
Masih di cerita Robin Hood, Lindsey dan kawan-kawan sedang berdiskusi untuk menemui Neil sekaligus menyelamatkan Robin dari penjara istana. Tak hanya itu, mereka berempat juga dibantu oleh warga desa yang saat ini juga ingin terbebas dari kekuasaan Neil.
Sungguh, awalnya Lindsey dan yang lainnya tidak percaya dengan kelakuan Neil yang sudah menyebar luas di seluruh negeri. Neil yang dikira anak baik ternyata 360 derajat berbeda dari yang dibayangkan.
Rencananya seperti ini, Lindsey dan Antlers bersama gadis yang waktu itu mereka temui di desa akan menyerahkan diri ke istana. Lalu, para warga desa mengalihkan perhatian dengan cara berdemonstrasi di depan gerbang. Setelah itu warga desa memberontak dan berusaha menyerang para pengawal istana untuk segera membebaskan Robin dan juga anak kecil dari desa mereka. Jangan lupakan Lindsey dan Antlers yang bersedia menjadi umpan juga.
Tentu, semua prajurit akan turun ke lapangan untuk menenangkan para warga. Di saat itulah Laurent dan Heyna menyelinap lewat pintu belakang menuju penjara bawah tanah. Bagaimana mereka bisa tau?
Akan ada salah satu warga yang membantu mereka. Pasalnya orang itu pernah masuk ke istana lewat pintu belakang saat masih menjadi pengawal sebelum kekuasaan Neil Scots.
Di saat semua warga sibuk berdemo, Laurent dan Heyna akan membebaskan Lindsey dan yang lainnya dari penjara, lalu kabur lewat pintu yang dipakai ketika mereka masuk menerobos ke penjara bawah tanah.
"Baiklah, semuanya kita harus bisa menyelamatkan Robin Hood. Ikuti rencana tadi, kalian mengerti?" ucap Lindsey menyudahkan diskusi.
"Yaaaa!!" semua orang bersorak semangat. Lindsey tak percaya jika rencana yang awalnya hanya coba-coba kini disetujui para warga.
Malam pun tiba, mereka pun bersiap melancarkan serangan.
Di dalam istana megah itu, seorang anak lelaki duduk santai di atas singgasananya. Dilihat dari wajahnya, ia sedang menunjukkan ekspresi kemarahan, Neil terus menembakkan anak panah ke sembarang arah. Bahkan hampir mengenai salah satu pengawalnya yang sedang menjaga pintu utama.
"CK! Berani-beraninya mereka menentangku," kesalnya.
Saat ia sedang menggumam kesal, salah satu pengawal masuk begitu saja lalu berjalan cepat ke arah Neil. Ia menunduk memberi hormat di hadapan Neil.
"Ada apa?" tanya Neil pada pengawal itu.
"Maaf Yang Mulia, para warga desa berkumpul di depan gerbang sambil terus mengatakan untuk segera membebaskan Robin Hood. Mereka juga meminta agar Yang Mulia segera meninggalkan negeri ini. Hanya itu yang bisa hamba katakan." jawab pengawal itu.
"Oh begitu rupanya, jadi mereka berani melawan." ujarnya, namun ia masih tidak yakin bahwa para warga memberontak karena kemauan sendiri.
"Aku yakin sekali, ada yang telah menghasut mereka." ucapnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia?" tanya pengawal itu.
"Awasi saja mereka, jangan sampai menerobos masuk. Akan kupikirkan strategi untuk menghentikan amukan tidak berguna mereka." jawab Neil dengan mata tajam bak elang.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia." Pengawal itu pun pergi meninggalkan Neil sendirian di singgasananya.
Neil pun berdiri dan berjalan menuju suatu tempat.
"Neil, kau hampir berhasil mengacaukan alur cerita ini. Lalu kenapa kau membiarkan para warga desa memberontak?" seru seseorang yang tak bisa ditangkap oleh mata telanjang.
"Diamlah, aku sedang berpikir." sergahnya.
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan?"
"Sepertinya ada orang lain dibalik semua ini." ucapnya curiga.
"Tunggu sebentar, apa semua pengawal turun tangan?" lanjutnya.
"Ya, semuanya ada di luar."
"Hmm ...."
"Ada apa?"
"Aku rasa aku tau apa yang sebenarnya terjadi di sini,"
Sesampainya di tempat tujuan ....
"Ayo cepat! Kita harus segera pergi sebelum ketahuan." seru Laurent dengan suara pelan agar tak ketahuan.
"Tidak secepat itu,"
Semua tahanan langsung menoleh ke sumber suara dengan sangat terkejut. Astaga! Tertangkap basah! Padahal rencana hampir berhasil.
"Wah, ada tamu tak diundang rupanya."
"S-siapa dia?" tanya Lindsey.
"Dia Raja Neil." jawab gadis kecil.
__ADS_1
"Neil?"
Neil yang kala itu tepat di hadapan mereka, sedikit terkejut dengan kalung-kalung yang dipakai oleh Lindsey dan kawan-kawan.
Kalung itu, jangan-jangan mereka. Batin Neil curiga.
"Siapa kalian? Kenapa kalian membebaskan tahananku?" tanya Neil dengan suara lantangnya. Sangat cocok menjadi antagonis.
"K-kami hanya anak-anak biasa, ya kan teman-teman? Hehe," jawab Lindsey terkekeh.
Astaga, di saat seperti ini Lindsey masih sempat-sempatnya bercanda. Batin ketiga temannya.
"Kalian berempat sangat asing bagiku, apa kalian yang telah membuat rencana konyol ini?" ucap Neil.
Dia tau rencana kita? Gumam Antlers.
Sial! Batin Heyna.
"Neil, sadarlah! Kau itu sama seperti kami. Ikutlah bersama kami untuk pulang ke rumah." seru Lindsey tiba-tiba. Yang lain hanya mengangguk cepat, mengiyakan ucapan Lindsey.
"Rumah? Hahaha! Apa kalian sedang berusaha menipuku? Tipuan yang menarik tapi tak akan mempan bagiku," tawa Neil pecah.
"Yang Mulia! Tolong bebaskan mereka berlima, biar aku saja yang tetap menjadi tawanan penjara." Robin angkat bicara dengan nada memohon.
"Robin ...."
"Tidak bisa! Kalian semua akan di penjara. Selamanya!" sergahnya kembali.
"Apa? Hei, asal kau tau saja ya! Aku lelah melakukan misi konyol ini, aku mau pulang dan kau juga harus ikut pulang bersama kami. Cukup dengan semua hal yang telah kau lakukan di dunia ini! Ayahmu sangat mencemaskanmu tau!" Lindsey kembali bicara. Seperti biasanya yang lain hanya mengangguk.
"Alasanmu tak masuk akal. Cepat masukkan mereka kembali!" suruhnya pada pengawal.
"Oh ya, jangan lupa ambil kalung permata dari keempat bocah ingusan itu. Bentuk dan warnanya sangat menarik untuk dipandang," ucap Neil tersenyum miring.
"Hah? Hei, jangan ambil kalung ini." Lindsey berusaha menggertak, namun kekuatannya jauh dari para pengawal itu. Marine ditarik paksa dari lingkaran leher Lindsey. Begitu pun dengan kalung lainnya.
__ADS_1
"Tidak! Lepaskan kami! Neil, kembalikan kalung itu!" teriak Lindsey sambil terus mendobrak-dobrakan jeruji besi yang sudah menahannya.
Pupus sudah harapan mereka untuk bisa kembali ke dunia nyata. Yang ada di dalam pikiran mereka saat ini hanya "Mati"