
Sebelum benar-benar berpindah ke cerita lain, Marine dan Ruby menempatkan Lindsey dan Heyna di dalam dimensi ruang dan waktu terlebih dahulu.
"Apa kita akan memasukkan mereka ke cerita itu, Marine?" tanya Ruby.
"Aku rasa begitu, lebih cepat lebih baik." jawab Marine.
Kedua kalung itu sedang berbicara mengenai cerita yang akan mereka datangi.
Setelah perbincangan antara Marine dan Ruby di dimensi ruang dan waktu, akhirnya dua kalung itu kembali menggunakan kekuatannya untuk menempatkan Lindsey dan Heyna di dalam cerita dongeng.
Criing!
Mata Lindsey yang tadinya tertutup kini mulai terbuka perlahan, sesekali ia menengok ke sembarang arah untuk melihat sekitarnya.
"Pulau ini kan ...." Lindsey mengingat, dia merasa tak asing dengan tempatnya berdiri saat ini.
Heyna yang ada di sebelah Lindsey ikut menengok ke sembarang arah. "Ada apa?" tanyanya.
"Saat ini kau berada di cerita Guliver," sahut Marine.
"Benarkah?" Lindsey terkejut.
"Aku pernah mendengar sedikit cerita ini di Australia." sela Heyna.
Lindsey menoleh. "Ya, cerita ini cukup terkenal di Inggris." ucapnya
"Tunggu sebentar. Marine, apa kita berada di negeri Liliput?" Tanya Lindsey.
"Kalian tepat berada di mana Guliver terdampar," jawab Marine.
"Tapi, aku tidak melihat siapapun di sini?"
"Guliver sudah masuk ke kerajaan Liliput, kalian bisa masuk sekarang."
Mereka pun masuk ke dalam negeri Liliput, dan dikejutkan dengan kehadiran makhluk-makhluk kecil yang membawa tombak di tangannya.
"Mereka terlihat sangat marah," ucap Lindsey mengumpat di belakang Heyna.
"K-kau benar, apa yang harus kita lakukan?" Ujar Heyna.
"Siapa kalian? Mau apa kalian ada di negeri Liliput?" Seru salah satu dari mereka.
"Eh? K-kita, umm ...."
"Berhenti!" tiba-tiba seseorang dengan tubuh yang lebih besar dari bangsa Liliput berlari ke arah Lindsey dan Heyna. "Jangan sakiti mereka," ujarnya.
"Guliver? Kenapa kau ada di sini? Bukankah Raja menyuruhmu untuk membuat bendungan?" Kata orang-orang Liliput pada Guliver.
"Aku sedang mengerjakannya, tapi dari kejauhan aku mendengar suara kalian yang terdengar sedang marah. Itu sebabnya aku kesini. Memangnya apa yang terjadi? Apa mereka membuat kerusakan?"
Ketika Guliver sedang menjelaskannya pada bangsa Liliput. Lindsey dan Heyna menyadari sesuatu, kalung mereka bersinar secara bersamaan. Membuat keduanya bingung dan bertanya-tanya pada kalung mereka.
"Lindsey, aku merasakan aura kalung Emerald di sekitar sini." ucap Marine.
"Jangan-jangan ...."
__ADS_1
"Aku melihatnya, cahaya itu ada di sebelah sana. Warnanya hijau menyala." Heyna memotong ucapan Lindsey dan menunjuk cahaya yang dimaksud.
"Kau benar, apa mungkin dia salah satu orang yang terjebak di dunia dongeng?" Tanya Lindsey.
"Iya kalian benar, anak itu bernama Laurent, dia sudah terjebak di sini selama tiga tahun." Sahut Ruby.
"Lindsey, Heyna, ikuti arahan yang sudah kurencanakan." Jelas Marine.
"Baiklah,"
Lindsey dan Heyna pun mendengar dengan seksama ucapan Marine dan Ruby untuk menyelamatkan alur cerita Guliver. Mereka hanya mengangguk pelan menandakan bahwa mereka mengerti dengan arahan yang diberikan Marine.
