Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Suara Ariel (2)


__ADS_3

Apa itu?"


"Artinya semua kejadian yang ada dan terjadi di sini hanya unsur imajinasi, semua tidak nyata di duniaku."


"Memangnya duniamu itu seperti apa?" tanya Ariel.


"Hmm, bisa dibilang duniaku adalah yang paling masuk akal. Di duniaku tidak ada makhluk seperti duyung, atau makhluk lain yang memiliki bentuk tubuh aneh. Di sana itu semua dianggap mitos, yang artinya tidak nyata dan semata hanya dibuat-buat untuk menghibur manusia."


"Sepertinya duniamu mengerikan,"


"Eh? Kurasa di sini lebih mengerikan. Ah, sudah, lupakan ...."


Lindsey dan Ariel pun kembali berjalan menuju istana untuk menemui Erick.


"Kita sudah di dalam istana," ucap Lindsey yang tertegun melihat istana megah nan mewah.


"Sepertinya kita tidak diundang." Ariel menunduk.


"Jangan bilang begitu, aku secara tidak resmi diundang oleh Erick setelah dia sadar dari pingsannya."


"Tapi, aku tidak melihat Pangeran Erick."


"Benar juga, di mana dia?"


BRUKK!


"Maaf, kau tidak apa-apa?"


"Aww!" Lindsey mengerang kesakitan. "Aduh! Kalau jalan lihat-lihat dong!" teriaknya kesal.


"Lindsey?"


Lindsey menoleh ke arah orang yang sudah menabraknya dari belakang. "Erick?"


"K-kau tau namaku?"


Lindsey berusaha untuk berdiri dan menatap Pangeran Erick. "Ya, tentu saja, kau kan seorang Pangeran."


"Apa kau datang kesini untuk melihatku dinobatkan menjadi seorang Raja?"


"Tidak juga, aku ke sini ingin mempertemukanmu dengan seseorang,"


"Siapa?"


"Ini, Ariel. Maaf ya dia tidak bisa bicara." Lindsey menarik tangan Ariel untuk berhadapan dengan Erick.


Erick menoleh ke arah Ariel, ia langsung terpesona melihat kecantikan dan keanggunannya.


"Erick, Ariel adalah orang yang telah menyelamatkanmu dari badai itu. Kau ingat?" ujar Lindsey memulai topik baru.


"Badai? Eum ... aku ingat. Ketika aku dalam keadaan setengah sadar aku mendengar suara nyanyian yang sangat indah." jawab Erick.


"Itu adalah suara Ariel, tapi sekarang ia bisu demi menemuimu."


"Demi aku?" Erick bingung dengan maksud ucapan Lindsey.


"Permisi Yang Mulia, upacara penobatan akan segera dimulai. Setelah ini anda juga akan melamar sang Putri." Seorang pengawal istana menghampiri Erick dan memberitahu jadwal penobatannya.


"Baiklah, aku akan kesana." Erick mengangguk pelan.


Tiba-tiba Lindsey menarik tangan Erick lalu bertanya. "Hei tunggu! Apa kau mencintai Putri itu, Erick?"


"A-aku ...."


"Aku tau kau tidak mencintainya. Kau menyukai Ariel kan?" pekik Lindsey.


"Iya, aku menyukai Ariel. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menikah dan hidup bersama orang yang telah menyelamatkanku saat badai itu," kata Erick lalu memandangi wajah Ariel.


"Kalau begitu bilang pada ayahmu untuk membatalkan pertunangannya,"


"Baiklah, aku akan mengatakannya." Erick mengangguk.


***


Erick pun mengatakan semuanya pada sang ayah untuk membatalkan pernikahannya dengan Putri dari negeri seberang.


"Apa?!" teriak sang Raja.

__ADS_1


"Ayahanda, aku tidak bisa menikah dengannya, aku tidak mencintainya." Erick tetap memohon.


"Erick, kau adalah seorang Raja saat ini, kau tidak boleh mengkhianati siapapun termasuk Tuan Putri." serang sang ayah.


