Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Dark Magic Vessel – Chapter 2


__ADS_3

Hesley masih terdiam di penjara yang dibuat khusus oleh Glory. Yang bisa dia lakukan hanya diam, menghela napas, dan menahan rasa lapar serta dahaganya.


"Hei, kau!"


Hesley menoleh saat ada seseorang yang berusaha memanggilnya, orang tersebut juga berada di sekitar dirinya berada saat ini. Sepertinya orang itu juga dipenjara.


Dan benar saja, setelah Hesley beranjak dan mencari sumber suara, orang itu berada di samping penjara yang ditempati oleh Hesley. Seorang gadis yang sama sepertinya, hanya saja setengah wajahnya dipenuhi sisik ikan dan bentuk telinganya juga aneh.


"Siapa kau?" Tanya Hesley.


Orang itu terdiam sejenak. Tak lama dia menoleh dengan tatapan dingin nan tajam. "Sedang apa makhluk sepertimu ada di sini?"


"A-aku..."


"Aku heran kenapa Glory bisa memenjarakan mu, apa kau berbuat kesalahan? Atau berusaha menentangnya?" Tanya orang itu lagi, padahal pertanyaan sebelumnya belum sempat di jawab oleh Hesley.


"Tidak. Aku rasa...entahlah, tapi aku tidak melakukan kesalahan apa pun kecuali..." Balas Hesley ragu-ragu.


"Kecuali apa?"


"Sesaat setelah aku membuka buku kakakku." Ungkapnya.


Orang itu mengernyit. "Buku? Jadi, kau masuk ke penjara ini hanya karena membuka buku? So weird."


"Kau sendiri kenapa bisa dipenjara di sini?" Hesley mengalihkan topik. Tentu dia tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.


"Aku berusaha mencuri tongkat Glory. Tidak, lebih tepatnya mengambil kembali tongkat itu." Jawab orang itu jujur.


"Tongkat? Apa yang kau maksud itu--"


"Yaa, tongkat sungai perak. Itu milik kerajaan kami, tanpa itu kerajaan akan diterpa berbagai masalah." Potongnya.


"Jadi, tongkat itu dicuri oleh Glory?" Hesley mulai penasaran.


"Anak manusia memang tidak pernah puas jika belum mendapatkan hal yang lebih kuat, aku benci manusia." Kata orang itu sambil mengeraskan rahangnya. Terlihat sekali di mata Hesley.


"Tunggu, apa maksudmu dengan anak manusia?" Tanya Hesley mulai tersadar akan sesuatu.


"Glory, dia adalah anak manusia yang diselamatkan oleh ratu Florist saat dirinya hampir dibunuh oleh semua makhluk yang ada di Forestopia. Termasuk oleh kerajaanku saat itu." Jelasnya.


"Forestopia?" Hesley kembali bingung. Banyak sekali kata-kata asing yang sangat membingungkan dirinya.


Makhluk itu menatap Hesley dengan tajam. "Kau bukan berasal dari negeri ini, dari mana kau berasal?"


"Aku dari...bumi,"


"Kau pikir planet apa yang saat ini kita pijak? Ini planet bumi, jangan main-main denganku." Balasnya sedikit emosi.


Jadi, tempat ini juga bagian dari bumi? Gumam Hesley dalam hati.


"Apa kau tau jalan pulang menuju London?" Tanya Hesley pada orang itu. Entah mengapa Hesley malah bertanya jalan pulang pada orang asing yang aneh.


"London? Benda apa itu?" Bingung orang itu.

__ADS_1


"Itu bukan benda, itu tempatku berasal."


"Lagi pula aku tidak pernah mendengar nama London di sini."


"Astaga...sepertinya aku akan menunggu Lindsey datang menyelamatkanku." Ucap Hesley dengan nada pelan.


"Kau berharap akan ada yang menyelamatkanmu dari tempat ini? Cih, jangan terlalu banyak berharap. Penjara ini sangat kuat dan hanya Glory yang mampu membukanya, bahkan ratu Florist tidak bisa karena dark spell yang ada pada tubuh Glory terlampau kuat." Ungkap orang itu dengan nada menakuti.


"Kakakku pasti akan menyelamatkanku." Yakin Hesley.


"Oh ya? Kalau begitu kau tunggu saja malaikat penyelamatmu itu." Orang itu memilih membaringkan tubuhnya di lantai dingin itu.


"Kau sendiri bagaimana? Apa tidak ada keluarga atau teman yang berusaha untuk menyelamatkanmu?" Tanya Hesley. Dia sepertinya ingin mengetahui semua tentang orang itu.


"Tidak, semua orang takut berhadapan dengan Glory. Lagi pula tiga hari lagi aku akan dihukum mati." Katanya santai.


"Apa?! K-kenapa?" Kaget Hesley.


"Bukankah aku sudah mengatakannya?"


