
"Apa? Apa yang dia katakan barusan?" Lindsey terbelalak mendengar salah satu Stone Seeker itu menyinggung tentang adiknya.
"Lindsey, aku tau kau ada di dalam sana. Jika kau ingin menyelamatkan adikmu maka kau harus mengorbankan sesuatu. Misalnya, menyerahkan para batu permata kepada kami." Ucap Lou. Setelah mengatakan hal tersebut dengan lantang, Lou dan kedua temannya tertawa lepas.
"Tunggu, apa?" Semua orang terkejut mendengar ucapan Lou yang begitu berani.
"Tujuan mereka datang ke kerajaan ini untuk merebut para batu permata itu, kita tidak bisa membiarkannya begitu saja." Ucap Ery--peri penjaga berwarna ungu.
"Apa mereka datang atas perintah dari Glory?" Antlers mulai bertanya-tanya.
"Glory? Apa maksudmu?" Bingung Ruinda.
"Stone Seeker itu diperintahkan oleh Glory untuk mengambil para batu permata dari kami, kan? Bukankah begitu tujuan mereka yang sebenarnya?" Antlers memperjelas pertanyaannya.
"Tidak, Antlers." Sahut Ratu Lily.
"Yang Mulia?" Antlers menoleh ke arah Ratu Lily yang sudah berada di tengah-tengah perdebatan.
"Yang Mulia, apa yang anda lakukan di sini? Seharusnya anda mengungsi ke tempat yang aman bersama bangsa peri lainnya." Ujar Mursy--peri penjaga berwarna hijau.
"Tidak mungkin aku bersembunyi saat musuh datang, Mursy. Aku juga akan menghadapi para Seeker itu." Ungkapnya.
"Apa maksudmu tadi, Yang Mulia?" Ruinda menghampiri Ratu Lily.
"Para Seeker itu datang ke sini bukan karena perintah dari Glory, itu berasal dari keinginan mereka sendiri."
"Benarkah?" Heyna bertanya-tanya.
"Dan bagaimana caranya kau tau soal itu?" Sambung Laurent.
"Selama ini Stone Seeker tidak bekerja dengan siapa pun, mereka bekerja untuk diri mereka sendiri. Jadi, sudah jelas bahwa mereka menginginkan para batu permata karena itu memanglah pekerjaan mereka yang sebenarnya." Jelas Ratu Lily.
"Tapi, saat kami melawan Glory, para Seeker itu seperti berkomplot dengan Glory. Bahkan mereka menyerang kami atas perintah Glory." Timpal Heyna.
"Itu bukan karena mereka menuruti keinginan Glory, tetapi mereka menyerang kalian karena mereka tahu bahwa para batu permata ada di tangan kalian."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia? Adikku telah dibawa kembali oleh Glory, aku harus segera menyelamatkannya. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mereka." Ucap Lindsey.
"Bersabarlah, Lindsey. Para Seeker itu juga sama berbahaya nya dengan Glory, jadi sebelum berhadapan kembali dengan penyihir itu, kita harus mengalahkan para Seeker. Dan kita membutuhkan sebuah rencana." Usul Antlers.
"Benar juga yang dikatakan oleh Antlers, kita harus mengalahkan mereka terlebih dahulu." Sahut Ruinda menyetujui usulan Antlers.
"Ehm ... baiklah, aku akan berusaha yang terbaik. Demi adikku, Hesley." Balas Lindsey menguatkan tekad nya kembali.
"Baiklah semuanya, ayo ke medan perang sekarang." Seru Ruinda memimpin barisan.
Semua orang langsung berjalan menuju medan perang.
__ADS_1
"Astaga ... jadi inikah akhir dari hidup kita, teman-teman? Bertarung dengan penjahat di dunia lain?" Gerundel Laurent.
"Sssttt! Diamlah!" Heyna menepuk bahu Laurent untuk tidak mengatakan hal yang tidak-tidak.
Di depan perbatasan antara kerajaan Forbidden Pixie dan dunia luar, ketiga Stone Seeker tengah duduk di hamparan rumput hijau yang subur. Ketiganya nampak menguap sejenak setelah itu mulai beranjak lalu menghampiri Ratu Lily yang berada di barisan paling depan--tentu dikawal oleh para peri penjaga.
"Kalian datang ke tanah suci yang dijaga baik oleh para bangsa peri, sebaiknya jangan memancing peperangan antar makhluk Forestopia jika kalian ingin tetap hidup." Ucap Ratu Lily dengan tegas.
"Hei, kami tidak ada urusan denganmu, peri aneh! Kami datang untuk merebut batu-batu permata itu." Balas Cruy dengan nada meledek.
