
Setelah menelusuri goa dan meneguk air telaga, mereka berjalan mencari jalan keluar untuk menuju ke puncak gunung Yoko. Mereka terkesima dengan penampakannya saat ini.
Berbeda dengan gunung lainnya yang ada di dunia nyata, gunung di dunia ini memiliki warna merah dengan dominasi warna jingga di setiap pinggirannya.
"Gunung Yoko memang beda dengan gunung lainnya, karena kandungan tanah dan lavanya berasal dari air mata ular naga yang kita temui tadi." Ungkap Marine.
"Air mata ular naga? Maksudmu yang tadi mengejar kita?" Sahut Laurent mendelik ke arah Marine.
"Iya, naga tadi adalah salah satunya." Emerald menyahuti ucapan Laurent.
"Salah satu? Jadi, maksudmu ada banyak naga di hutan ini?" Laurent terkejut setelah mendengar ucapan Emerald.
"Tentu saja, hutan ini dihuni para ular naga duri emas. Kalian sudah melihat bagaimana bentuk dan warna kulitnya bukan? Di kepala naga itu terdapat duri emas yang sangat berharga."
"Kau benar, aku melihat duri-duri emas yang ada di kepala ular naga tadi. Tapi, kenapa naga itu menyamar menjadi Robin Hood?" Heyna bertanya-tanya sekaligus penasaran.
"Sebenarnya ular naga duri emas tidak memangsa makhluk hidup, dan biasanya mereka tidak seganas dan seagresif tadi." Ujar Amethyst.
"Tapi, bukankah naga itu memang berbahaya? Aku sering membacanya di cerita dongeng. Mereka makhluk mitologi yang besar, mengerikan, dan mulutnya mengeluarkan api yang bisa menghanguskan segalanya." Tutur Lindsey mengungkap makhluk naga yang dia baca di dalam buku dongeng miliknya.
"Naga di dunia kami tidak sejahat yang ada di cerita dongengmu, Lindsey. Mereka diutus oleh ratu untuk menjaga hutan kabut dari bahaya yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan mereka." Marine mempertegas ucapan Lindsey yang mengatakan bahwa semua naga itu jahat dan menyeramkan.
"Marine benar, hutan ini sebenarnya tanah nenek moyang mereka, awalnya mereka hanyalah naga biasa yang tidak mengeluarkan api dari mulutnya. Tetapi, ratu Florist memberikan kekuatan kepada para naga untuk menjaga tanah nenek moyang mereka dari musuh yang mengintai dan menginginkan duri emas yang ada di kepalanya."
"Kenapa duri emas itu sangat berharga?"
"Duri emas itulah yang memiliki kekuatan magis. Kekuatan magis tadi bisa mengubah bentuk para naga menjadi makhluk lain yang diinginkannya."
"Huft...kalau dia menjaga hutan kabut, kenapa dia mencoba membunuh kita? Seharusnya dia tau mana yang jahat mana yang baik." Keluh Laurent menghela napas kasar.
"Itulah yang sedang aku pertanyakan, mungkinkah para naga sudah terpengaruh sihir jahat Glory?" Marine dan permata lainnya bertanya-tanya.
"Lupakan naga itu, sekarang kita harus ke puncak gunung Yoko untuk mengambil batu permata Amber yang sangat berharga itu." Heyna mengalihkan topik.
Semua menoleh ke arah Heyna dan saling pandang sambil mengangguk seakan setuju dengan ucapan Heyna barusan.
"Kau benar, untuk urusan naga akan kita pikirkan nanti." Ucap Lindsey.
Mencapai puncak gunung Yoko tidaklah mudah, tetapi mereka berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengambil batu Amber yang sangat berharga itu. Baginya batu permata Amber adalah salah satu kunci dan petunjuk bagi Lindsey untuk menemukan Hesley yang menghilang entah ke mana.
Napas mereka begitu tersengal-sengal, membuat mereka hampir kehabisan tenaga dan hilang harapan.
__ADS_1
Keluhan terus dilontarkan dari mulut Laurent dan hal itu membuat Heyna geram.
Setelah berjalan menanjak menuju puncak gunung cukup lama, akhirnya mereka sampai di ujung gunung. Mereka duduk sambil merebahkan tubuh dan meregangkan kaki yang sudah kaku.
Saat semua sedang beristirahat, Lindsey melihat cahaya kilau berwarna keemasan dari arah lubang yang ada di tengah gunung. Berbarengan dengan cahaya itu muncul sebuah batu permata yang diduga adalah Amber.
