
Lindsey memegang botol itu sambil memohon sesuatu di dalam hatinya. Tak lama kemudian ia menuangkan beberapa tetes air itu ke dalam lava panas yang meluap dan menyala-nyala.
"Bagaimana hasilnya?"
Lindsey berjalan mendekati luapan panas dari lava itu dan sontak saja membuat teman-temannya terkejut bukan main.
Dia berniat menyentuh lautan lava itu menggunakan tangan kosong untuk memastikan apakah keinginannya dipenuhi oleh air keinginan atau tidak.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" Teriak Laurent panik melihat gelagat Lindsey yang hendak menyentuh lava panas itu.
"Aku ingin memeriksa apakah lava ini sudah bisa di sentuh atau belum." Sahut Lindsey hanya menolehkan kepalanya.
"Have you lost your mind?" Pekik Laurent tak habis pikir dengan apa yang tengah dipikirkan oleh Lindsey.
"Kalau tidak berhasil bagaimana? Tanganmu bisa saja terluka, Lindsey." Khawatir Antlers.
"Kita tidak akan pernah tau jika tidak dicoba. Bukan begitu, Heyna?" Ujar Lindsey sambil menoleh ke arah Heyna yang masih beristirahat.
Heyna tersentak dengan ucapan Lindsey barusan. Dia mengutip kata-katanya. "Eh? Ehm...ya itu benar, tapi kan itu--"
"Aku tau ini berbahaya, sangat berbahaya. Tapi ini harus dilakukan supaya batu permata Amber bisa kita dapatkan." Potong Lindsey.
"Tapi--"
"Percayalah padaku. Kalian percaya pada teman sendiri, kan?" Ucap Lindsey berusaha membuat teman-temannya mempercayai idenya.
Antlers yang nampak khawatir hanya mampu menghela napas kasar dan mengangguk singkat. Tetapi ia masih ragu dengan keputusan Lindsey untuk menyentuh benda cair yang meletup-letup dan bersuhu di atas 100 derajat celsius itu.
"Hati-hati,"
Lindsey mengangguk singkat dan segera mendekati lava itu. Saat tangan Lindsey menyentuhnya, ia tidak merasakan panas sama sekali. Justru yang ia rasakan adalah suhu sedang.
"Ini tidak terasa panas sama sekali, suhunya sama seperti air telaga yang ada di goa." Ungkap Lindsey.
Antlers dan yang lainnya menghampiri Lindsey untuk langsung memeriksanya.
"Kau benar, bagaimana bisa lava ini tidak terasa panas?" Heyna bertanya-tanya.
"Itu berkat air keinginan yang aku tuangkan ke lava ini, dan ternyata berhasil." Jawab Lindsey.
"Kau hebat sampai bisa memikirkan hal seperti itu." Puji Antlers pada Lindsey.
Lindsey tersenyum senang mendengar Antlers memuji dirinya.
"Ruby, bisakah kau membantuku?" Tanya Lindsey.
"Tentu, apa yang kau butuhkan, Lindsey?"
"Aku ingin kau melakukan hal yang sama, saat kau dan Heyna menyeberangi lautan lava ini sebelum suhunya rendah. Tapi kali ini aku yang akan mengambil batu Amber itu." Pinta Lindsey.
Tanpa berkata apa-apa lagi Ruby langsung mengubah dirinya menjadi elang raksasa, Lindsey pun langsung menaiki punggung Ruby dan terbang untuk mengambil batu permata itu.
__ADS_1
Ruby terbang dengan cepat dan cekatan. Timing nya sangat bagus sehingga memudahkan Lindsey meraih batu permata Amber.
"Yeay! Kau hebat, Lindsey!" Sorak Heyna memberi tepuk tangan kepada Lindsey.
"AKU BERHASIL!" Teriak Lindsey sambil mengangkat tinggi-tinggi batu permata Amber ke arah teman-temannya saking gembira.
Lindsey yang sudah berhasil mendapatkan batu permata Amber turun dari punggung Ruby dan langsung menghampiri yang lainnya untuk menunjukkan batu itu.
"Amber, kau aman sekarang." Ucap Marine tiba-tiba.
"Eh?" Bingung Lindsey dengan maksud ucapan Marine.
Criing!!
Cahaya yang keluar dari Amber membuat Lindsey dan yang lainnya terkejut. Tiba-tiba, batu permata itu berubah menjadi Elf kecil yang manis dan lucu. Ahh sangat menggemaskan.
"Batu permata itu...berubah?!" Kaget Heyna.
"Hai semuanya! Senang bisa bertemu kalian lagi," sapa Amber kepada para batu permata.
"Hai juga, Amber. Bagaimana kabarmu? Pasti melelahkan berada di antara lautan lava, bukan?" Balas Emerald.
"Kau benar, itu sangat melelahkan. Aku berterima kasih kepada kalian semua karena sudah mengeluarkan ku dari lautan lava itu." Ucap Amber berterima kasih.
"Itu bukanlah masalah, Amber." Ujar Amethyst.
