
"Glory?"
Suara yang begitu familier di pendengaran mereka. Suara yang membuat Lindsey dan teman-temannya harus menghadapi berbagai tantangan dan risiko berat yang dihadapi. Glory. Gadis yang ditakuti seluruh makhluk di Forestopia, pembuat masalah, penakluk para Siren.
"Tidak ada yang bisa mengalahkanku saat ini! Aku akan menjadi penguasa Forestopia!" Teriaknya dengan lantang dan menggelegar.
Mata Lindsey teralihkan pada sosok Hesley yang berada di samping Glory. "Apa yang sudah kau lakukan pada Hesley?" Tanyanya dengan wajah marah.
"Oh ... aku hanya meminjam tubuhnya untuk menyimpan beberapa sihir hitamku yang berharga." Jawab Glory dengan santainya.
Lindsey mengeraskan rahang saking marahnya. "Berani sekali kau mengatakan itu! Kembalikan adikku!" Katanya yang tak sadar melangkahkan kakinya menuju Glory.
"Lindsey, tenanglah ..." Antlers menahan lengan Lindsey.
"Kau harus menenangkan pikiranmu jika kau tidak ingin sihir hitam itu merasuki isi kepalamu lagi." Ungkap Yves.
"A-aku ... tidak mau hal itu terjadi lagi," kata Lindsey sambil tertunduk mengingat bagaimana dirinya dirasuki oleh sihir hitam dan hampir membahayakan keselamatan teman-temannya.
"Glory, lama tidak berjumpa ..." Ratu Florist menyapa dengan nada elegan.
"Ratu Florist, ternyata proses reinkarnasi berjalan dengan lancar ya ... lagi pula aku tidak terkejut sama sekali, aku tahu kau memang sekuat itu." Ucap Glory tersenyum tipis.
"Itu benar ... aku memang kuat, lalu kenapa kau masih berusaha untuk melawanku? Kau tidak takut aku mengurung mu lagi, Glory?" Sindir Ratu Florist.
"Aku tidak akan kalah lagi darimu, Ratu Florist. Kali ini aku tidak akan kalah." Erang Glory.
"Aku tidak yakin hal itu akan terjadi."
"Apa maksudmu?"
"Kita tidak akan pernah tahu semua hal yang terjadi akan berpihak kepada siapa, sihir hitam atau sihir murni." Kata Ratu Florist.
"Cih! Banyak bicara juga kau, kalau begitu aku akan melakukan hal yang seharusnya dilakukan sejak dulu. Yaitu mengalahkan mu!" Erang Glory kembali.
"Eh?"
Tiba-tiba Hesley menyerang dengan brutal. Kekuatan yang ada di dalam dirinya benar-benar menguasai seluruh pikiran dan raganya sehingga apa yang menjadi target serangan yang dikerahkan membuat belas kasihannya menjadi sirna.
"Hesley, hentikan!" Teriak Lindsey.
Hesley menghentikan serangannya sesaat setelah Lindsey meneriaki namanya. "Bagaimana dia tahu namaku?"
"Kau tidak perlu memikirkan itu, Hesley. Habisi mereka semua, sementara aku akan--"
Duar!
"E-eugh ... kau?"
__ADS_1
Ratu Florist memotong ucapan Glory dengan menyerangnya secara mendadak.
"Aku yang akan melawanmu, Glory. Bersiaplah ..." Ucap Ratu Florist mengambil ancang-ancang.
"Ratu Florist ... tentu saja aku terima tantanganmu, sang penguasa Forestopia."
"Lindsey, kau tidak apa-apa?" Antlers membantu Lindsey untuk berdiri. Serangan Hesley membuat semuanya tersungkur dan menara istana menjadi hancur lebur.
"Kekuatannya benar-benar dahsyat, lihat apa yang sudah dia lakukan sampai menara puncak istana Ratu Florist hancur seperti ini." Ucap Laurent sambil bergidik ngeri melihat apa yang ada di depan matanya saat ini.
"Lindsey, kita butuh rencana untuk mengalahkan adikmu. Sementara Ratu Florist melawan Glory." Desak Heyna pada Lindsey untuk membuat sebuah strategi.
"A-aku tidak mungkin melawan adikku sendiri ... aku terlalu--"
"Takut."
"Antlers, kau ...?"
"Aku paham apa yang kau rasakan, Lindsey. Melawan saudara sendiri memang sulit untuk dilakukan, tapi bukan berarti hal itu mustahil." Kata Antlers.
