Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Tim Berkumpul


__ADS_3

Lindsey masih mencerna akal sehatnya saat ini. Marine menjadi peri? Bagaimana bisa? Itulah beberapa pertanyaan yang terlintas di dalam pikirannya.


"Bagaimana bisa kau ada sini Marine? Dan kau...wujudmu...?" Tanya Lindsey masih bingung.


"Ini adalah wujudku yang sebenarnya Lindsey," jawab Marine sambil mengepakkan sayap tipis yang indah itu di hadapan Lindsey.


"Kalau begitu apa alasanmu menemui ku lagi?" Tanya Lindsey.


"Aku merasakan energi jahat di sekitar sini, itu sebabnya aku datang untuk memeriksa." Balas Marine sambil melirik-lirik ke segala arah yang ada di kamar Lindsey.


"Energi jahat?" Lindsey tersentak mendengar jawaban Marine.


Marine melayang tepat di depan wajah Lindsey. "Buku terkutuk itu, apa kau sudah menghancurkannya?" Tanyanya.


"A-aku...sebenarnya..."


"Hm? Sebenarnya apa, Lindsey?" Marine mengerutkan dahinya.


"Buku itu belum ku hancurkan," jujur Lindsey.


"Apa?!" Marine sangat terkejut dengan pengakuan Lindsey yang belum menghancurkan buku terkutuk itu.


"Aku bisa jelaskan." Lindsey memasang wajah memelas.


"Kalau begitu cepat jelaskan sekarang juga," marah Marine.


"Ada beberapa bab yang belum ku baca."


"Apa kau sudah gila? Buku itu tidak pantas untuk dibaca, buku itu harus segera dihancurkan jika kau tidak ingin hal buruk terjadi lagi. Kau sudah lupa bagaimana kita berjuang mati-matian untuk mengalahkan Erobos dan pasukannya di dimensi dongeng?" Omel Marine.


"Tentu saja aku ingat, semua perjuangan dan perjuangan teman-temanku saat itu." Lindsey tertunduk seakan menyesali perbuatannya yang hampir membahayakan orang tak bersalah.


"Lantas kenapa kau egois?" Marine menatap Lindsey tak percaya.


"Apa? Egois?"


Marine menghela napas kasar. "Sudah, sekarang di mana buku itu? Biar aku saja yang akan menghancurkannya."


"B-buku itu...tidak ada," kata Lindsey tertunduk lagi.


"Apa? Jangan bercanda Lindsey,"


"Aku tidak bercanda, buku itu hilang, bersamaan dengan adikku." Lindsey kembali menyesali apa yang sudah terjadi.


"Adikmu? Jangan-jangan...?"


"Hesley menghilang, Marine. Apa yang harus aku lakukan? Aku yakin pasti buku terkutuk itu yang melakukannya."


"Astaga...aku benar-benar melupakannya." Marine menepuk dahinya.


"Melupakan apa?" Lindsey menatap Marine serius.


"Pasti ini perbuatan Glory,"


"Glory?"


Marine menatap Lindsey dengan intens. "Glory adalah seorang penyihir jahat di negeri kami, dia dikurung di dalam buku terkutuk oleh Ratu Florist karena menyalahgunakan kekuatannya untuk kejahilan dan kejahatan." Jelasnya.


"Lalu, bagaimana dengan nasib adikku saat ini?" Khawatir Lindsey.


"Kita harus segera mencarinya, jika tidak adikmu akan menjadi wadah oleh Glory."


"Wadah apa maksudmu?"


"Wadah untuk menyimpan kekuatan Glory."


"Apa?!"


Tanpa membuang waktu, Marine menggunakan kekuatannya untuk membuka portal. Percikan emas memenuhi kamar Lindsey.


Wushhh!


"Lindsey,"


Tiba-tiba Mrs. Lane mengetuk dan memanggil putrinya itu dari luar kamar. Lindsey dan Marine terkejut dan kalang kabut.


"Astaga, Mom?"


"Aku harus sembunyi terlebih dahulu." Marine menghilang bersamaan dengan percikan emas yang tadi memenuhi kamar Lindsey.


Lindsey membuka pintu kamar dan mendapati Mrs. Lane sudah berada di ambang pintu.

__ADS_1


"Ya, Mom?" Lindsey tersenyum kikuk di hadapan Mrs. Lane.


"Mom akan pergi pasar untuk membeli keperluan Grandma, jaga rumah ya...Mom tidak akan lama," kata Mrs. Lane memberitahu Lindsey.


"Baiklah, aku akan menjaga rumah ini." Lindsey mengangguk mengerti.


"Ya sudah,"


Mrs. Lane pun pergi tanpa curiga sedikit pun kepada anaknya.


Setelah menutup pintu dan menguncinya Lindsey menghela napas lega. "Marine, sudah aman sekarang." Kata Lindsey memberi kode.


Marine muncul kembali entah dari mana. "Baiklah, aku akan membuka portal itu lagi." Sambungnya.


