Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Erobos


__ADS_3

Malam kian larut, bulan dan bintang pun mulai muncul di gelapnya langit malam. Semuanya pun terlihat sangat kelelahan dan sudah tertidur lelap di dalam goa yang pengap. Namun, hanya satu orang yang masih belum terlelap oleh indahnya dunia mimpi. Ya, Antlers. Ia masih duduk termenung di depan goa dan menatap sendu ke langit malam yang menampilkan kilauan bintang-bintang.


"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Amethyst.


"Aku masih memikirkan rencana yang akan kita pakai besok," jawab Antlers sambil terus menatap langit malam.


"Apa kau khawatir jika rencananya gagal?" Tanya Amethyst lagi.


"Entahlah," jawab Antlers ragu.


"Antlers, ada yang ingin aku sampaikan mengenai Ruby, Marine, dan Emerald." Ujar Amethyst, kali ini terlihat serius.


"Apa?"


"Saat kalian sedang sibuk menyusun rencana, mereka menghubungiku—"


"Apa?!" Antlers terkejut.


"Mereka mengatakan bahwa Neil sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan dunia dongeng. Mereka tak sengaja mendengar percakapan antara Neil dengan seseorang. Namun, mereka tak bisa melihat orang tersebut," sambung Amethyst.


"Maksudmu ... orang yang berbicara dengan Neil adalah hantu?" Tanya Antlers.


"Entahlah, yang pasti mereka mendengar bahwa Neil mengucapkan kalimat 'kau hanya cincin' pada orang itu," jawab Amethyst.


"Cincin? Apa warna cincin itu?" Antlers kembali bertanya.


Seakan-akan ada saja masalah yang terjadi di dunia dongeng.


"Hitam," jawabnya singkat.


"Hei Antlers ... kau belum tidur? Hoaam ..." ucap seseorang dari arah belakang Antlers dengan suara kecil.


Dengan cepat Antlers menoleh ke sumber suara itu, "Lindsey?"


"Hm, sedang apa kau di sini? Tak bisa tidur?" Tanya Lindsey dengan mata yang masih tertutup.


"Ehm, tidak, aku hanya—"


"Hanya?"


"Lupakan saja, ayo masuk!" Ajak Antlers untuk masuk ke dalam goa dan kembali tidur.


"Iya, baiklah." Lindsey mengikuti Antlers dari belakang.


...***...


Kini matahari sudah mulai menampakkan wujudnya di langit pagi yang cerah, diikuti siulan burung dan gemercik air sungai yang menenangkan jiwa. Tupai-tupai pun berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya, dan hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Lindsey dan kawan-kawan. Rencana B dimulai.


"Baiklah semuanya, rencana menyelamatkan kalung permata dimulai!" Dengan semangatnya, Lindsey berseru sambil tersenyum.

__ADS_1


"Yaaa!" Sahut semuanya kompak, tak kalah bersemangat dari Lindsey.


Di perjalanan menuju istana Neil, sesuatu mengganggu pikiran Lindsey.


Ingat, jangan sakiti anakku.


Aakh! Kenapa kalimat itu terus menghantuiku! Teriak Lindsey dalam hati.


Di satu sisi, Antlers hanya diam semenjak keberangkatan mereka menuju istana Neil. Ia tertunduk dengan mata sayu, entah apa yang sedang ia pikirkan sampai termenung seperti itu. Ketiga temannya pun tak menghiraukan Antlers dan terus berjalan menuju istana. Menganggap bahwa Antlers baik-baik saja.


Sesampainya di depan gerbang istana, semua warga termasuk Lindsey dan kawan-kawan bersorak kencang hingga para pengawal yang bertugas nampak kewalahan menghadapi amukan warga.


"Ternyata mereka memang anak-anak yang terpilih untuk melawanku, aku akan menghabisi mereka semua!" Pekik Neil yang diam-diam memperhatikan dari kamarnya.


"Neil, bagaimana dengan pemindahan kekuatan keempat kalung permata? Kau tidak boleh melupakan misi kita di cerita ini," ucap cincin hitam.


"Ck! Diamlah, kau cerewet sekali," sergah Neil.


"Kau! Cepat ambilkan pedangku!" Titah Neil pada salah satu pengawal yang kini ada di hadapannya. Pengawal itu menurut dan mengambilkan sebuah pedang yang semalam baru diasah olehnya dengan hati-hati.


"Oh ya, sebaiknya aku melepaskan cincin ini. Aku tidak mau cincin ini menggangguku ketika berhadapan dengan anak-anak itu," ucap Neil segera melepaskan cincin permata hitam itu.


"Apa maksudmu? Kau tidak boleh melepaskannya," larang cincin itu.


Neil pun berusaha melepaskan cincin itu dari jari manisnya, namun sesuatu mulai terjadi, Neil tampak kesakitan di bagian kepala dan juga tubuhnya.


"K-kenapa kepalaku sakit sekali, aakkhh!" Erang Neil sambil memegangi kepalanya.


