
Lindsey dan teman-temannya berjalan menyusuri hutan tersebut. Hutan seram yang dikelilingi pohon besar di setiap kanan dan kiri membuat mereka bergidik ngeri.
"Aku akan mengatakan misi kita selama kita berada di siini." ucap Marine. Semua terhenti sejenak untuk mendengarkan Marine.
"Pertama kita akan pergi ke lembah Elf, dan kita akan ke tempat Elf Torlock."
"Elf apa?" Ulang Laurent masih kurang menangkap yang dimaksud dengan Marine.
"Elf Torlock, makhluk sejenis Elf yang memiliki kekuatan jauh lebih kuat dibandingkan dengan Elf biasa."
"Ini baru pertama kalinya aku mendengar ada jenis Elf seperti itu." Heyna juga mulai bertanya-tanya.
"Lalu, sekarang bagaimana cara kita semua bisa ke sana?" Tanya Laurent.
"Lembah Elf tak jauh dari sini, kita berjalan untuk menghemat energi." Balas Marine.
"Seharusnya kau menggunakan kekuatanmu untuk bisa menghemat energi." Seru Laurent.
"Kekuatanku tidak cukup, jika aku menggunakan seluruh kekuatanku maka kita tidak akan bisa memakainya lagi jika sewaktu-waktu dalam keadaan mendesak."
"Marine benar, kekuatan yang kita miliki juga ada batasannya. Tidak sembarangan bisa digunakan dengan leluasa." Sahut Emerald.
"Baiklah, kami mengerti. Bagaimana kalau sekarang kita langsung saja? Matahari sepertinya akan terbenam sebentar lagi." Ujar Antlers.
Semua mengangguk pelan dan melanjutkan perjalanan sebelum matahari benar-benar turun dari singgasananya.
Lindsey bersama teman-temannya melanjutkan perjalanan menuju salah satu rumah Elf di Lembah Elf yang bernama Caapal.
Elf Torlock merupakan salah satu makhluk yang diciptakan oleh Ratu Florist dengan wujud Elf setengah manusia. Jika pada umumnya fisik Elf bertubuh kecil dan pendek, Elf Torlock ini justru memiliki ukuran tubuh yang sama dengan manusia. Yang membedakannya dengan manusia adalah telinga mereka yang runcing.
Telinga Elf memiliki kekuatan sihir yang cukup kuat untuk menjaga Lembah Elf dari para Dark Blood, itu adalah sebutan untuk monster yang haus akan darah para makhluk.
Elf Torlock sangat sensitif dan sedikit agresif jika berhubungan dengan tanah nenek moyang mereka. Para keturunan Elf Torlock memiliki umur yang sangat panjang, yaitu bisa sampai 1000 tahun, dan mereka hanya akan bisa mati jika mereka dibunuh menggunakan belati dari duri punggung naga merah yang tinggal di bukit kematian. Sejauh ini Elf Torlock yang mencapai usia 1100 tahun adalah Caapal. Elf yang akan memberikan petunjuk kepada Lindsey untuk menemukan Hesley.
"Hei, kita sudah berjalan lebih dari setengah jam, kapan kita akan sampai di rumah si Caapal itu, huh?" keluh Laurent yang sudah berjalan gontai.
Lindsey tak menanggapi keluhan Laurent dan terus melangkahkan kakinya mengikuti jejak Marine yang terbang di depan mereka. Diikuti oleh Heyna, dan Antlers, serta ketiga kalung permata yang lain.
"Aish ... berhenti mengeluh! Kau mau kita cepat sampai atau tidak?!" erang Heyna yang merasa terganggu dengan ocehan Laurent, "kau ini laki-laki, harus lebih kuat dari kami!" lanjutnya dengan nada meninggi.
"Baiklah ... maafkan aku," lirih Laurent memasang wajah masam.
"Teman-teman, lihat!" Marine berhenti dan menunjuk ke arah rumah yang terlihat tua dan di kelilingi tanaman rambat yang lebat, tepat berada di tengah-tengah hutan.
"Apakah itu rumah Elf Torlock yang kau katakan tadi, Marine?" tanya Heyna ragu.
"Iya, tepat sekali! Ayo ke sana," seru Marine lalu terbang sangat cepat menuju rumah itu. Lindsey dan yang lainnya mengikuti Marine dari belakang sambil berlari.
__ADS_1
Tepat di depan rumah tua itu mereka menelan salivanya kuat-kuat lalu masuk ke dalamnya tanpa seizin sang pemilik rumah. Mereka menoleh ke sembarang arah dengan sikap berjaga-jaga.
"Berhati-hatilah, Caapal sangat kuat dan dia sedikit sensitif. Jangan sampai kita membuatnya tersinggung." Ruby memperingatkan. Semua mengangguk pelan.
"Apakah kalian merasa rumah ini sedikit menyeramkan? Sebaiknya kita tunggu di luar saja," ucap Laurent sambil mengumpat tepat di belakang Heyna.
Heyna menoleh dan menepuk bahu Laurent dengan kencang. "Kau tau tidak? Ada hantu di dalam rumah ini," ucapnya dengan nada menakut-nakuti.
"B-benarkah?"