Wush!


"Apa itu?" Lindsey bertanya-tanya melihat sosok gadis dan seekor kucing. Tunggu, kucing itu berwarna ungu muda yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


"Marine," Kucing itu berbicara dan memanggil nama Marine sambil berlari.


"Amethyst, akhirnya kita bertemu lagi." Kucing ungu itu berlari menghampiri Marine dan memeluknya.


"A-amethyst?" Lindsey terkejut mendengar nama kucing ungu itu.


"Lindsey." Seseorang memanggil namanya.


Lindsey menoleh mencari sumber suara yang berasal daru portal yang dibuka oleh Marine.


"Antlers?" Lindsey menoleh saat namanya dipanggil oleh seseorang.


"Astaga, aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi."


Keduanya berpelukan melepas rindu.


"Aku juga senang kau ada di sini, Antlers."


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Sebenarnya--"


"Aww!!"


Seseorang baru saja mengerang kesakitan. Suara itu sangat familiar di telinga keduanya.


"Heyna?"


"Hai, semuanya..." Sapa Heyna. Dia juga dipanggil oleh Marine?


"Ruby, jangan lakukan itu lagi!" Marah Heyna pada sosok makhluk kecil nan mungil yang menggemaskan. Kelinci pink.


"Maaf, aku sedang berusaha mengendalikan kekuatanku, Heyna."


"Kau baik-baik saja?" Antlers membantu Heyna berdiri.


"Gracias,"


"Hah? Kau baru saja mengucapkan apa?"


"Aku belum mengatakan apa-apa." Heyna menggeleng.


"Tunggu, siapa yang baru saja mengatakan gracias?" Lindsey bertanya-tanya.


"Hai teman-teman! Bagaimana kabar kalian?" Sapa Laurent.


"Kau?" Heyna mendelik saat Laurent muncul di hadapannya.


"Jadi, kau memanggil semua temanku untuk membantu mencari Hesley?" Tanya Lindsey pada Marine.


"Ya, aku tau kau tidak akan berhasil tanpa tim mu," balas Marine.


"Tapi, aku tidak mau melibatkan orang lain lagi."


"Jangan katakan seperti itu, kami datang ke sini untuk membantumu." Antlers mengusap punggung Lindsey yang nampak putus asa.


"Maafkan aku, karena keegoisan dan kecerobohanku aku melibatkan kalian dalam masalah baru."


"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu." Sahut Heyna.


"Kau tau, Lindsey? Akhir-akhir ini aku bosan dan ingin melakukan hal-hal luar biasa seperti yang sudah pernah kita lakukan sebelumnya di dimensi dongeng." Sambung Heyna.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Jujur, walaupun sangat menyebalkan melawan penjahat tapi seru juga kalau dipikir-pikir. Bukan begitu, Emerald?" Seru Laurent.


"Itu benar! Aku, Marine, Amethyst, dan Ruby ingin mengalahkan Glory." Sahut Emerald.


"Seharusnya hanya kami yang melakukan itu, membinasakan Glory supaya tidak menciptakan kerusakan yang lain lagi." Ungkap Marine.


"Teman-teman, sekarang kita sudah berkumpul kembali dan misi kita adalah menyelamatkan adik Lindsey serta mengalahkan Glory." Ucap Heyna dengan lantang.


"Tapi, bagaimana caranya?"


"Kita akan masuk ke dimensi Magic Spell untuk mencari tau." Ucap Ruby. Diangguki semua permata yang sebenarnya sudah memiliki wujud lain selain batu.


Seperti yang sudah kita tahu bahwa Marine berwujud peri saat ini, Ruby berwujud kelinci pink yang lucu dan mungil, Amethyst yang berwujud kucing berwarna ungu muda, dan Emerald berwujud seekor anak anjing berwarna cokelat keemasan yang terlihat sangat mahal.


"Magic Spell? Kau tau bagaimana caranya ke tempat itu, Marine?" Tanya Antlers.


"Tentu, aku akan membuka portal itu sekarang. Kalian semua mundur dulu."


Semua orang mundur beberapa langkah, sementara Marine mulai membuka portal dengan bantuan dari batu permata lain. Cahaya biru terpancar setelah Marine mengeluarkan kekuatan dari balik tangannya.


Wush!


Semua orang masuk ke dalam portal itu dan menghilang.


BRUKK!!


"Awww!!"


Semua orang mengerang setelah terhempas dan menyentuh tanah yang cukup berumput saat ini.


"Ini di mana?" Tanya Lindsey mewakili rasa bingung yang lainnya.


...***...


Ilustrasi wajah-wajah tokoh penting!



Lindsey Georgina Lane





Hesley Emily Lane





Heyna Van Jorch





Laurent Gang





Antlers Gardy




Glory



Untuk karakter lain akan di tampilkan sesuai eps yaaa...

__ADS_1


__ADS_2