Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Misi Terakhir


__ADS_3

"Lepaskan kami! Kami ingin pulang!" Lindsey tak henti-hentinya berteriak di depan jeruji besi, ekspresinya menunjukkan kemarahan yang melonjak tinggi. Memang, ini kali pertama ia masuk ke dalam penjara di cerita dongeng.


"Tenangkan dirimu, Lindsey." Heyna yang ada di samping Lindsey terus mengusap punggung gadis itu, mengatakan untuk bersikap tenang dan sabar.


"Maafkan aku, ini semua karena aku tidak bisa melindungi kalian semua. Aku sungguh minta maaf," ujar Robin tertunduk di pojok penjara.


Lindsey menoleh, menghampiri Robin Hood yang memang tak bersalah. "Jangan salahkan dirimu, ini semua bukan sepenuhnya kesalahanmu, Robin," ucap Lindsey.


"Eum ... teman-teman--"


"Aku juga minta maaf karena sudah menganggap bahwa rencana ini akan berhasil. Aku tidak tau kalau hasilnya akan seperti ini," potong Lindsey.


"Kau tidak perlu minta maaf, yang penting kita sudah berusaha." Heyna menggeleng pelan dan tersenyum.


"Semuanya, aku--"


"Saat ini orang yang patut disalahkan adalah aku. Jika aku tidak ceroboh, pasti kita akan bebas dan segera menyelamatkan Neil." Ucapan Antlers terpotong kembali oleh ucapan Lindsey.


"Ah, tidak! Neil tidak pantas diselamatkan, aku salah menilai anak itu." Setelah apa yang sudah diucapkannya, Lindsey justru menggerutu mengenai sifat jahat Neil di dunia dongeng.


"Entah berapa cerita yang sudah ia kuasai." Lindsey menggerutu lagi.


"Teman-teman, aku--"


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Laurent semakin panik.


"Aku tidak tau, aku juga bingung," sahut Heyna.


"Hmm, teman-teman--" Antlers mulai kesal.


"Hilang sudah harapan kita untuk bebas dari tempat ini," keluh Lindsey.


"Teman-teman!" Teriak Antlers. Semua langsung menoleh karena terkejut.


"Eh? A-ada apa, Antlers? Kenapa kau berteriak begitu?" Heyna yang terkejut terlihat sedikit memundurkan langkahnya, mengingat bagaimana sikap Antlers saat di cerita The Wizard Of Oz. Menyeramkan.


"Huft ... sejak tadi aku ingin bicara, tapi kalian terus saja mengoceh. Aku sampai tak sempat mengatakan satu kata pun keluar dari mulutku," gerutu Antlres yang merasa diabaikan oleh teman-temannya.


"M-maaf, memangnya kau ingin mengatakan apa?" Tanya Laurent sambil menenangkan Antlers yang sudah kesal.


"Tapi, kalian jangan terkejut," ucap Antlers memperingatkan.


Semua saling menatap dengan ekspresi bingung.


Antlers memasukkan tangan kiri ke dalam saku celananya, mengambil sesuatu yang membuat seisi ruangan merasa penasaran. Ketika tangannya menarik dari balik saku celana, ia menggenggam sesuatu di balik telapak tangannya yang putih dan mulus itu. Ia mengarahkannya pada semua dan membuka perlahan.


Dan ketika benda itu sudah terlihat oleh mata, semuanya melotot, melebarkan mulutnya, dan seakan ingin mengatakan, "Kok bisa?"


"Kenapa Amethyst ada di saku celanamu?" Tanya Heyna. Yang lain hanya menganga.


"Jadi, seperti ini, saat kita berhadapan dengan Neil aku terus memperhatikan gerak gerik matanya dengan rasa curiga. Lalu, Lindsey mengoceh di hadapan Neil, namun dari sorot matanya ia tidak menghiraukan yang diucapkan Lindsey, bahkan kupikir Neil tidak mendengarkannya sama sekali. Matanya terus memandang ke arah kalung permata, entah itu Marine, Ruby, Emerald, bahkan Amethyst. Aku mulai merasakan hal yang buruk akan terjadi. Setelah it--"

__ADS_1


"Bisakah kau persingkat saja," ujar Lindsey dengan wajah datar.


"Eh, b-baiklah. Setelah itu aku menyuruh Amethyst membuat dirinya yang palsu dan yang asli ada di saku celanaku," sambung Antlers.


"Tunggu dulu, bagaimana caranya kau memindahkan yang asli ke saku celanamu?" Tanya Laurent semakin bingung.


"Itu mudah, Amethyst melakukan teleportasi. Aku pun juga tidak menyadari perpindahannya," jawab Antlers.


