
Hari semakin gelap. Kalau dilihat dari segi penerangan matahari, mungkin ini sudah sekitar pukul enam sore. Suara burung gagak kepunyaan penyihir Oz masih lihai berterberangan di atas kepala Lindsey dan Antlers yang sangat siap menyerang dari arah manapun. Namun, hal itu tak bisa dilakukan karena mortal yang dikeluarkan bala bantuan jauh lebih kuat. Sehingga mereka aman dari serangan apapun.
Antlers berdiri setelah berat hati ditinggalkan Amethyst. Tak disangka bahwa perpisahannya dengan Amethyst harus dengan cara seperti ini.
Lindsey terlihat merangkul temannya itu, ia tersenyum dan menyemangati Antlers yang masih berlinang air mata. Antlers menghela napas dalam dan berusaha tersenyum, ia memberi kode pada Lindsey bahwa dirinya sudah merasa lebih baik.
Setelah berdiam beberapa detik, mereka pun mulai memikirkan cara untuk mengalahkan para tokoh antagonis, mereka mulai menyusun rencana bersama para tokoh protagonis yang terdiri dari Maleficent, Putri Salju, Dorothy, Alice, Ibu peri, Peterpan, dan Ariel si putri duyung.
"Baiklah, ini rencananya ...."
Dengan serius Lindsey memberitahu rencana yang sudah di susun sedemikian rupa kepada semuanya. Dengan cepat juga para tokoh protagonis mengangguk mengerti akan ucapan Lindsey. Tak lama setelah itu, mereka memandangi satu sama lain, mengangguk sekali lagi sebagai tanda bahwa sudah saatnya untuk pertarungan yang sesungguhnya.
"Hei! Apa yang kalian lakukan, hah? Mau bersembunyi seperti tikus pengecut?!" Seru Erobos dengan nada meledek.
Lindsey mengangkat salah satu sudut bibirnya, "Dia pikir dia yang akan menang? Kali ini kemenangan ada di tangan kebaikan."
Dengan kekuatan Maleficent, mortal yang dibuat telah terbuka, dan mereka mulai menampakkan wajah-wajah pemberani yang siap bertarung melawan antagonis.
"Lakukan seperti rencana,"
"Baik!"
Tanpa ancang-ancang, Alice, Peterpan, dan Ariel menyerang duluan. Mereka menyerang Ratu merah, Kapten Hook, dan serigala. Alice menyerang langsung ke arah Ratu merah hanya dengan pedang Vorpal milik Ratu putih, Jabberwocky—makhluk naga raksasa itu menghilang saat Alice berada di hadapannya.
Peterpan menyerang Kapten Hook hanya bermodalkan debu peri Tinkerbell yang bisa membuatnya terbang bebas dan menyerang dari arah manapun. Ariel menyerang serigala berbaju nenek. Namun, apa yang bisa dilakukan Ariel? Ia hanya seekor putri duyung. Tidak! Dia tidak hanya seekor putri duyung, Ariel bisa berubah menjadi manusia kapanpun ia mau karena kekuatan yang diberikan oleh sang ayah, tak hanya itu, ketika Ariel bernyanyi hanya kekuatan jahatlah yang tak sanggup mendengar nyanyiannya yang merdu.
Erobos terlihat mengerutkan dahinya, ia nampak sedikit gusar melihat perlawanan Lindsey dan Antlers yang dibantu tokoh protagonis. Target utama Erobos adalah kalung Amethyst, bagaimana pun caranya, ia harus mendapatkannya.
"Berikutnya kita. Aku sangat berterima kasih pada kalian semua karena telah datang dan membantu kami," ucap Lindsey sambil tersenyum senang.
"Berterima kasihnya nanti saja, ayo kita serang para penyihir itu," ujar Maleficent yang membalasnya dengan tersenyum juga. Walaupun dulunya dia makhluk jahat, tapi sekarang dia sudah seperti malaikat.
Kini tiba saatnya giliran Lindsey, Putri Salju, Maleficent, dan Ibu peri untuk menyerang sekumpulan penyihir yang terdiri dari penyihir Oz, penyihir kue, dan penyihir apel. Anggap saja namanya seperti itu.