"Kami senang bisa membantu, bukan begitu teman-teman?" Kata Ruby menatap Lindsey dan teman-temannya yang masih terlihat syok atas perubahan Amber di hadapan mereka.
"Apa para manusia ini adalah Tuan kalian?" Tanya Amber pada para batu permata.
"Tuan?" Lindsey nampak bingung.
"Yaaa, mereka adalah Tuan kami." Jawab Marine.
"Ahhh, kalian sangat beruntung mendapatkan Tuan yang sangat baik. Aku iri," erang Amber sambil memperlihatkan wajahnya yang manis dan menggemaskan.
"Amber, apa maksudmu dengan Tuan?" Heyna angkat suara.
"Eh? Kalian tidak tau ya?" Tanya Amber. Lindsey, Antlers, Heyna, dan Laurent hanya menggeleng.
"Kalian ini adalah pemilik atau Tuan para batu permata. Di mana sebelumnya kalian diseksi oleh batu permata untuk bisa menjadi Tuan mereka suatu hari nanti. Dan ternyata kalian lah orangnya, yang cocok dijadikan Tuan oleh batu permata."
"Ahh...begitu rupanya."
"Tapi dibandingkan dengan menyebut pemilik atau Tuan, kata Teman jauh lebih baik, bukan?" Ungkap Lindsey tersenyum ke arah para batu permata.
"Lindsey..." Marine terenyuh dengan ucapan Lindsey barusan. Dia melihat ketulusan dari hati Lindsey, yang tidak dimiliki oleh siapa pun.
"Marine, Ruby, Amethyst, Emerald, dan Amber. Kalian adalah teman kami, dan kami bukanlah Tuan kalian." Antlers menambahkan dan mempertegas pernyataan bahwa para batu permata tidak memiliki Tuan melainkan Teman.
"Baiklah kalau begitu. Jadi, apa alasan kalian mengeluarkan ku dari lautan lava?" Tanya Amber langsung pada inti topik.
__ADS_1
Heyna menyenggol bahu Lindsey pelan untuk memberi isyarat agar dia yang memberitahukan sebenarnya kepada Amber.
"Ehm...sebenarnya kami ingin meminta bantuanmu, Amber."
"Bantuan yang seperti apa? Katakan saja padaku, aku pasti akan membantu semampuku."
"Adikku...dia diculik oleh Glory." Ungkap Lindsey langsung berwajah murung.
"A-apa?! Glory katamu?" Kaget Amber sampai tak bisa berkata-kata.
Antlers mengambil alih untuk menjelaskan semuanya kepada Amber.
"Awal kedatangan kami di sini adalah untuk mencari adik Lindsey yang hilang secara misterius. Marine pun memberitahu pada kami bahwa itu adalah ulah Glory, kami pun di bawa kesini dan diarahkan untuk menemui Caapal. Tapi, sayangnya Caapal sudah tiada karena dibunuh oleh Glory sebelum kami sampai di rumahnya.
"Alhasil kami pun pergi ke desa Elf untuk meminta petunjuk dari kepala desa Elf, dan beliau mengatakan kita harus pergi ke gunung Yoko. Tempat di mana para Elf Torlock diberikan kekuatan oleh ratu Florist dan mentransfer setengah kekuatan itu untuk dimasukkan ke dalam batu permata Amber." Jelasnya panjang lebar.
"Ahh begitu rupanya..." Amber mengangguk mengerti.
Amber terdiam sejenak sambil memejamkan kedua matanya. "Glory sedang merencanakan sesuatu." Katanya.
"Merencanakan apa?" Tanya Lindsey, semuanya juga nampak penasaran.
"Dia baru saja mengambil mahkota ratu Florist yang dijaga oleh penduduk negeri bunga." Ujar Amber setelah selesai memejamkan matanya cukup lama.
Amber sebenarnya bisa merasakan apa yang terjadi pada para Elf, karena di dalam dirinya terdapat kekuatan Elf terkhusus Elf Torlock.
"Mahkota?"
"Gawat, jika dia sudah mendapatkan mahkota itu, kita tidak boleh membiarkannya sampai ke istana ratu Florist." Kata Marine panik.
"Memangnya kenapa? Bukankah ratu kalian itu sangat kuat? Kalau Glory melawan Ratu, mungkin Glory akan kalah." Seru Heyna.
"Itu benar, tapi masalahnya sang ratu sedang melakukan proses reinkarnasi." Ujar Amethyst.
"Reinkarnasi?"
"Apa maksudmu, Amethyst?"
"Setiap bulan purnama biru, ratu Florist lahir dan mati secara bersamaan. Negeri Forestopia hanya memiliki satu ratu yang yak tergantikan. Dia adalah ratu Florist. Sang ratu rutin melakukan reinkarnasi selama seribu tahun sekali." Cerita Marine panjang lebar.
"Seribu tahun?"
"Di dunia kalian seribu tahun itu lama, tapi di Forestopia seribu tahun sama dengan sepuluh tahun."
"Sepuluh tahun?"
...***...
Ilustrasi Amber Stone
__ADS_1