya beri nama untuk anak perempuannya. Bagaimana dengan orang tuamu sehat, Ze?”
Zea tersenyum senang mendengar namanya dipuji. Karena namanya merupakan pemberian dari orang tuanya. Itu sudah pasti.
“Maaf tante, orang tuaku sudah—“Perkataan Zea di elak oleh Revan.
“Ibu, orang tua Zea sudah—“
“Astaga, maaf ya Ze. Tante tidak tahu. Maaf sekali. Tante turut berduka cita ya, nak. Sekali lagi maaf.” Ibu merasa bersalah dan berpindah duduknya menjadi di sebelah Zea dan memeluknya.
“Eh, iya tante tidak apa-apa.” Zea tersenyum untuk menunjukkan dengan jelas kalau memang tidak apa-apa.
“Hm..., bagaimana kalau sekarang bicara tentang pernikahan kalian saja?” Pertanyaan Ayah yang membuat Revan dan Zea saling pandang dibuatnya.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
__ADS_1
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
See u in the next episode 💕