
Lindsey dan kawan-kawannya sampai di istana Ratu Florist. Ketika masuk ke dalam istana, tidak ada pengawal satu pun yang menjaga istana itu. Hal tersebut membuat mereka kebingungan. Bagaimana bisa istana megah ini tidak dijaga seorang pengawal satu pun?
"Ini benar istana nya Ratu Florist, kan? Tidak ada pengawalnya sama sekali, aku jadi ragu." Ucap Laurent setelah melihat betapa sepi dan sunyi nya istana tersebut.
"Ini benar istana Ratu Florist, Yves?" Melihat keraguan Laurent, Lindsey pun bertanya kepada Yves untuk memastikan.
"Ehm ... sebenarnya aku juga tidak tahu." Jawab Yves sambil menunduk.
"Apa?" Kaget keempat anak itu.
"Bahkan Yves yang merupakan makhluk di dunia ini saja tidak tahu kalau istana ini adalah kediaman Ratu Florist." Ucap Heyna sambil melipat tangan di dada.
"Marine, apa benar ini istana yang kau maksud?" Tanya Lindsey pada Marine di dalam hatinya.
"Itu benar, Lindsey. Istana Sang Ratu memang tidak memiliki pengawal namun bukan berarti tidak aman dari ancaman." Jawab Marine.
"Maksudnya?" Lindsey bertanya-tanya.
"Sekarang lebih baik kita masuk saja untuk mencari tahu. Bicara dengan para batu permata hanya membuat emosi naik tingkat dewa." Seru Heyna.
"Kau benar, ayo kita masuk." Laurent pun masuk ke dalam istana terlebih dahulu diikuti yang lainnya dari belakangnya.
Tiba-tiba saja mereka diserang anak panah dengan ujung berapi yang entah dari mana asalnya. Membuat semuanya terkejut bukan main. Untungnya mereka berhasil menghindar.
"Astaga! A-apa itu tadi?" Dada Laurent berdesir cukup kencang setelah panah berapi itu datang dan hampir mengenai dirinya.
Antlers mengambil salah satu anak panah itu dan menganalisisnya. "Dari mana anak panah ini berasal?" Tanyanya sambil menoleh ke sembarang arah untuk mencari tahu asal mula anak panah itu.
"Aku mulai mengerti maksud ucapan Marine, alasan istana ini tak memiliki pengawal satu pun karena bangunan ini sudah dilengkapi dengan penjagaan yang super ketat. Lihat saja bagaimana kita diserang sebelum masuk ke bagian dalam istana." Ungkap Antlers yang sudah selesai menganalisis.
Sejak pertarungannya dengan Stone Seeker, Antlers menjadi lebih percaya diri dengan kemampuan analisisnya. Bahkan dia dapat menganalisis keadaan dengan sangat cepat. Hanya kurang dari satu menit.
"Kalau begitu semuanya jadi jelas. Aaahh, aku tidak suka yang seperti ini." Rengek Laurent sambil menghentak-hentakan kakinya di tanah.
"Berhenti merengek, dasar cengeng! Sudah, ayo kita masuk saja sebelum kesabaranku terkuras habis karena rengekan mu itu." Titah Heyna yang geram dengan tingkah kekanak-kanakan Laurent.
Lindsey dan kawan-kawannya nampak kelelahan menghadapi pengawal tak kasat mata yang ada di istana Ratu Florist. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu ruangan yang cukup aman, mengumpulkan sebisa mungkin tenaga yang sudah hampir binasa.
"Apa kita harus melakukan ini?" Keluh Heyna yang juga ikut menyerah. Pasalnya serangan demi serangan yang tiba-tiba datang membuatnya kelelahan bukan main.
"Tinggal sedikit lagi, kita harus bisa sampai di ruangan Ratu Florist melakukan proses reinkarnasi." Ujar Yves menyemangati keempatnya.
Saat sedang beristirahat, Yves menangkap sebuah cahaya melalui indera penglihatannya. Cahaya itu berasal dari lantai puncak istana.
"Semuanya, coba kalian lihat di atas sana!" Teriak Yves sambil menunjuk ke arah atas.
__ADS_1
"Hah?" Semua langsung mengarahkan pandangannya ke arah atas. Mereka pun melihat cahaya yang sangat terang membumbung ke langit.
"Apa itu?" Laurent bertanya-tanya sambil menyipitkan matanya karena cahaya itu benar-benar menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya.
"Sepertinya itu ruangan yang dimaksud oleh para batu permata, teman-teman kita lanjutkan perjalanan menuju puncak menara." Seru Lindsey.
"Kau yakin itu ruangan yang dimaksud?" Tanya Heyna pada Lindsey.
Lindsey mengangguk dengan tatapan yakin. "Aku yakin dengan instingku, Heyna. Kau percaya padaku, kan?"
"Baiklah, aku percaya padamu."
