
"Raja?" Aurora terlihat kebingungan dengan maksud ucapan bibinya itu.
"Iya, Raja Stevan kan ayahmu. Ia memerintahkan kami untuk membawamu ke hutan agar kutukan peri hitam tidak menjadi kenyataan," ucap peri hijau kembali.
"Hei apa yang kau katakan, huh?!" pekik peri merah sambil membekap mulut peri hijau untuk berhenti mengatakan hal apapun lagi.
"Kutukan? Apa maksud kalian?" Aurora yang mengetahui rahasia itu pun menjadi penasaran.
"Katakan padaku, kutukan apa yang ada di dalam diriku?!" tanya Aurora dengan nada suara tinggi.
Kini Aurora telah mengetahui yang sebenarnya, ia juga sangat penasaran pada orang yang telah tega mengutuk dirinya.
"Aurora, tenanglah. Kita bisa mendengar penjelasannya secara pelan-pelan," ucap Lindsey berusaha menenangkan amukan Aurora.
"Baiklah, sepertinya kami harus mengatakannya sekarang. Sebenarnya, kami adalah peri hutan dari kerajaan Moors yang diperintahkan oleh Raja Stevan untuk membawamu ke dalam hutan, Raja takut kalau kutukan Maleficent akan menjadi kenyataan. Kutukan itu mengatakan bahwa saat usiamu menginjak 18 tahun, jarimu akan tertusuk jarum pintal dan tertidur untuk selamanya," ucap peri biru bercerita panjang lebar.
"Maleficent?" Aurora terkejut mendengar cerita peri biru mengenai rahasia terbesar Maleficent yang sudah dianggap sebagai teman dan pelindung bagi dirinya. Ia tak menyangka bahwa peri hitam itu adalah Maleficent, yang telah mengutuknya ketika bayi.
"Kenapa kalian merahasiakan ini dariku? Apa kalian tidak tahu, kini usiaku sudah 18 tahun." lanjut Aurora.
"Kami tahu, itu sebabnya kami membawamu ke hutan ini."
"Aku akan pergi ke istana untuk bertemu dengan ayahku." Aurora berlari keluar rumah untuk menuju istana ayahnya.
"Astaga, mulai lagi," desih Lindsey yang segera menyusul Aurora.
Lindsey berlari mengejar Aurora yang sudah jauh dari sekitar rumah. Tapi, ia beruntung karena Aurora masih terlihat oleh kedua matanya. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Lindsey pun berlari mengejar Aurora.
Lindsey melihat Aurora berhenti di tengah semak belukar berduri, lalu masuk ke dalam hutan itu.
"Kenapa dia masuk kesana?" tanyanya. Lindsey pun mengikuti Aurora.
Ketika berada di dalam hutan belukar itu. Lindsey mengintip dari balik pohon besar, dan melihat Aurora sedang berbicara dengan seseorang.
"Kenapa kau bohong padaku Ibu peri?" tanya Aurora yang sudah tak bisa membendung air matanya.
"Aurora, aku bisa menjelaskannya." ucap Maleficent.
"Kau yang telah mengutukku, kan? K-kenapa kau melakukan hal itu?" Aurora nampak memundurkan langkahnya.
"Dengarkan penjelasanku dulu, sebenarnya aku--"
"Tidak! Aku benci kau!" seru Aurora dan berlari menjauh dari Maleficent.
Maleficent hanya membulatkan kedua matanya saat mendengar ucapan Aurora. Air pun keluar dari pelupuk matanya yang berwarna kecoklatan, mengatakan bahwa dirinya sangat menyesal karena telah mengutuk Aurora. Aurora pun berlari menuju istana ayahnya.
"Astaga, cerita ini berbanding terbalik dari buku yang pernah kubaca. Kenapa Aurora berteman dengan Maleficent? Bukankah dia jahat?" gumam Lindsey.
"Siapa di sana?!" teriak Maleficent yang menyadari keberadaan Lindsey.
Lindsey pun keluar dari balik pohon besar yang sudah membantunya bersembunyi dari Aurora dan Maleficent.
"H-hai." Lindsey melambaikan satu tangannya dan tersenyum konyol ketika Maleficent menatapnya dengan tajam.
"Jangan lihat aku seperti itu. Aku akan membantumu supaya Aurora bisa selamat dari kutukan itu." sambungnya.
"Kau mau membantuku? Kenapa? Aku ini jahat, kejam, dan sangat arogan. Aurora juga sudah tahu siapa diriku yang sebenarnya." kata Maleficent tertunduk.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Sebaiknya kita menyusul Aurora." Lindsey memotong ucapan Maleficent.