"Serahkan batu-batu permata itu dengan damai, maka kami tidak akan menyakiti kalian semua." Ucap Nut.
"Dengan damai katamu?" Ujar Lindsey berjalan menuju barisan depan, berdiri di samping Ratu Lily.
"Katakan di mana adikku berada?!" Erang Lindsey yang sudah meluapkan emosi.
"Aku heran denganmu, Lindsey. Untuk apa kau memperdulikan orang yang sudah berkomplot pada kejahatan?" Tawa Cruy disambung dengan tawa Nut.
"Apa katamu?!"
"Lindsey ..." Ratu Lily menarik lengan Lindsey yang hendak berbuat gegabah.
"Cih!" Lindsey berdecak sebal melihat kelakuan para Stone Seeker itu. Kesabarannya hampir habis.
"Asal kalian tahu, aku dan teman-temanku tidak akan memberikan batu permata kepada orang jahat dan naif seperti kalian!"
Lindsey melotot dan begitu memendam rasa kesal dalam dirinya.
"Sepertinya negosiasi kita tidak berjalan dengan semestinya, kalau begitu bersiaplah kalian para ... makhluk lemah!" Seru Lou dengan begitu lantang.
Lou mengeluarkan kekuatan besar dalam dirinya, ternyata kekuatan itu dia peroleh dari batu-batu permata yang sudah pernah di dapatkannya. Pancaran cahaya itu membuat semua orang waspada akan serangan mendadak dari Lou.
"Jangan sampai lengah!" Teriak Ruinda memperingatkan kepada teman-temannya yang lain.
"MATI SAJA KALIAN!!"
Wushhh!!
Angin beliung tiba-tiba datang menghantam apapun yang di sekitarnya. Semua orang nampak tak berdaya menghadapi angin sebesar dan sekuat itu.
Saat Cruy hendak mengeluarkan kekuatannya juga, Lou melarangnya. "Jangan buang-buang tenaga, kita tidak akan tahu kemenangan ada di pihak siapa." Ucap Lou memperingatkan Cruy untuk menyimpan tenaganya.
"Baiklah, aku mengerti." Balas Cruy
"Sebaiknya kita menonton saja, Cruy." Sahut Nut yang sudah duduk di sebuah batu besar.
"Kau benar. Hei, apa kau punya popcorn? Kelihatannya pertunjukkan ini akan seru." Tanya Cruy.
__ADS_1
"Tidak ada popcorn, tapi aku ada ini." Nut menunjukkan makanan berbentuk kacang polong, tetapi warnanya tidak hijau melainkan biru.
"Ini apa?" Bingung Cruy.
"Kacang mutiara." Jawab Nut lalu memakannya satu.
"Kacang mutiara? Dari mana kau dapatkan ini?"
"Tentu saja dari laut karena aku berhasil memenangkan pertandingan dengan bangsa Mermaid." Ucapnya dengan percaya diri.
"Lalu, bagaimana bangsa Mermaid bertarung?"
"Sama seperti orang-orang lemah di sana. Lagi pula, di antara mereka ada bangsa Mermaid yang saat itu berusaha menghentikan Hesley. Aku yakin dia akan tumbang dalam waktu singkat."
"Paling-paling dalam hitungan menit mereka semua akan binasa di tangan Lou."
"Kau benar, Lou tak terkalahkan."
Kedua anggota Stone Seeker itu tertawa lepas.
"AKU TIDAK AKAN KALAH!" Teriak Lindsey menggema.
Lindsey pun maju dengan mengeluarkan kekuatan penuh yang ada dalam dirinya untuk menyerang Lou. Dengan rasa dendam bercampur kesal dia menyerang Lou dengan membabi buta.
"Lindsey!" Teriak Antlers.
"Kenapa Lindsey jadi seperti itu?"
"Antlers, aku tahu penyebab Lindsey menjadi mudah marah dan kesal."
"Amethyst? Memangnya apa yang sebenarnya terjadi pada Lindsey?"
"Aku melihat ada sihir hitam di dalam diri Lindsey, itu sihir hitam yang digunakan Glory saat mengendalikan Hesley."
"Apa? T-tapi bagaimana dia bisa terkena sihir hitam itu?"
"Kekuatan itu mempengaruhi perasaan seseorang, Antlers."
"Perasaan? Jadi, maksudmu ... karena Lindsey sedang berada dalam keadaan marah dan dendam dia terpengaruh oleh sihir hitam itu?"
"Iya, kau harus segera menghentikannya, jika tidak sihir murni yang ada di dalam Aquamarine bisa terkontaminasi."
"I-itu benar-benar sangat berbahaya."
"Antlers, tolong beritahu yang lain tentang kondisi Lindsey." Pinta Amethyst.
"Baik."
__ADS_1
...*** ...