
Lindsey mencoba untuk membuka kedua pelupuk matanya dan menguceknya beberapa kali, ia menoleh ke sembarang arah dan sesekali memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Apa kali ini aku berada di tengah hutan lagi?" katanya monolog.
Dan ternyata itu memang benar, Lindsey kembali berada di tengah-tengah hutan gelap yang cukup mengerikan. Ia yang pasrah hanya bisa menghela napas beratnya lalu duduk menyender di salah satu pohon sambil menikmati udara dingin yang bertiup kencang menghembus permukaan kulitnya.
"Hei kalung ajaib, aku tahu kau adalah kalung yang bisa bicara, bisakah kau membawaku ke tempat yang lebih aman? Aku bisa mati diterkam binatang buas jika seperti ini terus," keluh Lindsey yang berbicara pada kalungnya.
Ucapan Lindsey tersebut tak dihiraukan oleh kalung ajaib itu. Lindsey menyerah untuk berusaha berbicara pada kalung pemberian wanita tua itu. Baginya bicara dengan kalung adalah hal yang membuang-buang waktu dan melelahkan. Kalung itu bicara semaunya dan tak pernah menghiraukan perkataan Lindsey. Lagi pula, apakah ini sebuah takdir bagi Lindsey untuk menjelajahi setiap cerita dongeng? Baiklah, dia sudah cukup lelah membantu tokoh-tokoh yang ada di cerita dongeng. Tapi, sebenarnya menyenangkan.
"Dad benar ... membaca terlalu lama itu bisa membuat imajinasi menjadi gila. Seharusnya aku mendengar ucapan Dad waktu itu." Lindsey menyesalinya.
~ Lalalala Lalalala ~
Saat Lindsey sedang memikirkan ucapan ayahnya, ia mendengar suara orang yang sedang bernyanyi, dan suara itu semakin dekat.
"Siapa yang bernyanyi di tengah hutan seperti ini?" tanyanya heran, "kurasa dia sudah gila." Lindsey berdiri perlahan dan memandangi sekitarnya.
"Kau sedang apa?" ucap seseorang dari arah belakang Lindsey, dan ternyata dia adalah seorang gadis kecil yang memakai kerudung merah.
"Aaaaakkhh!" Lindsey berteriak karena terkejut dengan kedatangan gadis kecil itu. Gadis itu juga sama terkejutnya karena Lindsey berteriak.
"K-kau siapa?" tanya Lindsey dan bergerak menjauh dari gadis itu.
"Fiuh ... kupikir kau binatang buas," desih gadis kecil itu sambil menghela napas beratnya.
"Wajah cantik seperti ini kau bilang binatang buas?" gerutu Lindsey yang tak terima kalau dirinya disebut binatang buas. Apakah dia terlihat seperti itu?
"Sebenarnya kau ini manusia atau serigala? Atau mungkin kau ini manusia setengah serigala?" tanya gadis berkerudung merah itu pada Lindsey dengan santainya.
Lindsey membulatkan kedua matanya dan mulut yang terbuka lebar. "Hei, aku ini manusia. M-a-n-u-s-i-a. Tidak ada setengah serigala di dalam diriku." balas Lindsey sambil mengeja kata manusia pada gadis kecil itu.
"Iya iya, baiklah."
Lindsey berusaha mengenali gadis kecil ini dengan hati-hati, melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki untuk memastikan apakah gadis kecil itu adalah gadis berkerudung merah. Namun, terlihat dari penampilannya gadis ini memang gadis yang ada di cerita The little red riding hood. Tapi, gadis ini tidak sopan sama sekali kepada Lindsey. Apa orangtuanya tidak membimbingnya dengan benar?
"Apa yang ada di dalam keranjang itu?" tanya Lindsey sambil menunduk ke arah keranjang itu untuk melihat.
"Ini kue buatan ibuku, aku akan mengantarnya ke rumah nenek," jawab gadis kecil itu sambil tersenyum girang.
"Kau tidak takut? Di sini, kan banyak binatang buas," kata Lindsey mencoba menakuti gadis itu.