Di sisi lain Glory masih berkutat dengan cairan aneh dan tungku yang dia gunakan untuk membuat ramuan. Setelah berkutat cukup lama, ia pun berhasil membuat ramuan untuk melihat orang lain dari balik tungku.
"Vene Rus Amades, perlihatkan apa yang sedang dilakukan Lindsey dan teman-temannya saat ini." Ucap Glory membaca mantra khusus.
Ramuan yang ia masukan ke dalam tungku itu seketika berubah menjadi sebuah penerawang, tungku itu memperlihatkan Lindsey dan teman-temannya sedang berada di istana Ratu Florist.
"APA?!" Kaget Glory yang sudah keduluan oleh Lindsey. Melihat penerawangan dari tungku itu Glory melempar beberapa cairan yang ads di dekatnya.
"Cih! Sepertinya Stone Seeker gagal mengalahkan anak-anak itu, dasar payah!" Geram Glory sambil menggebrak meja.
"Sial! Bagaimana caranya mereka bisa sampai ke sana?" Tanyanya bingung.
"Aku harus segera ke sana untuk menghentikan proses reinkarnasi sang Ratu." Ucapnya begitu marah.
"Bersiap-siaplah untuk berangkat, Hesley. Kita akan segera ke istana Ratu Florist." Titah Glory pada Hesley yang tak tahu menahu. Hesley pun mengangguk singkat lalu mulai bersiap-siap.
"Baiklah." Jawab Hesley singkat.
...***...
Lindsey dan yang lainnya masih dalam perjalanan menuju puncak menara untuk melihat proses reinkarnasi sang Ratu.
Sesampainya di menara paling atas, mereka terkejut melihat sebuah cahaya yang begitu menyilaukan mata ditambah beberapa tumbuhan semak belukar yang bernuansa hijau memenuhi ruangan reinkarnasi sang Ratu.
Cringg!!
Cahaya itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu namun mata mereka tak mampu melihatnya. Mereka pun menutup kedua matanya dan sesaat setelah cahaya itu menyilaukan sinarnya itu hilang, muncul seseorang yang mulai berucap mengatakan sesuatu kepada kelima anak itu.
"Lindsey, Antlers, Heyna, Laurent, dan Yves. Terima kasih sudah datang ke istanaku."
Melihat orang itu berbicara dengan nada lembut, Yves langsung merunduk memberi hormat kepadanya.
"Salam hormatku, Yang Mulia Ratu Florist." Yves memberi kehormatan kepada sang Ratu.
__ADS_1
"Dia ... Ratu Florist?" Lindsey tercengang melihat rupa sang Ratu yang selama ini sangat ingin dia datangi.
"Hei, menunduk lah di hadapan sang Ratu!" Titah Yves pada keempat lainnya yang masih tercengang.
"A-ahh, baiklah." Keempatnya mulai merunduk memberi hormat.
Ratu Florist tersenyum melihat tingkah keempat anak itu. "Bangkitlah, wahai pendatang. Aku sudah tahu alasan kehadiran kalian ke istanaku."
"Benarkah?"
"Lindsey, adikmu telah diculik oleh Glory, kan?"
"Itu benar Yang Mulia, aku benar-benar bingung harus berbuat apa saat ini. Kami hampir kehilangan arah untuk menemukan dan menyelamatkan Hesley."
"Itu benar, Yang Mulia, tolong berikan kami petunjuk yang mudah dipahami." Sahut Laurent.
"Ishh kau ini! Diam dulu bisa tidak?" Heyna menepuk bahu Laurent.
"Aduh, sakit!" Antlers Meringis kesakitan.
"Yang Mulia, apakah anda bersedia membantu kami menemukan Hesley? Kami hampir putus asa." Pinta Antlers dengan nada hormatnya.
"Kalian berempat adalah pendatang yang berhati baik dan tulus, para batu permata sudah memberitahu tentang kalian padaku."
"Benarkah? Bagaimana caranya mereka memberitahumu?" Laurent bertanya-tanya karena masih bingung.
"Melalui telepati, kan?" Sahut Antlers.
"Hmm?"
"Sepertinya kemampuan analisismu berkembang dengan pesat, ya, Antlers? Aku sangat bangga atas pencapaian kalian selama berada di Forestopia. Oleh karena itu aku akan memberikan petunjuk agar Hesley bisa diselamatkan dan terbebas dari sihir hitam." Ujar Ratu Florist.
"Bagaimana caranya, Yang Mulia?" Tanya Lindsey yang tidak sabaran.
"Tidak ada cara untuk dapat menghentikanku, Yang Mulia Ratu." Ujar seseorang. Suaranya sangat familier di telinga mereka.
"Glory?!"
"Lindsey, lihat ke arah jam sembilan! Itu Hesley."
"A-apa? Kenapa penampilannya jadi seperti itu?" Kaget Lindsey yang kaget melihat perubahan Hesley yang begitu drastis.
...***...
Ilustrasi Ratu Florist
__ADS_1