"Tapi aku tidak mencintainya," tolak Erick.


"Sudah! Jangan membantah, kau akan tetap menikah dengannya. Rencananya kalian akan menikah besok."


"Besok? Ayah, tapi--"


"Kurasa lebih baik hari ini saja, lebih cepat lebih baik." Sang ayah pergi dari hadapan Erick dengan perasaan marah.


"Ayahanda ...." lirih Erick.


Gagal. Itulah kata yang tepat untuk Erick saat ini. Apa yang harus ia lakukan? Akankah Lindsey berhasil membuat Erick dan Ariel bersatu?


Di sisi lain, Lindsey sedang bersantai bersama Ariel di halaman belakang istana sambil melihat pemandangan laut biru yang berkilau.


"Ariel, ceritakan sedikit tentang kehidupan bawah laut padaku." Lindsey memulai topik.


"Tidak ada yang istimewa di bawah sana, kau hanya akan melihat beberapa ikan berukuran besar atau kecil, dan makhluk laut yang lainnya." jawab Ariel, masih di dalam hati.


"Bukan itu maksudku, hmm ... bagaimana kalau menceritakan tentang kelima saudarimu?"


"Mereka berlima adalah kakak yang paling baik, tapi terkadang juga menyebalkan." jawab Ariel.


"Hahaha! Itu sebabnya aku tak ingin mempunyai kakak ataupun adik," pekik Lindsey.


"Kenapa?"


"Bukankah merepotkan? Ya, itu sangat merepotkan, kalau kita punya kakak, maka ia akan menyuruh kita sesuka hati karena merasa lebih tua dari kita. Jika punya adik, kita akan repot mengurus dan menjaganya. Ah ... itu sangat merepotkan, akan lebih baik jika menjadi anak tunggal." sergah Lindsey.


"Tapi, ada baiknya jika kita mempunyai kakak dan adik. Kau tidak akan merasa sendirian apalagi kesepian." balas Ariel.


"Sendirian dan kesepian? Sayangnya aku punya adik yang sangat menyebalkan."


Ariel tertawa kecil mendengar keluhan Lindsey.


Teng!


Teng!


Teng!


"Sepertinya itu bel istana, biasanya digunakan untuk memberi peringatan atau pengumuman." sahut Lindsey.


"Pengumuman untuk semua rakyat dan segenap tamu undangan! Hari ini, tepat sore hari, akan dilaksanakan pernikahan Raja Erick dan Putri." ujar seorang pengawal istana.


"Hah?! Lelucon apa lagi ini?!" Lindsey membuka mulutnya lebar-lebar ketika mendengar pengumuman itu.


"Lindsey, kurasa aku tak punya kesempatan untuk hidup bersama Pangeran Erick." seru Ariel yang sudah mulai menyerah.


"Jangan menyerah begitu saja. Lagipula, kalau kau tidak menikah dengannya, aku tidak akan bisa pulang!"


"Apa maksudmu?"


"Ah, lupakan saja, yang lebih penting sekarang itu adalah kau." Lindsey menunjuk Ariel.


Lindsey dan Ariel pun bergegas menuju kapal yang akan digunakan sebagai tempat untuk upacara pernikahan.


Mereka berlari sekuat tenaga, namun bagi Ariel, ia belum terbiasa menggunakan kakinya, itu sebabnya ia sedikit lambat ketika berlari.


"Cepat sedikit Ariel!" teriak Lindsey menyeru pada Ariel.


"Maaf, aku belum terbiasa dengan kaki ini."


Ting!


Tiba-tiba kalung Lindsey bersinar sangat terang, membuatnya harus berhenti dan memeriksa sejenak kalungnya.


"Hei, kenapa kau bersinar di saat seperti ini? Aku kan belum menyelesaikan tugasku," tanya Lindsey.


