
"Kenapa aku harus jatuh dari atas langit sih?!" teriak Lindsey.
Kali ini ia bukan berada di sebuah hutan, melainkan sebuah pasar yang nampak sangat ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang, berbagai macam jenis barang tengah diperjualbelikan.
Ia berjalan pelan sambil memandangi orang-orang dan sesekali menghentikan langkahnya hanya untuk melihat-lihat barang yang di jual di pasar tersebut.
Ketika sedang berjalan, pandangannya tertuju pada sosok anak kecil yang sedari tadi terus menawarkan sapi yang ada di sampingnya.
"Siapa yang mau membeli sapiku! Aku jual dengan 100 keping koin emas!" teriak anak itu.
Lindsey terus memperhatikan anak itu dari kejauhan. Ia juga sempat memastikan bahwa anak laki-laki itu adalah Jack.
Menurut cerita dongeng yang pernah ia baca, Jack adalah anak miskin biasa yang membutuhkan uang untuk membeli makanan dan kebutuhan. Jack akan menjual sapinya pada seorang pria tua yang menukarnya dengan sekantong biji emas ajaib.
Ia tidak sabar untuk melihat kelanjutan cerita itu, cerita ini termasuk dongeng favoritnya ketika ia masih kecil.
"Semoga saja alur cerita disini tidak berubah dengan yang ada di buku." ucapnya.
Lelah. Definisi yang tepat bagi dirinya saat ini, menghabiskan waktu hanya untuk melihat Jack dan sapinya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Senja pun sudah mulai memasuki tempatnya namun, pria tua yang akan memberikan biji emas pada Jack tak kunjung datang.
Kejadian ini hampir sama ketika ia berada di cerita Cinderella, menunggu ibu peri yang tak datang-datang. Hingga akhirnya Lindsey harus menggunakan kekuatan kalungnya untuk membantu Cinderella.
Apa ia harus melakukannya pada Jack juga? Tapi itu akan mengubah alur cerita, dan kemungkinan akan berubah 360 derajat dari cerita yang sebenarnya. Apa yang akan terjadi jika alur cerita di sini berubah?
"Lindsey," seru seseorang yang tak menampakkan jati dirinya di hadapan Lindsey.
Sontak Lindsey terkejut, "S-siapa itu?"
"Kenapa kau masih saja terkejut ketika aku memanggil namamu, aku bicara melalui kalung ini," ucapnya.
"M-maaf,"
"Hei, dari mana saja kau huh? Aku menunggu di sini seperti orang gila!"
"Waktumu tidak banyak, cepat bantu Jack dan selesaikan tugasmu di cerita ini,"
"Kau menyuruh seenaknya saja. Kau pikir mudah melakukannya huh?"
"Karena kakek tua itu tidak datang juga, maka hampiri Jack dan berikan biji emas ini padanya,"
Seketika sebuah kantong muncul di depan Lindsey yang nampak melayang lalu jatuh ke tanah, Lindsey pun mengambilnya dan melihat isi kantong itu. Ternyata isinya adalah biji emas ajaib.
"Loh? Memangnya pria tua itu kemana?" tanyanya.
"Ia sedang ada urusan mendadak,"
"Hah?! Urusan?" Lindsey terlonjak kaget dengan ucapan kalungnya, mana mungkin tokoh cerita ada urusan mendadak, memangnya ini syuting film layar lebar? Ini kan cerita dongeng, semua alur berjalan apa adanya. Aneh sekali.
"Maksudmu aku harus menggantikan posisi seorang kakek tua hanya untuk memberikan biji ini pada Jack?"
"Kau tidak perlu menjadi kakek-kakek, hampiri saja dan berikan biji emas itu padanya. Kau mau secepatnya pulang ke duniamu kan?"
"Iya iya baiklah, dasar cerewet!" gerutunya.
Untuk segera menyelesaikan tugasnya di cerita ini, Lindsey menghampiri Jack yang nampak terduduk di tanah dan bersender di tubuh sapi peliharaannya itu.
"Jack!" panggil Lindsey.
Yang dipanggil pun menoleh ke arah Lindsey dengan tatapan bingung. "Siapa kau?" tanyanya nampak lesu.
"Kudengar kau menjual sapimu dengan 100 keping koin emas," ucap Lindsey.
