Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Fog Forest – Chapter 1


__ADS_3

Gunung Yoko tempat disimpannya batu permata Amber. Salah satu batu permata yang menyimpan setengah kekuatan Elf Torlock, konon katanya kekuatan itu setara dengan kekuatan Ratu Florist.


Keesokan harinya, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya ketika mereka meminta saran kepada kepala desa Elf untuk melanjutkan perjalanan menuju gunung Yoko. Tempat yang digunakan untuk mentransfer kekuatan Elf yang sudah dilakukan selama beribu-ribu tahun lamanya.


Lindsey dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hal itu diungkap oleh Marine bahwa mereka harus menghemat energi kekuatan jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan mendesak.


Di perjalanan yang sangat melelahkan, Laurent dan Heyna nampak lunglai sehingga membuat perjalanan menjadi lama.


"Kalian kenapa?" tanya Antlers pada keduanya.


"Bisakah kita istirahat sebentar? Kakiku keram dan rasanya sudah tidak bisa digerakkan lagi," keluh Heyna sambil memegangi kedua lututnya.


"Heyna benar, kita sudah berjalan kurang lebih dua jam." sahur Laurent yang menyetujui ucapan Heyna.


"Ehm...baiklah, kita istirahat dulu." ucap Lindsey mengiyakan.


Mereka pun berhenti melakukan perjalanan menuju gunung Yoko untuk sekedar mengistirahatkan kaki ramping nya.


"Apa kalian tidak merasa lapar?" tanya Laurent tiba-tiba.


"Di sini tidak ada makanan, apakah kita harus puasa?" sahut Antlers dengan nada meledek Laurent.


"Ahhh, tidak! Perutku sudah bergejolak sangat kencang! Tolonglah beri aku makanan." rengek Laurent seperti bayi.


"Ehm...aku akan mencarinya di sekitar pinggiran sungai, siapa tau ada ikan segar untuk kita makan atau buah-buahan yang bisa kita makan."


"Kau memang yang terbaik, Lindsey." Heyna memberikan Lindsey dua jempol.


"Aku ikut denganmu." Antlers mengajukan diri.


"Tidak apa-apa, Antlers. Kau di sini saja bersama mereka, kau juga harus beristirahat, biar aku yang mencari makanannya."


"Tapi--"


"Biar aku saja yang menemani Lindsey untuk mencari makanan," ucap Marine sudah terbang di samping Lindsey.


Lindsey tersenyum mengangguk setuju.


"Ya sudah, hati-hati."


"Okey."


Lindsey dan Marine menyusuri pinggiran sungai, namun mereka tak bisa menemukan ikan di sungai itu. Lindsey pun beralih memasuki hutan kembali untuk mencari apakah ada buah atau sejenisnya yang bisa dikonsumsi.


Tiba-tiba saat menyusuri hutan, kabut tebal datang dan menghalangi pandangan mereka.


Lindsey dan Marine hampir terpisah akibat kabut tebal yang membuat mereka tak bisa melihat satu sama lain.


"Marine, tetaplah di sampingku." panik Lindsey.


"Kau tenang saja, kabut ini hanya datang melalui angin barat. Dia akan menghilang sebentar lagi, jadi kita hanya harus tetap diam." saran Marine.


"Baiklah, tapi bagaimana dengan teman-teman yang lain? Apa mereka baik-baik saja?" khawatir Lindsey pada teman-teman yang ia tinggalkan tadi.


"Mereka akan baik-baik saja, karena kabut ini hanya melewati hutan di sini."


Mendengar hal tersebut Lindsey menghela napas lega.


"Lindsey, hati-hati dengan langkahmu."


"A-apa? Memangnya kenapa?" terkejut dengan ucapan Marine yang tiba-tiba, Lindsey memandang ke bawah untuk berjaga-jaga.


"Saat kabut tebal berhembus dari arah barat tandanya tumbuhan merambat sedang mencari mangsa. Mereka biasa memakan makhluk hidup yang memiliki ketakutan." ungkap Marine.

__ADS_1


"A-apa?"


"Kau tidak perlu memikirkan hal-hal yang menakutkan, aku ada di sini untuk menjagamu. Aku bersumpah."


"Baiklah, aku akan berusaha untuk tidak memikirkan hal yang menyeramkan." Lindsey mulai berpikir positif.


Tak lama kemudian kabut tebal yang menghalangi pandangan mereka menghilang secara perlahan. Akhirnya keduanya menghela napas lega karena tidak menjadi mangsa tanaman merambat yang memakan makhluk dengan rasa takut di dalam dirinya.


"Kita harus segera mendapatkan makanan, mereka pasti sudah menunggu kita."


"Huft...mau bagaimana lagi, hutan ini sangat jarang ditemukan makanan yang bisa dikonsumsi."


