
Setelah berhari-hari Lindsey dan kawan-kawan menjelajahi waktu yang sangat melelahkan, kini mereka hampir di penghujung misi dunia dongeng.
Saat ini mereka berempat masih di dimensi ruang dan waktu. Kalung Amethyst masih mengumpulkan kekuatannya karena terkuras habis akibat dipakai terus-menerus oleh Antlers.
"Bagaimana keadaan gadis itu? Dia baik-baik saja kan?" tanya Heyna sambil melipatkan kedua tangannya di dada. Seakan sudah sangat muak untuk melanjutkan misi konyol ini.
"Ya, kurasa dia tidak terluka parah," sahut Lindsey yang terlihat sudah sangat malas untuk berbicara.
"Aaah, aku sangat lelah melakukan misi ini. Marine, kapan kita bisa menyelesaikannya? Aku ingin pulang secepat mungkin." gerutunya.
"Kau hampir menyelesaikan misimu, Lindsey. Bersabarlah." sahut Marine.
"Huft ...." Lindsey menghela napas kasar.
Lindsey yang sudah terlihat kesal menutup kedua matanya perlahan. Matanya seakan menutup dengan sendirinya dan membiarkan dunia mimpi menguasai pikirannya.
Dan ia pun tertidur dalam waktu tiga detik.
Kedua mata Lindsey terbuka dan mendapati bahwa dirinya berada di tempat yang sangat asing bagi penglihatannya. Ruangan gelap, pengap, dan sangat berdebu. Lindsey bahkan terus-terusan bersin akibat debu yang bertebaran di sekitar hidung mancungnya.
"HACHII!"
"Fiuh, kenapa banyak sekali debu di sini. Di mana yang lain?" Lindsey yang terlihat bingung langsung mengarahkan pandangannya ke arah kalung Marine. Tapi tunggu, kalungnya tidak ada.
"Marine? Loh, ke mana kalung cerewet itu? Marine!" Lindsey berusaha memanggil-manggil Marine dengan berteriak kencang, dan hanya ada suaranya yang menggema di ruangan itu.
"Apa kau mencari sesuatu?"
Lindsey terkejut dengan suara pria yang terdengar sangat mengerikan dari arah belakangnya, ia pun membalikkan tubuhnya karena refleks dan melotot ketika sesosok pria berjas hitam duduk di kursi goyang. Itu terlihat creepy bagi Lindsey.
__ADS_1
"K-kau siapa?" tanya Lindsey yang sudah berkeringat dingin.
"Aku?" Pria itu lantas berdiri dan berjalan perlahan menghampiri Lindsey. Sontak itu membuatnya sangat terkejut dan memundurkan langkahnya. Mata mereka saling bertemu, namun dari sorot mata pria itu sama sekali tidak ramah.
"Mike Scots," jawab pria itu dengan suara berat.
Lindsey kembali melotot dan kembali memundurkan langkahnya, sayangnya ia sudah ada di penghujung ruangan.
"Kau penulis buku dongeng itu kan? Kenapa kau bisa ada di sini? Di mana teman-temanku? Bukankah kau sudah meninggal?" tanya Lindsey bertubi-tubi.
"Aku memang sudah mati, tapi aku hidup di buku yang kutulis sendiri," sahutnya kembali.
"Apa katamu? Itu tidak mungkin," sergah Lindsey.
"Kau tidak percaya? Kau bahkan bisa melihatnya sendiri bukan? Aku ada di hadapanmu saat ini," ujarnya sambil tersenyum miring.
Yang ada di pikiran Lindsey saat ini hanya satu. Apakah pria yang ada di hadapannya ini psikopat?
"Ini pasti hanya mimpi," ucap Lindsey sambil menepuk-nepuk pipinya.
"Dengarkan aku baik-baik, kau adalah salah satu anak yang terpilih untuk menyelamatkan dunia dongeng. Aku menyesal karena telah menulis kembali berbagai cerita dongeng dengan alur yang berbeda, dan aku tidak menyangka bahwa buku itu terkutuk. Aku kehilangan anakku, itu semua karena keegoisanku yang ingin membuka portal menuju dunia dongeng." jelasnya.
"Sebenarnya apa tujuanmu melakukan hal itu?" tanya Lindsey. Ia memberanikan diri untuk bertanya walaupun sebenarnya dia takut setengah mati.
"Akan kupersingkat saja. Saat itu aku adalah seorang sastrawan Inggris, yang menulis dan juga menerjemahkan beberapa buku dari berbagai belahan dunia. Ketika di perpustakaan nasional, aku menemukan buku itu, buku yang setiap lembarnya kosong. Aku tidak mengerti kenapa buku itu bisa masuk ke perpustakaan nasional," jelasnya.
"Lalu, disaat itulah aku mulai menulis cerita itu, cerita di mana alur dongeng berubah. Ketika aku mengetahui bahwa buku itu terkutuk, aku pun berniat membakarnya agar anakku bisa kembali lagi. Tapi sayangnya, akulah yang mati. Aku hidup dalam kegelapan buku yang kutulis sendiri."
"Apa kau tau cara mengembalikan semuanya?" tanya Lindsey yang sudah mulai terbiasa dengan situasinya saat ini.
__ADS_1
"Saat aku hidup di dalam buku, aku meneliti semua tentang buku ini, dan ternyata cara untuk mengembalikan setiap alur cerita di buku tersebut hanya dengan satu cara,"
"Masuk dan menyelesaikan semua misi."
"Aku sudah melakukannya, maksudku, saat ini aku dan teman-temanku sedang melakukan perjalanan waktu untuk menyelamatkan anakmu, Neil Scots," ucap Lindsey percaya diri.
"Tidak semudah itu, kau akan berhadapan dengan banyak musuh ketika sampai di tempat anakku. Berhati-hatilah, kau tidak boleh kehilangan satu temanmu jika kau ingin kembali ke dunia nyata."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," tanya Lindsey heran.
"Kau akan mengerti jika kau sudah sampai di sana. Pesanku hanya satu, jangan sakiti anakku."
"Tapi--"
"Lindsey! Bangun, kita sudah sampai." tiba-tiba tubuhnya digoncang oleh seseorang.
"Hah ... apa? Apa yang terjadi?" Lindsey bangun terkejut.
"Kau kenapa? Apa kau bermimpi buruk?" tanya Heyna kebingungan dengan sikap Lindsey.
"A-aku ...."
"Apa kau baik-baik saja? Sejak tadi kau terus mengigau," seru Antlers khawatir.
"Eh? K-kau sudah sadar?" Lindsey menukar topik pembicaraan.
"Kenapa kau malah bertanya balik? Aish, kau ini!" Decak Heyna kesal.
"A-aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan saja. Hehe," ucap Lindsey terkekeh.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan misi ini." Seru Laurent. Satu-satunya lelaki di antara ketiga gadis tersebut.