__ADS_1
"Aku sangat menyayangi Aurora, alasanku mengutuk Aurora karena aku kesal dengan Raja Stevan yang telah mengkhianatiku demi tahta kerajaan. Dia memang tidak membunuhku, tapi dia telah memotong kedua sayapku yang sangat berharga. Tanpa sayap itu, kekua--"
"Iya iya aku mengerti, ceritanya nanti saja, kita susul Aurora ke istana sekarang juga!" ucap Lindsey memotong cerita Maleficent.
...***...
Lindsey mengajak Maleficent pergi ke istana Raja Stevan untuk bertemu dan bicara langsung dengan Aurora untuk yang kedua kalinya. Saat mereka sedang berjalan menuju istana, seorang pria tampan yang gagah perkasa menghampiri Lindsey dan Maleficent, pria itu menaiki kuda putihnya.
Ia berkata. "Maaf menggangu perjalanan kalian, aku sedang mencari seorang gadis berambut pirang, dia cantik dan matanya berwarna coklat."
"Pangeran Philip?" seru Lindsey.
"K-kau tahu namaku?" Pemuda itu segera turun dari kuda putihnya dan mendekat ke arah Lindsey dengan tatapan bingung.
"Apa kau menyukai gadis itu?" tanya Maleficent pada Pangeran Philip. Ia mengangguk pelan. "Kau juga mencintainya?" tanya Maleficent lagi. Pangeran itu kembali mengangguk.
"Maleficent, sepertinya pria ini yang akan menyelamatkan Aurora. Kita bawa saja dia ke istana untuk mematahkan kutukannya," bisik Lindsey tepat di telinga Maleficent.
"Kau benar." Maleficent mengangguk pelan.
"M-maaf, kenapa kalian berbisik seperti itu?" tanya Pangeran Philip yang kebingungan melihat Lindsey dan Maleficent berbisik di hadapannya.
Tanpa banyak bicara, dengan menggunakan kekuatannya, Maleficent membuat Pangeran Philip tertidur. Lindsey dan Maleficent berencana untuk membawa Pangeran pada Aurora. Ini satu-satunya cara untuk mematahkan kutukan itu. Begitulah yang tengah dipikirkan Lindsey saat ini.
Sampai di istana, Maleficent dan Lindsey langsung pergi mencari kamar Aurora. Langkah mereka sangat terburu-buru, mereka takut kalau Aurora sudah mengalami kutukan itu.
"Gawat, matahari sudah mulai terbenam,"
"Sssttt! Kita cari saja dan berpikir positif." tutur Lindsey berusaha membuat Maleficent tidak menyerah untuk menyelamatkan Aurora dari kutukan itu. Maleficent mengangguk pelan dan terus melanjutkan mencari kamar Aurora.
Mereka hampir sampai di kamar terakhir istana, dan kamar terakhir yang mereka temukan adalah kamar Aurora. Saat ini, Aurora sudah terbaring di tempat tidurnya, dan dikelilingi tiga peri yang sudah membesarkan Aurora sejak masih bayi. Sebut saja peri merah, biru, dan hijau.
"Kita tunggu saja."
Maleficent langsung meletakkan Pangeran Philip di depan pintu kamar tersebut, dengan cepat Lindsey dan Maleficent bersembunyi untuk melihat apakah cara yang mereka lakukan berhasil atau tidak. Pintu kamar Aurora pun terbuka dan terlihat tiga peri berada di depan pintu itu.
"Pangeran tampan sudah datang!" seru peri hijau.
"A-apa yang terjadi padaku?" Pangeran Philip merasa aneh ketika dirinya telah sadarkan diri.
"Cepat masuk Pangeran!" ketiga peri itu menarik tangan Pangeran untuk segera masuk ke dalam kamar Aurora.
"Eh? Apa-apaan ini?"
"Kau harus mencium Aurora untuk menghilangkan kutukannya."
"Kutukan? Apa maksud kalian?
"Putri Aurora mendapat kutukan dari seorang peri jahat bernama Maleficent, satu-satunya cara untuk membangunkannya adalah dengan ciuman cinta sejati." jelas para peri itu.
"B-baiklah." Pangeran Philip pun mendekat ke ranjang Aurora dan menciumnya dengan lembut.
Lindsey dan Maleficent hanya bisa bersembunyi di pojok ruangan ketika melihat keadaan Aurora.