Di antara mereka, Maleficent lah yang terkuat dalam menggunakan kekuatan sihir. Itu sebabnya ia berada di barisan terdepan dan Lindsey paling belakang. Mereka berencana untuk mengalahkan semua sekutu Erobos terlebih dahulu setelah itu mengalahkan Erobos dan mengambil kembali kalung permata.
Serangan demi serangan mulai tak keruan menyerang dari berbagai sisi. Namun mereka masih bertahan dengan mortal khusus dari Maleficent. Sehingga serangan dari para penyihir itu tak bisa mengenai tubuh mereka.
Sementara itu, Antlers dan Dorothy bersembunyi di balik pohon besar dan kalung Amethyst masih belum sadarkan diri. Antlers sangat yakin bahwa Amethyst masih hidup walaupun kemungkinannya sangat kecil. Namun, berkat Dorothy sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tidakkah kalian ingat bagaimana Dorothy pulang ke Kansas? Itu semua karena bantuan dari sihir penyihir agung Oz, bukan dari sepatu Ruby-nya. Saat itu Dorothy menggunakan satu sepatunya untuk menyembuhkan luka Lindsey. Itu berarti, ia masih punya satu sepatu untuk satu permintaan. Dan itulah satu kesempatan yang dimiliki untuk menghidupkan Amethyst.
"Aku mohon, hidupkan kembali Amethyst." Dengan nada sendu Antlers memohon kepada Dorothy.
"Aku tidak yakin, tapi semoga saja ini akan berhasil," ucap Dorothy ragu.
Dorothy mulai melepas satu sepatunya yang masih berwarna merah delima serta kilauannya yang tak bisa ditandingi oleh kilauan apapun. Ia memejamkan kedua matanya dan mulai meminta sesuatu dari sepatunya. Beberapa detik kemudian kalung Amethyst berkilauan, sedangkan sepatu Dorothy mulai meredup. Itu artinya permintaan Dorothy untuk menghidupkan Amethyst berhasil.
__ADS_1
"Amethyst, kau bisa mendengarku?" Suara cempreng khas Antlers terdengar akan keyakinan.
"Ya, Antlers ... aku bisa mendengarmu. Tapi, bagaimana bisa? Kekuatanku sudah terkuras habis," jawab Amethyst kebingungan.
Antlers tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Amethyst, "Ini berkat bantuan Dorothy, ia menggunakan sepatu Ruby satu-satunya untuk menghidupkanmu kembali," lanjutnya.
"Benarkah?" Amethyst masih keheranan.
"Ya, itu benar. Antlers sangat khawatir padamu, aku tidak tega dan memutuskan untuk menggunakan satu sepatuku dan memohon agar kau bisa hidup kembali. Bukan hanya itu, kekuatanmu juga bertambah dua kali lipat dari sebelumnya," ujar Dorothy menjelaskannya panjang lebar.
"Wow, itu hebat sekali. Dengan begini kita bisa membantu Lindsey dan yang lainnya."
"Membantu Lindsey dan lainnya?"
"Mereka sedang bertarung melawan sekutu Erobos, dan berusaha merebut kembali kalung permata."
Walaupun Amethyst tidak berwujud makhluk hidup, tetapi aura yang terpancar dari kalung ungu itu meyakinkan Antlers bahwa suatu hari nanti ia akan melihat wujud asli Amethyst.
"Kalau begitu tak ada waktu lagi, ayo kita ke sana dan membantu mereka."
"Baik!"
Erobos mendecak sebal melihat semakin kuatnya perlawanan Lindsey dan yang lainnya. ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mata merah menyala berkilat dengan kebencian yang menggelegak.
"Lindsey!!" Putri salju yang menyadari serangan tak terduga dari arah belakang Lindsey berlari ke belakang dan melindungi Lindsey dari serangan penyihir apel. Tadi itu hampir saja penyihir apel menebas tubuh Lindsey dengan tongkat sihirnya.
Kemampuan Erobos dalam mengendalikan tokoh antagonis tidaklah main-main, dengan cekatan ia selalu mengambil kesempatan dari arah manapun untuk merobohkan tekad Lindsey.
Hari sudah gelap. Bulan pun akan bersinar sebentar lagi. Para tokoh antagonis maupun protagonis masih saling menyerang satu sama lain. Mereka semua terlihat sangat-sangat kelelahan, napasnya tersengal dan peluh keringat yang mengalir di setiap dahi.