Criing!
Seketika Lindsey berubah menjadi kecil, sekecil bangsa Liliput. Guliver dan orang-orang kecil pun terkejut dan berusaha menjauhkan diri dari Lindsey.
"K-kenapa kau bisa mengecil seperti ini? Kalian penyihir ya?!"
"Bisa dibilang seperti itu, kami datang ke sini karena mendapatkan sebuah misi untuk membantu Guliver dan negeri Liliput dari ancaman bahaya. Esok hari, Raja dari negeri seberang akan menyerang negeri kalian." Jelas Lindsey.
"B-bagaimana kau bisa tau? Hanya aku dan Raja yang tau hal itu." Guliver terkejut dengan perkataan Lindsey.
"Bukankah kalian menganggap kami penyihir? Anggap saja kalau kami bisa membaca pikiran kalian." Heyna menyela.
"T-tidak mungkin, kami--"
"Sudah, lebih baik kita persiapkan diri untuk membuat strategi. Guliver, kau sudah tau kan apa yang harus kau lakukan untuk menyelamatkan negeri ini?"
Guliver terdiam memikirkan sesuatu. "Kalian benar, lebih baik aku membuat rencana."
"Penduduk sekalian, bisakah kalian menyiapkan tali yang diberi kail pada ujungnya? Kita butuh itu,"
"Apa yang bisa kubantu Guliver?" Heyna mengajukan diri untuk membantu, karena ia satu-satunya orang yang seukuran dengan tubuh Guliver.
"Tentu, ikut aku ...."
Sesuai rencana Marine, Lindsey masuk ke dalam kota kecil itu sambil mencari Laurent. Aura hijau kalung Emerald milik Laurent semakin melemah, membuat Lindsey kewalahan mencari cahayanya kembali.
"Duh, aku tidak bisa melihat aura itu lagi, Marine."
"Aku sudah berhasil melacak aura itu, ada di sana!"
Lindsey langsung berlari ke arah yang ditunjukkan Marine melalu cahaya kalungnya. Dan akhirnya ia menemukan Laurent sedang duduk di pinggiran sungai sambil melempar batu-batu yang ada di sampingnya.
"Hei kau, apa yang lakukan di sini? Semua orang sedang sibuk untuk membuat bendungan, kenapa kau malah bersantai di dekat sungai seperti ini?" Ledek Lindsey pada anak itu.
"Kau sendiri sedang apa di sini?"
"Jangan menukar topik pembicaraan, lebih baik kau ikut denganku untuk membantu penduduk Liliput dan Guliver menyiapkan semuanya."
"Aku tidak mau, lepaskan tanganku!"
"Astaga! Kau tidak mau pulang ke dunia nyata ya? Aku datang ke sini untuk menyelamatkanmu, ayolah ... aku sudah lelah dengan drama dan sandiwara disini. Aku mau cepat-cepat pulang ke rumahku."
"Dunia nyata? Apa kau--"
__ADS_1
"Penjelasannya nanti saja, ayo kita bantu Guliver menyiapkan alat perang." Lindsey memotong ucapan Laurent.
"Tapi, bukankah alur itu sudah pernah terjadi? Bahkan aku sendiri tidak bisa menyelamatkan Guliver. Dia sudah mati," sergah Laurent.
Jadi, itulah alasan kenapa dia tidak bisa kembali ke dunia nyata, karena Guliver telah mati terbunuh karena perang itu. Gumam Lindsey.
"Tidak, kau salah, kita akan menyelamatkan kembali alur cerita ini." Lindsey berusaha meyakinkan Laurent yang sudah putus asa.
"Bagaimana caranya?"
"Sudahlah jangan banyak tanya, ayo kita bantu Guliver dan Heyna."
Laurent mengangguk pelan dan mengikuti Lindsey.
