
Lindsey dan ketiga temannya sedang beristirahat di sebuah gubuk tua yang berada tak jauh dari gunung Yoko. Mereka duduk sambil menyusun rencana untuk ke depannya, karena mereka sadar bahwa ancaman dan tantangan baru saja dimulai sesaat setelah berhadapan dengan seekor naga yang menyamar menjadi Robin Hood dan bersusah payah mengambil Amber Stone dari panasnya lava berapi gunung Yoko.
Saat sedang beristirahat Amber mengatakan bahwa adik Lindsey sedang di kurung di penjara Glory. Salah satu penjara terkuat yang pernah ada di Forestopia.
Mendengar hal tersebut Lindsey terkejut dan sangat kebingungan harus berbuat apa selanjutnya. Amber menuturkan mengenai kondisi Hesley yang sedang dikurung di sebuah penjara mengerikan.
Lindsey begitu penasaran mengapa adiknya dikurung sampai sejauh itu. Padahal Hesley hanya membuka portal menuju Forestopia. Dan setahu Lindsey adiknya tidak melakukan hal-hal lain yang membahayakan dirinya sendiri.
"Amber, apa kau tau di mana keberadaan Hesley saat ini?" Tanya Heyna memecahkan keheningan.
Amber mengangguk singkat. "Tentu saja, aku tau keberadaan Hesley Lane dari telinga ini." Balasnya sambil menunjukkan salah satu telinganya yang runcing.
"Sebelum Caapal terbunuh, Glory sempat mengungkapkan rencana besarnya. Dan inilah yang Caapal dengar." Jelas Amber, lalu menunjukkan sesuatu pada keempat anak dan empat batu permata lain.
Amber menunjukkan kekuatannya, ia memperdengarkan sebuah rekaman suara antara Caapal dan Glory saat di rumah itu.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" Tanya Caapal dalam rekaman itu, suaranya terdengar bergetar menandakan bahwa waktu Caapal tidaklah banyak saat berada di posisi di ujung tanduk itu.
"Aku ragu untuk memberitahumu, Caapal." Jawab Glory. Suara mengerikan yang haus akan kekuatan dan kekuasaan.
"Mengapa kau sangat menginginkan telinga runcing ku?" Tanya Caapal kembali, kali ini dengan napas yang sudah tersengal-sengal.
Nampaknya Caapal hampir kehabisan waktu, ia tahu bahwa salah satu telinganya masih berfungsi untuk merekam suara dan mengetahui rencana Glory selanjutnya.
"Alasannya sederhana, aku ingin menguasai Forestopia." Ungkap Glory dengan nada santai.
"Apa?" Caapal terkejut.
"Setelah mendapatkan apa yang ku inginkan, seperti telinga runcing Elf Torlock, tongkat sungai perak kerajaan Silver Down, mahkota ratu Florist, lima batu permata, dan wadah untuk menaruh setengah kekuatan dark spell. Aku akan dapat menguasai Forestopia dan menguasai dunia." Tutur Glory blak-blakan tanpa curiga.
"Rencana busuk mu tak akan pernah terlaksana, Glory." Sahut Caapal dengan nada meledek. Ia tahu ketika mengatakan itu, nyawanya sudah melayang entah ke mana.
"Oh ya? Sayangnya rencanaku sudah berjalan lima pulu persen, Caapal." Glory terdengar berdecak dan tertawa mendengar ocehan Caapal.
"A-apa?!"
"Selamat tinggal..."
....
__ADS_1
Rekaman selesai, kini mereka sudah mengetahui rencana Glory yang sebenarnya.
Semua orang saling tatap. Setelah mendengarkan rekaman suara yang keluar dari telinga Amber, mereka sadar bahwa beberapa benda magis sedang diincar oleh Glory. Itu sebabnya mereka harus lebih waspada dan bergerak lebih cepat dari Glory sebelum benda-benda magis itu didapatkan terlebih dahulu oleh Glory.
"Jadi, para batu permata juga diincar oleh Glory?" Laurent bertanya-tanya.
"Itulah yang kita dengar, tidak salah lagi kalau batu-batu yang dimaksud adalah kita." Sahut Emerald yakin.
"Kita tidak boleh lengah sedikit pun. Kita tak pernah tau keberadaan Glory saat ini." Ucap Antlers.
"Aku penasaran dengan maksud dari wadah kekuatan dark spell. Apa itu?" Lindsey bertanya pada Amber.
