
Pertarungan melawan Stone Seeker masih berlanjut, Nut berhasil memenangkan pertandingan saat melawan Heyna karena gadis itu tiba-tiba menyerah begitu saja. Heyna tahu ketakutannya tidak bisa dikontrol saat wajah mendiang sang ayah berada di depan matanya. Dia memang takut tapi dia menghormati ayahnya.
"Maaf, aku kalah darinya." Heyna tertunduk merasa tidak berguna.
"Tidak apa-apa, Heyna, kita masih memiliki peluang untuk menang." Antlers menepuk punggung putus asa Heyna dan memberinya semangat serta harapan.
"Satu kosong, right?" Nut meledek Heyna ketika melewatinya.
"Cih!"
"Giliranku." Antlers berdiri dari tempat duduk dengan percaya diri lalu maju ke tengah-tengah untuk mulai melawan Cruy.
"KALAHKAN DIA, ANTLERS!" Teriak Lindsey menyemangati sang sahabat.
"Semoga saja Antlers bisa mengalahkan Cruy." Harap Lindsey dengan raut sedikit cemas.
Sebelum tanding, Antlers dan Cruy saling tatap-tatapan dengan ekspresi yang dingin dan tajam.
Apa yang sedang dia rencanakan? Kenapa dia diam saja? Batin Cruy.
Aku harus memikirkan strategi yang tepat untuk melawannya, dia ini bukan musuh sembarangan. Siapa dia sebenarnya? Dan siapa mereka ini? Apakah mereka para Seeker yang dibicarakan oleh Ratu Lily? Ucap Antlers dalam hati.
Antlers, aku punya informasi mengenai dirinya. Kata Amethyst.
Antlers mendengarkan dengan tenang penjelasan Amethyst padanya.
"Kenapa Antlers diam saja?" Lindsey bertanya-tanya.
"Apa yang Cruy lakukan di sana? Kenapa dia tidak menyerang gadis lemah itu?" Geram Nut memperhatikan gelagat Antlers yang mulai mencurigakan.
"Sepertinya akan ada kejutan besar." Ucap Lou seakan tau yg akan terjadi selanjutnya.
"Apa maksudmu, Lou?"
"Kita lihat saja nanti."
"Antlers Gardy, kau bisa langsung menyerangku kapan pun dan di mana pun kau mau." Ledek Cruy. Seakan-akan ucapannya itu akan membuat Antlers menjadi takut, tapi nyatanya tidak semudah itu membuat seorang Antlers Gardy ketakutan.
Kau mengerti, Antlers? Amethyst mengakhiri penjelasannya.
"Got it, thank you Amethyst." Anlers mengangguk singkat.
"Kau saja yang menyerangku duluan," seru Antlers yang mengatakan ingin diserang terlebih dahulu oleh Cruy.
"Apa?"
"Aku tidak bisa menyerang orang lain, aku terlalu lemah lembut." Kata Anlters dengan nada di imut-imutkan.
Apa dia sedang mengejekku? Gerundel Cruy dalam hati.
"Hmm ... menarik sekali." Dehem Lou sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Cruy, cepat kalahkan dia!" Teriak Nut yang sudsh tidsk sabaran.
Cruy benar-benar terintimidasi saat ini, di satu sisi dia ditonton banyak orang, dan di sisi lain ia mempertaruhkan benda berharga dari tangan ketua Stone Seeker. "Aku tidak akan kalah darimu gadis lemah!" Teriaknya.
"Hm?" Antlers tersenyum miring.
Saat Cruy melesat secepat cahaya, Antlers dengan mudahnya menghindar dari serangan itu. Semua terkejut bukan main atas kejadian yang baru saja terjadi.
"A-apa?" Kejut Cruy. Baru kali ini ada makhluk yang bisa menghindari serangannya.
"Sepertinya kau meleset?" Ujar Antlers menunjukkan senyum miring terbaiknya saat ini.
"Cih!"
"Hebat, Antlers!" Heyna berseru kencang.
"Apa yang terjadi?" Nut bertanya-tanya, ia menoleh dan menatap Lou yang sedaru tadi diam saja. "Lou?" Panggilnya.
"Aku sudah tau kekuatanmu, Cruy." Ungkap Antlers.
"Apa?!"
__ADS_1
"Kekuatan melesat secepat cahaya, namun kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, makanya kau membutuhkan energi kepercayaan diri dari seseorang untuk kau serap menggunakan kemampuanmu yang satunya, yaitu menyerap energi kepercayaan diri agar kekuatan melesat yang kau miliki menjadi berlipat ganda. Tapi sayangnya, kepercayaan diriku juga rendah untuk bisa mengalahkanmu. Jadi, kau tidak bisa menyerapnya."
"Bukankah begitu, Cruy? Anggota Stone Seeker tercepat yang pernah ada."
"Apa?!' Kaget ketiganya.
"Dia anggota Stone Seeker?" Ucap Lindsey dengan nada pelan, setelah melihat Cruy di depannya, Lindsey menengok ke sebelah kanannya untuk melihat Nut dan Lou.
Jadi, aku akan melawan ketua Stone Seeker? Batin Lindsey mulai tertekan.
"Jadi, yang kita lawan saat ini adalah Stone Seeker?" Laurent dan Heyna saling pandang tak percaya.
"B-bagaimana bisa?"
"Dia mengetahui kelemahan Cruy, mustahil." Nut benar-benar tercengang.
Lou masih terdiam.
"Antlers memiliki kemampuan analisis yang hebat, dia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahan dari musuhnya dalam sekejap." Puji Lindsey.
"Aku benar-benar tidak akan meremehkannya, aku jauh lebih lemah dibanding dia." Ujar Heyna.