"Sebenarnya aku takut, tapi aku harus berani untuk melewati hutan ini dan memberikan kue ini untuk nenekku." jawab gadis kecil itu.
"Ternyata kau ini memang anak yang keras kepala. Oh iya, apa kau sudah bertemu dengan serigala?" kali ini Lindsey menukar topik pembicaraan.
"Sudah." Gadis itu mengangguk singkat. Gampang sekali mengatakan sudah. Gadis kecil ini tidak memiliki rasa takut pada apapun.
"Apa yang serigala itu katakan saat kau bertemu dengannya?" tanya Lindsey sangat penasaran.
"Kenapa kau ingin tahu?" Bukannya menjawab, gadis kecil itu justru bertanya balik pada Lindsey.
"Jawab saja, apa yang serigala itu bilang?" tanya Lindsey yang tidak sabaran.
"Aku tidak bisa memberitahumu."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena kita tidak saling kenal. Ibuku bilang aku tidak boleh bicara dengan orang asing." ucapnya polos.
Lindsey menepuk keningnya kuat-kuat. "Hei, kau pikir sejak tadi kau bicara dengan siapa?" ucap Lindsey, kali ini ia harus ekstra sabar.
Ketika Lindsey sedang berpikir, gadis berkerudung merah itu berjalan pergi meninggalkannya. Lindsey yang menyadari langsung mengikuti gadis itu.
"Aku ikut ya?" kata Lindsey sambil tersenyum.
"Untuk apa kau ikut? Kalau kau tersesat, cari saja jalan keluarnya sendiri. Kau kan sudah dewasa." ucap gadis kecil itu dengan entengnya.
Lindsey melotot setelah mendengar perkataan sang gadis.
Kalau saja bukan karena permintaan kalung ajaib ini, aku tidak akan membantu gadis kecil ini. Merepotkan sekali. Gerundel Lindsey dalam hati
"Tidak, aku hanya ingin melihat dan mengunjungi nenekmu saja. Kau tidak boleh menolak,"
"Hmm ... ya sudah."
...***...
Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk pergi ke rumah nenek gadis berkerudung merah. Sementara itu, serigala yang telah bertemu dengan gadis berkerudung merah mengambil jalan pintas agar bisa sampai di rumah nenek sebelum gadis berkerudung merah sampai.
Tok tok tok!
"Silahkan masuk sayang, aku sudah sangat khawatir terjadi sesuatu padamu di hut--" Nenek mengira bahwa yang mengetuk pintu itu adalah cucunya. Malangnya, serigala langsung masuk dan melahap sang nenek.
Beberapa menit kemudian, Lindsey dan gadis berkerudung merah sampai di rumah nenek dan mulai mengetuk pintu.
Tok tok tok!
"Siapa itu?" Serigala bertanya sambil menirukan suara sang nenek.
"Oh! Sayangku kemarilah, Nenek sudah menunggumu sejak tadi."
Serigala itu sangat pandai menirukan suara sang nenek hingga gadis berkerudung merah langsung percaya begitu saja, ia pun masuk ke dalam rumah itu tanpa mencurigai apapun.
Namun tidak bagi Lindsey, ia sudah tahu alur cerita ini. Dengan sigap ia menarik tangan gadis berkerudung merah dan berkata. "Jangan masuk! Di dalam sana ada serigala yang sudah melahap nenekmu."
"Apa?! Tidak mungkin serigala sudah melahap nenekku. Kau tidak dengar suara tadi, itu suara nenekku," ucap gadis itu tidak mempercayai ucapan Lindsey.
"Aku tidak bohong, lebih baik kita cari cara untuk mengeluarkan nenekmu dari dalam perut serigala."
"Tidak! Aku mau menemui nenekku."
"Hei! Aish, dia benar-benar keras kepala. Tunggu!" gerutu Lindsey lalu ikut masuk ke dalam rumah sang nenek.
"Aaaakkhh!"
"Hahaha! Akhirnya, aku bisa memakan gadis kecil ini. Nyam, enak sekali."
"Hei, keluarkan gadis berkerudung merah dan neneknya dari dalam perut buncitmu itu serigala jelek!" seru Lindsey dengan berani menghadapkan diri di depan serigala.