"Hebat! Kau sangat jenius," puji Lindsey sambil menunjukkan satu jempolnya.


"Baiklah, yang penting kita harus keluar dari tempat ini terlebih dahulu. Amethyst, apa kau sudah bisa melakukan teleportasi?" Tanya Antlers.


"Sudah, kekuatanku sudah pulih sepenuhnya," jawab Amethyst.


"Baik, semuanya pegang tanganku. Kita akan pergi menyelamatkan kalung permata!" Seru Antlers.


Semuanya pun dengan antusias langsung memegang tangan Antlers untuk proses teleportasi.


"Tidak kusangka kau akan menemukan keempat kalung permata yang kita butuhkan selama ini untuk menguasai dunia dongeng," ujar seseorang.


"Sudah kubilang jangan pernah meremehkanku," sahut Neil dengan sombongnya. "Aku tidak menyangka jika anak-anak itu datang dengan sendirinya ke istana ini," sambungnya.


"Kalau begitu, kita harus cepat melakukan proses pemindahan kekuatan, agar kita bisa menguasai dunia dongeng sepenuhnya."


"Tidak,"


"Apa maksudmu?"


"A-apa? Tapi Neil--"


"Diam! Jangan membantah ucapanku!"


"Cih!"


Siapa orang yang sejak tadi berbicara dengan Neil? Mengapa orang itu ingin sekali menguasai dunia dongeng?


Saat Neil sedang mengasah pedangnya, tiba-tiba seorang pengawal yang sebelumnya pernah menghadap Neil datang kembali, dan kali ini dia jauh lebih tenang.


Neil tak menoleh sedikit pun pada pengawal itu, ia hanya fokus pada pedangnya yang baru saja diasah.


"Kurasa aku harus mencoba pedang ini," gumam Neil lalu melirik ke belakang dan melihat pengawalnya yang sudah tertunduk takut.


"Katakan!" Bentaknya.


"Saat ini semua warga sudah dibubarkan, Yang Mulia," ujar pengawal itu tertunduk.


"APA?!"


"Itu benar, Yang Mulia. Mereka membubarkan diri dengan tenang tanpa melakukan perlawanan," kata pengawal itu dengan mantapnya.


"Lalu, kalian membiarkan mereka pergi begitu saja?" Tanya Neil terlihat marah.

__ADS_1


"I-iya, Yang Mulia." Jawab pengawal itu dengan kaki gemetar.


"Aaaakh, bodoh! Seharusnya kalian menangkap mereka semua untuk dijadikan budak di istana ini!" Murka Neil.


Pengawal itu menunduk, takut akan amarah yang melanda Neil saat ini. Pasalnya jika Neil sudah marah ia tidak akan segan melenyapkan siapapun tanpa ampun.


"M-maafkan hamba, Yang Mulia."


"Pergi dari hadapanku!" Neil mengusir pengawal itu.


Sang pengawal beruntung, karena Neil tidak mencoba pedangnya.


"B-baik, Yang Mulia. Saya permisi." Pengawal itu pun pergi terbirit-birit.


"Apa rencana kita selanjutnya, Lindsey?" Tanya Heyna.


"A-aku ...."


"Kami percaya padamu, Lindsey. Lakukan jika memang itu adalah yang terbaik untuk kita."


"Kalian sungguh percaya padaku? Tapi, aku sudah gagal,"


"Apa maksudmu? Kau sudah berjanji akan memulangkan kami ke dunia nyata, kan? Aku yakin kau pasti bisa." Antlers berusaha meyakinkan Lindsey.


Lindsey diam, merenung dalam hati dan mencerna ucapan Heyna, "Kau benar, aku sudah berjanji dan aku tidak boleh mengingkarinya. Baiklah, ayo kita susun rencana untuk menyelamatkan kalung permata!"


"Yaaa!"


Mereka pun kembali menyusun strategi untuk menyelamatkan kalung permata yang diambil oleh Neil. Kali ini, mereka harus berhasil. Jika mereka gagal, otomatis mereka akan terjebak selamanya di dunia dongeng dan menghabiskan sisa hidup mereka di sini.


"..."


"Ruby?"


"..."


"Marine?"


"..."


"Emerald?"


"Kalian baik-baik saja?"


"..."


"Apa? Jadi, itu rencana Neil selama ini?"


"Gawat, aku harus memberitahu yang lain."


"Bertahanlah, kami sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan kalian."

__ADS_1


"Kuharap kekuatan kalian tidak di serap sepenuhnya. Jika itu terjadi, dunia dongeng dalam bahaya."


__ADS_2