"Oh my god! Aku sangat takut dengan hantu ..." Laurent memasang wajah ketakutan lalu tiba-tiba berubah datar. "Hei, kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu, huh!" pekik Laurent.
"Hahahaha! Aku hanya bercanda, dasar penakut!" Heyna terkekeh.
"A-aku tidak takut." sergah Laurent.
"Benarkah ...?" Heyna memicingkan matanya dengan senyum miring.
"HEI! APA ITU YANG ADA DI BELAKANGMU?!" teriak Heyna tiba-tiba. Membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, terutama Laurent yang langsung mengumpat di belakang Lindsey.
"Hei hentikan! Kalian ini masih saja bermain-main disaat situasi sedang genting seperti ini." Antlers menggeleng dan menghela napas kasar melihat kelakuan kedua temannya.
"Hahaha maaf, kau lihat wajah ketakutan yang ditunjukkan Laurent tadi, kan? Sangat lucu, hahaha." Heyna terbahak.
"I-itu sangat tidak lucu, tau!" cicit Laurent.
"Kau yakin sudah mencarinya ke seluruh ruangan?" tanya Lindsey. Marine mengangguk pelan.
"Emerald, bisakah kau mengendus bau Elf Torlock itu?" titah Antlers.
"Aku akan mencobanya." Emerald mulai mengendus sesuatu dan berjalan-jalan mengelilingi seisi ruangan. Tiba-tiba ia berhenti di suatu ruangan. "Aku mencium sesuatu yang aneh di ruangan ini." katanya.
"Apa tadi kau sudah memeriksa ruangan ini, Marine?" tanya Antlers.
"Sudah, dan aku tidak menemukan Caapal berada di dalam ruangan ini." jawab Marine.
"Ayo kita periksa," ucap Lindsey dan membuka pintu ruangan itu.
"Kamar tidur ini terlihat rapi dibandingkan dengan ruangan lainnya, mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk di sini. Semuanya berpencar! Jika kalian melihat sesuatu yang mencurigakan segera beritahu." titah Lindsey. Teman-temannya mengangguk mengikuti titah Lindsey dan mulai menyerogoh kamar tidur itu.
Beberapa menit kemudian ....
"Teman-teman, aku menemukan sesuatu," seru Antlers. Semuanya langsung menghampirinya dengan rasa penasaran.
"Apa yang kau temukan, Antlers?" Heyna bertanya-tanya.
"Aku menemukan sebuah belati dan ada bercak darah di sekitar gagangnya. Coba kalian lihat," ujar Antlers lalu menunjukkan belati tersebut pada teman-temannya.
__ADS_1
"I-ini, kan ...."
Ruby melebarkan mata kecilnya dan berusaha mengingat belati tersebut.
"Ada apa?" Heyna bertanya-tanya.
"Ini ... belati duri naga merah yang tinggal di bukit kematian, satu-satunya senjata yang dapat membunuh Elf Torlock." jawab Ruby.
"APA?!"
"Benar, tidak salah lagi ... belati ini diciptakan oleh Glory dengan menggunakan material 5 duri naga dari bukit kematian, tujuan ia membuat belati ini ialah untuk mendapatkan telinga runcing paling berharga milik bangsa Elf." sahut Emerald.
"Ternyata dia sudah sampai sejauh ini," lanjutnya dengan mimik khawatir.
"Glory? Jadi maksudmu, Glory sudah berhasil melarikan diri dari kurungan itu? Apa dia yang sudah menghabisi Caapal?" tanya Lindsey, raut wajahnya menjadi sangat cemas.
"Aku tidak tau pasti, tapi ...."
"Kalau begitu aku akan mengembalikan waktu di kamar ini untuk melihat kejadian sebelum kita sampai di sini." sahut Amethyst.
"Ide yang bagus, Amethyst." pekik Marine.
Pengembalian waktu di mulai ....
PRANG!
BUGH!
"Serahkan telinga runcingmu itu, Caapal!" titah seorang gadis berpakaian serba hitam yang menyudutkan tubuh Caapal di pojok kamar.
Lindsey dan teman-temannya melebarkan mata ketika melihat reka ulang kedatangan Glory.
"D-dia ... Glory?" ucap Lindsey dengan rasa khawatir. "Dia masih anak-anak, sama seperti kita." sambungnya.
"Bagaimana ... kau bisa terbebas ... dari kurungan itu?" lirih Caapal yang sudah tergeletak di lantai kamarnya sendiri.
"Oh, ini berkat bantuan seseorang yang tidak sengaja membuka segel buku terkutuk milikku," balas Glory sambil tersenyum smirk.
"Apa?! T-tidak mungkin," pekik Caapal.
"Kau sudah hampir kehabisan waktu, Caapal. Cepat serahkan telinga runcingmu itu sebelum kuambil paksa," gerundel Glory yang mulai emosi.
"Tidak akan pernah!" sergah Caapal berusaha melindungi telinga berharganya.
"Cih! Dasar Elf Torlock menjengkelkan, kau tidak memberiku kesempatan. Baiklah jika itu maumu maka aku akan mengambil paksa telinga runcing berhargamu."
"TIDAKKK!"
__ADS_1
...***...