Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Eternal Evil – Chapter 2


__ADS_3

Para Stone Seeker mulai menunjukkan kekuatannya yang di luar kendali, tak dipungkiri lagi bahwa kekuatan mereka benar-benar bisa melenyapkan Lindsey dan teman-temannya. Apalagi Hesley yang sudah kehilangan kesadaran, dia menjadi salah satu dari pembelot dan bergabung dengan Glory.


Glory yang terlihat jauh lebih muda dari Lindsey dan teman-temannya ternyata memiliki kekuatan sihir hitam yang luar biasa kuat. Bahkan Yves mengatakan bahwa kekuatan Glory setara dengan kekuatan Ratu Florist.


Tempat itu telah menjadi saksi pertarungan mereka.


"Lindsey, kau yakin akan ikut bertarung?" Tanya Antlers sedikit khawatir dengan kondisi Lindsey yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Aku tidak bisa membiarkan Hesley dipengaruhi kekuatan jahat. Kita bagi tugas saja, Antlers melawan Cruy, Heyna melawan Nut, Laurent melawan Lou, dan aku akan melawan Hesley." Ucap Lindsey selesai membagi tugas.


"Tunggu, kau tidak bisa melawan adikmu sendiri." Sergah Yves tak setuju.


"Kenapa?" Lindsey bertanya-tanya.


"Bukannya melawan, kau akan luluh melihat adikmu yang dikendalikan oleh Glory. Biarkan aku yang melawan Hesley," ujar Yves sembari mengajukan dirinya sendiri untuk melawan Hesley. Bagaimana pun juga gadis itu adalah temannya, dan Yves tidak ingin temannya jatuh ke tangan si penyihir hitam.


"Tapi--"


"Yang dikatakan Yves benar, lebih baik kau tidak melawan adikmu sendiri," potong Heyna yang setuju dengan keputusan Yves.


"Aku setuju dengan Heyna. Lindsey, ini demi kebaikanmu, dan demi kebaikan kita semua." Bujuk Antlers.


Lindsey terdiam sejenak, berpikir lalu merenungkan semua perkataan teman-temannya barusan. "Baiklah, kalau begitu aku akan melawan Glory. Yves, mohon bantuannya untuk menyadarkan Hesley karena kau adalah teman pertamanya di dunia ini." Pintanya.


"Baik, aku mengerti." Yves mengangguk dengan yakin.


Pembagian tugas sudah dikerahkan, mereka pun mulai melakukan pertempuran tanpa strategi. Pertarungan antar sihir pun berlangsung.


Dengan sekuat tenaga Lindsey melawan Glory dan para Stone Seeker, ditambah dia harus menyadarkan kesadaran sang adik yang dikuasai oleh sihir hitam milik Glory.


Kekuatan sihir hitam yang ada di dalam dirinya membuat Glory dengan mudah menumbangkan Lindsey. Begitu pun dengan yang lainnya, para Stone Seeker berhasil melumpuhkan Antlers, Heyna, dan Laurent. Kini tinggal giliran Hesley melawan Yves yang masih berlangsung sengit.


Hesley mengeluarkan sihir yang tidak diduga sebelumnya oleh siapa pun, termasuk Glory. Kekuatan yang dikeluarkan Hesley merupakan emosinya saat ini.


Apa dia mengendalikan emosi? Batin Glory sedikit agak was-was. Pasalnya dia juga baru mengetahui ada kekuatan seperti itu dalam diri Hesley.


Yves mengambil posisi berjaga melihat betapa marahnya Hesley saat ini. Luapan amarah itu bahkan menimbulkan awan hitam yang menyemburkan petir.


__ADS_1


Rambut Hesley berubah menjadi putih akibat sihir hitam yang masuk ke dalam dirinya.


"Hesley, kau tidak ingat aku?" Ucap Yves dengan napas tersengal-sengal.


Dia pun terus menghindari serangan tak terkendali dari Hesley dan berusaha mengingatkan temannya itu kalau orang yang diserangnya adalah orang yang pernah menyelamatkannya.


Hesley tak memperdulikan apa yang diucapkan oleh Yves, justru dia semakin menyerang Yves dengan sangat brutal. Lindsey dan teman-temannya tak mampu membantu Yves, mereka juga dalam keadaan terpojok sehingga mereka hanya bisa terbaring di atas tanah sambil sesekali meringis kesakitan akibat serangan dari para Stone Seeker yang benar-benar brutal.


"Hesley, berhenti!" Teriak Lindsey untuk terakhir kalinya. Setelah itu dia tak sadarkan diri dan membuat teman-temannya panik bukan main.