Di dekat istana Raja, Guliver, Heyna, dan bangsa Liliput sedang membuat alat perang yang akan digunakan untuk melawan Raja dari negeri seberang. Mereka membuat busur dan panah, pedang kecil, memperbaiki meriam, dan beberapa tali yang akan digunakan untuk membuat kail. Mereka tampak bersemangat dan cepat dalam mengerjakan.
Karena hari semakin sore, Guliver pergi ke pelabuhan. Kapal-kapal musuh sudah berjajar di tengah laut. Guliver pergi ke arah kapal itu. Tiba-tiba, ia diserang dengan panah-panah kecil, tapi tidak terasa di badan Guliver. Ia hanya menutup matanya dengan tangan agar panah-panah itu tidak mengenai matanya.
Tidak banyak yang bisa Lindsey lakukan selain berteriak tidak jelas untuk menyemangati Heyna dan Guliver yang sedang membantu perang. Toh, jika tubuhnya saat ini tidak memungkinkan untuk membantu.
"Aku yakin mereka bisa melakukannya, lagipula ada Heyna yang membantu Guliver."
"Hei, kau mau kemana? Di sini saja. Kau tidak percaya pada kemampuan bertarung Heyna? Dia itu sangat kuat, dan terampil dalam menggunakan pedang maupun busur panah. Ditambah Guliver yang sangat cerdas. Sudahlah, tunggu saja di sini. Ikuti apa yang sudah direncanakan." Kata Lindsey sambil menarik tangan Laurent.
Guliver dan Heyna menarik kapal-kapal musuh ke pelabuhan dan menaklukkannya.
"Hidup, Guliver! Hidup Heyna!" Sorak para prajurit kecil.
Akhirnya, Raja negeri tetangga meminta ampun dan berjanji tidak akan menyerang lagi.
Setelah perang berakhir, Heyna dan Guliver beserta para prajurit kecil kembali ke kota dan bersorak atas kemenangan mereka.
"Kau lihat itu? Mereka berhasil mengalahkan Raja dari negeri tetangga. Kita selamat, kita akan pergi setelah ini," ujar Lindsey kegirangan.
"Aku tidak percaya kalian bisa melakukannya walau dalam sehari," ucap Laurent sedikit terkejut dengan kemampuan Heyna dan Lindsey.
Setelah kejadian itu, Guliver menemukan sebuah perahu besar yang sudah rusak dan hanyut terombang-ambing oleh ombak. Guliver berniat memperbaiki perahu itu agar bisa ia pergunakan untuk pulang. Para manusia kecil membantu Guliver memperbaiki perahu rusak tersebut. Akhirnya, perahu pun selesai diperbaiki.
"Terima kasih banyak atas bantuan kalian semua," kata Guliver.
Tibalah hari kepulangan Guliver. "Baginda, aku telah banyak merepotkan selama tinggal di sini. Maafkan aku jika banyak melakukan kesalahan," kata Guliver berpamitan kepada Raja manusia kecil.
"Selamat jalan, Guliver. Berhati-hatilah," kata sang Raja. "Kerajaan kami terbuka lebar jika engkau ingin kembali." Sambungnya.
"Dan untuk kalian bertiga, aku tau kalau kalian adalah penyihir yang hebat, terima kasih karena berkat kalian aku bisa pulang ke Inggris."
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita," ujar Lindsey bersemangat.
"Ayo!" seru Heyna.
Lindsey pun mengucapkan kata-kata terakhirnya pada bangsa Liliput.
"Sampai jumpa bangsa Liliput, kami senang bisa membantu kalian. Walaupun kedatangan kami tidak disambut hangat oleh kalian, tapi itu tidak masalah. Jaga diri kalian ya!"
Criing!
__ADS_1
Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang, yaitu berpindah cerita. Lindsey tak menyangka bahwa misi ini sudah berlalu sangat lama. Sudah banyak cerita dongeng yang ia bantu dalam memperbaiki alur ceritanya, ditambah teman baru yaitu Heyna dan Laurent.
...***...