"Antlers ...,"
"Jika kau tidak bisa melakukannya, maka aku yang akan melakukannya."
"Tunggu, apa?"
"Itu karena kau bodoh, hahaha!" Ejek Heyna.
"Hei! Jaga ucapanmu, monster!"
"Apa katamu?!"
"Sudah hentikan, saat ini kita harus menyusun strategi untuk menyadarkan Hesley. Bukan begitu, Antlers?" Lerai Yves.
"Itu benar," Antlers mengangguk setelah Yves mengatakan bahwa ia memahami maksud Antlers. "Jadi, kau ikut untuk melakukan hal yang seharusnya kita lakukan, Lindsey Lane?"
Lindsey terdiam sejenak sambil menatap ke tanah yang ia pijak. Kepalanya berputar kembali, memorinya mengingat semua peristiwa penting yang terjadi dalam hidupnya selama berada di Forestopia bersama ketiga teman seperjuangannya. Mengingat semua itu membuat Lindsey tersenyum sekaligus menitikkan air mata tanpa disadari.
Lindsey mengusap air matanya lalu tersenyum dan menatap keempat temannya saat ini--termasuk Yves. "Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada bersama dengan kalian, ayo kita lakukan, teman-teman."
"Itu baru temanku yang pantang menyerah."
Heyna mengepalkan satu tangannya lalu memukul telapak tangan yang satunya sembari berseru dengan kencang. "Kalau begitu kita hajar anak itu sampai sadar!"
"Aku setuju!!" Seru Laurent yang ikut menggebu-gebu.
"Hei, bagaimana kalau kita buat nama untuk grup ini." Usul Laurent tiba-tiba.
__ADS_1
"Hah? Nama grup?"
"Iya, seperti Stone Seeker, sejak pertama kali aku mendengarnya aku langsung merasa bahwa nama itu sangat keren. Jadi, aku juga ingin punya nama untuk grup kita ini." Kata Laurent begitu semangat.
"Astaga kau ini, Laurent ... masih saja memikirkan hal yang tidak penting seperti itu saat situasi sedang genting begini." Heyna menepuk dahi tak habis pikir.
"Tapi, menurutku itu ide bagus." Sahut Lindsey yang diam-diam setuju dengan usulan Laurent.
"Apa? H-hei, aku tidak salah dengar kan?"
"Kalau begitu kau saja yang urus nama untuk grup kita ini, buat yang bagus ya ..." Ucap Lindsey memberi tugas itu kepada Laurent.
"Aku janji tidak akan mengecewakanmu." Laurent tersenyum senang.
"Teman-teman, aku sudah mengamati setiap pergerakan dan cara penyerangan yang dilakukan Hesley."
"Apa? Cepat sekali,"
"Jadi, bagaimana hasilnya?"
"Mendekatlah ..."
Antlers mulai menjelaskan semua yang telah diamatinya kepada teman-temannya, setelah itu mereka langsung mendiskusikan strategi yang bagus untuk menyerang balik lawan.
Di tengah penyusunan strategi, Ratu Florist dan Glory masih adu kekuatan di lapang kosong yang jaraknya cukup jauh dari lokasi Lindsey dan yang lainnya saat ini. Kekuatan mereka saling bersinggungan satu sama lain dan menghasilkan beberapa ledakan yang cukup besar dan berisiko merusak beberapa makhluk hidup sepertu tumbuhan. Tetapi hal tersebut tidak akan terjadi selagi Ratu Florist masih bernapas, dia dapat mengobati makhluk hidup yang terluka salah satunya adalah tumbuhan.
"Kau masih saja memperdulikan tumbuhan lemah itu,"
"Mereka tidak lemah, Glory." Balasnya sambil terus memperbaiki beberapa tumbuhan yang rusak akibat serangan keduanya.
"Selagi aku masih bernapas, mereka tidak akan mati sia-sia."
"Cih! Dari dulu kau memang sombong, Yang Mulia."
"Masih ingin bertarung, Glory?"
"Tentu, sampai salah satu dari kita tewas!"
"Sepertinya kali ini kau yakin dapat membunuhku, tapi dari yang aku lihat kau tidak sepenuhnya berniat melakukan itu padaku."
"Tutup mulutmu dan berhentilah basa-basi!"
"Baiklah, tapi sebelum itu kau harus ingat, Glory. Anak-anak bumi dari dimensi lain akan mengungkap kebenaran, cepat atau lambat kau akan menyadarinya."
"Apa maksudmu?"
"Hanya tinggal masalah waktu saja,"
__ADS_1
...***...