Hesley mengerutkan keningnya bingung.


Orang itu menghela napas kasar dan kembali menjelaskannya kepada Hesley. "Aku berusaha mengambil tongkat sungai perak yang dicuri oleh Glory." Paparnya kembali.


"Ibuku pasti akan kecewa karena aku tidak bisa membawa kembali tongkat kerajaan kami." Lirih orang itu.


"Tunggu, apa kau seorang bangsawan kerajaan?"


"Tentu saja, aku adalah bangsawan kerajaan Silver Down. Salah satu kerajaan bawah air di Forestopia." Ungkapnya.


"Kau pikir aku mau berada di sini?"


"HEI KALIAN! DIAM!" Teriak pengawal yang bertugas menjaga penjara. Kedua pengawal sepertinya mendengar teriakan Hesley yang terkejut karena orang yang saat ini mengobrol dengannya adalah seorang bangsawan.


"Cih! Sudah, lupakan pembicaraan kita. Aku lelah, mau tidur." Orang itu berusaha menyudahkan pembicaraan.


"Kita belum berkenalan." Ujar Hesley.


"Tidak perlu berkenalan. Namaku Yves."


"Kau bilang tidak perlu berkenalan, kenapa menyebutkan namamu sendiri?"


"Itu cara mermaid berkenalan,"


"Wait, are you a mermaid? The real mermaid?"


"Mengapa kau bertanya?"


"Aku belum pernah melihat mermaid, maksudku...hanya ketika aku sedang membaca dongeng tentang mermaid."


Orang itu beranjak dari lantau setelah mendengar kata dongeng keluar dari mulut Hesley. "Dongeng?"


"Ehm...kau tidak tau apa itu dongeng?"

__ADS_1


"Tidak, dan aku tidak peduli. Sekarang sebutkan namamu!"


"Ahh, na-namaku Hesley Lane."


"Hesley Lane?"


"I-iya..." Hesley mengangguk singkat.


"Nama yang aneh."


Aneh ya? Aku rasa itu masih normal. Batin Hesley.


"So, do you have a plan? To escape this prison?" Tanya Hesley pada Yves.


"Tidak, aku tidak punya rencana apa pun. Aku berharap Glory segera membunuhku karena aku tidak bisa membawa kembali tongkat milik kerajaan bawah air Silver Down. Aku sudah mengecewakan semua orang yang ada di Silver Down."


"Kau mau menyerah begitu saja dan pasrah dengan keadaan? Apa itu disebut sebagai bangsawan yang dihormati oleh rakyatnya?" Tutur Hesley tiba-tiba.


"Apa?" Yves menoleh.


"Kau bilang kau adalah seorang bangsawan, lebih tepatnya kau adalah seorang putri kerajaan Silver Down. Lantas, mengapa kau menyerah begitu saja? Pasti ada jalan lain untuk dapat merebut kembali tongkat itu dan menaklukan Glory." Hesley meyakinkan tekad Yves.


Yves mendekat ke arah penjara Hesley dengan tatapan marah. "Kau pikir ada orang selain ratu Florist yang bisa mengalahkannya? Tidak. Tak ada satu pun pemimpin setiap kerajaan yang ada di Forestopia yang dapat menaklukkannya."


"Kenapa kau begitu yakin?"


Yves mengerutkan keningnya. Hesley adalah orang yang tidak menyerah jika sudah menyangkut masalah pasrah dan menyerah. Walaupun dia sendiri sempat merasa hilang harapan, tapi setelah mendengar cerita Yves ia tersadar dan seharusnya tidak mengandalkan sang kakak. Ia juga harus berusaha untuk keluar dari penjara ini.


"Jika kita bekerja sama, pasti bisa mengalahkan Glory." Saran Hesley.


"Bekerja sama?"


"Kerajaan Silver Down bisa bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan lain yang ada di Forestopia, bukan?"


"Apa kau tau? Setelah kemunculan Glory yang menyebabkan berbagai macam kerusakan, semua kerajaan yang ada di sini tidak pernah lagi mau bekerja sama. Mereka memilih mementingkan kerajaannya sendiri demi melindungi rakyatnya."


"Kalau begitu kita yakinkan mereka supaya mau bekerja sama."


"Aku tidak yakin itu akan berhasil."


"Kita belum mencobanya, kita harus yakin dengan keputusan kita, Yves."


Yves terdiam merenungkan semua ucapan Hesley. Sembilan puluh persen perkataan Hesley membuat Yves sadar dan bertekad kembali.


"Kau benar, kita belum mencobanya."


Hesley tersenyum sumringah mendengar jawaban Yves yang setuju dengannya.


"Jadi, apa kau punya rencana?"


"Aku punya beberapa ide, dan aku membutuhkan bantuanmu." Kata Hesley tersenyum memikirkan ide yang ada di kepalanya.


...***...

__ADS_1


Yves



__ADS_2