Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Elf Torlock – Chapter 3


__ADS_3

Sebuah rumah berukuran sedang, tidak besar tidak pula kecil. Rumah itu bernuansa seperti rumah-rumah yang ada di cerita dongeng. Sangat alami karena terbuat dari bahan-bahan yang ada di hutan.


Laurent memasuki rumah itu terlebih dahulu karena hanya dia yang mampu berkomunikasi dengan para Elf. Lalu disusul teman-teman yang lainnya.


"Selamat datang di Desa Elf, apa yang ingin kalian tanyakan padaku?" ucap Elf dengan wajah yang jauh lebih tua dengan wajah Elf lainnya. Sepertinya dja adalah kepala desa di desa Elf.


"Kedatangan kami di sini untuk menanyakan hal yang terjadi pada Caapal. Seorang Elf Torlock yang dibunuh oleh Glory beberapa hari yang lalu." jawab Laurent menggunakan bahasa Elf. Lindsey, Antlers, dan Heyna saling memandang satu sama lain. Ekspresi mereka mengatakan bahwa mereka bingung dengan semua kata yang keluar dari mulut Laurent.


"Laurent aneh sekali memakai bahasa Elf." bisik Heyna di telinga Lindsey dan Antlers. Sesekali dia menahan tawa karena menurutnya itu lucu.


"Ssttt jaga bicaramu, Heyna." ujar Antlers memperingatkan temannya itu untuk menjaga sikap.


"Apa? Caapal dibunuh?" Kepala desa Elf itu terkejut hingga hampir terjungkal.


Heyna tertawa gelak melihat tingkah kepala desa Elf yang hampir terjungkal ke belakang. Semua pengawal dan beberapa Elf yang ada di sana langsung menoleh dengan tatapan tajam ke arah Lindsey, Antlers, dan Heyna.


"Pssstt! Kenapa kau tertawa?" Lindsey menyenggol Heyna untuk berhenti menertawakan hal yang tidak semestinya di tertawakan.


"M-maaf, aku tidak bisa menahannya lagi." kata Heyna sambil menutup mulut dan menahan tawanya kembali.


Antlers dan Lindsey menghela napas kasar.


"Itu benar, saat kami semua datang ke rumah Caapal, di rumah itu sudah tidak ada siapa pun. Semua kondisi rumah berantakan kecuali salah satu ruangan yang sepertinya itu adalah kamar Caapal. Saat Amethyst menggunakan kekuatan pengembali waktu untuk melihat kejadian yang terjadi di ruangan itu, kami terkejut karena Glory berhasil membunuh dan mendapatkan telinga runcing milik Caapal." jelas Laurent melanjutkan cerita yang semestinya terjadi.


"Ini tidak bisa dibiarkan, kalian harus segera menghentikan Glory sebelum negeri ini hancur di tangannya. Jika negeri ini hancur maka otomatis desa kami juga akan hancur." pinta kepala desa kepada Laurent.


"Itu sebabnya kami datang ke sini untuk meminta petunjuk dari kalian. Apakah kita bisa melakukan sesuatu untuk menemukan adik Lindsey dan menghentikan Glory?" kata Laurent meminta saran dari sang kepala desa.


Kepala desa mengangguk singkat. "Ada."


"Apa itu?" Laurent terbelalak dan mulai fokus mendengarkan.


"Kalian harus pergi ke gunung Yoko." kata kepala desa


"Gunung Yoko? Di manakah itu?" tanya Laurent bingung.


"Di seberang desa ini, jika kalian berjalan dari bukit belakang maka kalian akan menemukan sungai yang tak jauh dari sini, dan aliran itu mengarah pada gunung Yoko." jelasnya.


"Baik, lalu apa lagi yang perlu kita lakukan? Maksudku, apakah kita harus melakukan sesuatu terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke gunung Yoko? Dan apa yang akan kita dapatkan jika sudah berada di sana?" tanya Laurent memastikan tak ada informasi yang terlewat sedikit pun.


"Gunung Yoko adalah tempat Ratu Florist memberikan kekuatan kepada Elf Torlock, temukan sebuah permata berwarna kuning keemasan yang ada di dalam gunung Yoko. Permata itu adalah sebagian dari kekuatan Elf Torlock, pelindung desa Elf."


"Baiklah, aku mengerti." Laurent mengangguk singkat.


"Ehm...Laurent? Bagaimana?" Lindsey berucap.