"Hm? Ada satu lagi ternyata. Baiklah aku akan melahapmu juga," kata serigala, lalu mendekat ke arah Lindsey.
"Eh? Kabuuurr!" Lindsey pun berlari keluar dengan terbirit-birit ketika mendengar ucapan serigala itu bahwa ia akan melahapnya.
Tidak tidak! Aku tidak mau dimakan serigala berkostum nenek-nenek. Aku harus mencari cara untuk mengeluarkan gadis kecil itu bersama neneknya. gumamnya lalu mencari bantuan di sekitar hutan.
__ADS_1
Lindsey melihat seorang pemburu sedang melewati depan rumah sang nenek. Dengan cepat Lindsey menghampiri pemburu itu dan berkata, "Tolong aku, tolong selamatkan seorang gadis kecil dan neneknya di dalam perut serigala."
"Apa kau bilang? Ada serigala di rumah itu?" tanya pemburu itu terkejut mendengar ucapan Lindsey. Lindsey mengangguk cepat
Pemburu itu pun masuk ke dalam rumah sang nenek. di dalam rumah tersebut pemburu langsung menembak serigala. Serigala itu tak mampu menyerang pemburu akibat kekenyangan, bahkan membuat dirinya tak bisa bangkit dari ranjang sang nenek. Sang pemburu juga mengeluarkan gadis berkerudung merah dan nenek dari perut serigala, lalu Lindsey langsung menghampiri gadis berkerudung merah dan sang nenek dengan raut wajah khawatir.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Lindsey.
"Apa kau yang sudah memanggil sang pemburu untuk mengeluarkan kami dari perut serigala?" tanya nenek pada Lindsey.
"Iya, aku sangat khawatir pada kalian berdua," ucap Lindsey.
"Terima kasih, Nak. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas budi," kata nenek.
"Oh iya, bagaimana kalau kita makan kue yang ada di dalam keranjang ini saja?" usul gadis berkerudung merah.
"Aku setuju! Aku sangat lapar."
Lindsey dan gadis berkerudung merah terkekeh bersama, seakan sudah tidak terjadi apa-apa pada mereka.
Sang nenek masuk ke dalam rumah untuk membuatkan teh.
Mereka bertiga makan bersama di halaman rumah sang nenek. Lindsey adalah orang yang paling lahap memakan kue-kue tersebut. Sang nenek dan gadis berkerudung merah hanya bisa menganga lebar melihat betapa rakusnya Lindsey ketika makan.
"Kau terlihat sangat kelaparan, sudah berapa minggu kau tidak makan?" tanya gadis berkerudung merah pada Lindsey dengan nada meledek.
"Jangan mengejekku, aku lapar karena ulahmu."
"Ulahku?"
"Kau pikir siapa yang keras kepala dan tak mau mendengarkanku? Aku sudah bilang jangan masuk, kau justru masuk tanpa menghiraukan perkataanku."
"Aku kan tidak tau."
Nenek melerai pertikaian antara Lindsey dan gadis berkerudung merah.
"Sudah-sudah, jangan--"
Ting!
Sinar kalung Lindsey tiba-tiba bersinar dangat terang, membuat gadis berkerudung merah dan neneknya terkejut dan menjauh dari Lindsey.
"A-apa itu?" ucap Nenek terheran.
"Wah, sepertinya tugasku di sini sudah selesai. Aku sudah bisa pergi dari tempat ini. Terima kasih kuenya, ini sangat enak," kata Lindsey lalu beranjak untuk bersiap-siap.
"K-kau mau pergi kemana?" tanya gadis berkerudung merah pada Lindsey.
"Ke tempat yang sangat jauh. Sampai jumpa gadis berkerudung merah yang bawel, dan nenek juga."
"T-tunggu!"
Ting!
Hilang sudah Lindsey dari pandangan gadis berkerudung merah dan nenek. Mereka hanya bisa melebarkan matanya karena terkejut.
...***...
__ADS_1
Wuusshh!
Angin sepoi-sepoi membuat rambut kecoklatan Lindsey berterbangan mengikuti angin itu berlalu. Ia mencoba melihat sekitarnya dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Berharap bukan di tengah hutan.