"Apa itu batu Amber?" Tanya Antlers pada Amethyst.
"Benar. Itu adalah Amber." Jawab Amethyst.
"Tunggu apa lagi? Ayo kita ambil sekarang juga!" Seru Heyna dengan semangat membara.
"Jangan seenaknya mengatakan itu seakan-akan batu itu mudah untuk digapai. Lihatlah, batu itu terletak di tengah-tengah lautan lava yang bergejolak dan menyemburkan lava panas." Gerutu Laurent.
"Ada ide?" Tanya Antlers.
"Tidak, aku tidak mau mati terbakar oleh lava itu." Laurent menggeleng cepat dan menjauhkan diri dari hawa panas yang disemburkan oleh lava itu.
"Aku punya ide!" Seru Heyna dengan semangat, "bisakah kau berubah menjadi burung elang?" Pintanya pada Ruby.
"Hah? Kenapa harus burung elang?" Sahut Laurent bingung dengan apa yang akan direncanakan oleh manusia satu itu.
"Tidak." Heyna menggeleng namun setelah itu terdiam sejenak, "ehm...ya, singkatnya seperti itu. Kita harus mencobanya, bukan?"
Apa idenya begitu jelas dibaca seseorang?
"Kau yakin akan berhasil?" Laurent merasa bahwa ide Heyna agak mengerikan, apa dia berniat bunuh diri?
"Kita tidak akan tau jika belum dicoba, lagi pula hanya aku satu-satunya yang memiliki ide ini." Ucap Heyna yang nampak membangga-banggakan dirinya.
"Cih! Itu benar, hanya kau yang menuangkan ide untuk mengambil batu itu, tetapi kau harus tau kalau idemu menjadi satu-satunya ide tergila yang pernah ada." Decak Laurent.
"Ideku memang gila, tapi aku tidak gila." Erang Heyna menatap Laurent dengan tajam.
"Ya, semoga saja ucapanmu itu benar. Kalau begitu selamat mencoba dan semoga berhasil, akan ku doakan semoga idemu bisa membawa kita menuju petunjuk lain."
"Thanks untuk penyemangatnya, kuharap setelah ini kau akan ku lempar ke lautan lava itu." Ucap Heyna pelan.
"Berhati-hatilah." Ucap Antlers.
"Tentu saja aku akan berhati-hati, karena aku tidak mau mati konyol di sini."
__ADS_1
Setelah kata-kata penyemangat dari teman-temannya, Heyna pun memulai operasi untuk mengambil batu Amber itu dari panasnya lava gunung Yoko.
Beberapa saat kemudian....
Heyna tak berhasil mengambil batu itu karena hawa panas dari lava membuat kulitnya hampir terbakar.
"Maafkan aku, aku sudah tidak kuat lagi. Hawa di sana benar-benar sangat panas."
"Tidak apa-apa Heyna, tidak perlu memaksakannya. Kita akan cari jalan lain." Ucap Lindsey.
Heyna beristirahat untuk setidaknya mengeringkan keringat yang bercucuran di tubuhnya.
Tiba-tiba Lindsey terbit sebuah ide. "Heyna, botol itu,"
"Eh? K-kenapa dengan botol itu?" bingung Heyna.
"Ini bukan waktunya membahas botol, Lindsey...haduhhh panas sekali di sini." Keluh Laurent sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajah.
"Tidak, bukan itu maksudku, botol berisi air keinginan itu. Kita bisa menggunakannya untuk mengambil batu Amber." Ujar Lindsey memberitahu idenya.
"Apa?" Laurent tersentak.
"Kau yakin, Lindsey?" Tanya Antlers.
"Percayalah padaku, aku yakin pasti itu akan berhasil." Ucap Lindsey berusaha meyakinkan teman-temannya.
"Kau benar, kenapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya ya?" Kata Laurent.
"Karena kau bodoh, Laurent." Ledek Heyna.
"Apa?!" Laurent melotot.
"Sudah-sudah, Heyna sekarang cepat berikan botol itu." Pinta Lindsey.
"Ahh, iya baiklah." Mengambil botol di tasnya, lalu memberikannya kepada Lindsey.
"Kau yakin, Lindsey?" Antlers merasa khawatir dengan ide Lindsey.
"Percayalah padaku, aku yakin pasti itu akan berhasil."
...***...
__ADS_1