"Lindsey!" Teriak Antlers, Heyna, dan Laurent bersamaan.


Tiba-tiba Hesley menghentikan serangannya kepada Yves setelah mendengar nama Lindsey diteriakkan oleh ketiga teman-temannya.


"Kak Lindsey? Arghh!! Kepalaku pusing!" Erang Hesley sambil memegangi kepalanya yang seperti mau pecah.


Sepertinya dia sudah sadar. Tidak ada waktu lagi, aku harus membawa gadis itu untuk melakukan ritual. Gumam Glory dalam hatinya.



Glory langsung mengeluarkan sihir hitamnya untuk menyerang Lindsey.


Hesley membeku setelah dirinya dicekik dari arah belakang. Tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali.


"Hesley ...."


"Kau tenang saja, Yves. Aku ... baik-baik saja." Bohongnya.


"Cepat bawa mereka pergi, Yves. Ingat misi yang diberikan ibumu kepadamu. Ku ... mohon ... arrgghh!" Cekikan Glory semakin keras sehingga Hesley tak mampu berbicara lagi.


***


Tiba-tiba sebuah cahaya terang menyilaukan mata semua orang, Glory yang tak tahan langsung memejamkan matanya. Begitu pun dengan para Stone Seeker.


Di saat itulah kesempatan diambil, para peri dari kerajaan Forbidden Pixie yang datang untuk menyelamatkan Lindsey dan teman-temannya. Namun mereka tak bisa menyelamatkan Hesley karena posisinya akan membahayakan mereka juga.


Saat cahaya itu mulai meredup, Glory dan para Stone Seeker membuka matanya. Mereka celingak-celinguk mencari keberadaan Lindsey dan yang lainnya. Nihil, mereka hilang bersamaan dengan cahaya tadi.


"Sial! Mereka kabur!" Erang Lou. Dia merasa gagal mendapatkan permata yang diinginkannya.

__ADS_1


Glory menyihir Hesley untuk tidak sadarkan diri. Sementara itu dia terfokus pada debu emas yang bertebaran di sekitarnya.


"Debu emas? Perbuatan siapa ini?" Tanya Nut.


"Sepertinya aku pernah melihat debu seperti ini sebelumnya, tapi aku tidak yakin kalau debu ini milik mereka." Kata Cruy kurang begitu yakin.


"Mereka? Maksudmu ..." Nut semakin bingung.


"Tidak salah lagi, ini perbuatan para peri penjaga." Ujar Lou.


"Peri penjaga? Ahhh, aku ingat sekarang. Bukankah kita pernah mengambil salah satu permata mereka yang berharga, Lou?" Ungkap Nut.


"Yaa, kalau tidak salah kita mengambil batu permata Topaz dari tangan mereka. Tak kusangka bahwa mereka berani melawan kita lagi setelah kekalahan mereka saat berusaha melindungi batu permata Topaz itu." Timpal Lou sambil tersenyum miring.


"Tapi, bukankah mereka sudah kita kalahkan di lembah Elf waktu itu?" Tukas Nut.


"Sepertinya kali ini kita akan berhadapan dengan peri penjaga yang baru." Ucap Lou.


"Hah? Apa maksudmu?"


"Maksudnya, peri-peri penjaga yang baru dilantik oleh ratu mereka." Jelas Cruy.


"Ahh, begitu rupanya."


"Hmm ... ternyata mereka ditolong oleh peri penjaga suruhan ratu Lily." Ungkap Glory.


"Ratu Lily?" Ketiga Stone Seeker menoleh ke arah Glory.


"Yaa, jika kalian ingin mendapatkan permata itu, carilah kerajaan Forbidden Pixie. Aku yakin mereka bersembunyi di sana." Ucap Glory sangat yakin.


Cruy menghela napas kasar. "Mencari kerajaan mereka tidak mudah, Glory. Mereka sangat sulit ditemukan." Ujar Cruy.


"Cruy benar, lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Nut.


"Terserah kalian, karena aku sudah mendapatkan apa yang aku mau." Kata Glory dengan santainya.


Tanpa basa-basi lagi Glory langsung menghilang bersama wadahnya yang berharga itu. Lou mengeraskan rahangnya kesal karena pertarungan yang memperebutkan batu permata tidak bisa di dapatkan.


"Cih! Kalau begitu kita berangkat mencari kerajaan peri itu. Sekali berhadapan dengan Stone Seeker, selamanya tak akan bisa lolos dari kami." Decak Lou.

__ADS_1


...***...


__ADS_2