"Iya, apa kau mau membelinya?" ujarnya bersemangat.
"Aku tidak punya koin emas, tapi aku punya biji emas ajaib ini untuk membeli ... sapimu," Lindsey nampak ragu ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.
Membeli sapi untuk apa? Membawanya pulang? Tidak mungkin kan?
__ADS_1
"Baiklah, ambil sapi ini dan berikan biji emas ajaib itu padaku." Jack yang tidak sabaran pun menyerahkan sapi miliknya dan mengambil kantong itu dari tangan Lindsey, dengan cepat Jack berlari menjauh dari Lindsey.
"Astaga! Lebih baik kutinggalkan saja sapi ini di sini, aku harus menyusul Jack," ucapnya ikut berlari.
...***...
Untungnya Lindsey masih sempat mengejar Jack yang berlari cukup kencang darinya. Jack pun berhenti di sebuah rumah kecil dan terlihat sedang berbicara dengan ibunya.
Lindsey yang melihatnya hanya bisa menguping dari balik semak-semak.
"Merepotkan harus bersembunyi seperti ini di semak-semak. Aduh, gatal!" gerutu Lindsey sambil terus menggaruk-garuk tangan dan wajahnya.
"Apa?! Kau menjual sapi kita hanya untuk biji ini? Dasar anak bodoh!" ucap ibu Jack dengan raut wajah kesal.
"Maafkan aku, Bu," kata Jack tertunduk mendengar ucapan ibunya yang sangat marah.
Sang ibu pun masuk ke dalam rumah, sedangkan Jack melempar biji itu ke tanah dan ikut masuk ke dalam rumah.
Lindsey yang melihatnya hanya bisa melebarkan mulut dan membulatkan matanya.
"Ish! Kenapa tidak di tanam saja sih, lebih baik aku yang menanamnya. Jack di sini sangat payah," gerutunya.
Ia pun masuk ke halaman rumah Jack dan mengendap-endap layaknya seorang pencuri, lalu mulai mengubur biji itu di dalam tanah dan menjauh dari halaman itu.
Wuushh!
Tiba-tiba pohon besar tumbuh sampai menjulang tinggi ke atas awan yang berasal dari dalam tanah tempat biji itu ditanam oleh Lindsey.
"Woaaahh!" Lindsey terkagum melihat keajaiban biji emas yang diberikan oleh kalungnya.
Lindsey pun berlari ke arah rumah Jack dan mengetuk pintu dengan keras.
"Jack! Cepat keluar!" teriak Lindsey berusaha memanggil Jack dari dalam rumahnya itu.
Tidak lama Jack keluar dari balik pintu rumahnya dan terkejut dengan kedatangan Lindsey di depan pintu rumahnya.
"Kau lagi? Untuk apa kau kesini?"
Jack pun mengarahkan matanya ke sebuah pohon besar yang ada di pekarangan rumahnya, sontak ia sangat terkejut dan berlari ke arah pohon itu.
"B-bagaimana bisa ada pohon besar di sini?" ujar Jack bertanya-tanya.
"Jangan banyak tanya, cepat panjat pohon ini," suruh Lindsey pada Jack.
"Apa?! Memanjatnya? Pohon ini sangat tinggi, aku tidak sanggup," keluh Jack yang sudah menyerah sebelum mencoba. Tolong jangan dicontoh.
Lindsey menepuk jidatnya kuat-kuat dan menghela napas panjangnya.
"Ya ampun, baiklah aku akan membantumu memanjat pohon ini, dasar anak manja cepat naik!"
"I-iya,"
Jack pun mulai memanjat dan Lindsey berada di belakangnya untuk membantu Jack jika sewaktu-waktu anak itu jatuh, setidaknya ada Lindsey yang menangkap Jack ketika jatuh.
Semoga saja anak ini kuat naik sampai ke atas, aku akan kerepotan jika harus mendorongnya sampai ke atas. gerutunya.
Mereka pun sampai di ujung pohon dan melihat ada sebuah istana yang sangat besar, sebesar ukuran raksasa. Lindsey pun mendorong Jack untuk segera masuk ke dalam dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat seisi istana terbuat dari emas.