"Hahahaha! Anak malang, dengan begini aku bisa menguasai tubuhmu sepenuhnya. Sebelum berhadapan dengan anak-anak ingusan itu, aku akan megambil kekuatan dari kalung permata."


...**"...


Di depan gerbang suasananya masih ricuh oleh para warga yang berteriak dan menyerukan agar Neil pergi dari negeri mereka. Para pengawal yang berjaga pun terlihat sangat kewalahan menghadapi amukan dari para warga yang semakin menjadi-jadi, para warga tidak segan mendorong pengawal yang sedang berjaga di depan gerbang, hingga salah satunya terjatuh bahkan terluka akibat serangan warga.


"Neil, cepat keluar!" Teriak Lindsey, seperti pendemo.


"Pergilah, kalian tidak akan sanggup melawan Raja Neil," usir pengawal kerajaan yang datang dari dalam istana. Sepertinya bala bantuan telah datang.


"Dia bukan Raja di negeri ini, pergilah dari negeri kami!" Sergah salah satu warga.


"YAAA!" Yang lainnya menyahuti dengan kompak.


"Aku datang, wahai rakyatku ...."


Semua warga melangkah mundur ketika seseorang berjalan mendekat ke arah kerumunan warga. Neil sudah berada di depan mata.


"Aura itu ...."


"Hentikan semua ini Neil, ikutlah bersama kami dan pulang ke dunia nyata," ajak Lindsey pada Neil. Namun, Lindsey tidak tahu bahwa yang ada di hadapannya ini bukanlah Neil Scots.

__ADS_1


"Cih! Tidak akan," tolaknya tegas.


"Antlers, dia bukan Neil," ucap Amethyst.


"Apa?" Antlers terkejut dengan ucapan Amethyst.


"Aura itu ... tidak salah lagi, itu adalah Erobos."


"Apa? Erobos?" Lindsey yang mendengar percakapan Antlers dan Amethyst terkejut dengan nama asing yang menurutnya sangat aneh.


"Erobos adalah salah satu iblis jahat yang pernah dikurung di pohon Maple. Ia dikurung karena berusaha membunuh Ratu Florist, namun ia dinyatakan bebas setelah 100 tahun dikurung di dalam pohon itu," ujar Amethyst bercerita.


"Tunggu, kenapa harus pohon Maple?" Tanya Lindsey terheran.


"Saat itu pohon Maple adalah simbol kekuatan Ratu Florist, dan termasuk salah satu sumber kekuatan bagi negeri permata," sambungnya.


"Lalu?"


"Erobos kembali berulah dengan membunuh hampir seluruh makhluk hidup yang ada di negeri permata, seperti Elf, Fairy, Minotaur, Mermaid, dan masih banyak lagi. Hal itu membuat Ratu marah besar dan mengutuk Erobos menjadi cincin permata hitam, atau yang biasa kita sebut Black Sapphire." Amethyst kembali bercerita.


"Apa kalian juga dikutuk Ratu itu menjadi kalung permata?" Tanya Heyna.


"Kami tidak dikutuk, Ratu Florist memberikan kekuatan pada kami untuk mencegah bencana jika Erobos berulah kembali," sambung Amethyst.


"Tapi, sekarang ia telah berulah dan membuat kami sangat kesusahan," sahut Lindsey dengan wajah cemberut.


"Ada satu cara untuk bisa mengalahkan—"


"Katakan, apa yang harus kita lakukan untuk mengalahkan Erobos." Laurent semakin penasaran.


"Sebenarnya, aku tidak ingin mengotori tanganku hanya untuk menghabisi kalian semua. Membunuh kalian tidak berarti apa-apa bagiku," ujar Erobos yang semakin menunjukkan kesombongannya melalui senyum seringai wajah Neil.


"Jangan bercanda!" Sahut Lindsey yang terlihat sangat kesal dengan sikap Erobos.


"Lindsey, tenanglah ..." ucap Antlers berusaha menenangkan Lindsey.


"Kau akan dihukum atas perbuatanmu!" Lindsey semakin geram dengan sikap Erobos yang semena-mena di dunia dongeng.


"Sebaiknya kita jangan gegabah. Ikuti saja arahan Amethyst," ujar Antlers.


"Baiklah, aku mengerti." Lindsey menunduk.


"Ayolah, aku punya penawaran yang menarik untuk kalian." Erobos kembali berbicara.


"Omong kosong! Kami tak akan mendengarkanmu!" Balas Lindsey yang sudah menunjukkan wajah merah. Nampaknya ia akan meledak sebentar lagi.


"Katakan, apa yang sebenarnya kau inginkan," ucap Antlers dengan sikap tenang, ia mulai serius menanggapi ucapan Erobos.


"Aku tidak akan membunuh kalian berempat, dan aku akan memulangkan kalian ke dunia nyata dengan selamat," jawabnya santai.

__ADS_1


"Benarkah?" Seru Heyna dengan mata berbinar. Tak hanya Heyna, Laurent, Lindsey, dan Antlers mulai tertarik dengan penawaran itu.


"Ya, kenapa tidak? Aku bisa memulangkan kalian jika—"


__ADS_2