Alice, Ariel, dan Peterpan mengambil langkah mundur untuk menjauh dari antagonis. Napas mereka tak bisa dikontrol secara normal. Begitupun Lindsey, Maleficent, Ibu peri, dan Putri salju yang memutuskan mundur dari hadapan Erobos untuk setidaknya mengatur napas mereka.
"Aku heran ... kenapa mereka bisa bertahan seperti itu? Apa karena ... kekuatan dari kalung permata?" Ucap Lindsey dengan napas tak beraturan.
"Itulah sebabnya kita harus secepat mungkin merebut kalung-kalung itu," ujar seseorang.
Lindsey dan yang lainnya menoleh ke arah sumber suara, mendapati Antlers dan Dorothy berjalan mendekati mereka dengan senyum merekah yang terpajang di bibir mereka.
Apa itu pertanda baik?
"Kalian sudah kembali, bagaimana? Apakah Amethyst bisa dihidupkan?" Tanya Lindsey to the point.
"Kekuatanku sudah pulih, aku sudah bisa bertarung bersama Antlers—"
Antlers menggeleng, "Tidak, kita semua akan bertarung bersama sekali lagi. Kali ini aku punya firasat baik, dan aku yakin kita bisa menang."
__ADS_1
"YAAA!!"
"Teman-teman, kita harus menggabungkan kekuatan, kepercayaan, dan kekompakan yang kita miliki agar bisa mengalahkan Erobos dan sekutunya."
Mereka semua langsung berpegangan tangan, memejamkan mata dan mengharapkan sesuatu dari pertempuran terakhir mereka.
"Aku berharap kita bisa mengalahkan Erobos dan sekutunya, agar aku, Lindsey, Heyna, dan Laurent bisa pulang dengan selamat ke dunia kami," harap Antlers.
"Aku tidak mengharapkan apapun selain keselamatan semua teman-temanku, aku akan selalu percaya pada mereka. Apapun itu," ucap Lindsey penuh harapan.
Ting!
Cahaya ungu Amethys bersinar, diikuti sihir yang keluar dari tubuh para tokoh protagonis. Mereka masih memejamkan matanya.
Erobos menyeringai, sedikit takut dengan aura yang dipancarkan oleh kalung Amethyst. Dengan cepatnya, ia menarik semua tokoh antagonis yang seketika masuk ke dalam genggaman tangannya.
Melihat kegigihan Lindsey dan kawan-kawan, membuat Erobos menggunakan sisa kekuatan dari ketiga kalung permata untuk mulai menyerang.
Wush!
Cahaya biru dan merah mulai bersinggungan satu sama lain. Tak ada yang ingin mengalah dan tak ada yang ingin kalah. Dengan sekuat tenaga, Lindsey yang berada di barisan depan memimpin kekuatan sihir yang diberikan oleh Amethyst. Ia yakin bahwa Lindsey mampu mengalahkan Erobos yang kejam itu. Kekuatan kebaikan akan selalu menang.
Cahaya biru itu semakin kuat, dan cahaya merah semakin melemah. Erobos terus menyeringai sebal dan berusaha meningkatkan kekuatannya. Cahaya biru mempertahankannya dengan baik, dan tak lama setelah itu cahaya merah menghilang secara perlahan dan ....
DUAR!
"TIDAAAAAKKK!" Erobos berteriak kencang dan perlahan menghilang menjadi butiran debu.
Wush!
Cahaya merah benar-benar menghilang dari pandangan mereka.
"Kita berhasil ...?"
Semua saling pandang dengan ekspresi yang masih kebingungan. Tak lama Lindsey tersenyum lebar, semakin lebar, dan ....
"Kita menang!"
Antlers terkejut dan tertawa kecil melihat kelakuan Lindsey, "Iya, kita berhasil."
Mereka semua tersenyum bahagia, berpelukan dan tiba-tiba Lindsey menangis. Membuat semua kebingungan.
"Kau ... menangis?"
"Hiks ... ini namanya tangis bahagia."
__ADS_1
Semua tertawa, menyaksikan bulan dan bintang yang saling bertatap muka, menampilkan keindahan dunia dongeng yang tak tertandingi dari dunia nyata.
"Tunggu! Apa yang terjadi pada Neil Scots?" Ucap Lindsey.