"Lalu, bagaimana sekarang?"


Kesrekk! Kesrekk!


"A-apa itu?"


Suara gemerisik dari semak membuat Lindsey bergidik ngeri. Marine dengan sikap berjaga siap melindungi Lindsey.


Tiba-tiba sosok laki-laki dengan anal panah dan busur di belakang pinggangnya menatap Lindsey dan Marine.


"Eh? Robin Hood?" Lindsey tersentak dengan kemunculan sosok yang dikenalinya itu.


"Oh? Hai, Lindsey." sapa pria yang diduga bernama Robin Hood itu.


"T-tunggu sebentar, kenapa kau ada di sini?"


"Entahlah, aku juga tidak tau. Saat aku dan teman-temanku menyusuri hutan untuk mencari makanan, aku sudah berada di sini. Aku juga tidak bisa menemukan teman-temanku."


"A-apa?"


"Marine, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lindsey yang juga kebingungan dengan kehadiran Robin Hood.


"Hm? Glory?" Robin mulai bertanya-tanya.


"LINDSEY!!"


"MARINE! KALIAN DI MANA?!"


Suara teriakan menggema memanggil nama Lindsey dan Marine.


"Itu suara Heyna dan Antlers. Sepertinya mereka mencari kita, Marine." ucap Lindsey.


"Aku akan memberi sinyal bahwa kita ada di sini."


Criing!


Cahaya khas yang keluar dari tangan Marine menjulang ke langit.


"Syukurlah, akhirnya kami bisa menemukan kalian,"


"Maafkan kami, Lindsey, gara-gara kami kau dan Marine harus tersesat di hutan."


"Tidak, ini bukan salah kalian. Oh ya, coba kalian lihat." Lindsey menunjukkan keberadaan Robin Hood.


"Robin Hood?"


"Hai...apa kabar."


"Hei, kenapa dia bisa ada di sini?"


"Itulah yang sedang kami pertanyakan, kenapa Robin bisa ada di sini."

__ADS_1


"Maaf menyela, kita harus melanjutkan perjalanan mengingat waktu kita saat ini tidak banyak untuk mendapatkan batu Amber."


"Kau benar, Ruby."


"Tunggu dulu,"


"Ada apa?"


"Kita belum makan apa-apa, aku sungguh sangat lapar." keluh Laurent.


"Astaga..."


"Ini makanlah." Tiba-tiba Robin memberikan buah apel kepada Laurent.


"Eh? Dari mana kau mendapatkan buah apel?" Lindsey bertanya-tanya. Pasalnya sejak tadi dia tidak menemukan pohon buah atau semacamnya.


"Buah ini aku temukan saat menyusuri hutan, aku tidak mengambil banyak, hanya untuk diriku sendiri. Tapi sepertinya kau membutuhkannya. Ambillah." Robin menyodorkan apel itu.


"Terima kas--"


Heyna menyenggol bahu Laurent dan memberi kode untuk tidak menerima buah itu dari tangan Robin.


"Tapi aku lapar,"


"Tidak apa-apa, ambil saja. Aku masih punya banyak apel di sekitar sini." Robin tersenyum untuk meyakinkan Laurent.


"Tunggu sebentar..." Antlers mulai curiga dengan Robin.


Antlers mendekati Robin Hood dengan tatapan tajam. "Siapa kau?"


"Kenapa kau menanyakan hal itu?"


"Aku tanya sekali lagi, siapa kau?" tanya Antlers pada Robin.


"Aku? Aku Robin Hood," jawabnya dengan santai.


"Oh ya? Buktikan!"


"Apa?"


"Buktikan bahwa kau adalah Robin Hood yang kita kenal."


"Bagaimana caranya aku bisa membuktikannya? Aku ada di hadapanmu saat ini."


"Cih! Aku sudah tau, kau bukanlah Robin Hood."


"Apa?!"


"Robin Hood selalu membawa hasil curiannya di dalam tas itu, entah itu emas, permata, uang, atau barang berharga lainnya, tetapi kau malah membawa apel-apel itu di dalam tasmu. Bukankah kau adalah pencuri, Robin?"


"Karena aku membutuhkan apel-apel ini, jika aku tidak makan aku akan mati, bukan begitu?"


"Dan satu hal yang membuatku janggal, kau mengatakan bahwa 'Aku masih punya banyak apel di sekitar sini'. Apa maksud memiliki banyak apel di sekitar sini? Apa karena kau adalah penghuni di hutan ini?"


"Jangan-jangan..." Lindsey dan yang lainnya memundurkan langkah.


Robin menyeringai.


"Kau hebat sekali, Antlers Gardy."


"A-apa?!"


...***...

__ADS_1


__ADS_2