"Aku punya tugas lain yang harus kau lakukan, ini juga berhubungan dengan tuntasnya misi di cerita ini,"


"Apa? Cepat katakan!"


"Carilah kalung kerang, karena kalung itu bisa membuat Ariel kembali normal."

__ADS_1


"Normal? Maksudmu, dia bisa bicara lagi?"


"Ya, sekarang cepat cari dan hancurkan kalung it--"


"Baiklah, akan kulakukan."


"Tunggu! Aku belum selesai memberikan informasi."


"Ah, sudahlah, aku tau apa yang harus aku lakukan."


Lindsey pun berlari ke dalam istana bersama Ariel dengan terburu-buru. Mengingat waktunya yang hampir habis di cerita ini.


Tak perlu berlama-lama, Lindsey melihat sesuatu yang bersinar dari salah satu wanita bergaun pengantin. Kalau dilihat secara jelas, itu adalah Putri yang akan dinikahkan dengan Pangeran Erick.


"Aura Putri itu jahat, aku harus melakukan sesuatu padanya."


Lindsey berlari ke arah Putri tersebut dan menangkapnya lalu mengambil kalung yang ada di leher Putri itu.


"Tidak! Jangan lakukan itu!" teriak Putri itu.


SRETT!


Lindsey mulai menghancurkan kalung itu dengan membantingnya ke lantai lalu menginjaknya beberapa kali untuk memastikan bahwa kalung kerang itu benar-benar hancur.


"Tidakk! Aaaaa!"


Putri itu lenyap. Menghilang dari pandangan orang-orang bagai butiran pasir.


"Huft ...." Lindsey menghela napas panjang dan terduduk di lantai.


"Katakan padaku kenapa aku harus menghancurkan kalung kerang itu?" tanya Lindsey pada kalungnya.


"Kalung kerang itu adalah kalung milik penyihir laut, ia menyamar sebagai Putri supaya bisa menikah dengan Pangeran Erick."


"Lalu, apa tugasku sudah selesai?"


"Hampir, tapi kau harus melihat sesuatu yang penting."


"Apa?"


"Lihatlah ke arah Ariel,"


Lindsey menoleh ke arah Ariel yang ternyata sudah berubah menjadi duyung. "Ariel?"


"Jadi, kau selama ini seekor duyung?" Pangeran terkejut dengan wujud asli Ariel.


"Pangeran, maafkan aku ... aku melakukan ini demi bersamamu." ucap Ariel yang sudah bisa bicara menggunakan mulutnya.


Jadi ini maksud kembali normal. Bukan hanya suara Ariel yang kembali, tapi wujud aslinya pun juga kembali, yaitu duyung.


Erick berlutut di hadapan Ariel. "Aku tau, terima kasih karena kau telah menyelamatkanku."


"Pangeran ...."


"Maukah kau menikah denganku?"


Ariel tertegun mendengar ucapan Erick, ia pun langsung mengangguk dan tersenyum.


"Baiklah ... tugasku sudah selesai. Bisakah kita berpindah cerita?" ucap Lindsey pada kalungnya.


"Baiklah, akan kulakukan."


Lindsey pun pergi meninggalkan istana, ia menghilang untuk pergi menjalani misi selanjutnya.


"Hmm ... lalu kapan aku akan bertemu dengan cinta sejatiku? Ah, lupakan saja, aku harus fokus menyelesaikan misi konyol ini." ucap Lindsey mulai cerewet.


"Hei kalung! Bisakah kau beritahu aku kemana kita akan pergi?" lanjut Lindsey monolog.


"Ke sebuah cerita yang sangat kau sukai."


"Tidak biasanya kau menjawab pertanyaanku di saat-saat seperti ini,"


"Mulai saat ini aku akan menjawab apapun yang kau tanyakan padaku. Dan panggil saja aku, Marine."


"Kenapa tiba-tiba?"


"Karena misi selanjutnya akan semakin berbahaya."

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Lindsey langsung menelan salivanya kuat-kuat.


"Berbahaya?"


__ADS_2