__ADS_1


"Aku akui kau hebat berbicara dengan para Elf itu," ujar Heyna tersenyum meledek ke arah Laurent.


"Cih! Kau baru mengetahuinya huh?" sombong Laurent.


"Sombong sekali, baru saja aku puji sudah seperti itu."


"Ahh, kau mengalihkan topik!" Laurent mengerang, dia bahkan hampir melupakan misi mereka untuk pergi ke gunung Yoko.


"Baiklah, jadi begini...kepala desa ingin kita pergi ke gunung Yoko." ungkap Laurent langsung kepada inti dari apa yang didapatkan dari kepala desa.


"Gunung Yoko?" semua orang bertanya-tanya.


"Akan ku jelaskan secara singkat." Marine berucap, "gunung Yoko adalah gunung berapi aktif di lembah ini. Dulu saat Elf Torlock diberi kekuatan oleh ratu kami, yakni ratu Florist. Di gunung itu para Elf Torlock membagi kekuatannya dan memasukannya ke dalam sebuah batu permata berwarna kuning yang disembunyikan di dalam gunung Yoko. Konon, tidak ada yang bisa memasuki gunung itu sampai ke inti dalam karena hanya orang berhati murni yang bisa memasukinya."


"Berhati murni?"


"Besok pagi, kita akan melanjutkan perjalanan menuju gunung Yoko. Aku sudah meminta izin kepada kepala desa untuk memberikan kita tempat tinggal sementara." ungkap Laurent.


"Benarkah? Kau benar-benar yang terbaik, Laurent. Aku bangga padamu." Heyna menepuk pundak Laurent dengan kencang tanda bangga.


"Ishh, jangan menepuk pundakku dengan kencang! Sakit tau!"


"Haha baiklah aku minta maaf,"


"Kalau begitu ayo kita istirahat,"


Para pengawal desa mengantarkan Lindsey dan kawan-kawan menuju tempat penginapan yang lokasinya tak jauh dari rumah kepala desa.


"Ini adalah tempat tinggal kalian sementara." kata kedua pengawal itu.


"Moribat, Elf bur." balas Laurent sambil tersenyum.


"Naur." kedua pengawal itu pergi setelah mengatakan hal yang tidak dimengerti oleh Lindsey, Heyna, dan Antlers.


"Hei, kapan-kapan ajari aku bahasa Elf ya?" ujar Heyna dengan wajah meledek Laurent.


"Kau yakin mau belajar bahasa mereka?"


"Tentu saja tidak, berbicara denganmu saja membuatku kerepotan. Sudah ya, aku mau tidur."


"A-apa?! Dasar kau ini!"


Ketika Laurent dan Heyna bertengkar kecil. Lindsey termenung di depan penginapan berukuran mini itu sambil menatap langit.


Sesekali ia menghela napas kasar begitu mengingat hal yang terjadi pada adiknya.

__ADS_1


"Hei, sedang apa di sini?" tanya Antlers yang datang tiba-tiba menepuk pundak Lindsey.


"Menatap langit karena aku membencinya."


"Kalau membencinya kenapa kau menatapnya?"


"Terkadang hal yang aku benci menjadi hal yang aku rindukan."


"Ahh, aku mengerti apa maksudmu."


Lindsey menatap Antlers bingung. "Sungguh?"


"Tidak juga,"


"Ahh, kau ini!"


"Hanya bercanda, hehe. Lagi pula apa yang kau katakan tadi itu benar."


"Benar? Apa maksudmu?"


"Benar bahwa hal yang kita benci menjadi hal yang paling dirindukan. Aku paham maksudmu mengatakan itu, kau merindukan adikmu yang walaupun sangat menyebalkan tetapi karena dia adalah orang yang sedarah denganmu tentu membuatmu khawatir apalagi rindu."


"Aku juga merindukan seseorang saat ini, sayangnya dia sudah tidak ada."


"Siapa?"


"Adikku."


"Adikmu?"


"Yaa, adikku yang meninggal lima tahun yang lalu karena kesalahan yang ku perbuat." tiba-tiba suasana menjadi sendu.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu mengingat adikmu yang sudah--"


"Tidak, ini bukan salahmu."


Lindsey merenung merasa bersalah karena sudah membawa ingatan pahit yang dirasakan Antlers saat ini.


...***...


Ilustrasi desa Elf



Lembah Elf

__ADS_1



__ADS_2