Lindsey yang menyadari Maleficent tertunduk berkata, "Hei, tenang saja, aku yakin Aurora akan baik-baik saja."
"Aku tidak peduli jika Aurora akan membenciku untuk selamanya, yang aku inginkan adalah kebahagiannya." ucapnya.
"Aurora itu gadis yang kuat. Percayalah."
__ADS_1
Setelah beberapa detik Pangeran mencium Aurora, hasilnya Aurora tidak juga sadarkan diri. Pangeran dibuat bingung karena Aurora tidak sadarkan diri setelah dicium olehnya. Apakah Pangeran bukan cinta sejati Aurora?
"Kenapa Aurora tidak sadar juga?" pekik peri merah.
"Kau tidak berguna! Cepat keluar dari kamar Aurora!" ketiga peri itu kesal dan akhirnya mengusir Pangeran dari kamar Aurora.
"T-tapi,"
Lindsey dan Maleficent juga tidak percaya dengan semua yang telah terjadi. Seharusnya ciumannya berhasil mematahkan kutukan itu. Tapi ternyata gagal, dan Aurora harus tertidur untuk selamanya. Ia takkan bangun sampai benat-benar menemukan cinta sejatinya.
Lindsey yang melihat semua itu hanya bisa membulatkan kedua matanya, menatap tak percaya bahwa ia gagal menuntaskan tugasnya di dongeng ini.
"A-aku gagal?" gumamnya.
"Tidak mungkin." usaha Maleficent sia-sia untuk mematahkan kutukan itu dari dalam diri Aurora, ia memutuskan untuk masuk ke dalam dan melihat Aurora yang malang.
Maleficent hanya bisa menatapi takdir Aurora, semua ini memang salahnya. Ini tidak akan terjadi jika dia tidak mengutuk Aurora. Ia sadar bahwa dirinya sangat menyayangi Aurora.
"Maafkan aku Aurora, aku menyesal ... sangat menyesal telah melakukan ini padamu. Kau akan tetap menjadi Auroraku, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu Aurora." ucap Maleficent lalu mencium kening Aurora dengan lembut.
Seketika, kedua mata Aurora terbuka. Ia melihat Maleficent sedang berada di sampingnya yang tengah menangis.
"Ibu peri?" lirih Aurora.
Kedua mata Maleficent membulat saat Aurora tersadar dari tidurnya. Apakah kutukan itu sudah hilang?
"Kau akan selalu di sisiku kan, Ibu peri?" lirih Aurora kembali.
Maleficent pun segera menghapus air matanya dan tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Aurora dengan sangat lembut.
"Iya, aku akan selalu berada di sisimu." ucapnya.
Aurora beranjak dari ranjangnya dan langsung memeluk Maleficent. Mereka berdua terlihat sangat bahagia.
Lindsey yang melihatnya pun tersenyum lebar, "Aku rasa kau adalah cinta sejati Aurora. Kau sangat menyayanginya hingga tidak tega meninggalkan Aurora dalam keadaan apapun," ucap Lindsey di tengah-tengah keheningan.
"Terima kasih Lindsey, kau sudah membantuku," ucap Maleficent.
"I-itu bukan masalah besar bagiku. Hehe," ucap Lindsey terkekeh.
"Sepertinya, kau berhasil menyelamatkan dongeng ini. Kalau begitu aku akan membawamu ke tempat yang lain." ucap suara yang berasal dari dalam hati Lindsey. Ia terdiam mendengar ucapan itu dan seketika kalungnya bersinar.
Ting!
Lindsey sudah mulai mengerti sekarang, ia juga mulai terbiasa dengan tugasnya.
Ia menatap kedua bola mata Aurora dan berkata, "Jadilah gadis yang baik, kau harus bahagia Aurora," ucap Lindsey memberikan pesan singkat untuk Aurora.
"Kau mau kemana? Kau bisa tinggal di istana bersamaku dan Ibu peri."
"Maaf aku tidak bisa, selamat tinggal Aurora."
Dan dalam sekejap mata, Lindsey menghilang dari pandangan Aurora. Memberikan kesan haru yang membuat air keluar dari mata Aurora.
Lindsey kembali mencoba membuka kedua matanya dan memahami keadaan sekitarnya. Saat ini ia akan berpetualang di ....
"Aduh kepalaku!" Lindsey memegangi kepalanya karena merasa pusing akibat jatuh dari atas.
"Hah, di mana lagi ini?" tanyanya bingung.
__ADS_1