"Kau benar, ingat bagaimana Antlers menyerang kita di dongeng The Wizard of Oz? Mengerikan sekaligus menegangkan." Laurent bergidik ngeri mengingat kejadian tak mengenakkan itu.
"Bagaimana? Apa aku benar mengenai kekuatan dan kelemahan yang kau miliki? Jujur saja, aku tidak memiliki kekuatan sepertimu, tapi aku memiliki ini," ujar Antlers sambil menunjuk-nunjuk kr arah kepalanya.
"Analisis bagiku adalah kekuatan yang tersembunyi, bukan begitu?" Kata Antlers masih dengan nada meledek.
"Sial!"
Cruy yang kesal kembali menyerang tanpa aba-aba. Serangannya membabi buta dan dia hampir melukai Lou.
"Cruy, hentikan!" Teriak Nut.
Lou tiba-tiba menghentikan gerakan Cruy dari kejauhan tanpa menghampiri salah satu anggota Seeker nya itu.
"T-tubuhku?"
"Apa yang terjadi?" Bingung Antlers. Tentu itu bukan perbuatannya.
"CUKUP!" Lou menyudahkan pertarungan yang menurutnya sangat membosankan.
"Lou?"
"Dia yang melakukannya?" Bingung Lindsey sambil menatap nanar Lou dari samping.
Bagaimana caranya dia menghentikan gerakan orang lain tanpa menyentuhnya? Batin Antlers kembali menganalisis kekuatan Lou.
"Giliranku." Lou berdiri dari singgasananya dan mulai berjalan ke tengah untuk melakukan duel dengan Lindsey.
'Sepertinya ini giliranku." Lindsey berjalan perlahan menuju tengah lapang.
"Lindsey, kau pasti bisa." Seru Heyna menyemangati.
"Satu sama, right?" Ujar Lou sebelum memulai.
"Kau yakin bisa mengalahkanku, Lindsey Georgina Lane?" Tanya Lou pada Lindsey.
Dia tau namaku? Gumam Lindsey.
"Aku tau namamu karena aku bisa mengetahui semua rahasia yang ada di dunia ini. Aku ... bisa melihat masa depan orang lain." Ungkap Lou.
"Melihat masa depan itu mustahil."
"Begitu kah?"
...***...
Hesley dan Yves sampai di pinggil sungai perak, pintu masuk menuju Silver Down.
"Sungai ini benar-benar berwarna perak. Aku percaya bahwa dunia dongeng ternyata seindah ini." Kagumnya.
Yves melompat ke sungai dan tak lama kemudian ia muncul kembali dan sudah menjadi mermaid.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja di sana, ayo masuk!" Ajaknya pada Hesley yang masih terdiam.
"Ehm ... aku tidak bisa masuk karena aku tidak bisa bernapas di dalam air, kau tau kan aku bernapas menggunakan paru-paru?"
"Ahh, benar ... aku lupa. Tunggu di sini aku akan segera kembali."
"Okey,"
Tak lama kemudian Yves membawa benda seperti daun yang berwarna hijau kekuningan dan memberikannya kepada Hesley.
"Makan itu."
"Kenapa aku harus memakan ini?"
"Supaya kau bisa bernapas di dalam air."
"Baiklah." Hesley yang menurut langsung memakannya.
"Kau harus menelannya, Hesley."
"Rasa yang unik ..." Hesley hampir memuntahkannya.
"Baiklah, aku sudah menelan--hueek ...."
"Kau tidak apa-apa?"
"It's oke. Aku hanya agak mual setelah menelan rumput itu, dan kalah boleh tau rumput jenis apa yang aku makan tadi?"
"Oh, sebenarnya itu bukan rumput, itu kotoran Silver Fish."
"K-kotoran?"
Sumpah rasanya Hesley akan segera memuntahkan apa yang baru dimasukkan ke dalam mulutnya tadi. Sebuah kotoran ikan masuk ke dalam pencernaannya dengan leluasa? Bagus sekali.
Di dalam sungai, Hesley digandeng oleh Yves menuju kerajaan Silver Down. Setelah melewati sebuah terowongan, Hesley terkesima melihat pemandangan kerajaan bawah air yang sangat megah dan didominasi warna perak dan biru laut yang indah.
"Waahhh ..."
Tak ada kata lain selain wah yang keluar dari mulutnya.
"Selamat datang di kerajaan bawah air, Silver Down. Khususnya sungai."
"Jadi maksudmu ada kerajaan bawah air lainnya di Forestopia?"
"Tentu, dan letaknya cukup jauh. Kerajaan itu ada di laut pasifik dan atlantik."
"Wow, itu fakta yang menakjubkan."
"Itu istana tempat tinggal keluargaku, aku akan mengajakmu menemui ibu dan adikku."
"Kau punya adik?"
"Tentu, namanya Yvia."
"Aku pasti akan menyukai tempat ini." Hesley tak henti-henti memuji tempat tinggal Yves yang begitu biru dan yaa hanya biru yang ia lihat saat ini.
"Ayo!"
Semua mermaid menyambut kedatangan Yves dengan penuh suka cita. Mereka ramah dan saling menyapa. Namun setelah para mermaid menyapanya, Yves tertunduk dan murung.
"Hei, kau kenapa?" Tanya Hesley.
"Seandainya mereka tau kebenaran yang terjadi, bahwa aku tidak berhasil membawa pulang tongkat Silver Down."
"Kita akan mendapatkannya, tentu dengan sedikit bantuan nantinya."
"Iya, aku percaya padamu, Hesley."
"Benarkah? Padahal di awal pertemuan kau terlihat sangat membenci manusia."
"Yaa, awalnya memang begitu. Tapi kau berbeda dengan Glory."
"Yves, ada yang ingin aku tanyakan."
__ADS_1
...***...