Di ujung istana Lindsey dan Jack melihat tas yang berisi koin emas. Tak hanya itu, di samping ranjang besar terdapat telur emas dan harpa emas yang sangat berkilau. Jack yang tak tahan dengan kilauannya langsung mengambil tas berisi koin emas itu, sedangkan Lindsey mengambil beberapa telur emas.
Dengan perlahan mereka mengambilnya agar raksasa yang sedang tertidur tidak terganggu dengan kedatangan mereka.
"Cepat Jack!"
Jack pun mengangguk dan segera membawa tas berukuran besar itu, segera berlari menuju pohon.
Jack dan Lindsey mulai menuruni pohon dengan hati-hati agar sang raksasa tidak terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Sesampainya mereka di bawah, Jack menghampiri ibunya dan memberikan tas berisi koin emas padanya, Lindsey pun juga memberikan beberapa telur emas yang dibawanya untuk ibu Jack.
"Dari mana kalian mendapat emas sebanyak ini?" tanya Ibu Jack yang terkejut melihat semua emas yang ada di hadapannya.
"Dari pohon itu," jawab Lindsey sambil menunjuk pohon besar yang menjulang tinggi itu.
"Huaaa! Siapa yang mengambil emas-emasku!" teriak raksasa dari atas langit yang sangat jelas terdengar oleh telinga Lindsey, Jack, dan ibunya.
"Astaga! Raksasa itu terbangun, apa yang harus kita lakukan?"
Lindsey tengah memikirkan sesuatu yang sedikit mengganggu pikirannya, ia lupa dengan akhir cerita Jack yang pernah ia baca.
"Duh sial, aku lupa bagaimana akhir cerita ini."
"Jadi kalian yang mengambil emas-emasku! Aku bisa melihat kalian dari atas sini!" teriak raksasa kembali.
Tiba-tiba tanah bergetar hebat, membuat Lindsey, Jack, dan ibunya terjungkal akibat getaran yang dibuat oleh raksasa itu.
"Sepertinya raksasa itu sedang turun melalui pohon ini, apa yang harus kita lakukan?"
"Pohon?" Lindsey masih terus berusaha mengingatnya.
"Ah, aku tahu!"
"Apa? Apa yang harus kita lakukan?"
"Jack! Cepat tebang pohon ini!"
"B-baiklah!"
Jack berlari mengambil sebuah kapak dari dalam rumahnya dan mulai menebang pohon itu.
Tak! Tak!
"A-apa yang kalian lakukan? Berhenti! Jangan tebang pohon ini!" teriak raksasa.
"Cepat Jack!"
Pohon itu pun jatuh ke tanah bersama sang raksasa yang jatuh dari langit. Ia pun mengerang kesakitan dan akhirnya mati.
"Syukurlah,"
"Ibu, kita bisa menjual emas-emas ini di pasar, dan kita akan mendapatkan makanan enak!"
"Kau benar, besok kita bisa jual emas-emas ini di pasar dan menggantinya dengan makanan."
"Terima kasih sudah membantuku, apa kau punya nama?" ucap Jack berterima kasih pada Lindsey.
"Tentu saja, namaku Lindsey."
Ibu Jack menghampiri Lindsey dan memberikan sekantong emas untuknya.
"Ambil ini, nak. Kau berhak mendapatkannya karena sudah membantu Jack dari amukan raksasa itu,"
"T-tidak perlu, simpan saja untuk kalian karena yang lebih membutuhkannya adalah kalian, aku hanya membantu saja," tolaknya dengan lembut.
"Kau baik sekali, terima kasih Lindsey,"
"Eh? Sudahlah jangan--"
Ting!
Lindsey mengarahkan pandangannya pada kalung yang ada di lehernya dan buru-buru memberi pesan singkat untuk Jack dan ibunya.
"Jack! Jadilah orang yang berguna bagi banyak orang, jaga ibumu, dan ingatlah untuk tidak mudah tertipu pada siapa pun kau mengerti?"
"Tunggu! Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Tugasku sudah selesai, senang bisa membantumu Jack. Oh iya, aku meninggalkan sapimu di pasar, kau bisa mengambilnya karena aku tidak membutuhkannya. Selamat tinggal Jack!"
Dan Lindsey pun menghilang dari pandangan Jack dan ibunya. Mereka nampak kebingungan dengan semua yang telah terjadi.