"Wadah yang dimaksud adalah seseorang yang mampu membuka buku dark spell." Jawab Amber.
"Buku dark spell? Apa itu?" Lindsey masih terlihat bingung dan tak paham dengan maksud dari dark spell.
"Dark spell adalah sihir hitam terkuat yang pernah ada sejauh ini, kekuatan itu awalnya dikurung dalam sebuah buku terkutuk yang pernah membawa kalian ke dunia dongeng." Jelas Amber.
"Apa? J-jadi...Hesley...."
"Yaa, Hesley Lane telah dipilih oleh Glory untuk menjadi wadah sempurna yang bisa menaruh setengah kekuatan dark spell milik Glory." Papar Amber kembali.
"Karena dia sadar bahwa tubuhnya tak mampu menampung dark spell sebanyak dan sekuat itu, makanya dia mencari sebuah wadah untuk menyimpan setengahnya." Jelas Amber kembali.
"Tapi, kenapa harus Hesley?" Lindsey masih tak terima jika adiknya harus dijadikan wadah yang bisa dikatakan sebagai tumbal.
"Sudah kukatakan sebelumnya bahwa Hesley adalah orang yang membuka halaman dark spell pada buku itu."
"Seharusnya aku langsung membakar buku itu. Ini semua memang kesalahanku..." Lindsey merasa sangat bersalah.
"Hei...ssshhh, jangan bicara seperti itu. Kami ada di sini untuk membantumu, Lindsey." Antlers menghampiri dan merangkul Lindsey untuk menenangkannya.
"Kau tidak perlu khawatir, kami akan berusaha untuk menyelamatkan adikmu." Heyna berusaha membangkitkan semangat Lindsey.
"Dan menyelamatkan Forestopia." Laurent menambahkan.
"Tapi ada kemungkinan lain mengapa Glory memilih Hesley." Ucap Amber tiba-tiba. Semua atensi langsung mengarah pada Amber.
"Apa itu? Apa kemungkinan yang kau maksud?" Tanya Laurent yang begitu penasaran.
__ADS_1
"Apa Hesley percaya dengan hal-hal berbau magis?" Tanya Amber.
"Magis? A-aku rasa dia...dia tidak terlalu mempercayainya, bahkan saat aku membacakan cerita dongeng dia sama sekali tidak tertarik dan memilih membaca buku ilmiah yang sudah jelas kebenaran dan kelogisannya." Ungkap Lindsey.
"Mungkinkah karena itu? Tapi, itu tidak masuk akal sama sekali. Seseorang menjadi wadah hanya karena ia tidak mempercayai adanya dunia magis?" Kata Antlers.
"Di dunia kami, tidak ada yang tidak mungkin, Antlers. Bumi yang kami tinggali dan bumi yang kalian pijaki sangat berbeda dengan kami." Ujar Amethyst tiba-tiba.
"Tunggu dulu...apa maksudmu...kita berbeda dimensi?" Lindsey mulai bingung dengan pembicaraan saat ini.
"Yaa, ini adalah bumi dimensi 124. Dimensi bumi yang penuh dengan keajaiban sihir yang tidak terbatas." Ungkap Ruby.
"Lalu, bumi yang kita pijaki ini sebenarnya apa?" Tanya Lindsey.
"Kalian berempat pun juga berbeda dimensi." Ucap Marine tiba-tiba.
"Apa?!" Antlers, Laurent, dan Heyna terkejut.
"Apa maksudmu, Marine?" Tanya Lindsey sambil mengerutkan keningnya.
"Maafkan aku karena baru memberitahu hal sepenting ini, tapi kalian berempat memang bukan berasal dari dimensi yang sama." Ungkap Marine disusul rasa bersalah karena tidak memberitahu tentang perbedaan dimensi mereka.
"Apa? Kami berbeda dimensi? Bagaimana bisa?" Heyna bertanya-tanya.
"Lindsey, kau berada di dimensi bumi.303." Ucap Marine.
"Heyna berada di dimensi bumi 450." Papar Ruby.
"Laurent berada di dimensi bumi 97." Terang Emerald.
"Dan Antlers, kau berada di dimensi bumi ke 304." Ujar Amethyst.
"Dimensi bumi kami berdekatan?" Tanya Antlers.
"Yaa, kalian berada di dimensi yang sangat berdekatan. Itu sebabnya koneksi kedua dimensi itu terkadang terhubung satu sama lain."
"Terhubung?" Lindsey dan Antlers saling pandang satu sama lain.
...***...
__ADS_1